Kuncoro Hadi

Dalam catatan Mankind and Mother Earth Toynbee, seluruh Itali bukanlah satu-satunya loka tumbuhnya budaya modern karena wilayah Flanders muncul dan menjadi magnet kedua dari bersinarnya kebudayaan barat (Eropa). Salah satunya, di antara laut Adriatik dan laut Utara, Nuremberg menjadi pusat budaya. Di sanalah, Albrecht Durer berkarya sejaman dengan Michelangelo dan Raphael. Ia memang menjadi seniman besar yang menjadi tandingan seniman-seniman Itali . Durer menjadi seniman Renaisans Utara yang (juga) memberikan nuansa religius serta misterius dalam karya-karyanya layaknya Leonardo da Vinci. Karya-karya (Durer) ini diangkat kembali lalu ditafsirkan dalam sakralitas aksara, naskah (Babad Tanah Jawi) dan pemahaman akan angka dalam lokalitas Jawa sehingga tampilan sakralitas Durer secara visual bermakna juga membuka pemahamaan makna sakralitas dalam kultur Jawa.
Durer—dalam perkembangan Renaisans—memang tidak sekedar menampilkan sakralitas kristianitas tetapi juga memunculkan misteri angka dalam satu karyanya yang terkenal Melencolia I. Sakralitas angka memang mengundang kekaguman banyak orang. Dalam sebuah ilustrasi Amsal 11:21, yang termaktub dalam Alkitab berbahasa Perancis abad 13 Masehi, Sang Pencipta mengukur dunia menurut besar, jumlah dan beratnya dalam angka. Santo Agustinus—dalam buku kedua De Libero Arbitrio—juga mewartakan pelajaran bahwa “Semua makhluk mempunyai bentuk karena mereka memiliki angka. Jika engkau mengambil angka-angka ini dari mereka, maka mereka tak ada artinya. Angkalah yang menjadi inti dari makhluk. Angka-angka merupakan esensi yang bisa diukur.”
Melencolia I memang penuh simbol rahasia. Wajah-wajah saturnine (sedih) dalam karya ini mencerminkan sebuah titik balik dalam kehidupan Durer. Durer juga membuat kotak terkenal dalam karya ini, sebuah magic square yang disebut dengan kotak Yupiter. Sebuah kotak berisikan 16 kotak kecil. Angka sentral dikolom terbawah berjumlah 1514, menunjukkan tahun pembuatan etsa itu. Inilah kotak Yupiter sesungguhnya karena memiliki angka Yupiter—34—di seluruh baris horizontal, vertikal dan diagonal. Angka 34 juga menjadi jumlah angka dipojok-pojoknya dan jumlah angka dari angka-angka di kotak tengahnya. Magic square ini penting dalam Melencolia I. Kotak itu menjadi semacam katarsis. Kehadirannya—seperti catatan Clifford A. Pickover—dipercaya oleh para astrolog Renaisans mampu mengalahkan melankolia yang asalnya dari Saturnus .

Maka tepat kiranya bahwa karya Java of Durer#2 menjadi penanda perayaan 500 tahun Melencolia I. Java of Durer#2 mencoba menarik korelasi antara Renaisans Eropa—terutama terkait dengan simbol-simbol enigmatis Durer (Durer code) dalam Melencolia I—dengan kultur Jawa. Dalam Melencolia I terdapat dua kategori simbol yang penting: simbol angka dalam magic square dan bentuk-bentuk benda ikonik (termasuk cupid, malaikat hingga tulisan Melencolia I). Kedua bentuk simbol itu diabadikan dalam sebuah kubus rubik. Setiap sisi rubik ini memuat 64 kotak kecil yang berisikan angka-angka dalam magic square dan juga bentuk-bentuk benda ikonik dalam Melencolia I secara acak. Mulai angka 1 hingga 16 serta 31 ikon (lonceng, tangga, kelelawar, Anjing, palu, jangka/kompas, timbangan, jam pasir, mahkota bunga, roda, benda geometrik, catut/tang, bola/globe, paku, pisau gergaji, pasah, malaikat, cupid, komet, tas, kunci, pelangi, dupa, rumah, buku, papan kayu, kota, lampu, alat serutan, wadah tempa baja besi/cor, tulisan caelo limine ). Setiap angka dan ikon memiliki makna. Dalam kultur Jawa, angka terkadang disembunyikan dalam dua model sengkalan (kronogram). Pertama, tulisan-tulisan dalam serat dan babad selalu menyertakan sengkalan kalimat atau yang disebut dengan sengkalan lamba. Babad Tanah Jawi memuat sengkalan lamba ini untuk menyatakan angka-angka. Kedua, terkadang angka-angka mewujud dalam sengkalan memet, sebuah sengkalan dalam bentuk benda-benda ikonik yang juga berfungsi untuk mengartikulasikan angka-angka .
Dalam tradisi sengkalan memet, maka benda-benda ikonik dalam rubik bisa ditafsirkan memuat angka-angka dalam kotak Yupiter Durer. Ikon bentuk-bentuk tunggal dan bulat bermakna angka 1, bentuk-bentuk benda yang berjumlah dua seperti mata, tangan, sayap, telinga, atau kaki bermakna angka 2, sementara sebagian dari ikon-ikon lain yang mengandung api seperti dupa dan lampu bermakna angka 3, kota (sesuatu yang besar) dan malaikat (sesuatu yang suci) melambangkan angka 7, air melambangkan angka 4, roda bermakna angka 5, kayu untuk makna angka 6, bintang komet untuk makna angka 8, ikon benda berlubang untuk angka 9, dan kelelawar yang terbang tinggi bermakna angka 10 .
Sementara teks Babad tanah Jawi dalam aksara bahasa Jawa yang membentuk lukisan Melencolia I dalam kanvas mencoba memaknai korelasi kultural Renaisans di awal abad 16 Masehi dengan apa yang terjadi Jawa di abad yang sama. Dalam The Mistery of Numbers, Annemarie Schimmel menyebutkan bahwa Melencolia I sesungguhnya ingin menunjukkan nuansa Eropa dibawah kuasa Maximilian I. Schimmel menyebutkan Melencolia I merupakan refleksi akan sosok Maximilian sebagai “Saturnus yang menakutkan” . Secara luas, penyebutan ini tentu saja berhubungan dengan kuasa Maximilian I atas negeri Romawi Suci yang berpusat di Eropa Tengah dengan negeri-negeri lain di sekelilingnya. Eropa telah terpecah-pecah dalam fragmentasi politik, terkadang mengarah pada despotisme di beberapa wilayah. Tetapi secara kultural—terutama budaya Renaisans—mereka terpolarisasi dalam dua kutub yang terkadang dikotomis: Utara-Selatan, meski terkadang samar. Dalam titik ini, paling tidak Babad Tanah Jawi mengabarkan hal yang serupa. Jawa di abad 16 Masehi telah terfragmentasi dalam beberapa kuasa yang menunjukkan polarisasi antara pesisiran dan pedalaman yang dikotomis, yang juga merujuk pada arah yang sama: Utara-Selatan.
Kuasa Maximilian di masa Durer di Eropa adalah masa Dipati Unus dan Trenggono di pesisir utara Jawa serta—dalam catatan Tome Pires—Pate Udara di pedalaman Jawa (Daha/Majapahit). Babad Tanah Jawi mengabarkan sosok Pate Udara, Unus (pangeran Sabrang Ler) dan Trenggono sebagai para penguasa pedalaman-pesisiran yang mencoba melebarkan kekuasaannya seperti halnya Maximilian I melalui perang dan pernikahan. Munculnya relasi kerjasama (pernikahan eksogami) dan persaingan (perang)—dalam pandangan struktural W.H. Rassers—telah menunjukkan konsep hubungan dua phratrie. Phratrie atau moiety merupakan paroh masyarakat yang terbagi dalam dua kelompok besar yang mempunyai hubungan pertukaran, yang mengintegrasikannya dalam satu masyarakat atau komunitas . Teks Babad Tanah Jawi telah menunjukkan struktur masyarakat (phratrie) seperti ini dimana hubungan dua paroh masyarakat (negeri-negeri) begitu fluktuatif, terkadang menjadi lentur atau berubah kaku. Mereka bisa saling bekerjasama tetapi juga bisa saling bersaing. Pandangan tentang dua phratrie ini tepat untuk meneropong—seperti halnya keyakinan Rassers—tidak hanya untuk Jawa tetapi juga Eropa di masa Durer, di abad 16 Masehi.
Perang hingga pernikahan politik memang menjadi alat legitimasi yang dilakukan oleh Maximilian I serta para penguasa pesisiran-pedalaman Jawa. Tentu saja tindakan-tindakan itu mampu—dalam kondisi yang paling negatif—merubah Eropa dan Jawa dalam apa yang digambarkan Durer—seperti yang tertuang dalam Melencolia I—sebagai wajah-wajah saturnine, wajah-wajah kesedihan dan kemurungan.

