Kuncoro Hadi

[Bagian Pertama]

Pengantar: Cerita-cerita tentang Panji[1]

 Dalam kesusastraan pelbagai bahasa Nusantara cinta pangeran Kuripan yang biasanya disebut Panji, terhadap puteri Daha, merupakan sebuah tema yang sangat digemari. Berdasarkan jumlah tulisan yang membahas tema ini, maka kisah tentang pangeran Panji sangat digemari rakyat Bali pada waktu dan dalam kalangan yang melahirkan sastra kidung. Bentuk kakawin dan bahasa Jawa Kuno merupakan saluran tradisional bagi kisah-kisah yang berpangkal pada epos-epos India dan purana-purana, tetapi bentuk kidung dan bahasa Jawa Pertengahan secara eksklusif dipakai untuk menyajikan kisah-kisah Panji. Sepengetahuan saya tak ada satu kakawin pun yang menampilkan kisah Panji, sedangkan di lain pihak kidung-kidung yang menyajikan sebuah tema dari India, jarang sekali ada.

Dalam suatu telaah yang luas, Rassers pernah meneliti, apakah tema Panji itu mungkin mempunyai latar belakang mitologis[2]. Berg dahulu pernah mencoba menemukan tahun atau abad tema Panji itu muncul di pulau Jawa, kemudian menulis dua buah karangan yang bertalian dengan masalah tersebut[3]. Poerbacaraka pernah menyusun ikhtisar-ikhtisar terperinci mengenai isi pelbagai kisah yaitu satu dari Malaya, satu dari Kampuchea (Kamboja), lima buah yang ditulis dalam bahasa Jawa Modern dan satu dalam bahasa Jawa Pertengahan. Tetapi kita terpaksa menunggu sampai tahun 1971 sebelum kidung Panji yang pertama diterbitkan dalam bentuk cetakan (buku). Pada tahun itu Robson menerbitkan sebuah edisi kritis mengenai Wangbang Wideya, disertai sebuah terjemahan dalam bahasa Inggris dan catatan-catatan yang berlimpah[4]. Mengingat jumlah kidung yang memuat sebuah cerita Panji—perpustakaan di Leiden memiliki duabelas kisah yang masing-masing berbeda-beda dan termuat dalam pelbagai naskah—maka kelangkaan ini cukup mengherankan.

Cerita-cerita yang menampilkan Panji sebagai tokoh utama sering disebut siklus Panji, tetapi dengan tepat Robson menunjukkan, bahwa istilah tersebut kurang tepat.

“Istilah ini memberi kesan, seolah-olah kita berhadapan dengan sejumlah cerita yang dirangkaikan secara bersambung… Tetapi bila kita sepintas kilas saja memeriksa alur sejumlah cerita Panji, maka jelaslah bahwa cerita-cerita ini tidak merupakan suatu rangkaian melainkan tiap-tiap cerita adalah suatu cerita yang bulat. Setiap cerita menampilkan pokok alur yang sama (atau yang sangat mirip), tetapi dihias dengan seluk-beluk naratif yang berbeda panjangnya dan berbeda isinya”.[5]

Kadang-kadang tema dasar diuraikan sedemikian panjang sehingga melampaui batas. Ikhtisar yang dibuat Poerbacaraka. mengenai malat berjumlah 70 halaman cetak. Bila kita menjelajahi jumlah bait yang luas ini dan yang semuanya ditulis dalam metrum tengahan, yang seringkali sama sekali tidak menampilkan suatu unsur puitis pun selain unsur formal, bahwa ditulis menurut suatu metrum, maka kita merasa seolah-olah dengan susah payah melintasi suatu rimba raya. Khusus dicampuradukkannya nama-nama, menyebabkan kita  kehilangan arah. Tidak hanya tokoh yang sama memakai nama yang berbeda-beda dalam pelbagai karya yang sama pun mereka berganti nama. Menghidangkan di      sini suatu ikhtisar mengenai lebih dari satu kidung Panji akan membingungkan pembaca yang kurang terbiasa dengan jenis tulisan ini; selain itu akan merupakan ujian yang terlalu berat bagi kesabarannya.

Tetapi ini tidak berlaku bagi semua kidung Panji menurut derajat yang sama. Ada beberapa, seperti Wangbang Wideya, yang mempunyai mutu sastra dalam cara menampilkan kisahnya. Dan dalam kebanyakan kidung ini kita berjumpa dengan bagian-bagian yang menarik, juga bagi mereka yang mempelajari sejarah kebudayaan, kalau bukan sastra, karena bagian-bagian itu memaparkan suatu pemandangan terhadap kehidupan di kraton dan memperkaya pengetahuan kita mengenai wayang, tarian dan musik yang dipergelarkan di dalam kraton itu. Dalam kidung-kidung ini unsur-unsur romantik dicampur dengan legenda-legenda yang sangat tidak masuk akal serta deskripsi-deskripsi realistis mengenai dunia orang Jawa, karena semua cerita ini terjadi di pulau Jawa. Tidak seperti dalam sastra kakawin, latar-belakangnya merupakan suatu negeri di tanah India, walaupun dilihat lewat kacamata Jawa; bukan ksatria-ksatria India yang bergerak di Alam Jawa. Kraton-kraton yang dilukiskan bukan kraton-kraton Hastina atau Dwarawati, melainkan kraton Kadiri, Janggala, Gegelang dan banyak lainnya lagi, termasuk Semarang dan Kartasura (sebuah kraton yang baru didirikan tahun 1681). Bahwa dalam cerita yang sama ditampilkan kerajaan-kerajaan yang berjaya pada waktu yang sama, masing-masing dengan rajanya dan tentaranya yang cukup kuat untuk melancarkan sebuah perang, merupakan cukup bukti bahwa kidung-kidung ini hanya sedikit kadar historisnya.

Tetapi lepas dari unsur legendaris dalam cerita-cerita ini, dunia kraton yang dilukiskan dalam kisah-kisah tersebut kelihatan cukup sesuai dengan kehidupan yang nyata. Ini tidak berarti bahwa pengarang lalu juga melukiskan kraton Kadiri atau Janggala pada suatu waktu tertentu, melainkan dunia kraton seperti dikenal oleh pengarang, yaitu kraton Bali-Jawa. (Maka) sudah sewajarnya bila disajikan di sini sejumlah ciri khas dalam kisah-kisah Panji, kemudian disusul sebuah ikhtisar singkat mengenai salah satu kisah sebagai contoh.

Alkisah, terdapat empat kerajaan yang dipimpin oleh empat bersaudara yaitu Kuripan atau Kahuripan (= janggala= Keling). Daha (Kadiri=Mamenang),  Gegelang (=Urawan) dan Singhasari. Pernikahan antara putera mahkota Kuripan dengan puteri Daha merupakan tema pokok bagi semua cerita Panji. Sang pangeran biasanya disebut raden Panji atau raden Ino, tetapi selain itu masih diberi beberapa nama pribadi (Wira Namtani dalam Waseng, Makaradwaja dalam Wangbang Wideya, Nusapati dalam Malat, dan seterusnya), sang puteri biasanya disebut raden Galuh dengan nama pribadi seperti Amahi Lara (Waseng), Warastrasari (Wangbang Wideya), Anrang Kesari (Malat). Pada awal cerita mereka sudah bertunangan, tetapi sang puteri menghilang dan Panji meninggalkan kraton untuk mencarinya.[6] Masing-masing memakai nama-nama lain. Nama-nama Panji pada umumnya menunjukkan daya tariknya yang tak terelakkan bagi para puteri: Malat Rasmi, Waseng Sari, Wideya (Wideha adalah nama dewa Asmara, yaitu Kama) dan nama-nama tersebut juga dipakai sebagai judul bagi pelbagai kidung. Seringkali ia tinggal tak jauh dari kekasihnva, namun tanpa diketahui identitasnya. Kadang-kadang sang puterilah yang identitasnya lama tak diketahui. Semua cerita berakhir dengan adegan kedua kekasih saling mengenali kembali, rakyat bersukaria dan pesta pernikahan.

Cinta Panji bagi puteri Daha tidak merupakan halangan baginya untuk terlibat dalam petualangan asmara. Di lain pihak ia membuktikan kebolehannva dalam perang, bila dalam pencarian itu ia mengembara sebagai seorang ksatriya bersama para pengikutnya dan menghancurkan kraton-kraton musuh satu per satu; atau ia membela raja yang menampungnya ketika raja itu diserang oleh raja sebuah negara lain yang lamarannva ditolak. Suatu ciri khas lain dalam kisah-kisah Panji ini ialah para sahabat yang mengikuti tokoh-tokoh utama. Mereka semua putera-puteri para. mantri di kraton; mereka pernah dibesarkan bersama-sama dengan sang pangeran atau sang puteri sebagai teman-teman dan sahabat-sahabat yang dapat dipercaya; mereka diutus dengan tugas-tugas rahasia dan memberikan nasihat. Komentar mereka dalam pelbagai situasi sering penuh humor dan di sini mereka memperlihatkan diri sebagai eksponen akal sehat; dalam reaksi-reaksinya mereka kelihatan tak begitu terkekang oleh norma-norma kaku yang mengatur kelakuan seorang bangsawan. Sama seperti putera mahkota selalu disebut raden Ino dan sang puteri raden Galuh,[7] demikian juga nama para sahabat selalu sama. Para puteri yang mengelilingi sang puteri disebut Bayan, Sanggit, lalu sebagai abdi Pangunengan dan Pasiran. Panji selalu ditemani oleh Jurudeh, Punta, Prasanta, Kertala dan kadang-kadang beberapa kawan lain lagi. Mereka disebut kadehan dan menurut panggilan itu dan menurut peran yang mereka mainkan maka mereka merupakan padanan sahabat-sahabat Wijaya: Sora, Nambi, Gajah Pagon dan sebagainya. Di sini dapat dicatat, bahwa di antara kidung-kidung historis, Kidung Harsawijayalah yang paling jelas memperlihatkan pengarah sastra Panji. Nama Wijaya, yang berarti “pemenang”, diganti dengan Harsawijaya yang berarti “pemenang dalam cinta”, dan dengan demikian mirip dengan nama Waseng Rasmi, dan seterusnya. Biasanya ia disebut raden Ino. Para kadehan yang menemaninya memakai nama-nama historis, tetapi para dayang-dayang yang menemani sang puteri disebut Bayan, Sanggit, Pangunengan dan Pasiran.

 

 

[Bagian Kedua]

Panji dalam Perbandingan[8]

 

  1. Pendahuluan

Sebagai suatu bagian dari “Sejarah lama” pulau Jawa, cerita pengalaman Panji (biasanya dengan “nama belakang” Inu Kertapati), sudah lama dikenal oleh ahli-ahli bahasa Jawa bangsa Eropa. Kita dapati cerita-cerita itu diantaranya dalam History of Java karangan Raffles dan dalam Algemeene Geschiedenis van Java oleh J Hageman. Dalam babad-babad Jawa dan dalam penyebutan nama-nama raja-raja, “Jawa Lama”, selalu muncul nama Panji.

Yang   mula-mula sekali membicarakan Panji dari sudut kesusastraan ialah Cohen Stuart dalam karangannya Jayalengkara. Sebagai suatu cerita yang berdiri sendiri, pengalaman-pengalaman Panji dimuat dalam teks yang diterbitkan oleh Roorda, bersama-sama dengan dua buah cerita wayang. Teks yang sama, tetapi       tanpa kedua cerita wayang, kemudian diterbitkan pula kembali oleh Gunning. Sejak itu cerita-cerita Panji mendapat perhatian yang  menggembirakan dan tak habis-habisnya dari para sarjana.

Suatu usaha untuk membandingkannya yang satu dengan yang lain—sepanjang pengetahuan saya—sampai sekarang belum pernah dilakukan. Karena itu dalam tulisan ini akan dicoba memperbandingkan itu. Karena segala pembicaraan yang saya ketahui tentang itu, dalam pekerjaan perbandingan ini, dengan sendirinya akan muncul, maka saya rasa tak usah saya kemukakan semuanya disini.

Sebagai titik pangkal tempat bertolak, kita ambil sebuah cerita Panji Melayu, bernama Hikayat Panji Kuda Semirang. Sebab cerita ini mengandung unsur-unsur yang kita dapat mutatis mutandis baik dalam cerita Panji Jawa, maupun dalam cerita Panji yang bukan Jawa. Bahwa unsur-unsur ini mestinya tua, a priori dapatlah kita terima.

Dalam kumpulan naskah-naskah kita, cerita Panji Semirang diwakili oleh naskah Cohen Stuart no. 125. Naskah ini ditulis dengan tulisan Arab yang sangat terang dapat dibaca dan berjumlah tidak kurang dari 237 halaman folio, masing-masing terdiri atas 27 baris. Menurut keterangan dalam naskah itu sendiri, cerita ini diterjemahkan dari bahasa Jawa. Dan berbeda dengan cerita-cerita Panji Melayu lainnya yang saya kenal, yang dikatakan diterjemahkan dari bahasa Jawa, naskah ini menimbulkan kesan yang kuat pada saya, bahwa teks ini memang langsung disalin dari bahasa Jawa. Sebab didalamnya terdapat banyak sekali kata-kata Jawa, bahkan bagian-bagian kalimat, yang sekalipun dalam banyak hal telah banyak dirusak, sebagian besar dapat dibetulkan kembali. Bila ditimbang dengan teliti, sebenarnya kurang tepat pula jika dikatakan kata-kata dan bagian-bagian kalimat Jawa. Agaknya kita dapat mengatakan, kata-kata dan ungkapan-ungkapan Jawa yang didapati didalamnya, dapat dimasukkan atau digolongkan seluruhnya kepada bahasa Jawa Pertengahan, yang juga sesuai dengan pendapat kami, bahwa cerita itu mengandung unsur-unsur cerita Panji yang tua. Hal inipun sesuai  dengan angka tahun yang terdapat dalam naskah ini. Yaitu selesai ditulis dalam bulan Sapar, tahun 1248 Hijriyah =1760 tahun Jawa = September 1832 Masehi. Untuk cerita Panji Melayu, cerita ini dapat dikatakan sangat tua, karena hampir sama waktunya dengan masa kesibukan kesusastraan Solo, sehingga pengaruh cerita Panji Solo dapat dianggap sama sekali tidak ada dalam naskah kita ini.

