Jakarta, CNN Indonesia — Kekayaan budaya Nusantara yang terangkum dalam kitab-kitab beraksara kuno kini diangkat kembali oleh seorang seniman rupa asal Yogyakarta, Eddy Susanto.
Lulusan Institut Seni Indonesia ini bukan cuma mengangkat kitab beraksara Jawa kuno dalam bentuk lukisan semata, namun ia menggabungkannya dengan kejayaan Eropa era Renaissance di pertengahan abad 15.

Terdapat 50 karya Eddy yang terdiri dari lukisan, patung, serta karya interaktif lainnya terpanjang indah dalam pameran JavaScript di Gedung A Galeri Nasional Indonesia dan dikuratori oleh Asmudjo J. Irianto, juga Suwarno Wisetrotomo.

“Saya mengkorelasikan kejayaan Nusantara yang terangkum dalam kitab dengan kejayaan Eropa di era Renaissance menjadi sebuah karya baru yang kontemporer,” kata Eddy kepada CNN Indonesia di Galeri Nasional Indonesia, Jakarta Pusat, beberapa waktu lalu.

“Harapannya,” kata Eddy, “pesan bahwa kebesaran yang Indonesia punya sebenarnya sama dengan kebesaran yang dimiliki oleh Eropa saat ini.”

Eddy tak sembarangan dalam membuat karya-karya indah dan mengundang decak kagum ini. Ia telah meriset dan membuat karya-karya ini selama dua setengah tahun. Riset yang dilakukan oleh Eddy pun tak sedikit, setidaknya ia telah “menghabiskan” 12 kitab Jawa kuno untuk karyanya ini.
Kitab-kitab tersebut adalah Serat Centhini, Negarakertagama, Arjunawiwaha, Bharatayudha, Jangka Jayabaya, Sutasoma, Kalathida, Asmaradana, Wedhatama, Pararaton, Panji, dan Ramayana.
Salah satu alasan yang membuat Eddy memilih kitab kuno Jawa sebagai bahan kreasinya adalah kelengkapan dan runtutnya cerita yang tersaji dalam kitab-kitab tersebut.

“Sebenarnya, ada juga kitab-kitab beraksara Sunda kuno, namun dari kitab yang berasal dari abad pertama Masehi ada bagian yang hilang seratus tahun dan belum ada yang mau mendokumentasikan hingga saat ini,” kata Eddy. “Tapi kalau Jawa, kami enak meruntutnya.”

Eddy “mengawinkan” satu kitab dengan satu karya dari Eropa era Renaissance. Tulisan dalam kitab Arjunawiwaha digunakan untuk menggambarkan the Promenade karya Albrech Durer.
Eddy berhasil mempertemukan “titik temu” antara kitab kuno yang dimiliki Nusantara dengan karya-karya Eropa era Renaissance, yang disebut dengan korespondensi.
Contoh lainnya adalah kitab Asmaradana dipasangkan oleh Eddy dengan The Conversion of St. Paul karya Lambert Hopfer. Juga kitab Negarakertagama dengan karya Christoph Weigel, Biblia Ectypa.

Selain dari 12 kitab Jawa kuno tersebut, Eddy juga mempertemukan aksara Pallawa Jawa dengan berbagai laman internet yang telah membuka mata dunia, seperti Wikipedia, Facebook, Twitter, dan LinkedIn. Gabungan antara aksara Jawa dan bahasa internet yang biasa disebut dengan javascript, menjadi makna filosofis dari tema pameran yang berlangsung hingga 13 September nanti.
Dalam mengerjakan karya-karya indah ini, Eddy cukup terbantu dengan adanya beberapa kitab yang tersimpan dalam Perpustakaan Nasional, Perpustakaan Universitas Gadjah Mada, juga Perpustakaan Keraton Jogjakarta.

Namun, mudah menemukan belum menjadi jaminan mudah dalam pengerjaannya. Kitab-kitab tersebut tidak dapat dibawa Eddy ke studio miliknya, ia harus memotret manuskrip beraksara Latin tersebut lalu menyalinnya dalam bentuk digital untuk kemudian diterjemahkan ke aksara Jawa kuno dengan aplikasi khusus. Setelah mendapatkan tulisan dalam aksara Jawa, Eddy yang juga dibantu oleh delapan pemuda desa tempat tinggalnya, menyalin terjemahan kitab itu menjadi lukisan dan karya seni lainnya.
Salah satu kurator, Asmudjo J. Irianto, mengatakan, bahwa yang dilakukan oleh Eddy adalah bentuk oksidental, yaitu melihat budaya pada masa lalu untuk memahami kondisi era saat ini.

“Aksara itu kan sebagai tanda peradaban, nah bagaimana refleksi masa lalu ini sebagai modal menjadi bangsa yang kuat di masa depan, itu tema utamanya,” kata Asmudjo kepada CNN Indonesia.

Asmudjo mengaku ia dan Suwarno hanya menempatkan titik penting dari karya-karya yang sudah dibuat Eddy sebelum kedatangannya. Seluruh metode, ide, dan teknik sudah dilakukan sendiri oleh Eddy.
Cara Eddy mempertemukan budaya Jawa kuno dengan  Eropa era Renaissance menunjukkan bahwa Nusantara sudah memiliki kemajuan peradaban, namun mengalami penurunan peradaban serta melupakan kemampuan diri sendiri.

“Saya orang Jawa namun tidak dapat memahami aksara Jawa, ini membuat saya malu, namun di sisi lain, sekaligus memicu saya bahwa sebenarnya banyak kekayaan dan kearifan tradisi dari bangsa kita, aksara itu membuat orang menjadi canggih,” kata Asmudjo.

Perasaan yang sama juga dirasakan oleh pengunjung, Rifal, mahasiswa dari Jakarta. Ia yang datang bersama teman-temannya merasa terkagum-kagum akan karya Eddy.
Ia tak menyangka bahwa budaya Indonesia di masa lalu sudah memiliki peradaban yang maju hingga dapat disejajarkan dengan Eropa. Rifal yang juga tak mengerti aksara Jawa ini pun sedikit banyak merasakan pesan tersembunyi yang disampaikan Eddy dari karya-karyanya.
Pameran JavaScript akan terus berlangsung hingga 13 September dan akan diadakan diskusi seni yang menghadirkan Eddy Susanto, para kurator, serta seniman lainnya di Galeri Nasional Indonesia, Sabtu (12/9) ini.

https://www.cnnindonesia.com/hiburan/20150912140518-241-78245/peradaban-maju-nusantara-di-balik-lukisan-eropa-abad-ke-15/

No comments yet.

Leave a Comment

All fields are required. Your email address will not be published.