 

Durer’s Saturnine: Para Patron Dunia Eropa dan Jawa Abad 16

Maximilian I: Sang Saturnus

Of the power of Germany, none can doubt,
for it abounds in men
riches and arms…
(Machiavelli)

Tepat 19 Agustus 1493, penguasa tua Frederick III meninggal dalam keadaan tubuh yang tidak lagi utuh. Ia telah mencapai usia 77 tahun dan dimakamkan di Wina, dimana ia selalu menyimpan misteri kode string terkenalnya: A.E.I.O.U. yang bermakna Alles Erdreich ist Oesterreich untertan (seluruh dunia tunduk pada Austria). Kekaisaran Romawi Suci sedikit kehilangan atas kepergiannya, tetapi tidak berselang lama segalanya pulih dibawah kuasa sang anak lelakinya: Maximilian I.
Imperium Romanum Sacrum lalu berubah, pada 1508 M, Maximilian I tidak lagi menghadap Paus untuk penobatan. Ia tidak ingin repot dengan perjalanan jauh dan berbahaya ke Roma, seperti para pendahulunya yang dimulai sejak Charlemagne. Alih-alih, Maximilian memilih untuk dimahkotai di tempat dimana ia tinggal, Aachen, ibukota Charlemagne. Paus Yulius II pun setuju dan Maximilian memberi gelar—untuk dirinya sendiri—Erwaehlter Roemischer Kaiser (Kaisar Romawi Yang Terpilih). Sejak itu, ia telah mengakhiri tradisi kuno selama berabad-abad bahwa Kaisar Romawi Suci harus dimahkotai oleh sang paus.
Sebagai bagian penting dari wangsa Habsburg, Maximilian lahir di Wiener Neustadt pada 22 Maret 1459. Dimasa kecilnya, penguasa Burgundia di Perancis—dibawah Charles le Temeraire, sang pemberani—menjadi oposisi paling kuat bagi ayah Maximilian. Burgundia menjadi negeri yang siap menantang perang Romawi suci, dimana pasukan mereka cenderung ekspansif di perbatasan sebelah barat Kekaisaran Romawi Suci. Ayah Maximilian segera bertindak dengan melakukan perkawinan politik. Maximilian segera dijodohkan dan dinikahkan dengan putri satu-satunya Charles, si cantik Marie. Pernikahan antara Maximilian dan Marie dilangsungkan pada 16 Agustus 1477.
Perkawinan ini telah memberi sedikit legitimasi bagi Maximilian untuk menguasai kuasa Burgundia di Perancis. Maka sebelum penobatannya sebagai kaisar Romawi, ia mati-matian mengamankan kekuasan atas Burgundia melalui istrinya untuk menjadi bagian dari kekuasaan wangsa Habsburg. Tetapi tentangan muncul dari Louis XI yang menuntut kekuasaan Burgundia atas dasar hukum Salik, dimana secara tradisi, kekuasaan di Perancis selalu (dan harus) dikuasai oleh penguasa keturunan Perancis sendiri. Maximilian menolaknya dan mati-matian mempertahankan wilayah kerajaan istrinya dari serangan Louis XI dan mengalahkan pasukan Perancis itu di Guinegatte pada 7 Agustus 1479. Keputusan baru akhirnya dibuat: pernikahan antara Maximilian dan Marie ditetapkan dan dikuatkan serta keturunan mereka berhak menjadi pewaris. Peraturan yang sulit itu diperjuangkan oleh Marie. Dan selepas kematian Marie yang tragis dalam sebuah kecelakaan berkendara pada 27 Maret 1482 didekat Puri Wijnendale, Maximilian harus berusaha keras agar kuasa wilayah Burgundia jatuh ke tangan anaknya, Philippe I.
Kekuasaan Maximilian yang besar mengundang kebencian. Beberapa penguasa di wilayah Belanda menjadi salah satunya. Mereka menandatangani sebuah perjanjian dengan Louis pada 1482. Sebuah kesepatan aliansi menentang Maximilian yang akhirnyaa berbuah hilangnya kuasa Maximilian atas wilayah Franche-Comte dan Artois di timur Perancis. Wilayah-wilayah itu kemudiaan dikuasai Louis. Maximilian terus memerintah sisa warisan Marie atas nama Philippe I, anaknya. Perselisihan antara maximilian dan Louis XI bisa diselesaikan dalam perjanjian Senlis (1493), dimana Charles VIII (anak dari Louis XI) mendapatkan wilayah Burgundia dan Picardie sementara Maximilian mendapat hak lebih untuk menguasai wilayah Belanda.
Sementara penguasa lain di Perancis, Louis XII dari Orleans mengamankan perbatasannnya di daerah utara dan mengalihkan perhatiannya ke Italia, dimana ia menuntut wilayah Milan. Pada 1499-1500, ia memulai perang dan akhirnya menguasainya serta mengusir penguasa Milan, Sforza Lodovico il Moro, ke pengasingan. Perluasan wilayah ini menimbulkan konflik. Maximilian pada 16 Maret 1494 telah menikahi Bianca Maria Sforza, putri Adipati Milan sebagai bagian dari upayaanya untuk memperluas kuasa kekaisaran Romawi Suci. Untuk itu, Maximilian berupaya untuk membendung ekspansi Louis XII dan terlibat perang. Maximilian ikut serta dalam persekutuan untuk melawan Perancis di bawah Louis XII.
Kala itu, perang di Italia bukan satu-satunya masalah yang dihadapi Maximilian. Kekuatan Swiss juga telah memenangkan perang yang menentukan melawan Romawi Suci di Dornach pada 22 Juli 1499. Akhirnya, Maximilian tidak punya pilihan selain menyetujui perjanjian damai yang ditandatangani pada 22 September 1499 di Basel yang menjamin Konfederasi Swiss bebas dari Kekaisaran Romawi Suci.
Dalam usahanya mengurangi tekanan yang tumbuh di Kekaisaran Romawi Suci yang dibawa oleh perjanjian di antara para pemimpin Perancis, Polandia, Hongaria, Bohemia, dan Rusia, dan juga untuk mengamankan Bohemia dan Hongaria untuk Habsburg, Maximilian I bertemu dengan raja Ladislaus II dari Hongaria dan Bohemia dan Zigismund I dari Polandia di Kongres Pertama Wina pada 1515. Dalam pertemuan itu, diatur pernikahan politik, nantinya cucu perempuan Maximilian, Maria, akan dinikahkan dengan Lajos, putra Ladislaus, dan Anna Jagellonska, saudari Lajos, akan dinikahkan dengan cucu laki-laki Maximilian, Fernando. Kedua cucu Maximilian itu merupakan anak-anak Philippe I, putra Maximilian. Pernikahan yang diatur itu membawa dampak positif bagi kuasa wangsa Habsburg. Wangsa ini memiliki kedudukan yang kuat atas wilayah Hongaria dan Bohemia pada 1526. Baik Anna maupun Lajos akhirnya diangkat anak oleh Maximilian selepas kematian Ladislaus. Maximilian tidak perlu berperang untuk menaklukkan negeri Hongaria. Pernikahan politik itu dikenang dalam sebuah lirik latin klasik: Bella gerant alii, tu felix Austria nube/ Nam quae Mars aliis, dat tibi regna Venus, “Biarkan yang lainnya berperang, namun engkau, Austria yang berbahagia, menikah; untuk kerajaan-kerajaan yang diberikan Mars kepada yang lainnya, Venus memberikannya kepadamu”.
Kehidupan Maximilian mengalami perubahan pada satu peristiwa di tahun 1501. Saat itu ia jatuh dari kuda kesayangannya. Kecelakaan itu membuat kakinya cedera berat. Ia menjadi cacat dan sakit di sepanjang hidupnya. Ia kemudian mengalami depresi hebat dan beberapa orang menganggapnya “tidak waras”. Sejak tahun 1514—tahun tepat dimana Albrecht Durer membuat karyanya Melencolia I—Maximilian melakukan perjalanan kemana-mana dengan tandunya.
Maximilian adalah pengagum setia seni dan ilmu pengetahuan, dan ia sendiri dikelilingi oleh kaum cendekia seperti Joachim Vadian dan Andreas Stiborius, dimana mereka menjadi orang-orang penting di istana. Maximilian juga menjadi patron kaum seniman dalam perkembangan Renaisans Utara. Ia menugaskan serangkaian karya monumental ukiran kayu, The Triumphal Arch (1512–180), Triumphal Procession (1516–18), dan Large Triumphal Carriage (1522) yang salah satunya dibuat oleh Albrecht Durer.
Pada 12 January 1519, di usia 60 tahun, Maximilian meninggal di Wels, Austria Hulu,dan digantikan oleh cucunya Carlos V—putra Philippe I. Disamping itu, Maximilian juga menunjuk putrinya Margarete sebagai baik wali Belanda. Maximilian dimakamkan di dalam Kapel Puri di Wiener Neustadt dan sebuah tugu peringatan dibuat untuk mengenangnya di gereja Hofkirche, Innsbruck Austria.
Maximilian—seperti yang ditunjukkan oleh Durer dalam Melencolia I—menjadi saturnus yang tepat. Melalui perang-perang dan pernikahan-pernikahan, ia meningkatkan pengaruh wangsa Habsburg dan juga dirinya sendiri kesegala arah: ke Belanda, Spanyol, Bohemia, Hongaria, Polandia, dan Italia. Pengaruh ini akan berlangsung selama berabad-abad dan mempengaruhi sejarah bangsa Eropa.