Sebelum naskah itu mendapat bentuknya dalam tahun 1832 M seperti yang kini kita hadapi, mestinya teks ini telah mengalami pelbagai nasib. Beberapa bekas tentang itu dapat ditunjukkan dengan agak nyata dalam beberapa “perkosaan” dan terutama penambahan-penambahan dari tangan penulis-penulis yang kemudian. Atas dasar ini dapatlah kita menganggap bentuk cerita Panji Semirang yang asli sebagai cerita yang lebih tua lagi.

Bahasa yang terdapat dalam naskah kita sangat sederhana, kadang-kadang malah bersifat bahasa sehari-hari. Sebenarnya kita akan senang membacanya karena hal ini, tapi sayang, bagian-bagian yang agak bersamaan, diceritakan dengan kata-kata yang hampir sama pula. Yang terakhir inilah yang menyebabkan kita bosan membacanya. Juga naskah ini bertele-tele, seperti halnya dengan kebanyakan cerita Panji yang lain.

Suatu singkatan cerita yang pendek tentang Panji Semirang telah diberikan oleh Juynboll dalam katalogusnya, sedang van Ronkel dalam katalogusnya menunjuk pula kepada singkatan cerita Juynboll itu dan sebuah ringkasan cerita (berupa naskah) yang ditulis oleh Brandes. Naskah Brandes itu sekarang masih terdapat dalam berkas no.66 diantara peninggalan-peningalan sarjana ini, bersama singkatan cerita pendek-pendek tentang cerita-cerita Panji yang lain, juga cerita Panji Jawa. Maka dari kenyataan ini dapatlah diambil kesimpulan, bahwa Brandes sebenarnya juga telah merencanakan untuk membandingkan cerita Panji.

Saya menyesal tidak dapat mempergunakan ringkasan cerita yang dibuat oleh Brandes itu. Akan lebih banyak memakan waktu saya untuk membaca tulisan Brandes dari membaca sendiri teks naskah. Selain itu, singkatan cerita yang telah dibuatnya itu, tampak kepada saya untuk tujuan kita ini, terlalu ringkas.

 

  1. Pembicaraan Umum

Meskipun dengan isi cerita yang diberikan    diatas masih banyak bahan yang lain, namun rasanya bolehlah kita sekarang mulai dengan pembicaraan. Mengenai keluarga raja Kuripan (Janggala atau Keling), dapatlah kita beda-bedakan bermacam-macam tipe.

  1. Yang menyebutkan empat orang raja bersaudara dengan tidak menyebutkan nama-namanya serta tidak munculnya Kili Suci. Kedalam golongan ini termasuk kisah Panji Semirang dan Panji Kamboja.
  2. Seperti cerita diatas juga, tetapi dengan munculnya Kili Suci. Cerita Panji Palembang dan Hikayat Galuh digantung termasuk tipe ini.
  • Juga seperti diatas, tetapi dengan menyebutkan nama keempat orang raja itu, yaitu edisi Roorda-Gunning, Geschiedenis van Kadiri edisi P.v.d. Broek, Raffles, Not. Bat. Gen., 1904 halaman CXIX dan Jayalengkara naskah Cohen Stuart.
  1. Yang menyebutkan tiga orang saudara laki-laki dan dua orang saudara perempuan, yang tertua ialah Kili Suci dan yang bungsu kawin dengan raja Singasari. Kedalam golongan ini termasuk Serat Kanda, Jayakusuma, Babad Tanah Jawi, Babad Kartasura dan Cekelwanangpati.
  2. Tipe ini setahu saya hanya diwakili oleh sebuah naskah, yang menyebutkan empat orang saudara laki-laki dengan dua orang saudara perempuan, yang tertua ialah Kili Suci dan yang bungsu kawin dengan raja Pudak-setegal. Jadi raja Singasari disini termasuk salah seorang saudara laki-laki dan bukan ipar, seperti dalam (tipe) keempat. Naskah ini ialah Ajisaka.
  3. Tipe ini seperti yang tersebut dalam cerita Malat; didalamnya diceritakan tentang tiga orang saudara laki-laki dan seorang saudara perempuan, yang seperti tersebut dalam tipe iv (keempat), kawin dengan raja Singasari. Kili Suci tidak terdapat dalam cerita Malat seperti juga dalam tipe pertama.
  • Jika tipe ini tidak memperlihatkan sifat-sifat yang karakteristik, saya tidak akan menyebutnya sebagai tipe tersendiri. Dalam catatan J. Hageman disebut empat orang saudara laki-laki “dengan seorang anak perempuan, yang bernama: Kili Suci—Pergiwongso atau Roro Sucian gelarnja; catatan sejarah menyebutkan Kili Suci ini sebagai anak perempuan Dewokusumo—cerita lain sebagai isteri Amijoyo (jadi raja Singasari), yang menjadi menantu raja yang disebut mula-mula”.

Sekarang timbul pertanyaan dalam hati kita, apakah tipe ketujuh ini sungguh-sungguh berdasarkan tradisi atau apakah kita disini berhadapan dengan  kekurangtelitian Hageman, hal mana sekarang ini tidak dapat kita selidiki lagi. Kecuali ini, tidaklah mudah untuk memilih dari macam-macam tipe itu mana yang tertua, yang merupakan bentuk yang mula-mula atau yang asli. Sekalipun demi kian ada alasan yang cukup untuk menganggap tipe kedua sebagai yang asli. Dalam hal ini dengan sendirinya Kili Suci dalam tipe pertama dan ketujuh dianggap tidak ada. Sebab suatu bekas daripadanya, meskipun samar-samar, rasanya masih dapat kita tunjukkan dalam Panji Kamboja. Disini diceritakan tentang Phnom-pachangan, yang mestinya sama dengan Gunung Pucangan, Pucangan inilah yang, seperti dikehendaki oleh tradisi Jawa, menjadi tempat tinggal yang amat disukai oleh Rubiah, Kili Suci; latar sejarahnya yang umum diterima, menyokong pilihan kita pula.

Naskah yang menyebutkan tiga atau empat orang saudara laki-laki dan dua orang perempuan, dapatlah dianggap naskah muda. Sedangkan yang disebut diatas, dapat kita namakan golongan Kili Suci, kita hendak mengemukakan pula sebuah golongan lain lagi, yaitu golongan Gegelang-Urawan. Pada umumnya cerita-cerita Panji bukan Jawa. disamping ketiga kerajaan: Kuripan, Daha (Kadiri atau Manenang) dan Singasari, menyebutkan pula kerajaan yang keempat—Gegelang—yaitu: Panji Semirang, Malat, naskah Overbeck, Rassers, Panji Semirang edisi Balai Pustaka dan barangkali juga cerita-cerita Panji Melayu yang lain. Panji Kamboja menyebutkan Kalang, yang menurut anggapan umum sekarang ini, sama dengan Gegelang dalam cerita Panji Jawa dan mestilah pula sama dengan nama Kalang yang tersebut dalam berita-berita Tionghoa dan Gelang-gelang dalam piagam R. Wijaya.

Karena dengan Gegelang kita telah berpijak diatas sejarah yang pasti, maka baiklah kita menyelidiki dimana letak tempat itu. Jika kita perhatikan berita-berita Tionghoa, maka Kalang (Gelang-gelang) itu mestilah nama suatu daerah, tempat ibukota Taha (Daha). Tetapi sekarang tianbul pula kesulitan, sebab beberapa cerita Panji menyebutnya sebagai suatu kerajaan (atau keraton) tersendiri, disamping Daha (Kadiri). Lagipula menurut Malat, Pagutan ialah nama lain untuk Gegelang. Pagutan berasal dari kata pagut=pertemuan (dua ujung)=gelang=gegelang (gelang tangan). Dan sekarang masih ada sebuah tempat di daerah Madiun, yaitu Pagotan, sebuah tempat pabrik gula. Soalnya jadi lebih rumit lagi karena di sebelah Barat Wills pernah ada “Egginglangh, een geweesen koninckrijek nu woest” (Egginglangh, suatu bekas kerajaan yang sekarang tidak terpelihara lagi).

Kesulitan mengenai hubungan Taha dan Kalang (Daha dan Gegelang) ini, menurut hemat saya, dibicarakan oleh Krom terlalu mendangkal. Bahwa Daha (Kadiri) dahulu terletak di lembah kali Brantas seperti keadaannya sekarang, sudah pasti. Tetapi bahwa Kalang (Gelang-gelang) sinonim dengan Daha—dalam  arti kata yang sesungguhnya dan dalam arti yang terbatas menurut geografi— menurut pendapat saya, tidak tepat. Sebab cerita-cerita Panji menyebutkan Gegelang disamping Daha sebagai kerajaan tersendiri; dan ini perlu dipikirkan. Selain itu teks piagam R. Wijaya maupun teks piagam Groeneveld, tidak menyatan kepada kita bahwa Daha identik dengan Gegelang. Dalam piagam itu tertulis: tinekan de cri Jayakatyeng sakeng gelang-gelang, yang berarti bahwa Jayakatyeng berasal dari Gelang-gelang. Tapi dimana letak tempat itu, tidak disebutkan dalam teks.

Pada Groeneveld kita baca: “in order to attack Kalang; it was agreed that on the 9th they should meet at Taha”.  Juga dalam kalimat ini Taha tidak perlu sama dengan Kalang. Sebab, yang terakhir ini bisa saja nama bangsa atau nama kerajaan. Terutama karena kedua nama itu disebutkan berdekatan, bertambah kuat keyakinan kami bahwa pendapat kami benar. Jika Kalang memang nama kerajaan, maka nama itu tak perlu secara geografis terlalu dihubungkan dengan Daha. Namun kami mengakui, bahwa Taha, tempat Jayakatyeng rupa-rupanya mempunyai pertahanannya, terletak dalam kerajaan Kalang.

Cerita Centini memberikan petunjuk yang jelas tentang letak Gegelang, ketika Panji memperhambakan diri pada rajanya, sebelum ekspedisinya ke Bali. Sesudah rombongan keempat orang (Jayeng-resmi, Jayeng-raga, Kula-wirya dan Nur-ripin) sampai ke desa Mamenang (Kadiri), mereka bermalam di Pelabuhan, di tepi Brantas sebelah Timur. Pada keesokan harinya mereka menyeberangi sungai dengan sebuah perahu tambangan dan menuju ke Klotok, punggung gunung tempat gua Sela-mangleng. Ketika hendak meneruskan perjalanan dari Sela-mangleng, mereka menanjakan jalan ke Gegelang. Mereka mendapat jawaban “Gegelang masih jauh; tiga hari perjalanan lagi dari sini. Jalan melalui (atau mengelilingi) gunung Wilis. Dari sini tuan menuruni gunung, lalu membelok ke utara sepanjang kaki (gunung Wilis) dan kemudian membelok ke barat mengelilingi gunung itu”.

Demikianlah kita lihat, bahwa menurut Centini Gegelang itu juga terletak di kaki gunung Wilis sebelah barat atau barat-laut, sesuai dengan cerita yang dicatat oleh De Jonge dan sesuai pula dengan cerita-cerita Panji, yang menyebut Daha (Kadiri, Mamenang) dan Gegelang sebagai dua kerajaan yang berdiri sendiri

dan terpisah secara geografis. Pendapat ini tidak berlawanan dengan keterangan sejarah, yang telah kita sebutkan di atas. Jadi, hasil perbandingan kita ialah sebagai berikut: Kalang (Gelang-gelang atau Gegelang) adalah nama sebuah kerajaan, dengan berpusatkan keraton yang sama namanya, yang terletak di kaki gunung Wills sebelah barat. Dan kerajaan Gegelang ini pada zaman Jayakatyeng rupa-rupanya meliputi daerah Kediri dan Madiun sekarang, sedangkan Daha dapat dianggap sebagai ibukota kedua dari kerajaan itu. Dengan jalan ini kami merasa telah menemukan persesuaian yang sempurna antara pelbagai keterangan. Pendapat yang mengatakan, bahwa Daha adalah identik dengan Gegelang, menurut hemat saja, seharusnya ditinjau kembali.

Seperti telah dikatakan di atas,  nama Urawan dalam Serat Kanda muncul tiba-tiba, menggantikan nama Gegelang. Dalam Angron-akung nama Gegelang terdesak sama sekali oleh Urawan dan cerita-cerita Panji Jawa yang lebih muda serta lakon Gedog semata-mata hanya mengenai Urawan sebagai kerajaan keempat[9]. Bagaimana terjadinya nama Urawan, yang sepanjang pengetahuan kami tidak disebut dalam piagam-piagam maupun dalam Pararaton atau keterangan-keterangan sejarah lainnya, tidak mudah lagi diselidiki. Yang  amat aneh ialah bahwa dalam Panji Kamboja kita temui Darawan sebagai nama seorang puteri, anak raja Meang-roda.

Di tempat lain, pernah saya tunjukkan bahwa da dalam tulisan Jawa Kuno kadang-kadang dirancukan dengan u. Kalau dalam hal Darawan itu kita berhadapan dengan perancuan yang sama, maka mungkin juga Darawan itu terjadi dari Urawan yang salah dibaca atau sebaliknya. Tapi dengan ini kita tidak akan maju, sebab kita tidak tahu mana dari keduanya yang benar. Hanya kita telah menyingkapkan sedikit asal usul nama Urawan dalam cerita Panji Jawa. Apakah kita akan sampai pada jawaban yang tepat, masa depanlah yang akan menentukan, lebih tepat, kalau kebetulan ada nasib. Sebagai kesimpulan dari pengelompokan Gegelang-Urawan, dapat kami katakana bahwa kelompok Gegelang yang diwakili oleh cerita-cerita Panji bukan Jawa, mestinya lebih tua dari kelompok Urawan, sehingga jika suatu cerita Panji Melayu menyebutkan Urawan sebagai kerajaan keempat, niscaya cerita itu diambil dari cerita Panji Jawa yang baru. Sebagai contoh cerita demikian, dapatlah kita sebut Naskah Brussel no. 21510, yang memuat saduran dari cerita Panji Jawa Angreni[10].

