Singapura, CNN Indonesia — Sebanyak 63 seniman memamerkan karyanya dalam perhelatan Singapore Biennale 2016, satu dari sekian pameran seni visual kontemporer termeriah di Asia. Tahun ini, acara yang bertajuk ‘Atlas of Mirror’ ini menawarkan sembilan konsep besar, yakni Ruang (An Everywhere of Mirrorings), Waktu (An Endless of Beginnings), Memori (A Presence of Pasts), Alam (A Culture of Nature), Batasan (A Shade of Borders), dan Agen (A Breath of Wills).

Puluhan seniman yang berpartisipasi datang dari berbagai negara di Asia. Meski demikian, Indonesia bisa berbangga, karena tujuh seniman Tanah Air berhasil masuk dalam jajaran itu. Jumlah tersebut menjadikan Indonesia, bersama China dan India, sebagai negara yang mengirimkan perwakilan terbanyak setelah tuan rumah.

Dari 63 hasil seni yang memanjakan mata dan menambah wawasan itu, CNNIndonesia.com menyimpulkan lima karya yang paling spektakuler.

1. The Journey of Panji (Eddy Susanto, Indonesia)

The Journey of Panji terdiri dari sebuah gambar yang dibuat di kanvas berukuran besar. Selain gambar, kanvas itu juga ditempeli berbagai jenis huruf yang terbuat dari kayu. Huruf-huruf itu mengalir hingga ke sebuah buku raksasa. Saking melimpahnya huruf yang mengalir, ribuan di antaranya bahkan tumpah ke sisi di luar buku raksasa itu.

Siklus Panji ini adalah sebuah koleksi cerita yang berputar di sekitar Pangeran Panji yang legendaris. Cerita ini muncul pertama kali di Jawa pada abad ke-14, namun tersebar hingga zaman modern saat ini di Malaysia, Kamboja, Myanmar, Filipina, dan Thailand. Pada abad terakhir, cerita-cerita ini dikumpulkan menjadi satu jilid berjudul Wangbang Wideya oleh S.O. Robson.

Gambar-gambar dalam karya seni ini diambil dari beberapa relief yang mengilustrasikan episode-episode dari siklus Panji. Garis luar (outline) gambar-gambar ini dibuat dengan skrip, dimulai dengan aksara Jawa. Seiring mengalirnya cerita, aksara Jawa itu berubah menjadi skrip lain yang merefleksikan daerah-daerah yang dikunjungi narasi ini, yakni sebuah kartografi kaligrafi yang memetakan pergerakan Panji di berbagai penjuru Asia Tenggara.

Kreasi menakjubkan Eddy ini mengingatkan kita pada sejarah budaya di Asia Tenggara yang berhubungan. Selan itu, ribuan huruf yang tumpah-ruah dari sebuah buku ringkasan cerita Panji seakan memberikan sugesti soal batasan-batasan akan upaya apa pun untuk menyatukan sejarah-sejarah setiap negara atau merancang kawasan Asia Tenggara menjadi sebuah entitas tunggal.

Ribuan huruf berdesakan keluar dari buku raksasa ringaksan cerita Panji.
“Journey of Panji ini secara signifikan menggambarkan tentang sebuah epik Jawa untuk menceritakan kisah tentang bagaimana Eddy Susanto melihat dunia yang berputar di Asia Tenggara,” ujar Tan Siuli, salah satu pimpinan tim kurator Singapore Art Museum yang fokus soal karya asal Indonesia.

2. Aftermath (Pannaphan Yodmanee, Thailand)

Mural raksasa “Aftermath” karya seniman Thailand, Pannaphan Yodmanee.
Dalam mural raksasa berjudul Aftermath ini, Pannaphan mempersembahkan sebuah peta kosmos Buddha yang mirip dengan sebuah lukisan lanskap. Menggunakan material baku dan natural, penggabungan seni kontemporer dan tradisional Thailand menciptakan sebuah penyatuan kartografi surga dan bumi yang menceritakan sejarah Asia Tenggara.

Instalasi ini bercerita tentang dunia bawah (underworld), dunia masa kini (recent world), dan akhirat (afterworld).
Investigasi Pannaphan yang berkesinambungan tentang poin persimpangan antara kosmologi Buddha dan ilmu pengetahuan modern yang menuntunnya untuk mempertimbangkan konsep-konsep perubahan, kehilangan, kehancuran dan bencana yang tak terelakkan. Pannaphan berpandangan bahwa kegigihan manusia dalam membangun dunia dan bergerak maju, pada akhirnya akan memperlihatkan kelemahan-kelemahan manusia dan pengungkapan akan sebuah dunia yang lebih luas yang berada di luar lingkungan kenyamanan dan kontrol manusia itu sendiri.

Mural ini menceritakan tentang ketamakan manusia yang tak henti-hentinya mengeksploitasi bumi dengan mengatasnamakan pembangunan.
Dengan kreasi yang memenangkan penghargaan Benesse Prize ke-11 itu, Pannaphan mempersembahkan kepada kita sebuah pertanyaan akhir: pada akhir dari segala akhir, akankah kita menemukan kenyamanan dalam kepercayaan kita?

Pengrusakan bumi oleh manusia disimbolkan dengan robohnya bangunan.
“Melalui karya ini, Pannaphan ingin menceritakan soal tiga dunia, yakni dunia bawah (neraka), dunia saat ini (recent world), dan akhirat (afterworld). Jadi gambar-gambar ini bercerita soal awal negara-negara Asia Tenggara yang berjaya dengan kekayaan maritim, kemudian didatangi penjajah yang menanamkan budaya mereka,” ujar Tan Siuli.