“Tiga Terangkai” Penguasa Jawa

Abad keenambelas Masehi.
Bahkan juga laut Jawa di bawah bulan purnama sidhi itu gelisah.
Ombak-ombak besar bergulung-gulung memanjang terputus,
menggunung, melandai, mengejajari pesisir pulau Jawa.
Setiap puncak ombak dan riak, bahkan juga busanya yang bertebaran
seperti serakan mutiara–semua–dikuningi oleh cahaya bulan.
Angin meniup tenang. Ombak-ombak makin menggila.
(Pramoedya Ananta Toer)

Masih di abad 15 masehi, pada 1499 M, Girindrawarddhana Dyah Ranawijaya masih berjaya di Wilwatikta yang meliputi sedikit wilayah (Majapahit-Janggala-Kadiri)—setidaknya seperti termaktub dalam sebuah catatan pengakuan atas dirinya,”..Sri Maharaja Sri Wilwatiktapura Janggala Kadiri”. Tetapi berselang 13 tahun berikutnya, Tome Pires sedikit mengabarkan hal lain. Seorang penguasa Jawa (di Majapahit) memang ada tetapi ia tunduk terhadap seorang wakil (viceroy) yang dalam kultur Jawa disebut patih. Tulisan klasik Pires, Suma Oriental,mengabarkan hal itu:

“the Lord of Java are revered like gods, with the great respect and deep reverence…the kings do not command, nor they taken into account, but only the viceroy and chief captain, wich each of them has and the one who is ruling now in Java is Gusti Pate, his viceroy and his chief captain. This man is known and honoured like the king. All the lords os Java obey him…this governor commands in every things, he hold the king of Java in his hands, he orders him to be given food. The king has no voice in anything, noris he of any importance…the viceroy of java and its chief captain is called Guste Pate. He was formerly called Pate Amdura. It is he and no one else who rules all Java in the places and the lands of the heathens. Guste Pate is knightly man, he is always fighting in wars. He is always at wars with the Moors on the seacoast, especially with the lord of Demak…the king of Tuban told me this, and as they are great friends and the king of Tuban is his vassal…”
“…and behind comes the king wandering along with his Guste Pate, and they take hounds and greyhounds, and others bearing three-pronged hunting spears beautifully inlaid…”
“…These Moorish pates (patih)…are great lords and when they speak of courtesy and civility they say that there is everything at court and riches. And they speak of Guste Pate’s affairs with great respect.”

Catatan Suma Oriental tentang Jawa dan Gusti Patih telah mengindikasikan bahwa kekuasaan (peradaban) Jawa sesungguhnya telah mengalami dikotomi antara pesisiran dan pedalaman. Hal itu semakin dikuatkan dengan catatan lain. Pada 1514, Gubernur Portugis di Malaka, Rui de Brito, dalam laporannya kepada raja Dom Manoel menyebutkan bahwa, “Java is large island. It has two kafir (heathen) kings. One is called the king of Sunda and the other the king of Java…the coasts of the sea are of the Moors and are very powerfull, great merchants and gentlemen call themselves adipati (duke)”. Sementara penulis Italia, Duarte Barbosa, pada 1518 juga menjelaskan tentang penguasa di pesisir dan pedalaman Jawa:

“…among which is one very great which they call Jaoa (Java), the sea havens, who posses very great town and villages, yet all are subject to the Heathen King, a very great lord whom they call Pateudra who dwells in the interior. Some who rise up against him he subdues again forthwith…” .
“Pateudra, this name or title is given in the Spanis version as Pateudara and…as Pateudora, which should no doubt be read Pate Udora. Pate is evidently a title and Udara or Udora a personal name..”