Sekarang kita perhatikan permulaan cerita. Yang dimaksud ialah bagian-bagian yang pada mulanya tidak ada hubungannya sama sekali dengan pengalaman Panji. Bagian ini kita dapati dalam Panji Semirang, disisipkan antara cerita raja Kuripan dengan anaknya yang pertama dan kelahiran Panji. Dalam bagian itu diceritakan, bagaimana Arjuna dan kawan-kawannya atas kehendak Batara Guru menjelma dalam tokoh-tokoh utama cerita itu. Hal itu dapat dipandang sebagai suatu tanda kecenderungan yang tradisionil pada orang Jawa, untuk menggambarkan seolah-olah pahlawan-pahlawan cerita penjelmaan tokoh-tokoh utama dari Mahabharata. Bahwa pilihan jatuh pada Arjuna dan Samba, barangkali disebabkan karena yang pertama ialah pahlawan epos India yang besar, dalam sadurannya dalam Bahasa Jawa Kuno, Bharata-Yuddha dan yang kedua pahlawan dalam Bhomakawya. Bahwa kedua karya Jawa Kuno ini mestinya sudah lama dikenal dalam masyarakat Melayu, ternyata dari saduran-sadurannya ke dalam Bahasa Melayu. Bagaimanapun juga, permulaan cerita dalam Panji Semirang, masih sesuai dengan tradisi Jawa.

Lain halnya dengan permulaan cerita dalarn Hikayat Cekel-wanengpati terutama dan dalam cerita Panji Melayu yang lain-lain (yang baru) pada umumnya. Bukan saja isinya bertambah luas, tapi tokoh-tokoh yang sebagian besar tidak dikenal dalam lakon Jawa, muncul pula disini untuk kemudian menjelma dalam Panji dan kawan-kawannya. Tapi diluar lapangan kita untuk menyelidiki disini asal usul Batara Nayakusuma. Namun saya mendapat kesan yang kuat, bahwa cerita permulaan Nayakusuma muda dari cerita permulaan Panji Semirang.

Mengenai permulaan cerita tentang nasib Panji dalam Jayakusuma, jelas sekali bahwa ini berasal dari permulaan cerita Serat Kanda. Sebab bila dibanding-bandingkan kedua permulaan cerita itu, maka akan nampak bahwa permulaan cerita yang pertama hanya perluasan dari permulaan cerita yang belakangan. Demikianlah misalnya lidi, yang harus dicabut dari tanah sebagai swayemwara. menurut Serat Kanda tidak ada hubungannya dengan Jawa. Dalam cerita Jayakusuma bukan saja lidi itu jadi besar, berubah menjadi sebuah panji-panji (biru), kadang-kadang sebesar tiang, kadang-kadang pula sebesar gunung, tapi panji-panji itu oleh Jati-pitutur dan Pitutur-jati bahkan dilemparkan dari pulau Jawa ke tanah Keling (India), untuk dapat dijadikan swayemwara. Dalam Serat Kanda malah belum ada pengaruh lidi yang membawa bencana—yaitu menimbulkan wabah penyakit[11].

Kedua selir Dewakusuma (yang kemudian menjadi Lembu Amiluhur), yang dibuang dalam keadaan hamil, menurut Serat Kanda, bukan dijadikan selir oleh raja karena sesuatu hal. Akan tetapi dalam Jayakusuma, hal itu terjadi disebabkan karena sakitnya raja, serupa yang diceritakan Babad Tanah Jawi tentang raja Bra Wijaya.

Pemberitaan singkat dalam Serat Kanda tentang penculikan Candra-kirana (Dewi Sri) oleh brahmana, yang menjadi penjelmaan Watu Gunung—yang  terakhir ini pada gilirannya adalah penjelmaan Batara Kala pula—memberi bahan kepada penyusun Jayakusuma untuk menjalin bagian ini menjadi cerita Sri Sedana.

Juga suatu “perpindahan adegan” nampak dalam Jayakusuma. Peristiwa tentang katak yang tinggal dalam batu dan yang ternyata adalah Wisnu bersatu dengan isterinya, Sri, seperti yang diceritakan dalam Serat Kanda, terjadi jauh dipedalaman pulau Jawa. Dalam Jayakusuma peristiwa itu terjadi di atas sebuah pulau di tengah laut, sebelum orang mencapai pantai pulau Jawa. Perubahan dan penguraian yang menyolok semacam itu dalam Jayakusuma dengan mudah dapat ditunjukkan.

Mengenai permulaan cerita dalam Jayalengkara Cohen Stuart, setelah membaca Serat Kanda dan Jayakusuma akan sulit untuk menyangkal bahwa Jayalengkara Cohen Stuart, bahannya diambil dari kedua sumber yang disebutkan itu dan jelas seluruhnya “dijadikan Pustaka Rada”. Hal itu sangat nyata, bila kita perhatikan nama-nama pelaku dan nama-nama tempat dalam cerita itu. Juga kelihatan penyusunnya mengadakan perubahan yang semau-maunya saja. Demikian umpamanya hubungan yang tak patut antara raja Jayalengkara dengan Candraswara, saudaranya sendiri, sangat terasa diilhami oleh cerita Sri Sedana, yang dalam Jayalengkara malah dihilangkan.

Pada bagian panji-panji biru ditambahkan sebuah anekdot yang lebih luas dari yang didapati dalam cerita Jayakusuma. Sementara dongeng tentang kodok yang tinggal dalam batu dan kemudian menjelma dalam Panji dan Candrakirana, dihilangkan sama sekali. Sebagai gantinya, dibuat penjelmaan-penjelmaan, yang terjadi oleh kemauan orangyangmeninggal itu sendiri. Selanjutnya ia mencoba memberi alasan mengapa jiwa puteri itu, yang akan menjelma dalam Candrakirana, akan terpecah menjadi dua, karena kelak ia akan menceritakan pengalaman Angreni.

Sebuah perubahan yang sangat semau-maunya dan sangat terasa menggangu, ialah bahwa panji-panji biru dijatuhkan oleh pengarang dalam kerajaan Majapahit, karena hubungan antara pulau Jawa dan Keling (India) rupanya dianggapnya terlalu khayali. Karena itu terjadilah kemustahilan besar, bahwa Majapahit sezaman dengan Medang dan lain-lain. Brandes terlalu me-nganggapnya penting, apabila ia memasukkan hal itu dalam pembicaraan sejarahnya. Mengenai permulaan cerita, menurut hemat saya, tak ada gunanya membicarakan Jayalengkara lebih lanjut. Sebab, seperti akan terbukti nanti, juga dalam bagian-bagiannya yang mengenai nasib Panji sendiri, Jayalengkara Cohen Stuart ini sangat mengecewakan kita. Makanya tepat sekali terjemahannya tidak diteruskan.

 

  1. Perbandingan Mengenai Pokok-Pokok Isinya
  2. Pertemuan Panji dengan Kekasihnya yang Pertama

Dalam Panji Semirang pertemuan itu terjadi sesudah atau selama dalam perburuan. Kekasihnya Martalangu, memang penjelmaan seorang dewi, tetapi puteri itu sama sekali tidak ada hubungannya dengan puteri Daha. Ayahnya-pun hanya seorang kepala desa (petinggi) biasa. Dalam Tutur Cilinaya, Panji bertemu dengan kekasihnya juga dalam suatu perburuan, tetapi puteri itu ternyata seorang puteri raja Daha yang hilang, yang ditemukan dan dipelihara oleh seorang petani, rakyat Kuripan. Dalam Ken Tambuhan juga demikian, akan tetapi kekasihnya yang juga seorang puteri raja Daha yang hilang, didapati dalam keputren Kuripan, ditemukan oleh raja di sana.

Dalam Jayakusuma, kekasih Panji yang pertama, Sri, didapatinya ketika menuai padi di sawah. Akan tetapi bahwa disini juga ada perburuan, dibuktikan oleh adanya binatang-binatang buas. Pertemuannya dengan kekasihnya yang kedua, Rara Temon, sebaliknya juga terjadi dalam suatu perburuan pula, dimulai dengan penawaran sebuah sumping yang akan dijual, buatannya sendiri. Pertemuan Panji dengan kekasihnya dalam perburuan sebagai sebab, haruslah dipandang sebagai bentuk yang mula-mula dari cerita Panji. Sebab dalam tiap dongeng yang tersebut didalamnya raden Putra (Panji) sebagai pahlawan, perburuan itu mesti ada.

Dalam Panji Palembang pertemuan Panji dengan Angreni terjadi dalam suatu perjalanan yang dilakukan oleh Panji, ketika ia singgah sebentar pada patih. Kekasih Panji disini ialah puteri patih itu pula dan sekaligus keponakannya dari kalangan rendah. Begitulah kita lihat bahwa sesudah Panji Semirang, ada kecenderungan yang kuat untuk menyamakan kekasih Panji yang pertama dengan puteri raja Daha. Ayahnya juga diceritakan naik derajat. Mula-mula ia seorang petinggi, kemudian demung di Wengker dan akhirnya naik pula jadi patih Jenggala.

 

  1. Kekasih Panji Dibunuh

Pembunuhan ini dalam Panji Semirang dilakukan oleh permaisuri, ibu Panji, dengan tangannya sendiri. Alangkah hidup dan sesuai dengan suasana istana lukisannya! Sekalipun cerita-cerita Panji pada umumnya sekarang dipandang sebagai roman, kami percaya bahwa pembunuhan itu, sebagai diceritakan disini, mempunyai latar belakang sejarah. Hampir-hampir tak dapat digambarkan, bagaimana amarah seorang ibu yang anaknya yang sangat diharapkannya, kawin dengan seorang perempuan tingkat bawah. Apa yang dilakukan ibu Panji dapat dimaklumi. Begitu pula sikap ayahnya sungguh tepat dan sama dengan sikap umum seorang ayah dalam keadaan yang semacam itu.

Dalam Ken Tambuhan pembunuhan itu memang dilakukan oleh seorang algojo, tapi masih atas perintah permaisuri. Dalam Angron-akung pembunuhan ini berubah menjadi tindakan bunuh diri oleh kekasih Panji sendiri; dalam Jayakusuma perbuatan itu dilakukan karena cemburu Prabangsa oleh hasutan ibunya, paduka Liku dan dalam Panji Palembang seperti juga dalam Cilinaya, ayah Panji yang bersalah, yakni menyuruh seorang algojo membunuh kekasih Panji. Disini dapat pula kita lihat semacam “perkembangan” peristiwa pembunuhan atas diri kekasih Panji.

Jasadnya menurut Panji Palembang dan Ken Tambuhan ditutupi dengan bunga angsana, akan tetapi menurut Cilinaya ditutup dengan daun ketapang. Jadi disini ada sedikit pengaruh peristiwa pembunuhan atas Angreni, baik pada Ken Tambuhan maupun pada Cilinaya, serta pada yang terakhir ditambahkan pula seorang bayi, rupanya supaya kesedihan bertambah besar. Satu lagi pengaruh yang nyata sekali tentang pembunuhan Angreni pada Ken Tambuhan, ialah penanggalan cincinnya sesaat sebelum pembunuhan itu dilakukan dan hadirnya dua orang dayang-dayang yang juga ikut terbunuh[12].

Upaya untuk  menyatukan kekasih yang dibunuh dengan puteri Daha, sesungguhnya agak naif. Dalam Panji Semirang tidak didapati usaha semacam itu, karena, seperti telah dikatakan, antara yang terbunuh dan puteri Daha tidak ada hubungan sama sekali. Dalam Ken Tambuhan, Cilinaya dan Angron-akung, jasad saja yang dihidupkan kembali dan kemudian dikenali kembali sebagai puteri Daha. Dalam Jayakusuma roh Sri dijelmakan dalam diri Rara Temon, yang ternyata ialah Candra-kirana; dengan demikian terjadilah kejanggalan ini, bahwa menurut perhitungan biasa Panji mestinya jauh lebih tua dari Candra-kirana. Dalam Panji Palembang terjadi persatuan Angreni dan Candra-kirana dengan cara yang ajaib; tentang ini akan kita bicarakan nanti.

Pembunuhan atas diri kekasih Panji, dalam beberapa naskah tidak didapati. Ini disebabkan karena cerita Panji Kamboja umpamanya merupakan sebuah lakon untuk dimainkan dengan wayang. Niscaya akan terlalu panjang bila pembunuhan itu dipertunjukkan pula.

Tapi ada sebuah berita lisan yang mengatakan, bahwa mempertunjukkan pembunuhan atas diri kekasih Panji, termasuk Angreni, adalah “pamali” (tabu). Seingat saya, peristiwa itu hanya beberapa kali dan sangat singkat berturut-turut dipertunjukkan dalam bentuk wayang orang, antara lain di pendapa Mangkunegara. Yang terakhir, pertunjukan itu masih sempat saya lihat, yaitu waktu diadakan Kongres Bahasa di Solo tahun 1919. Sesudah itu saya tidak pernah mendengar lagi adanya pertunjukan demikian. Apakah ini berhubungan dengan  “pamali” yang dikatakan itu ataukah oleh sesuatu sebab lain, belum ada kepastian.

Cerita Panji sebagai lakon, jadi tanpa pembunuhan atas diri Angreni, masuk dari Jawa Timur ke Jawa Tengah sesudah zaman Mataram Baru. Dan demikianlah cerita-cerita itu sebagian dimasukkan dalam Serat Kanda, yang juga tidak memuat peristiwa pembunuhan atas diri kekasih Panji. Baru kemudian ketika cerita Panji-Angreni berupa naskah masuk ke daerah Kesultanan, cerita ini dimuat pula dalam babad.