Kemerosotan nilai-nilai agama karena perkembangan zaman dilambangkan dengan hancurnya pagoda-pagoda.
“Masyarakat kemudian melakukan eksploitasi dan pengrusakan atas nama pembangunan. Pada akhirnya, dunia ambruk, yang disimbolkan dengan bangunan-bangunan yang jatuh berserakan. Selain itu, nilai-nilai agama juga tergerus, yang dilambangkan dengan rusaknya pagoda-pagoda ini,” katanya.

3. Karagatan, The Breadth of Oceans (Gregory Halili, Filipina)

Menggemakan misteri cermin, instalasi menggugah ini memberikan sebuah sentuhan puitis: saat melihat karya ini, karya ini secara mengerikan melihat kembali padamu.

Karagatan memotret mata para penduduk pedesaan di pesisir pantai di Filipina. Mulai dari nelayan, penyelam mutiara, pembuat perahu, pedagang kerang, hingga anak kecil yang ditemui Halili saat mengerjakan proyeknya ini.

Halili melukis detail mata masyarakat pesisir pantai Filipina dengan sangat khas dan halus.
Hasil dari riset sang artis adalah lukisan halus yang menangkap detail dan karakteristik istimewa dari mata setiap subjek: garis, lekukan, dan kontur. Itu semua ditransformasikan menjadi potret unik dan mengejutkan di atas kerang induk mutiara dan minyak.

Sebagai miniatur, hasil karya ini memanfaatkan sebuah tradisi kudus yang diasosiasikan dengan pengadilan kerajaan. Namun, di sini, potret-potret mini ini memetakan sebuah komunitas pesisir yang bekerja untuk memanen karunia laut, namun jarang menuai kekayaan.

Halili membayar penghormatan kepada orang-orang yang takdir dan rezekinya bergantung kepada laut, menggambar kebahagiaannya pada induk mutiara yang diperoleh dari dalam laut.

Dari kejauhan terlihat seperti deretan kapal yang melaut di malam hari.
Jika dilihat dari jauh, deretan ‘mata’ masyarakat pesisir pantai Filipina ini akan terlihat seperti deretan kapal di tengah samudra yang tengah mencari hasil laut di malam hari.

4. One Has to Wander through All the Outer Worlds to Reach the Innermost Shrine at the End (Qiu Zhijie, China)

Instalasi yang menggabungkan gambar peta dan pahatan kaca milik seniman China, Qiu Zhijie.
Dalam peta ciptaannya, Qiu mengadopsi sebuah metodologi yang menggabungkan pengalaman sehari-hari serta pendekatan filosofis untuk berpikir dengan grafis, dan mengatur hubungan serta sistem pengetahuan.

Serial peta ini menampilkan investigasi Qiu ke dalam sejarah kartografi. Dari analisis arkeologi tentang teori kontak PreColumbian trans-oceanic, hingga kesisteman motif, logika dan metode pendekatan pembuatan peta yang berbeda-beda. Ia menyatukan sejarah, filosofi, mitologi, dan ilmu pengetahuan secara bersama-sama.

Dalam karya ini, sang artis mengemukakan dua elemen yang mendasari hubungan antara pulau hantu, Utopia, dan monster-monster: ketakutan dan godaan. Ketika para petualang dan penjelajah awal ditarik ke tanah yang jauh nan misterius, perjalanan mereka, seperti yang diceritakannya, seringkali terganggu saat mereka bertemu dengan makhluk-makhluk aneh dan luar biasa.

Instalasi Qiu ini juga menampilkan hasil pahatan kaca indah berbentuk monster-monster fantastis yang dibayangkan tengah melintas di antara pegunungan dan lautan seraya menyihir sebuah dunia misteri yang mungkin pernah ada di luar sana namun sekarang telah menghilang.

5. The Great East Indiaman (David Chan, Singapura)

“The Great East Indiaman,” karya yang menggabungkan fakta dan fiksi ciptaan seniman Singapura, David Chan.
Mencampuradukkan fakta dan fiksi, The Great East Indiaman mengingatkan kembali akan mendaratnya Sir Stamford Raffles pada 1819 yang kemudian menyebabkan berdirinya Singapura yang modern.

Di lokasi kemenangan tokoh pria protagonis asal Eropa ini, Chan ingin menyusun kembali narasi tersebut sebagai suatu kisah fantastis dari sebuah spesies paus, yang dulunya adalah mitos dan sekarang telah punah, yang membawa Raffles ke semenanjung ini. Dalam cerita rakyat yang dibuat ini, spesies paus yang disebut “East Indiaman” itu dijinakkan sebagai binatang laut milik manusia dengan beban.

Meskipun demikian, kisah orisinal Chan juga didasarkan pada penelitian sejarah yang kuat: dari abad ke-17 hingga ke-19, East Indiaman adalah nama generik untuk setiap kapal milik English East India Company, dan itu berada di salah satu kapal dagang yang dipakai Raffles untuk berlayar mencapai Singapura.

Kreasi ini terbuat dari baja yang dilas dan beton berukuran 2,4 x 0,5 x 1,8 meter. Karya yang diletakkan di depan pekarangan National Museum of Singapore itu juga mengingatkan pengunjung akan kerangka seekor paus sirip India yang pernah menjadi ‘ikon’ museum itu, sebelum akhirnya dikembalikan di negara asalnya, Malaysia.

https://www.cnnindonesia.com/hiburan/20170122191403-241-188086/lima-karya-spektakuler-seniman-asia-di-singapore-biennale/

No comments yet.

Leave a Comment

All fields are required. Your email address will not be published.