Catatan Barbosa menyebutkan bahwa kekuasaan tetap dipegang oleh penguasa pedalaman, meski yang jelas wilayah pesisiran sesungguhnya sulit dikontrol oleh pedalaman. Dalam catatan Pires maupun Barbosa disebutkan sosok penguasa pedalaman, Gusti Pate (Pate Amdura) atau Pateudra. Nama-nama yang merujuk pada satu figur. Ia jelas seorang patih, tetapi berkuasa penuh—dalam kisah yang lebih tua sosoknya seolah mengingatkan kembali figur sang mapatih Jrnodharma Mpu Mada pada masa Prabu Rajasanagara—atas wilwatikta. Ia hadir dalam masa tarik ulur peradaban pedalaman dan pesisiran Jawa. Redupnya kuasa Pateudra seolah menjadi redupnya kuasa Majapahit di pedalaman. H.J de Graaf dalam tafsirnya atas Malay Annals (catatan tahunan Melayu) menyebut bahwa Pateudra identik dengan nama (Cina) Pa Bu Ta La. Pada 1488, ia disebut menjadi menantu Kung Ta Bu Mi (Kertabumi?), pangeran Majapahit yang tinggal di Demak selepas tahun 1478. Telah diketahui umum jika jatuhnya Kertabumi dari tahta Majapahit menjadi akhir kuasa Wilwatikta dalam sebuah sengkalan (kronogram) Saka yang begitu masyur, “sirna ilang kertaning bumi”.
Pada tahun 1517, Pateudra (Patih Udara) telah menjadi ipar penguasa muslim Demak, Jin Bun (Raden Patah). Empat tahun berselang, ia bertindak mewakili—dan seakan-akan—menjadi penguasa Majapahit yang membuka hubungan diplomatik dengan Portugis di Malaka dan penguasa di China. De Graaf menyebut bahwa—seperti halnya Gajah Mada—Patih Udara merupakan keturunan rakyat biasa, diangkat sebagai bangsawan melalui pernikahannya dengan putri Kertabumi. Kala itu—bahkan hingga sekarang—lazim dilakukan pengangkatan seorang pembantu yang memiliki jasa besar menjadi bangsawan di istana kerajaan Jawa. Di Majapahit, pernikahan Patih Udara dengan putri Kertabumi dan pernikahan putrinya dengan seorang penguasa Majapahit di sekitar tahun 1451/3 memang telah meningkatkan posisinya sebagai penguasa bayangan. Seperti catatan Tome Pires dalam Suma Oriental yang menyebut bahwa Gusti Pate layaknya seorang raja. Bahkan dalam tafsiran lanjutan atas Malay Annals, de Graaf menyebut pernikahan Patih Udara dengan adik penguasa Demak adalah bagian dari upaya membangun aliansi dengan Islam sebagai kekuatan baru. Hal ini berarti bahwa Patih Udara yang mewakili peradaban pedalaman berusaha untuk “mengikat” atau mungkin juga ingin “menundukkan” wilayah pesisir yang semakin berkembang. Tome Pires ketika sejenak mengunjungi Tuban (tanah Wulungga)—selepas mendengar cerita tentang sang Gusti Patih—menganggap bahwa tokoh ini begitu penting di Jawa (pedalaman). Gusti Pate menjadi manusia utama dalam hidupnya pada 1513, sejaman dengan penguasa Tuban (wilayah pesisiran) yang kala itu telah berumur setengah abad (50 tahun) .
Patih Udara memang menjalin alisansi penting dengan penguasa Tuban, Pate Vira (patih Wira). Bahkan Tuban menjadi wilayah dibawah Patih Udara karena menjadi pelabuhan di pantai utara Jawa bagi kepentingan ekonomi perdagangan Daha di pedalaman serta menjadi “benteng” pesisiran untuk menghadapi ancaman kekuatan pesisir utara Jawa.

“…so this land of Tuban is the Subject to Guste Pate and this is the nearest port to the city of Daha where Guste Pate has his residence and they have made an agreement that Guste Pate will help him with the or twenty thousand men when enemies come upon Tuban, because all the Moorish pates of Java hate him because he is friendly with the Cafre (kafir). The men of Tuban are knights—more than any of the other Javanese. No lord of Java is friendly with him. Because his town is strong and difficult to land at and (because) he is allied with Guste Pate, he fears no one and he gets the better of them all” .

Figur penguasa Tuban memang berbeda. Dalam pandangan Tome Pires, Pate Wira bukan seorang muslim yang fanatik. Ia memiliki hubungan baik dengan orang-orang Hindu Jawa Pedalaman. Bupati Wira suka memelihara anjing. Ia juga bersahabat dengan Portugis, karena itulah ia mendapat celaan orang-orang Muslim. Menurut Pires, Pate Wira mendapat anugerah gelar anatimao de raja dari penguasa Jawa di Majapahit . Mungkin sekali anugerah itu berkat Guste Pate atau Patih Udara.
Tuban memang teramat penting sebagai pesisir. Menjadi bandar yang dibenci sekaligus disukai oleh bangsa-bangsa yang saling berseteru berebut monopoli perdagangan rempah. Majapahit butuh Tuban untuk berhubungan dengan bangsa lain, termasuk bangsa kulit putih. Penguasa Tuban mendukung kebijakan ini, bangsa manapun yang datang dan menguntungkan akan diterima, termasuk Portugis, meskipun bangsa ini telah menguasai Malaka pada 1511 Masehi.
Dalam imajinasi indah Pramoedya yang menggunakan Babad Tanah Jawi serta catatan-catatan asing sebagai bahan tulisannya, ia melukiskan Bandar Tuban serta penguasanya—yang faktanya sesungguhnya berada dibawah kuasa Gusti Pate di Majapahit. Bandar Tuban memang megah dan terbuka:

Deburan ombak terdengar nyata. Tak ada manusia bergerak dalam sepengelihatan penguasa Tuban itu. Jauh di darat nampak orang bersimpuh di atas tanah dengan kepala menunduk ke bumi. Dan di laut kapal dan perahu yang tertambat berayun-ayun dengan layar tergulung dan tiang-tiangnya menuding langit.

”Teruskan, Kakang Patih.”
“Ampun, beribu ampun, Gusti. Dongengan patik yang indah ini datang menghadap Gusti untuk jadi bahan periksa, Gusti. Kapal-kapal Atas Angin pada gentar. Orang bilang banyak di antaranya telah mereka kirimkan ke dasar lautan. Semua pedagang mengimpikan dan memburu keuntungan, Gusti, maka benua dan lautan ditempuh. Mengetahui, dengan munculnya kapal-kapal Peranggi, bukan keuntungan yang teraih, tapi maut belaka, maka mereka lebih suka tinggal tidur di tengah-tengah mewahan di rumah masing-masing di bandar sendiri.”
“Maka makin berkurang kapal-kapal Atas Angin datang?”
“Demikian adanya, Gusti sesembahan patik.”