 

iii. Candra-Kirana Menghilang

Kehilangan Candra-kirana didapati pada hampir tiap cerita Panji. Juga permulaannya hampir dimana-mana sama. Dalam Panji Semirang, Panji Kamboja. dan dalam Panji Rassers, permulaan itu berupa Batara Kala dalam bentuk topan atau didahului oleh topan. Dalam Jayakusuma dan dalam Cilinaya hanya tersebut angin topan saja, sedang dalam Ken Tambuhan seorang dewa, tetapi juga didahului oleh angin ribut yang amat kuat. Angin topan ini timbul dalam Panji Palembang untuk menyeret kapal Panji dari pelabuhan Kamal (dekat Surabaya) ke Bang-wetan. Dalam cerita Malat sebaliknya, puteri Daha disesatkan oleh Sang Hyang Jagatnata (Batara Guru) yang menjelma sebagai belalang emas. Dalam beberapa cerita Panji tentang hilangnya Candra-kirana tidak disebut-sebut, akan tetapi peristiwa itu dianggap diketahui, karena cerita-cerita itu rupanya merupakan fragmen-fragmen, seperti misalnya Angron-akung dan Kudanarawangsa. Dalam naskah Overbeck puteri itu pergi dengan kemauan sendiri, sedang dalam Panji Palembang tinggal di rumah. Yang  akhir ini adalah perubahan yang disengaja oleh penulis sebab Panji Palembang seperti telah dikatakan, adalah cerita Panji yang disempurnakan. Tidaklah pantas baginya, seorang puteri mahkota—demikian agaknya pertimbangan si pengarang—untuk meninggalkan kediamannya dengan jalan bagaimanapun juga.

 

  1. Perjalanan Gunung-Sari

Gunung-sari ialah putera mahkota kerajaan Daha. Dalam cerita-cerita Melayu namanya Perbata-sari, suatu nama yang sinonim betul dengan nama Jawa. Sesudah hilang saudaranya, iapun turut mencarinya kemana-mana. Dalam Panji Semirang, ia mengembara sampai keluar pulau Jawa, akan tetapi dalam keadaan tidal sadar, untuk kemudian, setelah sadar kembali, pulang ke Jawa sebagai Kalana. Dalam Panji Kamboja namayja Sijatra, yang disesatkan dari kotanya oleh seekor merak emas. Segera ia sampai di Kalang serta memperhambakan diri kepada raja. Selama memperhambakan diri itu ia berkenalan dengan Panji. Jadi ia tidak sampai keluar pulau Jawa dan dengan tidak sengaja mencari saudaranya, menjumpainya di Kalang. Dalam Serat Kanda ia tidak memainkan peranan yang berarti, kecuali pada penghabisan cerita ketika ia kawin dengan saudara Panji, Onengan. Dalam Angron-akung diceritakan ia pergi beberapa waktu dan bersama-sama dengan Panji memperhambakan diri kepada raja Urawan. Juga dalam cerita ini ia tidak memainkan peranan yang penting selain seperti tersebut dalam cerita yang lain, ia kawin dengan saudara Panji. Tapi yang penting sekali         namanya Wiranantaya, yang selain itu menganggap dirinya lebih tua dari Panji. Tak dapat diragukan, bahwa Wiranantaya (Gunung-sari) dalam Malat ialah Wiranantaya yang tersebut dalam Angron-akung. Juga     Wiranantaya menganggap dirinya lebih tua dari Panji. Tapi dalam Malat digambarkan, seolah-olah ia dengan sengaja pergi mencari saudaranya, yaitu dari Tuban ia keluar tanah Jawa. Pada Rassers dikatakan dernikian pula. Perjalanan Gunung-sari dari Tuban ini bagi Rassers menjadi alasan untuk membandingkan. bagian ini dengan Pamalayu. Menurut anggapan saya perjalanan  Gunung-sari dalam cerita Malat rnerupakan pengaruh yang kuat dari Pararaton. Karena Hikayat Rassers, seperti kemudian akan dibuktikan, sedikit banyaknya berasal dari Malat, maka dengan sendirinya naskah itu juga memuat perjalanan tersebut. Karena menurut hemat saya, tidak perlu membanding-bandingkan kedua peristiwa itu, yaitu perjalanan Gunung-sari dan perjalanan Pamalayu. Cukuplah diakui, bahwa perjalanan Gunung-sari, mengenai bentuknya, diambil dari Pararaton.

Peristiwa yang serupa dengan pelaku utama, yang juga bernama Wiranantaya, kita dapati dalam Hikayat Hang Tuah. Seolah-olah peristiwa itu dicabut dari hubungannya, lalu disisipkan dalam Hang Tuah.

Selama dalam pengembaran, Gunung-sari dalam Panji Semirang antara lain memakai nama Astra-wijaya. Dalam Jayakusuma ia memakai nama samaran yang sama, apabila ia memperhambakan diri pada raja Urawan. Menurut Jayakusuma waktu mencari saudaranya, ia keluar pulau Jawa, tetapi sesuatu persamaan dengan Pamalayu, ataupun sesuatu bekas daripadanya, tidak kita lihat dalam karya ini. Begitupula setelah ia sampai  ke tanah Jawa kembali, bahwa ia menamakan dirinya raja Melayu, seperti yang disebutkan dalam Malat, tidak pula kita temui.

 

  1. Melarikan Ratna Wilis

Puteri  ini, adik Panji yang perempuan, dalam cerita-cerita Jawa biasanya bernama Onengan atau (Wu)ragil-kuning, dalam Panji Kamboja berubah menjadi Vorot-kenlong. Dalam semua cerita Panji, ia kawin dengan Gunung-sari hampir selalu pada akhir cerita. Dalam cerita Malat ia sama sekali tidak ada, akan tetapi pada naskah Rassers muncul kembali.

Bagian yang menceritakan puteri itu dilarikan oleh buta (raksasa) dari gua Sela-mangling, dilukiskan dengan panjang lebar dalam Panji Semirang. Dalam naskah Rassers peristiwa pelarian itu juga muncul, tetapi Onengan diganti dengan puteri Daha. Dalam melanjutkan perbandingan, akan kami kemukakan titik-titik persamaan secara ringkas.

Permintaan sehelai pakaian Bossaba oleh seorang yang tergila-gila kepadanya, kita dapati pula dalam cerita Malat. Kecuali pergantian pihak lelaki, mestinya kedua motif itu pada mulanya berdasarkan sumber yang sama. Tentang Panji berpakaian sebagai orang asing, hal ini didapati dalam Panji Kamboja maupun dalam cerita Malat, sekalipun pada kesempatan yang berlain-lainan.

Penculikan atas diri Bossaba oleh Panji dengan membakar rumah-rumah untuk menimbulkan kegemparan dalam keraton, kita dapati dalam hikayat Malat, sekalipun keraton dan puteri berbeda. Sesudah kejadian itu Panji bermain sandiwara dengan pandainya di kedua tempat.

Pembuangan puteri Daha (dengan kedua orang dayang-dayangnya) dalam sebuah hutan dekat istana, dengan kesudahan  ia ditemukan oleh raja istana itu dan diambil jadi anak, kita dapati dalam Panji Kamboja, Jayakusuma, Malat; bandingkan dengan Rassers dan dengan Ken Tambuhan.

Tentang raja yang kematian isteri serta meminang seorang puteri Jawa, kita dapati dalam Panji Semirang, Panji Kamboja dan pada Overbeck. Membawa mayat raja yang tewas dalam penyerangan mereka ke  Gegelang, kerajaannya masing-masing, kita dapati dalam Panji Kamboja dan dalam cerita Malat. Dua orang bujang Astramiruda dalam Jayakusuma bernama Paras dan Paron; dalam Malat, kedua orang bujang Panji bernama Paras dan Paros.

Dalam Jayakusuma, Astrawijaya mendapat luka dipaha, sesuai dengan Geschiedenis van Kediri; dalam Malat, yang terkena luka    itu ialah Nirarsa dan dalam Panji Palembang, Panji sendiri. Panji dan Gunung-sari kenal mengenali karena keris masing-masing yang bertuliskan nama mereka; terdapat dalam Panji Kamboja dan Malat. Sementara peristiwa anak menjangan masih kita dapati dalam hubungannya yang tepat dalam Panji Semirang; telah keluar dari hubungannya dalam Malat dan pada Rassers.

Suatu peralatan besar serta puteri-puteri menarikan tari Serimpi didapati dalam Panji Semirang, dalam Malat, pada Overbeck dan pada Rassers. Pertandingan kita dapati dalam Panji Semirang, dalam Malat dan pada Overbeck.

Suatu persamaan yang hanya ada antara Malat dan Hikayat Rassers, ialah tentang pengguntingan rambut Panji oleh Gunungsari. Bukan saja unsur-unsur dari cerita Panji yang lama-lama, terutama dari Malat, yang terkandung dalam teks Rassers, tetapi juga dari sejumlah naskah yang lebih muda. Adegan hantu  umpamanya, berasal dari Sudamala. Nama Sela Brangti (Candra-kirana sebagai kili) pada Rassers dan seterusnya, pastilah sama dengan Kili Brangti Satyawan. Yang terakhir adalah nama Suwistri sesudah ia menempuh hutan dan kemudian menjadi kili.

Demikianlah nyata kelihatan, bahwa Hikayat Rassers merupakan gado-gado dari kepingan-kepingan bermacam-macam cerita Panji dan isinya sebagian besar diambil dari cerita Malat, yang pada gilirannya mengandung unsur-unsur cerita Panji yang lebih tua. Jalan kejadian-kejadian yang dalam Malat sudah sulit untuk mengikutinya, dalam Hikayat Rassers, dipandang dari bentuk lama cerita-cerita Panji, dirancukan pula begitu rupa, hingga dapatlah kita berbicara tentang kekacauan.

Perbandingan yang dikemukakan diatas, sama sekali tidak dapat dikatakan lengkap; yang telah kita bicarakan itu hanya beberapa pokok saja, yang dalam mengerjakannya masih lekat dalam ingatan.

Pastilah ada lagi sejumlah unsur-unsur lain,yang dapat dipergunakan untuk bahan perbandingan. Begitulah umpamanya sikap Candra-kirana ketika menyamar sebagai anak muda, dimana-mana ia bersikap angkuh terhadap Panji, kadang-kadang malah menantang, berbeda dengan sikap Panji kepadanya: merendah, lemah lembut, tetapi tanpa hasil. Begitu pula jawabannya, apabila orang bertanya kepadanya, dari mana asalnya, dimana-mana hampir sama. Demikianlah bunyi jawabannya dalam Panji Semirang. Naskah itu: “Adapun akan titiyang paduka sang ulun ini asal wong gunung tandang desa segenap celah batu dan gunung, tanwara bumi astana, kijang kang anusoni, merak kang angemuli…”, artinya : “Adapun hamba ini berasal dari orang gunung, seorang pekerja desa (yang mengerjakan tanah antara) batu cadas dan gunung; tidak bernegeri dan bertempat tinggal. Kijanglah yang menyusui hamba, burung merak yang menyelimuti hamba, supaya jangan kedinginan”.

Dalam Panji Kamboja: “Tuanku, namaku Onacan, umurku empat belas tahun; aku tidak tahu dari mana asalku dan siapa ibu-bapaku…”. Dalam Jayakusuma: “Nama saya Jayalengkara, ayah dan ibu saya sudah meninggal; burung menjaga saya supaya jangan kedinginan, kijang dan rusa memberi saya susu”. Pada Overbeck catatan 8 (diperbaiki): “titiyang sa-kendela walang-alas, akemul mega, akandang langit, merak kang engemuli, kijang kang anusoni, tan-wara (?) bumi astana”, artinja: “Saya ini seperti sibur-sibur atau belalang dalam hutan, berselimut mega, beratap langit; burung merak menyelimuti saya, kijang menyusui saja. Negeri tiada, tempat tinggal pun tak tetap”.

Selanjutnya didapati pula putera-putera raja, ketika mereka memperhambakan diri pada seorang pamannya, pamannya itu serasa mengenalinya. Tetapi niscaya akan terlalu jauh, jika semuanya ini kita kemukakan pula disini.

Namun kami hendak mengecualikan suatu bagian yang hendak kami bicarakan agak lebih luas, yakni tentang pertunjukan wayang. Sebab, pertunjukan semacam itu hampir pada semua cerita Panji kita temui. Dalam Panji Semirang, Gunung-sari muncul di Gegelang sebagai dalang. Pertunjukan cerita “yang digambar di atas kulit kerbau”. Dalam Kudanarawangsa, Candra-kirana muncul sebagai seorang anak muda yang menjadi dalang. Permainan itu diulang dengan Panji sebagai dalang wanita. Hal yang sama tetapi dengan urutan sebaliknya, didapati pula pada naskah Overbeck. Dalam Malat Panji pun muncul pertunjukan wayang. Dalam cerita Bagus Humbara, Panji muncul dalam suatu pertunjukan wayang, yang memperlihatkan Panji sendiri sakit. Pada Rassers seperti itu juga, diperlihatkan pula Arya Wangsa (Panji) sakit. Dalam Panji Semirang edisi Balai Pustaka, Candra-kirana menyamar sebagai pemain Gambuh dan memainkan Ielakon Raden Cekil Woningpati berahi kepada Kian Sila Berangti, terjadinya di Gegelang.

Jadi peristiwa wayang dalam cerita-cerita Panji ini, mestinya merupakan unsure yang agak tua. Dan memang, cerita Malang-sumirang, sebuah naskah yang tua kira-kira dari zaman peralihan, telah menyebutkan Panji bertindak sebagai dalang di Gegelang tanpa dikenali. Ia disebut dalang jaruman, yakni “seorang dalang yang menjadi teka-teki”, suatu sebutan yang sesuai dengan keadaan. Akan tetapi dalam Malat perkataan dalang jaruman itu menjadi nama lakon yang dimainkan oleh Panji. Pergeseran nama dalang menjadi nama lakon dapat dimaklumi, karena kurang paham penyusun cerita Malat itu.

Sekarang tentu tidak mudah untuk menentukan yang mana diantara pertunjukan wayang ini, yang dimaksud oleh Malang-sumirang dan yang mana sesungguhnya yang paling tua[13].

