Jakarta, CNN Indonesia — Eddy Susanto (42), salah satu dari sekian seniman rupa Indonesia yang kerap tampil memamerkan karyanya di ajang pameran tingkat internasional. Baru-baru ini, ia menjadi salah satu dari tujuh seniman yang turut mengusung karyanya di ajang Singapore Biennale 2016.

Bicara akan perhelatan pameran seni dua tahunan atau biennale, Indonesia pun juga memiliki ajang serupa, yang bedanya digelar di beberapa kota, seperti di Jakarta (yang tertua sejak tahun 1970-an), lalu Yogyakarta, Makassar, Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Sumatera.

Meski telah digelar di beberapa kota, Eddy menilai biennale yang digelar itu belumlah setara dengan ajang biennale tingkat internasional, atau masih berupa pameran seni biasa.

“Jakarta biennale diadakan, Surabaya biennale diadakan, seolah-olah jadi latah. Biennale di Indonesia, walau pun di Jakarta, itu biasa saja, tidak seperti di Singapura,” ujar Eddy saat berbincang dengan CNNIndonesia.com melalui sambungan telepon, beberapa waktu lalu.

Padahal, kata seniman yang juga kurator seni itu, yang dipertaruhkan dalam biennale kontemporer adalah potensi hubungan internasional atau diplomatik serta rencana regenerasi perkotaan. Namun, di Indonesia, biennale diadakan di beberapa kota besar, tanpa mengusung konsep yang kuat.

“Menurut saya, biennale yang cocok di Indonesia yang cuma di Yogyakarta, karena karakter kotanya. Biennale kan bicara tentang kota. Mengapa ada Venice Biennale bisa terbesar, alih-alih Roma Biennale atau Paris Biennale? Mengapa hanya di Venesia? Karena karakter kotanya,” katanya.

“Kultur di Yogyakarta sudah terbentuk, sehingga sangat cocok untuk diadakan biennale. Meski mungkin gaungnya tidak bakal begitu hebat, karena masalah regulasi dan campur tangan pemerintah. Kita tahu pemerintah kita kalau sama seni ya jauh jika dibanding Singapura,” ungkap lulusan Desain Grafis Institut Seni Indonesia Yogyakarta itu.

Eddy menganggap perhelatan biennale di Singapura sudah sangat matang dan apik, baik dari segi kampanye serta kepedulian pemerintah dan masyarakat. Ia menuturkan, di Negeri Singa, biennale memang dianggap sebagai acara seni yang harus dirayakan.

“Kalau di Indonesia itu biennale kan hanya nama, seperti acara seni yang lain, tidak heboh. Bagi saya pribadi sebagai seniman, bukannya mau sombong, tapi misal saya tidak ikut biennale di Indonesia itu tidak masalah. Kalau ikut juga tidak bangga sekali. Karena belum ada yang terbukti bahwa biennale di Indonesia benar-benar kuat seperti di Singapura,” katanya.

Penerima penghargaan Bandung Contemporary Art Award 2012 ini menjelaskan, penyelenggaraan biennale di Singapura sangat disiplin dan teratur, baik dalam segi waktu maupun hal teknis lainnya. Menurutnya, itu berdampak baik pada proses pengerjaan seni, karena sesuai dengan jadwal yang telah diatur oleh masing-masing seniman.

“Kita jam karet kan sudah umum, sehingga deadline tidak menakutkan. Tapi kalau di Singapura, mereka deadline harus tepat. Kebetulan latar belakang saya desain grafis, jadi kalau ada jadwal deadline sekian biasanya saya tepati, makanya pihak Singapore Biennale juga nyaman dalam mengundang dan bekerjasama, mereka teratur dan sesuai,” ujarnya.

Ia mengimbuhkan, “Kami memang tidak melihat Singapura atau negara mana, tapi memang semua yang kami kerjakan seperti itu, karena kami setiap tahun harus ada proyek seni yang kami kerjakan, jadi kami juga harus punya jadwal sendiri. Memudahkan dan lebih enak bekerja seperti itu, karena dari dulu desain grafis harus menepati target dari klien.”

Biennale di Indonesia

Tidak hanya membandingkan gelaran biennale Indonesia dengan di luar negeri, menurut Eddy ajang pameran seni rupa biennale pun juga kadang tidak dapat dibedakan dari ajang pameran serupa, seperti Art Stage Jakarta, Bazaar Art Jakarta, dan atau Art Jog, baik dari segi penyusunan acara maupun skala karya yang ditampilkan.

“Indonesia belum siap dan belum bisa membedakan mana yang biennale, art fair, atau pameran biasa. Sepertinya hanya beda nama saja. Makanya, biennale di sini kalah jauh dengan Art Jog di Yogyakarta, Art Stage Jakarta, dan Bazaar Art Jakarta,” katanya.

Ia berpendapat, publik lebih antusias untuk datang ke acara-acara tersebut dibandingkan biennale di Indonesia karena nuansa biennale yang masih sangat biasa dan tidak spektakuler. Sementara, Art Jog, Art Stage, dan Bazaar Art mampu menarik lebih banyak pengunjung, bahkan tak jarang dari mereka merupakan penikmat seni dari luar negeri.

No comments yet.

Leave a Comment

All fields are required. Your email address will not be published.