Sang Adipati tercenung sebentar. Ia menunduk dan berpikir. Lambat-lambat kedua belah tangannya tertarik ke atas dan bertolak pinggang Sebentar dia berpaling dan menebarkan pandang pada laut, kemudian pada langit. Bertanya pelan: “Bagaimana bisa ada senjata lebih dahsyat dari cetbang?”
“Beribu ampun, Gusti, cetbang mereka bukan sekedar dapat menyemburkan api dan meledak, juga memuntahkan bola-bola besi sebesar, sebesar, kata orang, sebesar buah kelapa”
“Sebesar buah kelapa! Terkupas atau tidak?”
“Gusti Adipati berolok-olok. Apakah bedanya buah kelapa itu terkupas atau tidak? Besi sebesar tinju pun akan dapat remukkan setiap kapal, Gusti.”

Adipati Tuban Arya Teja Tumenggung Wilwatikta terdiam. Juga destarnya yang panjang-panjang itu sebentar menggelepar tertiup angin. Intan, baiduri dan jamrud yang menghiasi bagian depan destar gemerlapan bermain-main dengan sinar surya. Bertanya seakan tak acuh: “Bangsa apa kata kakang tadi?”
“Peranggi, Gusti. Orang bilang, ada bangsa lain, juga sama hebatnya, Ispanya namanya, Gusti. Kapal-kapal Atas Angin pada ketakutan, Gusti, biarpun hanya melihat dari kejauhan. Mereka sudah berlarian cari selamat, berlingsatan tunggang-langgang cari hidup. Sedang kapal Peranggi itu, Gusti, tak pernah belayar sendirian, selalu dalam rombongan, paling tidak dua atau tiga buah. Kapal-kapal Atas Angin itu, milik pedagang-pedagang itu, tak pernah
dalam rombongan. Karena persaingan satu dengan yang lain, baik di laut mau pun di darat.”
“Dalam rombongan seperti armada Majapahit?”
“Benar, Gusti.”
“Apa lagi ceritamu, Kakang Patih?”
“Mereka lain dari orang-orang Arab, Parsi atau Benggala, lain dari semua bangsa yang pernah datang di Tuban. Mereka itu putih seperti kapas, seperti awan, seperti
kapur, seperti bawang putih….”
“Barangkali sebangsa hantu laut?”
“Gusti berolok-olok. Mohon apalah kiranya tidak berolok-olok, Gusti. Keadaan dunia sungguh-sungguh sudah berubah. Gusti. Mereka punya negeri dan rajanya sendiri.”
Sang Patih menurunkan nada suaranya dan meneruskan pelahan bercampur dengan tiupan angin…
“Aku tak dengar, Kakang Patih, lebih keras.”
“Ampun, Gusti. Dari dulu orang tua-tua sudah mendongeng tentang bangsa kulit putih, seperti dongeng tentang peri dan gandarwa, seperti dongengan orang Islam tentang jin, iblis dan setan, seperti dongengan tentang dedemit para leluhur. Sekarang ternyata bangsa manusia berkulit putih sesungguhnya ada.”
Ia turunkan lagi nada suaranya sehingga hampir bergumam.
“Siapa tahu, Gusti….”
“Lebih keras!”
“Ampun, Gusti, siapa tahu, barangkali pada suatu kali jin dan iblis dan setan orang-orang Islam juga punya negeri sendiri kapal dan cetbang.”
Sang Adipati memperbaiki letak keris, kemudian dilambainya Syahbandar agar mendekat. Yang dilambainya bergerak, tetap berdiri dan mengangkat sembah kepala.
“Apa pengetahuanmu tentang bangsa berkulit putih?”
“Bangsa kafir itu, Gusti, bangsa berkulit putih, tapi hatinya, rohnya, nyawanya, hitam, Gusti, hitam seperti jelaga periuk. Mereka tidak mengagungkan Allah Yang Maha Besar. Mereka penyembah patung. Sedangkan orang Jawa pun bukan penyembah patung, kecuali pemeluk Buddha. Mereka penyembah patung, Gusti.”
“Kafir atau tidak apa salahnya? Penyembah patung atau tidak apa buruknya? Roh, nyawa atau hatinya hitam atau putih atau kelabu ataupun ungu seperti bunga kecubung, apa peduli? Allah Maha Besar telah memberikan pada manusia berbagai macam warna. Selama mereka datang membawa kesejahteraan untuk bandar Tuban… siapa saja baik.”

Dalam catatan Tome Pires, penguasa Tuban-lah yang membuka “ruang” bagi orang-orang Portugis untuk singgah di bandarnya; “ the lord of Tuban often professes that he was the first to accept and maintain friendship with the Portuguese…he is a good man and his friendship is faithful and he is certainly always deserving of favour…” . Seperti yang telah dipahami bahwa Tuban menjadi wilayah penting bagi Gusti Pate di Daha (Majapahit). Dalam catatan Pires lagi, hanya butuh sekira dua hari untuk mencapainya dari Daha. Maka wajar jika kontrol Gusti Pate (Majapahit) begitu kuat di Tuban.
Gusti Pate (Patih Udara) memang figur penting. Dalam budaya Jawa, terutama kisah legendaris Damarwulan, patih Udara merupakan ayah sang pahlawan Damarwulan. Ia (patih Udara) menjadi mahapatih Majapahit sebelum digantikan oleh patih Logender. Babad Tanah Jawi mengabarkan Patih Udara sebagai keturunan seorang patih Majapahit. Ia mengawali jabatan sebagai adipati di Kadiri. Ia lalu membunuh sang raja Majapahit untuk menuntut balas atas kematian ayahnya;

Lami-lami prabu ing Majapait pêputra, kaparingan nama Prabu Anom. Patih Wahan inggih pêputra, anama Hudara, dados Adipati ing Kadhiri, sasedanipun Prabu Sêsuruh dipun gantosi putranipun, ingkang dados patih taksih Kyai Wahan. Anuntên sang nata ingkang jumênêng enggal badhe kagungan karsa ambêbujêng dhatêng wana, Patih Wahan botên amrayogèkakên, awit sawêg jumênêng enggal, para abdi dèrèng suyud sêdaya, tampinipun sang nata kyai patih angèwêd-èwêdi karsanipun, andadosakên sangêt ing dukanipun, lajêng malêbêt ing dalêm.
Sang nata kagungan abdi satunggil, anama Ujung Sabata, dados lurah abdi kajinêman. Sampun kawênangakên ngambah salêbêting kadhaton. Sumêrêp yèn sang nata duka, amargi dipun ampah karsanipun dhatêng kyai patih, lajêng sowan ing sang prabu, akathah-kathah ênggènipun ambêbolèhi, sangsaya adamêl dukanipun, angantos dhawah dhatêng Ujung Sabata, andikakakên nyidra Patih Wahan. Kaparingan agêmipun wangkingan, anama Kyai Jangkung Pacar. Ujung Sabata anglampahi, Patih Wahan pêjah dipun cidra wontên ing dalêmipun piyambak. Garwa putranipun sami kapundhut kadalêmakên
Sapêjahipun Patih Wahan, sang nata andumugèkakên karsanipun. Ambêbujêng dhatêng wana kalih ingkang garwa, kadhèrèkakên ingkang para abdi, saking bingahipun ambêbujêng sang nata ngantos pisah kalih ingkang abdi. Putranipun Patih Wahan ingkang dados Adipati Kadhiri sampun midhangêt wartos, bilih ingkang rama dipun pêjahi dhatêng sang prabu, sumêrêp yèn sang nata sawêk ambêbujêng dhatêng ing wana, lajêng anumpak kapal kalih ambêkta waos, angupadosi sang nata, sumêdya amalês pêjahipun ingkang rama, anuju kêpanggih ijen, sang nata dipun waos dados ing sedanipun. Lajêng kagêntosan ingkang putra anama Adaningkung.