Oleh karena banyak sekali persamaan tentang pertunjukan wayang tersebut dalam Kudanarawangsa dengan teks Overbeck, lebih lanjut dapatlah diterima bahwa kedua naskah itu berasal dari satu sumber yang sama yang lebih tua. Tapi kami tidak berani mengatakan, bahwa naskah yang berbahasa Jawa mencontoh naskah yang berbahasa Melayu, atau sebaliknya, sebelum dilakukan

perbandingan teks yang teliti. Namun dapat dikatakan, bahwa nama Panji sebagai dalang wanita, Panggoda Asmara, seharusnja merupakan perubahan dari nama Jawa, Panguda’smara.

Pada akhirnya perlu diterangkan, bahwa dalam Kudanarawangsa, pupuh LXVII dan dalam karangan Overbeck masih didapati sebuah lagi unsur Panji yang tua, yakni menari di atas tali rotan. Pertunjukan yang sama atau hampir sama, kita dapati dalam sebuah lakon wayang-beber yang dicatat oleh Hazeu.

Sekarang baiklah kita bicarakan beberapa tokoh. Sebab tokoh-tokoh itu dapat menunjukkan kepada kita hubungan antara cerita yang satu dengan cerita yang lain, kalau tidak lebih jelas, tentu sama jelasnya dengan yang dipertunjukkan oleh kejadian-kejadian itu. Kita ambil tokoh Brajanata. Dalam Panji Semirang ia merupakan anak raja Kuripan yang tertua dengan Mahadewi (sesuai dengan Rassers) dan biasanya ia dinamakan menurut tempat tinggalnya: raden Banjar-ketapang. Pada penutup cerita dia kawin dengan seonang puteri Socawindu. Dia tidak memainkan sesuatu peranan tertentu, selain ikut pergi mencari Panji dan turut melakukan penaklukan-penaklukan.

Dalam cerita Panji Kamboja ia memakai nama Panji yang telah berubah: Karatpati dan kawin dengan Sucanungrat, puteri raja Kalang yang tertua.

Dalam Serat Kanda ia bernama Brajanata dengan sebutan “Godeg” dan dia adalah anak raja Janggala dengan isterinya “yang pertama” yang karena cemburunya telah dipulangkan kepada ayahnya kembali. Ia kawin dengan Sarag, puteri raja Gegelang yang tertua sesuai dengan Panji Kamboja.

Dalam, Angron-akung, namanya juga Brajanata, tetapi disini dengan gelar Wanagiri,yang dipakainya juga dalam cerita-cerita lain. Suatu nama lain, yang dengan nama itu nanti ia akan memainkan peranan penting, diberikan pula kepadanya, yaitu: Nila Prabangsa dan menurut tempat tinggalnya, ia disebut raden

Banjar Patoman. Sampai sekian jauh, ia masih sangat baik terhadap Panji.

Dalam Jayakusuma ia bernama Nila Prabangsa dan adalah anak raja Janggala dengan Madu Keliku[14]. Atas suruhan ibunya dibunuhnya kekasih Panji yang pertama. Tidak terang hubungannya, tapi kemudian ia muncul sebagai per-

tapa di gunung dengan mama Wasi Curiganata (sinonim dengan Brajanata) dan namanya Wanagiri masih disebut. la tidak memainkan peranan penting sesudah pertemuannya dengan Astrawijaya (Gunung-sari),yang mendapat luka di paha.

Dalam sejarah Kediri, sesudah membunuh Angreni, atas petunjuk Kili Suci, ia melarikan diri ke gunung Wilis, bersembunyi dengan nama wasi Curiganata. Selain itu serupa dengan yang tersebut dalam Jayakusuma.

Dalam Panji Palembang ia juga anak sulung raja Janggala, tanpa disebutkan mama ibunya. Tetapi bahwa ia bukan putera mahkota (yang seharusnya menjadi pengganti raja), seperti juga dalam cerita-cerita lain, ternyata dari jalan cerita. Disini ia juga memakai namanya yang lain: Wanagiri.

Atas perintah bapanya, ia melakukan hukum bunuh atas diri Angreni. Selanjutnya ia amat baik dengan Panji.

Dalam Kudanarawangsa, Brajanata (Nila Prabangsa) tidak memainkan peranan sama sekali. Dalarn Overbeck ia bernama Kertabuwana; sesuai dengan catatan van Ronkel, disana ia disebut “Raden Banjar Ketapang”, sesuai dengan Panji Semirang.

Dalam cerita Malat ia digambarkan sebagai pembunuh, seorang penjudi besar dan sebagainya. Lagipula dalam cerita ini ia diceritakan bermusuhan dengan Panji, tetapi tidak diterangkan kepada kita apa sebabnya. Bila dihubungkan perlakuannya kepada Angreni (menurut Geschiedenis van Kadiri) dan terhadap isteri Panji yang pertama (menurut Jayakusuma), maka peranannya yang aneh dalam Malat serta hubungannya yang tidak baik terhadap Panji, dapat dianggap sebagai lanjutan dari hubungannya itu menurut Jayakusuma dan Geschiedenis van Kadiri.

Sesudah pengembaraannya di pulau Jawa, Gunung-sari dengan menyamar sebagai Astrawijaya, memperhambakan diri pada pamannya, raja Urawan dan bertemu dengan Lempung-karas (Carang-waspa), seorang saudara Panji. Dengan Lempung-karas ini, yang memakai nama samaran Astramiruda, ia bersahabat baik, tapi persahabatan itu segera berubah menjadi persaingan yang sengit, karena memperebutkan seorang puteri dalam istana tempat mereka memperhambakan diri itu. Miruda dilukiskan sebagai seorang yang jalang serta seorang penjudi. Jika peristiwa ini dibandingkan dengan Malat,yang menggambarkan hubungan antara raja Melayu (Gunung-sari) dengan Misa Prabangsa, maka dapatlah diterima bahwa Prabangsa dalam Jayakusuma sama sekali dikacaukan dengan Miruda.

Sekarang kita bicarakan tentang ibu Prabangsa. Dalam Panji Semirang ia adalah Mahadewi (sesuai dengan catatan Rassers dan Overbeck). Dalam Jayakusuma ia bernama Madukeliku[15], dalam cerita Malat, Likwa atau Liku dan dalam cerita Panji Melayu lain yang muda, juga Liku,yang rupanya bukan nama, tetapi gelar seperti Parameswari, Mahadewi dan lain-lain dalam Nagarakretagama. Sebab dalam istana Gegelang juga disebut seorang Liku.

Dalam Panji Semirang memang ada disebut seorang Liku, yaitu sesudah Mahadewi dan sebelum Matur, akan tetapi mungkin sekali bagian-bagian itu hanyalah penambahan kemudian. Sekarang timbullah pertanyaan, bagaimana terjadinya nama atau gelar Liku itu. Untuk ini Jayalengkara versi Cohen Stuart memberi kita semacam rantai antara Liku dalam artinya yang asli dan Liku sebagai gelar salah seorang diantara para istri raja. Dalam Cohen Stuart diantara para istri Jayengrana, ada seorang yang dinamakan Liku-raja. “Perempuan” itu disini seperti juga ditempat lain ibu Brajanata (Prabangsa atau Kertabuwana) pula. Dan sesungguhnyalah dalam Panji Palembang ada seorang Liku-raja. Sebelum kita menentukan apakah Liku-raja ini sebenarnya, baiklah kita sebentar memasuki bidang ilmu bahasa.

Dalam bahasa Jawa, huruf w dapat berubah menjadi l, sekalipun tidak sangat sering. Demikianlah didapati umpamanya kata wintang (bintang) disamping kata lintang. Nama tempat Wiyangan (Naskah Brandes) dalam Jayakusuma (pupuh 48) bunyinya Liyangan. Dalam Jayakusuma sendiri sekali-sekali terdapat kata lengkawa untuk wangkawa (cahaya di angkasa).

Kata Jawa Kuno nyawuwong (teriakan burung merak) dalam Malat ditulis nyalulong. Di Yogyakarta dikatakan lendra untuk wendra, “sepuluh juta” dan layangan untuk wayangan (bayangan). Wuwuri (Sewaka bait 16=luluri). Winuri-wuri=linuri-luri (Nitisruti bait 16), mumuri=(a)ngluluri.

Sekarang taruhlah bahwa l pada Liku-raja, karena pergantian l dan w seperti disebutkan diatas, sungguh-sungguh menempati tempat w, maka dapatlah diterima, bahwa Liku-raja pada mulanya mestilah berbunyi Wiku-raja. Kata raja merupakan sinonim kata haji (raja), maka Liku-raja (baca Wiku-raja) ini bisa juga

berbunyi Wiku-haji. Dan siapa yang tidak asing dengan kepustakaan Jawa Kuno pasti akan mengetahui, bahwa Wiku-haji dalam beberapa hal yang khusus digunakan oleh orang-orang suci apabila berbicara dengan raja dan pada umumnya dipakai guna menyatakan pendeta istana, Purohito.

Marilah kita periksa pendapat ini dengan mempergunakan Panji Palembang. Liku-raja muncul dalam naskah ini—langsung, jadi bertempat tinggal—dalam istana bersama-sama dengan Kili Suci; dalam istana ia mempunyai kedudukan yang tinggi, jadi ia juga mempunyai pengaruh yang kuat. Bukankah ia pernah memerintahkan kepada Onengan untuk membangunkan raja, ayahnya? Jika diperhatikan semua ini, maka Liku-raja mestinya Wiku-haji, yaitu Purohito kerajaan. Tapi disini tidak dinyatakan apakah ia seorang laki-laki atau seorang perempuan. Tetapi bagi yang mengenal Purohito dalam istana Jawa Kuno, tidak ada alasan untuk menganggap bahwa ia seorang perempuan. Penyadur-penyadur cerita Panji yang tidak mengenal kedudukan Purohito dalam istana pada zaman Jawa Hindu, mengira ia seorang perempuan, sebab demikian pendapat mereka dalam lingkungan sekitar raja biasanya hanya ada perempuan. Dan karena tidak tahu, bahkan mereka menjadikannya salah seorang istri raja. Jadi ibu Prajanata (Prabangsa). Pengarang Melayu berbuat yang demikian pula, karena mengikuti pengarang Jawa atau Bali.

Kita teruskan pekerjaan perbandingan ini, sekarang cerita Jawa dengan cerita Jawa juga. Kita ambil perkawinan Semar dengan anak (pungut) patih Janggala. Lukisan tentang perkawinan ini kita dapati dalam Serat Kanda, dalam Jayakusuma dan dalam Panji Palembang. Dalam Serat Kanda terasa hubungan peristiwa ini dengan keseluruhannya tidak lancar; dalam Jayakusuma perkawinan itu terjadi sesudah perkawinan Panji yang kedua dan dalam Panji Palembang sesudah perkawinan Panji yang pertama. Melihat bahasanya, terkesan bahwa peristiwa dalam Serat Kanda adalah yang utama diantara ketiga naskah itu.

Peristiwa yang sama dalam naskah Jayakusuma mestilah diambil dari naskah seperti Panji Palembang. Bukan saja yang berhubungan dengan peristiwa ini, tetapi juga yang berhubungan dengan banyak adegan lain dapat diambil kesimpulan, bahwa penyusun naskah Jayakusuma, mestilah telah mengenal naskah seperti Panji Palembang. Dalam Jayakusuma banyak bagian yang terang sekali mengingatkan kita akan peristiwa-peristiwa dalam Panji Palembang, misalnya ribut-ribut antara istri-istri Panji, pertemuan Candra-kirana dengan Panji yang menyamar sebagai dewa[16], permainan cuki dan sebagainya. Tapi janganlah kita mengira, bahwa penyusun Jayakusuma mempergunakan Panji Palembang sebagai contoh dihadapannya. Sebab hubungan atau urutan kejadian-kejadian itu dalam Jayakusuma, ditinjau dari sudut Panji Palembang, kacau sama sekali.[17]

Bila kita bandingkan Panji Palembang dengan naskah Roorda-Gunning, maka pertama-tama kita lihat, bahwa naskah Roorda-Gunning ditulis dalam prosa yang lancar, menurut logat Jawa Timur, sedang Panji Palembang dalam tembang. Tapi sesudah kita membaca naskah Panji Palembang, dapatlah dikatakan bahwa Roorda-Gunning hanya bisa dikatakan merupakan sebuah singkatan atau cerita belaka. Lagipula naskah Roorda-Gunning hanya sampai pupuh 43 dari Panji Palembang, berisikan bagian pertama dan kedua. Tapi dapat dipastikan, bahwa cerita yang asli—sangat mungkin sekali juga dalam bentuk tembang—yang menjadi dasar pengambilan Roorda-Gunning, sangat dekat kepada Panji Palembang. Malah kita mendapat kesan yang kuat ketika membanding-bandingkannya, bahwa cerita Roorda-Gunning itu yang konon berasal dari Gersik, bersumber pada sebuah naskah yang lebih tua dalam bentuk tembang, yang sama babonnya dengan Panji Palembang. Sebab naskah Roorda-Gunning itu dipandang dari sudut ilmu bahasa, tak dapal disangkal mengandung unsur-unsur Jawa Timur.

Seperti kita masih ingat, Jayalengkara Cohen Stuart juga menceritakan pengalaman Angreni. Mulaipupuh 20 dari naskah ini cerita itu sejajar dengan Panji Palembang, sampai yang akhir ini selesai[18]. Bahkan kita tidak dapat menghilangkan kesan bahwa penyusun Jayalengkara mengenai pengalaman Panji, mestilah mempergunakan naskah seperti Panji Palembang sebagai contoh. Pepatah-pepatah dan ungkapan-ungkapan tertentu dalam Panji Palembang kita dapati kembali dalam Jayalengkara dalam bentuk yang serupa. Akan tetapi sesudah membaca Panji Palembang, maka terasalah cerita Jayalengkara sangat membosankan. Sebab setelah beberapa saat sudah dapat kita lihat, bahwa Jayalengkara merupakan suatu penguraian bertele-tele dari cerita yang sama dengan Panji Palembang. Begitulah dalam Jayalengkara kita temui pemakaian wangsalan yang royal, yang sama sekali tidak ada dalam Panji Palembang. Malahan satu bagian yang panjang dari Bratayuda Cohen Stuart kita dapati kembali dengan tidak dirubah dalam Jayalengkara. Dengan sendirinya, membaca naskah semacam itu—setelah kita mengenal cerita Panji Palembang—sangat membosankan, sedangkan Roorda-Gunning hanya menyuguhkan kepada kita bacaan yang agak kering, meskipun menyenangkan.

