The Irony of Ruralism10+3 Project: Small Narrative PaintingsLa Liberté GiyantiThe Rhetoric of a Korean DreamOccultism In the beginning was the Word (2017)Kalatidha Towards Capitalism (2017)Madyapada Keabadian (2017)Mother “Candrarini of Durer” (2017)The Endless Knot (2017)

Lingkungan yang alami, jiwa masyarakat yang ramah dan guyub secara tidak langsung menjadi komoditas naiknya harga tanah dan properti di desa. Kurun 10 tahun terakhir, di Jawa khususnya Yogyakarta, semakin banyak orang kota membeli tanah dan properti di desa, namun tidak ditinggali malah berinvestasi, apalagi hidup bermasyarakat di dalamnya. Orang Jawa adalah masyarakat yang cukup eksistensialis. Artinya, meyakini sesuatu ada baru mencari makna atas keberadaannya itu. Persis seperti eksistensi mendahului esensi. Bukan sesuatu di dunia ini ada karena sudah ditentukan dari sananya. Masyarakat Jawa mampu membaca gejala-gejala alam untuk dijadikan suatu pertanda dan sikap mereka terhadap cara hidup di dunia. Menjadikannya pakem dan keniscayaan, suatu hal yang pasti, melalui tutur kata dari generasi ke generasi, dari yang tua kepada yang muda, lantas semuanya itu menjadikannya adat istiadat atau kebudayaan atau keyakinan.     Rentang 10 tahun bisa menjadi pertanda gejala-gejala alam bagi orang Jawa yang dititipkan oleh waktu. Angka dan bilangan biasanya digunakan sebagai ...

Lihat Selengkapnya...

  “How could the grand narrative of legitimation still have credibility in these circumstances?” (Lyotard)   It is immediately apparent that Eddy Susanto’s works in this exhibition are made up of handwritten texts arranged and composed into images. Perhaps this is why his works come across more as drawings than as paintings. These works are visual narrations constructed from textual narrations. Although they appear visually unassuming, like common illustrations, they quickly inspire awe when we realize that each image is made up of thousands even hundreds of thousands of words taken from the works of great philosophers and thinkers, whose ideas are believed to have great impact on our modern world today. Eddy’s creative method reminds us of concrete poetry or prose, i.e. written words that are also visual compositions. For his part, Eddy does not use poetry or prose to create his visual narrations, but rather he composes them by using grand narratives or ...

Lihat Selengkapnya...

Drawing Pen, Acrylic on Canvas | 260 x 325 cm The painting is a juxtaposition of the revolutionary spirit that surged in France and spread to other parts of the world, including the island of Java. Similar to the power struggle between the monarchy and the bourgeois in France, the struggle for the sole power over the Sultanate of Mataram on Java eventually brought about a breakage: in France Charles X was toppled, while the struggle on Java resulted in two separate entities namely Yogjakarta and Surakarta. The painter Eugene Delacroix was deeply moved by the revolution in his country, and his emotion deepened with literature accentuating the drama even further. Infused with such emotion Delacroix created his famous painting La Liberté guidant le people, with Marianne, as the French symbol held the tricolor flag high above her head as a sign that the country was ruled by freedom. The revolution toppled ...

Lihat Selengkapnya...

Drawing Pen, Acrylic on Canvas | 150 x 150 cm | 2017 Sebelum Semenanjung Korea dianeksasi oleh Jepang pada tahun 1910, wilayah tersebut dikuasai oleh serangkaian kerajaan yang didirikan pendatang yang kebanyakan berasal dari Cina. Konflik antara Korea Utara dan Selatan memiliki jejak sejarah yang panjang. Seperti yang terjadi pada banyak negara lainnya, termasuk Indonesia, akhir Perang Dunia II menggoreskan berbagai perbatasan baru. Di Korea, Uni Soviet dan Amerika Serikat membelah Korea menjadi dua, yang kemudian secara resmi membentuk Rakyat Demokratik Republik Korea Utara dan Republik Korea, dua sisi Korea yang kini terbelah di 38 derajat lintang utara –dan ini kenapa perbatasan antara kedua negara sering disebut sebagai ‘38th parallel’. Dalam dua tahun berikutnya, ketegangan antara kedua Korea ini terus meningkat. Pada tanggal 25 Juni 1950, militer Korea Utara menyeberangi perbatasan dan melakukan invasi atas Korea Selatan. Tindakan ini memulai Perang Korea yang berlangsung selama tiga tahun dan memakan korban sekitar dua ...

Lihat Selengkapnya...