[lama-lama Prabu Majapahit memiliki putra bernama prabu Anom. Patih Wahan juga memiliki putra bernama Hudara, menjadi adipati di Kediri, setelah mangkat Prabu Sasuruh digantikan oleh putranya, yang menjadi patih masih tetap Patih Wahan. Satu hari sang raja baru ingin berburu di hutan. Patih Wahan tidak setuju, sebab baru saja menjadi raja, para abdi belum sujud semuanya. Tetapi sang raja merasa bahwa patih hanya mau menghalang-halangi niatnya (berburu) saja, hal ini membuatnya marah, lalu ia masuk ke dalam.
Sang prabu punya seorang abdi bernama Ujung Sabata, jadi pasukan penjaga dan diberi wewenang keluar masuk istana. Mengetahui bahwa sang raja sedih sebab dicegah kehendaknya oleh patih, ia lalu menghadap sang prabu. Banyak sekali usahanya untuk memanas-manasi sehingga membuat sang prabu semakin marah hingga memerintahkan Ujung Sabata untuk membunuh patih Wahan. Ia dipinjami pusaka kersi bernama Kyai Jangkung Pacar. Ujung Sabata segera melaksanakan perintah, Patih Wahan akhirnya tewas, dihabisi di rumahnya sendiri. Istri dan anaknya diambil dan dibawa ke istana.
Sepeninggal Patih Wahan, sang prabu melanjutkan niatnya untuk berburu ke hutan dengan permaisurinya, diikuti oleh para abdinya. Begiotu asyik berburu, sang prabu sampai terpisah dengan abdi dalemnya. Putra Patih Wahan yang menjadi adipati di Kediri (Adipati Hudara) sudah mendengar berita bahwa ayahandanya dibunuh oleh sang prabu. Ketika mengetahui bahwa sang prabu sedang berburu di hutan, ia segera naik kuda sambil membawa tombak mencari sang prabu, berniat untuk membalas dendam. Ketika bertemu sendirian, sang prabu ditusuk tombak hingga mati. Tahta kerajaan kemudian diberikan pada putra mendiang sang prabu bernama Adining Kung ].

Dalam catatan prasasti Jiyu, Ranawijaya memang penguasa (prabu) di akhir masa Majapahit. Pada 1486, ia masih melakukan upacara Sraddha untuk memperingati 12 tahun meninggalnya Bhatara Mokteng Dahanapura, atau “Baginda yang meninggal di Daha”, ayah dari Ranawijaya. Ia berkuasa hingga tahun 1527, tetapi di awal abad 16, yang memiliki kuasa mutlak adalah Patih Udara. Ia—sekali lagi—serasa diri dan dianggap oleh pedagang-pedagang luar sebagai penguasa “bayangan” yang justru memiliki kuasa sesungguhnya.
Sampai kapan ia berkuasa penuh, tak bisa dipastikan. Tetapi catatan Antonio Pigafetta, seorang Itali lainnya, dalam Primo Viaggio intorno al mondo menyebutkan bahwa “…the largest cities are located in Java and are as follows: Magepaher (Majapahit) when its king was alive, he was the most powerful in all those islands and his name was Raia Patiunus…”. Catatan Pigafetta dibuat pada 1522 dan itu berarti sebelum itu wilayah Majapahit telah dikuasai oleh seorang yang bernama Patiunus. Muncul figur baru yang menggantikan Pateudra. Dalam hal ini, catatan lokal Babad Tanah Jawi juga telah menyebutkan figur ini yang ditampilkan sebagai seorang berjuluk Pangeran Sabrang Ler yang berkuasa di Demak, bukan di Majapahit. Sang pangeran hanya berkuasa singkat, sebagai “selingan” atas kekuasaan Raden Patah, sultan pertama Demak Bintoro dan sultan ketiga Demak Pangeran Trenggana;

Kacariyos sultan ing Bintara sampun dumugi ing jangji puput yuswanipun, atilar putra nênêm. Pambajêngipun èstri anama Ratu Mas, sampun krama angsal Pangeran Carêbon. Panênggak anama Pangeran SabrangLèr, punika ingkang anggêntosi kang rama jumênêng ratu, nuntên Pangeran Sedalèpèn. Nuntên Radèn Trênggana, nuntên Radèn Kandhuruwan. Wuragilipun anama Radèn Pamêkas. Dene ingkang jumênêng ratu waus dèrèng lami lajêng seda, dèrèng apêputra, ingkang anggêntosi jumênêng ratu Radèn Trênggana ajêjuluk Sultan Dêmak.

[Diceritakan bahwa Sultan Bintara sudah sampai saatnya meninggal dunia, meninggalkan enam orang putra. Yang pertama seorang putri bernama Ratu Mas, sudah bersuami Pangeran Cirebon. Yang kedua bernama Pangeran Sabrang Ler yang menggantikan ayahandanya sebagai raja, putra berikutnya bernama Pangeran Sedalepen. Lalu Raden Trenggana dan raden Kandhuwuran. Dan anak bungsunya bernama Raden Pamekas. Sementara yang menjadi raja pengganti tadi (Pangeran Sabrang Ler) tidak lama kemudian juga meninggal dan belum memiliki putra, lalu yang menggantikannya menjadi raja adalah Raden Trenggana yang berjuluk Sultan Demak ]

Dalam catatan Suma Oriental, Tome Pires menyebut bahwa Pati Unus merupakan seorang anak penguasa yang kawin dengan saudara Pate Rodim (Raden Patah?). Moyang Pate Unus berasal dari Kalimantan Barat Daya. Ia merantau ke Malaka dan kawin dengan wanita Melayu. Dari perkawinan itu lahir ayah Pate Unus. Ayah Pate Unus kemudian kembali ke Jawa. Selepas berhasil membunuh bupati Jepara, ia menguasai desa Tidunang dan sekitarnya. Ia menjadi orang yang berkuasa di Jepara. Ayah Pate Unus memiliki hubungan baik dengan Pate Rodim di Demak, sehingga mampu menikahkan Unus dengan putri Pate Rodim di Demak.
Slamet Mulyana membenarkan kembali tafsir atas Babad Tanah jawi yang melihat bahwa Unus identik dengan nama Yat Sun dalam Malay Annals. Pada 1509, Yat Sun yang merupakan putra tertua Jin Bun (raden Patah) berada di galangan Semarang. Ia dengan terburu-buru mempersiapkan armada laut untuk menyerang Malaka, yang sudah hampir pasti dimiliki oleh Portugis yang disebut sebagai “orang-orang berambut merah dan yang mempunyai senjata api jarak jauh”. Pada awal1512, Pate Unus memang segera menyerang Malaka, namun serangan itu gagal. Segenap jung sumbangan dari Semarang dan Rembang musnah dalam serangan ini. Dari seratus jung yang berangkat menyerang Malaka, hanya 7 atau 8 yang pulang kembali. Kekuatan laut seluruh Jawa dan Palembang tinggal lebih kurang 19 jung dan 10 penjajap (kapal perang Bugis). Pate Unus mengharapkan serangan balasan dari orang-orang Portugis, tetapi serangan balasan itu tidak kunjung datang. Perahu jung yang ditumpanginya dalam perjalanan pulang, berlabuh di pangkalan Jepara. Kapal Jung berlapis baja yang menjadi kebanggaannya itu dirawat baik-baik di bawah atap sebagai kenang-kenangan atas perang yang dilakukannya terhadap lelananging jagad, “bangsa yang paling gagah berani di dunia”, Portugis .
Karena serangan itu, hubungan dagang antara Jawa dan Malaka memburuk. Kelebihan hasil panen di Jawa tidak dapat diangkut ke Malaka. Dari ekspor kelebihan hasil panen itu, diperoleh banyak keuntungan. Pedagang-pedagang Gujarat, Keling, Cina dan Bengala, yang sebelumnya banyak berlayar ke Jawa membawa pelbagai barang dagangan, tidak lagi muncul. Akibatnya, para penduduk mencari-cari tempat lain yang dapat memberi keuntungan . Dalam imaji Arus Balik, Pramoedya mencoba menghadirkan figur Unus, saat para pembesar kota Bandar Tuban memperbincangkannya selepas menguasai Jepara;