Ketinggian nilai Panji Palembang menghendaki pembicaraan yang khusus. Komposisinya saja sudah dapat dikatakan indah sekali. Keahlian pengarangnya melukiskan kejadian yang dramatis mencapai puncaknya, tatkala ia menggambarkan Panji tinggal di istana Daha, yaitu ketika kunjungan seri ratu Nusa Barong[19], sebelum muncul raja Nusakencana pada bagian kedua cerita itu. Sampai disini tidak seorangpun dari tokoh utama yang terbunuh, kecuali Angreni, sekalipun ada pertempuran-pertempuran. Namun cerita, itu menarik bagi pembaca,yang dapat memahami cerita itu dengan baik, dengan cara, yang menurut perasaan saya, tidak dapat dilukiskan. Dan kami bahkan berpendapat, bahwa cerita yang asli berakhir pada bagian Panji dikenal kembali dan datang mengunjungi keluarganya di Daha, atau di Gegelang, serta perkawinan para putri dan putra raja. Sebab jika ditinjau benar-benar, maka munculnya raja Nusa-kencana sampai dengan matinya, yaitu bagian kedua, hanya lepas-lepas hubungannya dengan bagian pertama. Hubungan satu-satunya tetapi lemah, yang dapat ditunjukkan, ialah pupuh 12 bait 25, dan disana dikatakan bahwa menurut petunjuk Narada (roh) Angreni akan menjelma kembali dalam seorang raja Nusa-kencana. Tetapi kemudian ketika penyair menampilkan Angreni kembali, sesudah kematiannya, dengan nama Angrenaswara—disamping Angreni suatu pemberian nama yang    murah—maka dia bukan menjadi raja Nusa-kencana, tetapi saudaranya berlainan ibu.

Juga bersatunya kembali atau bersatunya Angreni dan Candra-kirana, terjadi dalam bagian ini dengan cara yang mengherankan, yang pasti diluar garis bagian yang pertama. Sebab salah seorang diantara kedua orang puteri raja, Angrenaswara—pengarang tidak dapat mencari jalan yang lebih baik—oleh  Narada dihilangkan begitu saja dan lihatlah: mereka menjadi satu; selanjutnya dwitunggal itu bernama Candraswara, suatu nama, yang dalam permulaan cerita Jayalengkara memainkan peranan yang penting.

Jika dipikirkan kemustahilan-kemustahilan ini, maka kami merasa beralasan untuk mengambil kesimpulan, bahwa bagian kedua cerita itu terletak diluar rencana asli pengarang. Beberapa kata yang baru, seperti kapal-kapal uap dan lain-lain, menunjuk pula kearah ini[20]. Tapi mungkin bagian kedua itu ditambahkan tak lama sesudah terbit bagian pertama dan oleh seorang penyair yang bukan sembarangan pula. Ini dibuktikan oleh kenyataan, bahwa jalannya kejadian-kejadian dalam bagian kedua, masih dapat dikatakan baik, sekalipun tidak dapat dikatakan seindah bagian pertama. Kita, dapat menerangkan terjadinya sebagai berikut. Penyair bagian kedua, ketika ia membaca bagian pertama, merasa amat kasihan kepada Angreni. Sebab puteri yang setia ini, yang lebih mencintai suaminya daripada nyawanya sendiri, haruslah dipersatukan kembali dengan suaminya. Dan begitulah disusunnya bagian kedua sebagai lanjutan, dalam mana ia beroleh kesempatan untuk menjatukan Angreni dengan Panji kembali, sekalipun, dengan cara yang ajaib, tapi waktu meletakkan hubungan antara kedua bagian itu, ia melakukan kekeliruan tersebut diatas.

Lain halnya dengan bagian ketiga, yang tidak ada dalam Roorda-Gunning, tetapi ada dalam naskah Bat. Gen. (Panji Jayalengkara) maupun dalam Kod. 1871 (Jayalengkara Cohen Stuart) dan yang dalam “lanjutan” Jayakusuma, ditempatkan dibelakang sekali. Melihat isinya bagian itu tidak lain dari penguraian peristiwa pada bagian penutup dari bagian yang kami kutip dari Serat Kanda. Mengenai bentuk tembangnya, dapat dikatakan ia merupakan hash bikinan seorang penyair yang tidak berbakat. Tapi bahwa bagian ini tidak usah terlalu muda, dibuktikan oleh kenyataan, bahwa bagian itu didapati dalam Serat Kanda dan dalam beberapa cerita Panji Jawa. Tapi bila dihubungkan dengan bentuk asli cerita Panji, maka bagian ini merupakan tambahan kemudian yang kurang berhasil.

Dalam bagian ketiga kelihatan seorang tokoh yang amat menyolok, yang hendak kita bicarakan dengan beberapa patah kata. Namanya Retna Be (lengkapnya: Bekang atau Bikang) Werdeya (atau Murdeya). Menurut Serat Kanda ia adalah putri raja Gegelang yang telah dicuri dan dididik oleh orang Brahmana. Sesudah kekalahan saudara dan ayahnya, ia menjadi istri Panji yang kedua dengan nama Sureng-rana.

Sureng-rana ini pula—yang adalah puteri Camara—yang kita temukan dalam Jayalengkara dan dalam “lanjutan” daripadanya. Dalam kedua kejadian itu ia merupakan isteri Panji yang berani dan memainkan peranan Andayaprana dalam Panji Palembang.

Dalam “lanjutan” Jayakusuma didapati pula seorang Bikang yang lain. Disini ia merupakan—seperti juga ditempat lain—saudara raja dari Seberang dan anak seorang Brahmana. Sesuatu bukti pertaliannya dengan Sureng-rana tidak kita dapati; pun bahwa ia tokoh yang itu juga.

Dalam Panji Palembang kita dapati lagi seorang Bikang. Dalam cerita ini, seperti juga dalam Jayakusuma, ia disebut sebagai saudara raja Seberang. Malah diceritakan, sebelum ia takluk kepada Panji dan kemudian kawin dengan Panji, ia telah menyamar sebagai Onengan, lalu memasuki istana Daha. Dalam Panji Palembang Andayaprana ialah seorang puteri raja Bali; peranannya dalam Jayakusuma seluruhnya dimainkan oleh Sureng-rana, putri Camara; Andayaprana itu pulalah yang tersebut dalam cerita Malat. Tapi Andayaprana yang dalam cerita ini tidak memainkan sesuatu peranan, adalah puteri Camara, seperti juga dalam Jayakusuma. Malah kepadanya diberikan pula seorang saudara, bernama Andayaraga. Seorang lagi Andayaprana kita dapati dalam Kudanarawangsa; disini diceritakan ia saudara raja Nusa-kembangan. Kita berhadapan dengan sebuah teka-teki: Bekang—Surging-rana—Andayaprana yang tidak dapat saya terangkan.

Tapi bahwa Camara adalah nama sebuah tempat yang berasal dari cerita Panji yang asli, dibuktikan oleh kenyataan bahwa Camara bahkan disebut dalam Panji Kamboja. Bagian keempat yang hanya terdapat dalam Naskah B.G. no.

236 dan dalam Kod. 1871, tidak kita selidiki, karena bagian itu seperti juga Koleksi Brandes no. 159, membicarakan tentang anak-anak Panji. Jadi boleh kita anggap diluar daerah penyelidikan kita.

Nilai tinggi Panji Palembang terletak pula dalam bahasanya, yang sedikit banyaknya langsung berhubungan dengan bahasa Pararaton. Tetapi bukan itu saja. Juga lukisan tokoh-tokoh drama dalamnya, menurut selera orang Jawa—ini dapat saya katakan tanpa ragu-ragu—sangat berhasil. Tapi tidak mungkin menyatakan dengan sempurna betapa berhasilnya dalam singkatan cerita. Hal itu hanya mungkin dengan jalan menerbitkannya dalam terjemahan. Namun kami akan menyebutkan satu contoh dari padanya.

Marilah kita bicarakan Panji. Dia seorang ksatria dengan watak yang mulia. Sekalipun ia dikenal sebagai Don Juan, tetapi ia tidak mau merusak kehormatan Candra-kirana, kekasihnya yang utama, sebelum keduanya diikat secara “sah”. Meskipun ia mempunyai kesempatan untuk itu pada pertemuan mereka, ketika ia menyamar sebagai dewa Cinta.

Dan Andayaprana, puteri berbakat dari Bali itu? Dia merupakan seorang wanita teladan, yang menyenangkan suaminya dalam segala hal, sekalipun, atau lebih baik, berkat sifatnya yang lekas marah.

Candra-sari, yang berselisih dengan Andayaprana dan kemudian menfitnahnya karena pembagian harta rampasan, juga merupatan tipe klasik seorang puteri, yang sebagai keponakan dan isteri Panji, merasa disisihkan oleh seorang isteri Panji yang tidak bertalian darah, yakni Andayaprana.

Gunung-sari merupakan pula tipe seorang pangeran muda,yang karena jatuh cinta, tiada dapat mengekang diri. Dan akhirnya Candra-kirana merupakan contoh seorang perempuan bangsawan yang berpendidikan baik, berhati mulia dan cerdas, serta menimbulkan cinta dan hormat pada suaminya. Kepatuhannya kepada ayahnya bukanlah disertai kebodohan, tetapi pikiran yang jernih dan kehati-hatian.

Dalam bentuknya yang belum rusak naskah Angreni baru kemudian masuk ke daerah kesultanan. Untuk membuktikan ini kita harus menyelidiki sejarah terjadinya naskah  Jayalengkara Cohen Stuart. Naskah yang terakhir ini adalah kod. 1871, milik Winter, “yang disuruh salinnya dari naskah Sri Bupati (Maharaja?)”. Naskah ini mestinya suatu salinan dari suatu babon, yang naskah B.G. no. 236 (Panji Jayalengkara) merupakan turunan yang sama daripadanya. Yang terakhir ini, dengan tulisan keraton yang indah, mulai dengan doa pujian kepada Susuhunan (Paku Buwono VII), ditulis (baca: mulai dibuat salinannya) dalam tahun Wawu, janma-osik-sabdaning-ratu=1761 tahun Jawa=1833 Masehi. Naskah yang dipergunakan Cohen Stuart rnemakai tahun Je 1758 tahun Jawa= 1830 Masehi pada permulaan naskah itu. Tentang penutup, kedua naskah itu mestinya sama bunyinya. Ini nyata sekali dari angka-angka tahun, yang diterakan dalam katalogus Vreede. Angka-angka tahun yang sama kita lihat pula pada penutup naskah B.G. (Panji Jayalengkara)[21].

Naskah Jayalenkara lainnya, yang juga disebut Gunning dalam kata pendahuluannya, ialah yang menjadi milik Ned. Bijbel-Genootschap di Amsterdam. Naskah ini jelas lebih tua dari kedua naskah yang telah kita sebutkan itu. Penanggalannya seperti yang dikutip oleh Gunning, dalam terjemahannya dan setelah dipendekkan, berbunyi: “Saptu Wage 9 Rabi’ul akhir Dal 1751 tahun Jawa”.

Tanggal ini jatuh pada pertengahan Desember 1823 Masehi, jadi pada permulaan pemerintahan Paku Buwono VI, yang diangkat menjadi Susuhunan dalam bulan September tahun itu, sedang angka-angka tahun dalam kedua naskah yang lain itu semuanya bertepatan dengan tahun pemerintahan Paku Buwono VII. Hanya dengan perbandingan angka-angka tahunnya saja sudah nyata, bahwa naskah Amsterdam yang tertua dari ketiga naskah Jayalengkara itu. kita perhatikan perbandingan yang dilakukan Gunning dalam catatan pada halaman pengantarnya, maka nyatalah bagi kita bahwa naskah Leiden “lebih luas” dari naskah Amsterdam. Karena itu lebih tepatlah kiranya, apabila Gunning membalik kata-kata dalam catatannya itu.

Mengenai naskah Amsterdam ada suatu riwayat yang kami rasa cukup penting untuk diketahui. Bagian penutup naskah ini, yang juga dikutip oleh Gunning, dalam transkripsi berbunyi seperti berikut:

“…mangkana pinugut, taman wedar ing carita, kang muryani (murwani) Sunan Paku Buwaneki, sing (ping) pat ing Surakarta kang tinuduh manah ( manreh) ing palupi, lepiyan duk jaman cacurana, tarik Dana kadanan reh, lire amung tutulung, tan katelah anjurutulis, tuluse kang sasana, wadya kami-sepuh, ngabehi Yasadipura, ping sapisan mela’nggung kinen malupi, pamonging raja-muda”

Kata-kata ini, yang seperti dikatakannya sendiri, sebagian besar tak dapat dipahami oleh Gunning, saya mengusulkan terjemahanrnya seperti berikut: “…sekarang tamatlah, cerita tidak diteruskan lagi. Yang memulai (yaitu yang memberi perintah untuk menyusunnya), ialah Paku Buwono IV di Surakarta. Yang diserahi menyalin riwayat mengenai masa Cacurana (Bacalah caturana, dari kata catur=4, suatu kata dari Ramalan Jayabaya; maksudnya ialah empat buah kerajaan,yang memainkan peranan utama dalam cerita-cerita Panji), ialah Carik-Dana,yang ditugaskan untuk itu. Tetapi dalam hal ini ia hanya membantu; pekerjaannya bukanlah menulis (cerita). Pengarang cerita sebenarnya ialah pegawai tinggi Yasadipura I. Sebabnya maka ia dibebani tugas untuk menyusun cerita, ialah karena ia menjadi pengasuh putera mahkota (yang jadi Paku Buwono V kemudian)”.

Jadi, yang diserahi menyalin rupanya ialah Carik-Dana, yakni seorang yang sama pekerjaannya dengan Waladana dalam naskah Menak zaman Kartasura. Pegawai ini mempunyai tugas pokok menulis surat-surat resmi Sunan, sama dengan pekerjaan Wadana-Carik sekarang (dibalik: Carik-(Wa)dana=wala-(wa)dana), kepala Sekretaris Solo dengan pangkat bupati (pembatu).

