Jati dirinya mungkin tak sepasaran namanya. Bagi sebagian orang ia mempunyai pribadi yang unik, ia juga hidup dalam empat + plus satu “dunia”—yang terakhir ini ia malu-malu mengakuinya.

Seniman kelahiran Jakarta, 12 Mei 1975 ini menghabiskan masa kecilnya di Pekalongan. Setamat sekolah tingkat atas ia meniti pendidikan sebagai desainer di dua institusi berbeda: Modern School of Design (1994), dan Fak. Senirupa, Institut Seni Indonesia (1996).

Eddy Susanto awalnya desainer poster yang prolifik, terlatih dari segi teknis, dengan tingkat kecepatan di atas rata-rata. Pelbagai poster telah ia buat, dan macam-macam bentuknya. Berkali-kali ia memenangkan lomba poster. Bahkan saat lomba poster HAM untuk Munir, juara 1, 2, dan 3 ia raup semua. Maka dalam serah terima hadiahnya, ia mesti tiga kali maju dan menjabat tiga tangan kanan orang berbeda. Ia pernah turut merancang poster film Garin Nugroho berjudul Puisi Tak Terkuburkan, sewaktu bergabung dalam biro desain BeeComm di Jakarta.

Yang paling gigantik ketika ia bersama Wahyu JR, yang juga desainer, merancang poster halaman koran yang pernah terbit di Indonesia menyambut Seabad Pers Kebangsaan (1907-2007). Ke-400 poster yang dicetak di atas kanvas itu merupakan redesain halaman-halaman muka koran/majalah/tabloid yang terbit sejak 1877 hingga 2006. Poster-poster ini pernah dipamerkan di Bandung, Semarang, dan Jakarta.

Di Jogja kaus adalah medium seni yang massif dan mobile. Kaus adalah ekspresi dan sekaligus identitas. Berkali-kali Eddy memenangkan lomba mendesain kaus di industri ini. Dari segi penguasaan peta di dunia kaus, ia adalah penjelajah. Di Jangkrik T-Shirt ia bekerja mendesain pelbagai tema. Dan di masa ini pula ia berurusan dengan militer lantaran tema-tema desain kausnya nyerempet-nyerempet politik. Kaus yang membuatnya wajib lapor ke kantor tentara adalah “Golput =/Kiri”.

Eddy juga telah membuat ratusan sampul buku dari nyaris semua penerbitan Jogja, seperti Pink Book, Jendela, LKiS, Kreasi wacana, Pustaka Pelajar, Yudhistira, Insist Press, Galang Press, I:BOEKOE, dan sebagainya. Ketika ia terjun bebas ke dalam dunia seni. Tak lupa ia bawa serta tiga dunianya sebelumnya: dunia poster, dunia sablon, dan dunia buku.

Bagi Eddy jika di dunia poster ia berhadapan dengan bidang monitor yang berukuran kecil, maka di dunia lukis ia berhadapan dengan bidang kanvas yang lebih luas. Namun dari cara kerja, cetak, dan bahan, ia menggabung tiga teknik sekaligus: cetak digital (digital print) dan fotografi dari dunia poster dan sampul buku, cetak sablon (screen print) dari dunia kaos, dan gambar tangan (freehand drawing) dari dunia lukis.

Ketika di dunia lukis inilah ia berkesimpulan bahwa ada karya yang memang bisa dibuat secara digital, tapi ada juga yang hanya bisa dibuat oleh goresan tangan langsung. Gabungan antara keduanya itulah yang melahirkan 13 karya pertama dan sekaligus pameran pertamanya: “TANDA/NDATA” dan kemudian disusul dengan 11 panel lukisan logo-logo partai untuk menyambut Hari Partai Indonesia yang diselenggarakan pertama kali NEWSEUM INDONESIA di Jakarta.

Seniman dua anak ini pernah mengaku paling tak suka teks. Tapi ada satu fase hidupnya, dan ini yang menarik, bahwa ia adalah mahasiswa ISI yang karya akhirnya menulis skripsi, dan ia pun melakukan riset.

Dengan dalih tugas akademis sekaligus tugas pribadi ia mencari tahu apa dan bagaimana brandname kota Jogja, “Jogja Never Ending Asia”; mulai dari konsep awal, produksi, hingga kegagalannya menjadi pernyataan identitas wisata. (Muhidin M Dahlan | Indonesia Boekoe )

Sumber: buletin iboekoe (edisi khusus), 2007 | Eddy Susanto (Katalog), September 2008 | Wawancara Eddy Susanto, 14 Agustus 2008