“Ampun Gusti, setelah Adipati Kudus Pangeran Sabrang Lor menguasai wilayah terbarat Gusti, sekarang dari ayahandanya dibenarkan menggunakan gelar Adipati Unus. Konon kabarnya Unus adalah nama dewa baru penguasa lautan.”

“Demikian konon wartanya, ya Gusti. Sudah sejak lama,
sejak kecil Adipati Unus, putra mahkota Demak, ditimang-timang
oleh Ibundanya jadi Laksamana, merajai kepulauan
dan lautan. Gusti.”
“Apakah menurut dugaanmu Unus berani mengeluari
Peranggi dan Ispanya? ”
Sang Adipati (Tuban) mencoba membayangkan Adipati Jepara yang muda dan bersemangat itu. Angan-angannya, pikirnya, lebih besar dari akalnya. Memang semua nampak indah bagi orang yang masih muda dan menganggap diri kuat tak terkalahkan. Barangkali dia sendiri yang hendak naik ke Malaka. Baik, datangilah Malaka, Unus! Hanya dia yang berusaha mendekati hasil. Kalau kau dapat takkan lebih baik dari Peranggi sendiri. Semua boleh gagahi Malaka…

Dalam masa penyerbuan itu, Pate Unus masih menjadi pangeran muda dan tinggal di Jepara dan keberangkatannya menyerbu Malaka mungkin sekali mewakili ayahandanya yang disebut Pires sebagai “persona de grande syso” dan “cavaleiro”, orang yang tegas dalam mengambil keputusan dan seorang ksatria. Pada 1518, barulah ia menggantikan ayahandanya sebagai sultan Demak kedua hingga berakhir pada 1921, tahun terakhirnya selepas ia bertahan dari sakit yang dideritanya dalam pertempuran di Malaka dahulu. Pati Unus meninggal dunia dan kekuasaannya yang singkat telah membenarkan cerita Babad Tanah Jawi tentang pangeran Sabrang Ler ini. Pramoedya dalam Arus Balik mengimajinasikan suasana Jawa serta perairan Utara Jawa selepas kepergianUnus, termasuk penggantinya:

Tahun 1521 Masehi.

Mendadak suatu perubahan yang cepat telah mengubah segala-galanya.
Portugis sudah sepuluh tahun menguasai Malaka.
Dan pada suatu hari yang sudah diduga orang, Sultan Demak kedua, yang semakin keras juga sakitnya karena serpihan laras cetbang di dalam tubuhnya, wafat.
Satu-satunya penantang Portugis telah wafat. Armada besar yang sedang digalang akan jatuh ke tangan orang lain. Siapa orang lain itu? Dan apakah akan dipergunakan untuk meneruskan cita-cita Unus? Tak ada orang yang bisa menduga tentang teka-teki ini. Jururamal mulai sibuk dengan perhitungan dan ramalannya.
Siapa Sultan Demak ke tiga? Karena Unus tiada berketurunan?
Raja-raja Nusantara ikut berkabung, terutama para saudagar dan pemilik kapal. Perhatian seluruh Jawa, sepanjang pesisir selatan Sumatra, Kalimantan dan Sulawesi, tertuju ke Jawa, ke Demak.

Lain lagi yang terjadi di Malaka. Berita wafatnya Unus disambut dengan sorak berderai. Di darat dan laut anggur pun dibagi melimpah-limpah untuk merayakan kematiannya. Armada Portugis akan dapat menjelajahi semua perairan Nusantara tanpa kekuatiran. Mereka tidak peduli siapa bakal mengganti Sang Penantang, karena hanya ada seorang penantang selama ini, dan ia sudah mati, dan penantang lain tak bakal dilahirkan. Ancaman dari selatan sudah padam.

Untuk sementara tak ada berita tentang penggantinya. Majelis Kerajaan mengambil-alih kekuasaan untuk sementara. Kekosongan Demak untuk waktu yang dianggap terlalu lama itu menyebabkan orang digoda untuk membikin duga-dugaan: Akankah kerajaan yang belum lagi berumur setengah abad ini akan pecah-pecah jadi dusun kembali? Siapa yang bertikai dan dengan siapa maka belum juga ada penobatan baru? Majelis Kerajaan lawan keluarga raja? Ataukah keluarga raja dengan keluarga raja?

Ketegangan merambati seluruh Demak tanpa kepastian. Dari pengalaman berabad orang tahu benar, keadaan tidak menentu demikian biasanya diikuti dengan kerusuhan dan kerusuhan melahirkan perang. Diberanikan oleh kekosongan ini juru tafsir dan ramal sampai-sampai berani menjajakan pikirannya di pasar dan di sepanjang jalan dan di alun-alun dan surau dan di mesjid agung sendiri, tanpa kegentaran. Praja Demak hampir-hampir lumpuh.

Tafsiran dan ramalan kemudian padam: Sultan Demak ketiga telah dinobatkan dan telah naik tahta kerajaan. Orang agak kecewa dengan kenyataan itu, namun itulah kenyataannya: Trenggono, adik Unus .

Pangeran legendaris ini telah digantikan oleh Trenggono. Sultan baru—yang juga tak kalah tenar itu—mengubah haluan: tak lagi peduli dengan Malaka. Ia memperlebar kuasanya dengan realistis, yaitu menaklukkan wilayah-wilayah di daratan Jawa. Dalam bahasa Arus Balik, “Dana dan daya kerajaan Demak ditarik dari pantai dan dipusatkan di pedalaman”. Untuk itulah ia membutuhkan banyak pasukan dan Babad Tanah Jawi mengabarkannya:

Sarêng sampun antawis lami malih sang nata kagungan karsa badhe amêwahi prajurit tamtama, kathahipun kawanatus malih, amundhuti sarta amilihi tiyang sanagari sarta padhusunan. Kapilihan ingkang sami digdaya sarta têguh, yèn sampun angsal lajêng dipun coba kaabên kalihan banthèng, mênawi anampiling banthèng rêmuk sirahipun inggih kalêbêt dados tamtama, yèn botên inggih botên kalêbêt.