Pada waktu menyalin naskah itu rupanya Yasadipura telah meninggal. Sebab ia disebut yang pertama, dengan lain perkataan, yang kedua, anaknya, ketika itu sudah ada. Dan memang tepatlah Yasadipura I disebut disini “pengasuh putra mahkota”[22].

Bahwa Yasadipura I yang menjadi pengarang cerita Angreni, juga disebutkan dalam Zamenspraken yang disusun oleh Winter. Akan tetapi kita tidak boleh mengartikan hal ini terlalu harfiah. Mungkin yang sebenarnya ialah bahwa Yasadipura I yang memuat Angreni dalam Jayalengkara, dengan perkataan lain, dialah yang menggabungkan Angreni dengan Serat Kanda, yakni yang telah memberinya tempat dalam “Sejarah” Jawa. Dan memang kita telah mendapati pada Raffles[23] peristiwa Angreni sebagai suatu bagian dari sejarah Jawa, sedangkan Serat Kanda sama sekali belum mengenalnya. Sangat boleh jadi, cerita Angreni sebagai naskah dari Gersik baru masuk ke daerah kesultanan tak lama sebelum Raffles dan disadur kedalam Jayalengkara. Melihat teksnya hal ini tak dapat disangkal.

Naskah Gersik masuk ke daerah kesultanan kira-kira pada zaman itu, juga bukan suatu kebetulan. Sebah Paku Buwono IV kawin dengan seorang puteri Madura[24],yang kemudian menjadi ibu Paku Buwono V. Teranglah puteri itu atau seseorang dari pengiringnya yang membawa naskah yang juga memang dikenal di lingkungan keraton Madura[25] ke Solo. Dan demikianlah jalannya cerita itu dimuat pula dalam Babad Tanah Jawa.

 

  1. Menentukan Terjadinya Cerita Panji

Usaha untuk mengetahui waktu terjadinya cerita-cerita Panji, telah, dilakukan dengan luas oleh C.C. Berg. Dalam bukunya inleiding tot de Studie van het Oud-Javaansch (1928), Berg mengemukakan sebagai tahun penyebaran cerita-cerita Panji di Nusantara (jadi bukan tahun penciptaan,yang dalam jalan pikiran ini tentu saja mestinya lebih dahulu), ialah: Pamalayu (1277 M) sebagai tahun pertmulaan dan sekira 1400 M sebagai tahun akhir. Sesuai dengan ini Berg mengemukakan pendapat adanya cerita-cerita Panji, yang “dalam bentuknya dalam bahasa Jawa Kuno diterjemahkan atau disadur kedalam bahasa Melayu”.

Dua tahun kemudian (1930), yaitu ditempat lain, Berg mengatakan, bahwa “cerita-cerita pahlawan (cerita Panji) yang berasal dari bahasa Jawa ini, barangkali sudah populer di lingkungan istana raja-raja Jawa Timur, akan tetapi oleh pendukung tradisi Hindu terdesak ke belakang sebagai sastra kurang bermutu dan baru di Bali dapat berkembang dengan bebas”.

Baik mengenai pendapatnya yang pertama maupun pendapatnya yang kedua, kalau saya tidak keliru, Berg tidak mengemukakan alasan-alasan yang kuat. Kita tidak membicarakan pendapatnya yang kedua, karena tidak memberi pegangan yang kuat kepada kita. Tapi pendapatnya yang pertama pun, yakni tentang penyebaran cerita Panji, menurut anggapan saya, ia menempatkannya terlalu cepat. Keberatan-keberatan terhadap pendapatnya itu, saya jelaskan dibawah ini.

Selama Pamalayu dan tentu saja sebelum itu, pastilah ingatan kepada Singasari masih sangat hidup. Bayangkanlah umpamanya pada waktu itu ada orang menuliskan sesuatu, sekalipun dalam bentuk roman, yang menceritakan, bahwa Singasari semasa dengan Daha-Kediri seperti tersebut dalam cerita Panji, pastilah ia akan ditertawakan oleh pembaca, dengan akibat, tulisannya itu tidak akan diterima oleh publik. Jadi, redaksi Panji yang asli mestilah ditulis pada zaman ketika ingatan orang kepada Singasari telah agak samar-samar; pada suatu masa ketika orang tidak merasa janggal lagi bila Singasari dikatakan sezaman dengan Daha dalam cerita Panji dan Candra-kirana. Jadi, saya berpendapat, masa penulisan cerita Panji yang mula-mula ialah pada zaman kejayaan Majapahit atau lebih tepat, zaman kejayaan kemudian dari Majapahit. Dan penyebarannya ke pulau-pulau lain, menurut hemat saya, pastilah terjadi jauh kemudian dari itu. Karena itu sangatlah tidak mungkin pernah ada suatu bentuk Jawa Kuno daripadanya.

Dilihat dari sudut sejarah kesusastraan, hal ini mudah sekali dipahami. Sebab tidaklah mustahil, bahwa orang Jawa sampai dengan zaman kejayaan Majapahit, hampir semata-mata membaca tulisan-tulisan Jawa “Kuno” dengan sedikit banyaknya bahan cerita India. Sesudah bosan dengan itu, orang lalu mengingini sesuatu yang lain. Pada waktu itu pemasukan cerita-cerita India boleh dikatakan terhenti sama sekali. Selain itu pengetahuan orang tentang bahasa Sansekerta ketika itu tidak lagi begitu rupa, sehingga orang dapat menterjemahkan cerita dari bahasa itu kedalam bahasa Jawa. Cerita-cerita asing yang pada ketika itu pasti sudah ada melalui bahasa Melayu, bercorak Islam. Tetapi orang Jawa tidak (belum lagi) mau membacanya. Maka apakah yang lebih masuk akal dari mempergunakan bahan sendiri dan mencoba memberi bentuk kepadanya? Cerita Calon-arang dapatlah dianggap sebagai hasil usaha yang pertama kearah itu[26].

Bukan semata-mata keinginan kepada bahan cerita baru yang memberikan dorongan untuk membentuk kepustakaan baru, tetapi

juga kenyataan bahwa pada masa kejayaan Majapahit tidak banyak lagi orang yang dapat memahami bahasa Jawa Kuno, seperti yang ada ketika itu dalam bentuk tembang yang masih kita kenal sekarang ini, merupakan suatu dorongan yang kuat dan tak dapat diremehkan untuk mencari bacaan baru dan mudah dipahami. Dan kesusastraan baru itu pastilah telah disusun dalam bahasa (percakapan) yang umum ketika itu. Tidak mungkin lain. Mengapa cerita Panji yang dipilih, hal itu semata-mata kebetulan saja.

Sejajar dengan bahasa kepustakaan, berubah pula bahasa piagam-piagam. Dalam zaman kejayaan Majapahit mulailah dipergunakan dalam beberapa piagam bahasa yang umum ketika itu dan yang sekarang kita sebut bahasa Jawa Tengahan.

Jadi, bahasa yang dipakai untuk cerita Panji yang mula-mula, mestilah bahasa Jawa Tengahan bukan bahasa Jawa Kuno. Adapun wiramanya, berhubungan dengan penggunaan bahasa Jawa Tengahan, dapat dikatakan yang berikut. Sampai kepada masa kejayaan Majapabit, “kitab-kitab bacaan bahasa Jawa”—bila tidak dalam prosa—disusun dalam tembang Jawa Kuno, yakni menurut aturan syair India. Tapi pemakaian wirama semacam ini dalam cerita-cerita Panji, sekarang ini, tidak nampak. Sebaliknya, semua cerita Panji yang dikenal sekarang di Jawa dan di Bali, memakai tembang macapat atau tembang tengahan. Maka dapatlah ditarik kesimpulan, bahwa ketika ditulis cerita Panji yang pertama, orang tidak lagi mempergunakan wirama India yang tradisional.

Segala yang dikemukakan diatas itu, dapat dikatakan merupakan aspek luarnya; sekarang marilah kita coba menjelaskan yang berkenaan dengan isinya.

Marilah kita tinjau nama-nama geografis dalam cerita-cerita Panji, maka adalah sekaliannya, sebagaimana yang dapat kita selidiki menurut perjalanan sejarah, hampir bersamaan benar dengan yang tersebut dalam Pararaton. Bukan saja nama-nama tempat yang paling penting seperti Kuripan, Daha, Singasari dan lain-lain, tapi juga yang tidak penting dalam Pararaton, kita dapati kembali dalam cerita-cerita Panji. Persamaan nama-nama tempat dalam cerita-cerita Panji Jawa, Melayu dan Bali, bahkan juga Panji Kamboja pada satu pihak dan Pararaton dilain pihak, sangat jelas dan nyata sekali, sehingga kita tak perlu ragu-ragu lagi. Terutama cerita Malat, pastilah setidak-tidaknya dua kali mendapat pengaruh dari Pararaton. Ini jelas dari nama Nusapati bagi Panji dan dari perjalanan Gunung-sari yang “dijadikan peristiwa Pamalayu”.

Bukan saja nama-nama tempat, yang memperlihatkan kepada kita persamaan yang jelas antara Pararaton dan cerita-cerita Panji, tetapi juga nama julukan pelaku-pelaku. Rasanya umum diketahui, bahwa nama-nama pelaku dalam cerita Panji memakai julukan Lembu, Mahesa, Kebo (banteng, kerbau), atau kuda, Jaran, Undakan (Kuda), didepannya. Bila kita periksa pula piagam-piagam, maka akan kita dapati nama julukan dengan Kebo untuk pertama kali dalam piagam Penampihan tahun 1191 (Piagam Jawa Kuno LXXIX): Kebo Arema. Kemudian dalam Negarakretagama: dyah Lembu-Tal, ayah Wijaya; dan nama dengan Kuda dalam piagam Hayam-Wuruk tahun 1280. Disini kepala tambangan Canggu, bernama Panji Margabhaya, bergelar Ajaran Rata (Ajaran= Kuda). Dan suatu nama dengan Andaka kita dapati dalam suatu piagam tahun 1308 (?): Andaka-Kakatang. Bahasa piagam yang terakhir ini adalah bahasa yang disebut Jawa Tengahan.

Pararatonlah yang telah mengemukakan nama-nama julukan itu, tidak berapa lama setelah berdiri kerajaan Singasari dan juga dalam Pararatonlah penggunaan nama julukan itu menjadi umum sekali. Maka tidakkah mungkin sekali, bahwa pemakaian nama-nama julukan itu dalam cerita Panji, menunjukkan, bahwa penyusunan cerita Panji yang mula-mula kira-kira sama waktunya, bahkan mungkin lebih kemudian dari Pararaton (bagiannya yang tertua)? Bahwa cerita Panji pada mulanya mestilah disusun dalam bahasa Jawa Tengahan, telah kami kemukakan diatas dengan beberapa alasan.

Suatu keterangan yang sangat penting mengenai waktu terjadinya cerita Panji, telah ditemukan oleh Stutterheim dan dibicarakannya dengan singkat. Yaitu suatu relief batu dengan suatu gambar, yang tepat sekali dikenalinya sebagai suatu peristiwa dalam pengembaraan Panji. Marilah kita ikuti keterangan Stutterheim yang sangat penting artinya bagi penyelidikan kita ini. Sesudah uraian yang luas dan jelas tentang gambar itu, lalu katanya:  “itulah keterangan singkat tentang relief itu. Bahwa disini digambarkan sejarah Panji, jelas sekali…Adegan mana khususnya dimaksud disini, kurang jelas bagi saya. Barangkali pertemuan antara Panji dengan panakawannya yang sedang beristirahat dalam hutan, serta keempat orang kadeyannya: Jurudeh, Punta, Persanta dan Kertala…Tapi pertemuan semacam itu sering terjadi dan oleh karena yang muncul selalu orang-orang yang itu juga, tidak dapat ditentukan, pertemuan mana yang dilukiskan disini, jika tidak ada sesuatu bantuan keterangan, yang mengkhususkan pertemuan ini. Kendaraannya pastilah akan dapat membantu, tetapi saya tidak mengenal peristiwa dengan kendaraan demikian. Pun air muka orang kedinginan yang tergambar pada muka dua orang dari keempat orang itu, akan dapat menunjukkan jalan kepada kita. Barangkali orang yang mengetahui benar kesusastraan Panji yang sangat luas itu, dapat menunjukkan jalan kepada kita”. Demikian ujar Stutterheim.

Mudah-mudahan orang tidak akan keberatan, bahwa saya agak panjang mengutip keterangan Dr. Stutterheim; saya hanya ingin menyatakan, bahwa dugaan-dugaannya yang dikemukakan secara setengah bertanya, adalah benar semua, kecuali mengenai beberapa hal yang tidak penting sama sekali.

Relief, yang memberikan kepada kita bahan keterangan tentang Panji yang paling tua, yang kita kenal sampai sekarang, seperti bisa diduga, tidak mungkin mempunyai persamaan dengan cerita Panji yang ada dalam katalogus-katalogus atau dengan cerita-cerita Panji yang telah diterbitkan. Sebab keterangan dalam sesuatu katalogus biasanya terlampau ringkas untuk menjelaskan gambar pada sebuah relief, sedangkan cerita-cerim Panji yang sudah terkenal karena dicetak, sering mengandung unsure-unsur yang telah rusak atau unsur-unsur baru.

Jika kita bandingkan lukisan pada relief yang dimaksud dengan sebuah episode yang tidak diragukan lagi tuanya dalam Panji Semirang Cohen Stuart, maka seluruhnya cocok.

Ralief itu melukiskan Panji tinggal dalam dusun di hutan,

dimana ia bertemu dengan kekasihnya yang pertama, Martalangu dan seterusnya, yang duduk di “tangga” kereta, seperti dengan tepat dikatakan oleh Stutterheim, ialah Panji,yang duduk dimukanya, di atas tanah, ialah Semar (Prasanta). Yang dihadapkan sekali dari keempat orang yang berdiri itu, ialah Pangeran Anom (Panji-nom alias Carang-tinangluh dalam cerita Panji Melayu atau Carang-waspa dalam cerita Panji Jawa). Dibelakangnya ialah Brajanata, saudara Panji berlainan ibu. Bahwa kedua orang itu pangeran, jadi lebih tinggi dari kedua orang berikutnya, dapat kita lihat pada cara mereka menaka sarung. Selanjutnya arah kekiri kita dapati Punta dan disebelahnya Kertala, keduanya ialah kadeyan; dari caranya memakai sarung dapatlah kita tentukan, bahwa mereka lebih rendah kedudukannya dari kedua orang yang dihadapannya.