[Tidak lama kemudian, sang prabu memiliki niat untuk menambah prajurit tamtama, sebanyak empat ratus orang, diambil dan dipilih dari seluruh negeri dan pedesaan. Dipilih orang-orang yang sakti dan kuat, yang terpilih lalu diuji dan diadu dengan banteng, jika mampu memukul banteng hingga remuk kepalanya maka diterima sebagai tamtama, jika tidak maka tidak diterima] .

Sultan Demak ketiga itu segera menggerakkan pasukannya. Ia—yang pada waktu Tome Pires berada di Demak disebut Pate Rodim Jr (Muda)—meluaskan kekuasaannya ke Jawa bagian barat dengan mengirimkan pasukannya yang dipimpin oleh Fadhillah Khan (Fatahillah) yang berasal dari Pasai untuk menyerang Kalapa pada 1527. Sebelum ke Kalapa ia dengan pasukannya singgah di Cirebon dan juga dengan dorongan Sunan Gunung Jati sebagai mertuanya berangkat ke Kalapa dibarengi pasukan gabungan dari Cirebon. Pelabuhan Kalapa diserang sehingga armada Portugis di bawah Fransisco de Sa dipukul mundur dan Kalapa akhirnya dapat direbut dan Fadhillah Khan mengganti nama kota pelabuhan itu menjadi Jayakarta .
Ke arah Jawa bagian timur, sultan Trenggono juga meluaskan politiknya terutama menundukkan wilayah Kadiri pada 1527, Tuban dan Wirasari pada 1528, Gagelang (Madiun) pada 1529, Lendangkungan pada 1530, Surabaya pada 1531, Pasuruan pada 1535, Panurakan, Lamongan, Blitar, dan Wirasaba antara tahun 1541 dan 1542, Gunung Penanggungan pada 1543, Mamenang pada 1544, Sengguruh pada 1545, serta Balambangan diserang pada 1546 . Serangan ke Blambangan menjadi serangan terakhir Trenggono karena ia akhirnya meninggal dunia. Dalam catatan seorang Portugis yang ikut serta dalam ekspedisi Blambangan Fernandez Mendez Pinto, kala itu sang sultan berembung dengan para adipati untuk melancarkan serangan. Seorang putra bupati Surabaya yang berusia 10 tahun menjadi pelayannya. Anak kecil itu begitu tertarik dengan rapat para pembesar hingga tidak menghiraukan kata-kata Trenggana. Sang sultan marah dan memukulnya lalu anak itu segera membalasnya, menusuk dada sultan dengan sebuah keris. Seketika itu juga Sultan Trenggono meninggal dan segera dibawa pulang ke Demak meninggalkan medan pertempuran. Trenggono, sang sultan ketiga, mengalami nasib hampir serupa seperti pendahulunya: selesai hidupnya dalam ambisi perang dan penaklukan yang tidak pernah tuntas.

 

Bibliografi

Website
“Albrecht Durer, Melencolia I” http://artemisdreaming.tumblr.com/post/3177552872/albrecht-durer-melencolia-i
“Melencolia I” www.tengerresearch.com/learn/Melencolia_I.htm
Timo Demollin, “Melancholia: The Whole, The Sum, The Parts”. Part of a series in 2011 graduation project. www.wilfredtimo.com

Buku dan Artikel
Annemarie Schimmel, The mistery of Numbers (terj Agung Prihantoro, The mistery of Numbers: Misteri Angka-angka dalam Berbagai Peradaban Kuno dan Tradisi Agama Islam, Yahudi dan Kristen, Bandung: Pustaka Hidayah, 2006)
Arnold Toynbee, Mankind and Mother Earth A Narrative History of the World, New York and London: Oxford University Press, 1976
David R. Finkelstein, “The Melencolia Code”, School of Physics, Georgia Institute of Technology, March 23, 2005
——-, “Melencolia I.1”, arXiv:physics, February 2, 2008
Denis Lombard, Le Carrefour Javanais Essai d’histoire globale III. L’heritage des royaumes concentriques (terj Winarsih Partaningrat Arifin dkk, Nusa Jawa: Silang Budaya Kajian Sejarah Terpadu bagian III: Warisan Kerajaan-kerajaan Konsentris, Jakarta: Gramedia, 2000)
G.R. Potter (ed), The Renaissance 1493-1520, Cambridge: The Syndics of the Cambridge University Press, 1957
H.J. de Graaf and G. Th. Pigeaud, Chinese Muslims in Java in the 15th and 16th centuries: The Malay Annals of Semarang and Cirebon, (terj Cina Muslim di Jawa Abad XV dan XVI: antara Historisitas dan Mitos, Yogyakarta: Tiara Wacana, 2004)
——-, De Eerste Moslemse Vorstendommen op Java (terj Kerajaan-kerajaan Islam Pertama di Jawa, kajian sejarah politik abad ke-15 dan ke-16, Jakarta: Grafiti Pers, 1985)
Hasan Djafar, Girindrawarddhana Beberapa Masalah Majapahit Akhir, Jakarta: Yayasan Dana Pendidikan Buddhis Nalanda Jakarta, 1978
Heddy Shri Ahimsa Putra, Strukturalisme Levi Strauss Mitos dan Karya Sastra, Yogyakarta: Kepel Press, 2013
J. Jetley (ed), Suma Oriental of Tome Pires and the Book of Francisco Rodrigues, New Delhi: Asian Educational Services, 1990
John Weber (ed), An Illustrated Giude to the Lost Symbol (terj Ingrid Dwijani Nimpoeno, An Illustrated Guide to The Lost Symbol: Panduan Berilustrasi Untuk Novel The Lost Symbol, Yogyakarta: Bentang Pustaka, 2010)
Mansel Longworth Dames (ed), Book of Duarte Barbosa, Volume 1, New Delhi: Asian Educational Services, 1989
Marwati Djoened Poesponegoro dan Nugroho Notosusanto (ed), Sejarah Nasional Indonesia III: Sejarah Nasional Indonesia: Zaman Pertumbuhan dan Perkembangan Kerajaan-kerajaan Islam di Indonesia, Jakarta: Balai Pustaka, 2008
Pramoedya Ananta Toer, Arus Balik, Jakarta: Hastra Mitra, 2002
Raden Bratakesawa, Keterangan Candrasengkala, Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Proyek Penerbitan Buku Sastra Indonesia dan Daerah, 1980
Slamet Muljana, Runtuhnya kerajaan Hindu-Jawa dan timbulnya negara-negara Islam di Nusantara, Yogyakarta: LKiS Pelangi Aksara, 2005
Uka Tjandrasasmita, “kerajaan Islam, dalam Ayumardi Azra dan Jajat Burhanudin (ed), Indonesia dalam Arus Sejarah 3, Kedatangan dan Peradaban Islam, Jakarta: Ichtiar Baru van Hoeve dan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, 2012
W.L.Olthof (peny), Punika Serat Babad Tanah Jawi Wiwit Saking Nabi Adam Doemoegi ing Taoen1647 (terj Babad Tanah Jawi Mulai dari Nabi Adam hingga tahun 1647, Yogyakarta: Narasi, 2013)

 

 

 

 

 

No comments yet.

Leave a Comment

All fields are required. Your email address will not be published.