Bahwa keretanyaa belum lagi dipasang, sesuai dengan cerita pada bagian ini, karena mereka baru merencanakan akan mambawa Martalangu ke kota pada malam hari.

Sikap mereka seperti orang “kedinginan”, pun dengan nyata menunjukkan, bahwa mereka—sesuai dengan cerita—sedang di luar pada malam hari.

Yang lebih penting lagi ialah orang-orang pada gambar yang dikenali oleh Stutterheim sebagi Panji dan kawan-kawannya. Pada kaki orang yang berdiri di tengah sekali (Panji) tertulis angka tahun 1335 Saka, 1413 M. Berdasarkan angka tahun ini Stutterheim menduga, bahwa relief itu semestinya berasal dari kira-kira tahun 1400 M dan saya dengan tidak ragu-ragu setuju dengan pendapat itu.

Sekarang marilah kita kembali kepada cerita-cerita Panji. Karena dalam tahun 1400 orang sudah mempunyai gambaran suatu peristiwa cerita Panji, niscaya tiadalah akan jauh dari kebenaran, jika kita katakan naskah Panji yang asli dikarang tidak lama sebelum itu. Orang mungkin akan mengatakan, bahwa cerita Panji bisa juga ditulis jauh sebelumnya, akan tetapi terhadap bantahan itu dapat dikemukakan pula, bahwa timbulnya cerita Panji dapat dipandang sebagai suatu revolusi kesusastraan terhadap tradisi lama. Jadi cerita itu cepat sekali terkenal dan segera juga orang membuat gambar-gambar daripadanya. Munculnya cerita Panji yang pertama dan saat pembuatan gambarnya tidak perlu dipisahkan oleh jarak waktu yang jauh.

Bila kita kumpulkan seluruh bahan keterangan untuk menentukan waktu timbulnya cerita Panji, maka kita akan sampai kepada kesimpulan satu-satunya. Redaksi yang mula-mula pastilah disusun pada zaman kejayaan (atau masa kejayaan kemudian) Majapahit. Karena penulisan  cerita Panji menurut pendapat kami, baru terjadi kemudian, maka   penyebarannya ke seluruh Nusantara juga baru terjadi jauh kemudian.

Suatu. keterangan Siam mengatakan bahwa “Das Epos Inao wurde durch Yaiyavo, eine moslemitisch Frau, nach Krung-Kao (Ayuthia) gebracht…”[27]. Apabila kita meninjau keterangan ini dari sudut pendirian yang diuraikan diatas, maka kita harus membenarkannya. Sebab        disini ada petunjuk yang amat jelas,

bahwa cerita Panji dibawa ke Hindia Belakang dalam Melayu (huruf Arab). Karena pertama-tama Eynao atau Inao, hanya dapat langsung berasal dari ejaan Melayu bagi nama yang sama, untuk kata Jawa Inu. Juga Karatpati, dalam Panji Kamboja nama saudara Panji, dalam Panji Jawa, nama Panji sendiri, agaknya suatu hasil salah baca tulisan Kartapati.

Terbitnya cerita Panji adalah suatu sukses yang besar bagi penulisnya[28] sebab tiada lama kemudian penyebaran cerita itu sudah luar biasa pesatnya. Sepanjang pengetahuan saya, tidak ada hasil kesusastraan yang bersemangat Jawa yang penyebarannya di seluruh kepulauan Nusantara menyamai penyebaran cerita Panji[29]. Tetapi sayang terjadinya penyebaran itu sebagian besar dari mulut ke mulut, secara lisan. Makanya dapat dipahami, mengapa cerita yang satu jauh berbeda dari cerita yang lain. Tapi inipun suatu hal yang sudah semestinya demikian; sebab orang tidak dapat mengharapkan, seperti sekarang ini, bahwa setelah selesai naskah yang pertama, segera dibuat salinan-salinan, sehingga penyebaran pada mulanya terpaksa harus dilakukan secara lisan.

Lain halnya dengan penyebaran cerita wayang Jawa ke seluruh Nusantara, terutama ke Sumatra. Dari cerita wayang itu, yang memang sudah jauh lebih dulu timbulnya dari cerita Panji, telah cukup banyak naskahnya yang tertulis. Dan orang Melayu (atau orang Jawa), yang memindahkan cerita-cerita wayang ini ke dalam bahasa Melayu, mestinya menyalinnya dari contoh yang tertulis. Untuk membuktikan hal ini, bacalah Geschiedenis der Pandawa’s naar een Maleisch Handschrift. Kita tak usah melihat bagian Bharata-Yuddha, cukuplah bila membaca halaman 10-14,  jilid 21, majalah tersebut. Bagian ini, seperti dikatakan oleh van der Tuuk dalam suatu catatan, sama benar dengan Ghatotkacasraya Jawa. Dan barangsiapa yang mengenal syair yang akhir ini, bila ia membaca van der Tuuk, niscaya tidak akan dapat menghilangkan kesan, bahwa penyadur Melayu itu mestinya pernah membaca teks syair itu.

Bentuk yang telah dituangkan kedalam cerita Panji yang mula-mula, didalam kesusastraan Jawa telah menjadi demikian “klasik”, sehingga cerita Menak, yang mestinya suatu salinan dari karangan prosa dalam bahasa Melayu, diberi bentuk yang serupa pula. Kalau kita baca pertemuan Ambyah dengan Muninggar, maka kita, kecuali yang mengenai nama-nama, seakan-akan membaca suatu cerita Panji. Muninggar pun seringkali disebut raden Galuh atau raden Dewi, seperti Candra-kirana. Lagipula nama Ambyah: Jayeng-resmi atau Jayeng-murti, sebenarnya adalah nama Panji. Pembawa surat Jobin, yang bernama Barat Katiga, juga diambil dari cerita Panji.

 

[Bagian ketiga]

Wangbang Wideya[30]

 

Awignam astu

 CANTO 1

1a sampun kyat ing rat sang prabu ring Kahuripan tuhu amanggih kotamaning kawiryan apuputranulus prajurit wijnanom apekik para­marta supala kretawirya angaji sastra sira raden Ino.

1b kalumrah ing jagat sampun yen raden Makaradwaja wirasakti ring rananggana marmaning winuwus prajurit sahira twan dewi saking nagareng Daha runtik rahaden mantri lungha angulati mangko.

2a Wus enti kederan punang desa tarsi pasir gunung rusit patapan ndatan anamanggih rahaden galuh bramatya rahaden mantri donirang gempungaken nagara sakambah wetning runtik raden Makaradwaja lwir hyang Arimurti wesnawa sinharodrabala prakoseng jurit.

2b duh lewih kadbutaning balanira kang wong Tan-Mundur wong Amunah-Kusuma wong Tan-Kokih marmaning musuh tan ana tumang-galang ing ranajrih kawus samanungkul kang sesaning mati sami atur putri kanya makahisining puri srah kabaktin natgata ring sang prawirapekik.

3a putri ring Singhasari sampun malih kalap rabi dera raden Makarad­waja mimisanan para anak sang prabw ing Singhasari tuhu ayu rupanira­nawang wulan purnamaning Kartika wastanira dyah Kesawati budy alus aririh kalud wicaksanagina.

3b kwehing rabinira mantri tan ana amadani ayuhira makadi gina antianta sihira raden Makaradwaja sayan tan kahitung kang sangkaning anglalana korugan dening rarasning sang stri winong sakarsanira wus mulih sira maring Kahuripan.

4a nora lyan ingucaping wong nghing raden Makaradwaja prawirantuk istri panungkul yayangebekana puri.

4b kasub punang wreta tekeng Daha mangkin katangi lara sang prabu mwang sira paduka swary atemahan tangis.

4a salawasira twan dewi ilang sri narapati mwang sira paduka parameswari lwir wulangun brayan suksekanggeng wingit mangkin kembuhan lara nrepati angrungu wretanira sira rahaden Makaradwaja wus rakwa sidapanggih lan twan dewi Singhasekar.

5b apan rakwa ring uni meh apanggiha kalih wulan kaselan raden Warastrasari dadi wurung dening ilang twan Warastrasari marmaning lara nrepati tan pahingan yayatemahan moktah sanagara kady agring kwehing warga mantri tan anabaning kasukan.

6a enengakena laraning sri naranata ucapen twan galuh lamanira ilang kapareng Kembang Kuning.

6b anusup munggwing alas laranganira sang nateng Kembang Jenar pitung ratri lawasira anginep iriki.

7a tuhu yen witning lewih tan anggarep angher ing nagari pan wedi kapuruga ring lalanang angur anusupeng wanagiri tan kahitung wistining wana suka pejaha ring parang pringga galaking mong mwang warak wisyaning sarpatemah jrih lumiyat ing sira radyan.

7b anedeng ring wana tekang sarwa pala duryan lan manggis mwang poh samagelar ing siti kadi atur tadah ring sira twan dewi lagy alungguh twan Warastrasari ring watu asanding tirta mulakan sarwi anadah manggista tinahapan tirta makapanuntun prana.

8a tansah ken Sanggit Bayan milw ing nastapanira ndan moga teka udan angin asru gelapnya prakasa muni.

8b tumuli amrih sirakinkin soring mandira melesning wastra anisi carmanira sumusup ing jro ati.

9a mangkin adres tang wresti tumibeng angga gumigil kady amejahaneng twas mar ken Bayan andulu awelas kalawan ken Sanggit marma anangisi ndan sira raden galuh kangen ing sira sat nata mwang sira prameswari akatigan tangis lwir pejaha soring groda.

9b lud kejepning hyang rawi prapta ratri muni tang memedi sahanahaneng alas ananguwuh-uwuh lyan tang gumuyu abelik sawaneh anangis swaranyasenguk-senguk ndan sira rahadyan awedi anidra sirakidukus ndan ken Bayan Sanggit angekepi sira.

10a dawa katakena kajantakanireng alas ndatan kawarna sireki ucapen twan mantri ring Kembang Kuning.

10b enjang sira mangkat anggerit maring alas larangan sang ahulun wus munggwing panggritan wongiraken angiring.

11a wastranira tepus mandalika asabuk limar putih atoh-parem peremas wilis abagus rupanira akung aririh basaja awasta twan Singhamatra satekanireng alas larangan mangkya anggerit tang mrega pada asepi lungha kaya ginetakan.

11b dadi araryan sira ebning kapidyah wongira sama prapta mesem lingira mantri kidep katekana deningsun anggerit angipingsun uny anikep paksi kitiran petak neher sunpanjara mesem wongira angling duh dewe baya pakanira meh arabiya.

12a gumuyu sira tuwan mantri dadi karungw angalup punang asu ring soring mandira gipih rahaden mantri.

12b anambut panggritan malayw aningcing basahan wongira prasama-megati istane buron mangke kapanggih.

13a saliyatira twan mantri kang ingaluping anjing wong wadon listu ayu katiga cety asmu sungsut warna lwir Raty angupeti kadi winelad twasira mantri neher mara siratatanya ih saking endi sira nini katemu iriki kawelas-arsa ring alas.

13b meneng twan Warastrasari kumeter maras wedi ken Bayan linge matur ih kaya si tan wong Mamenang baya sira puniki tan wring rahaden Warastrasari ena sira arep olih ganjaran gelis aturakna maring Daha tumuli sira kaki sinung genah.

14a lingira mantri kalinganipun sira twan galuh ring Mamenang gelem to sira sunbakta maring bapa aji.

14b daranangaterakna mulih maring Mamenang ken Bayan amuwus duh paran si tan sukahanira puniki.

15a nga tumuli kinen munggaha maring liman kinen saratenana sira tuwar mantri wus anitihi turangga tumuli mulih satekanireng jro kadatwar anuli marek ing sira ramanira awarah sapolahira uny amamarwih suka sira sri narendra.

15b lah aterakena kaki maring Daha ayo alali sira ring sang nateng Kadiri pan sang prabu sireki kaprenah gusti lawan asung urip lan ingsun ing kina tuwan tumuli sinambrama radon Warastrasari sinung boga demi wastra denira sang nata.

16a dinunungaken sira ring taman enjang ingateraken muliheng Kadiri ndatan kawarnaha sireng margi.

16b kuneng sira sang nata ring Daha enjang sira tinangkil ring wijil ping kalih dingaryan smu ica sri bupati.

17a awarah swapna ring sirayinira paduka swan yayi sun anupna katiban sasadara tiba ring pangkon mami dadi matemahan anak mami ni galuh Warastrasari baya to sira teka yen tan teka awasira wus mati sira mangkweng panusupan.

17b anangis sri narapati mwang sira prameswari kancit prapta mangke ken demang anembah umatur yen raden Warastrasari prapti katur saking Kembang Kuning twan Singhamatra punang andulur kinen dera sang nateng Kembang Jenar mangkeki sira wonten ing pangastryan.

18a gipih sira sri narapati ndan sira paduka swan amapag ing raden galuh muwah para rabi-aji.

18b katemu tumurun saking liman ndan twan Warastrasari twan Singhamatra anjeneng adoh prapta sri bupati.

19a amekul ing raden dewi mwang sira prameswari tansah akatigan karuna lingira sang prabu ndi nggwaniralawas nini tan kena sumahur raden dewi kagreking waspa ken Bayan anahuri lamanira angher ing alas kapara ring alas ing Kembang Jenar.

19b kapanggih dera twan mantri ring larangan suka sri naranata nahan kamayangan nanak Singhamatra kang amanggih tan sasar lakiyanira nini apan dres sasanginingsun ring kuna yen ksatriya amanggih makalaki- yanira tumuli sunwiwaha.

20a rakryan apatih mangke prapti sasomah angrangkul jeng raden galuh mwang anakipun suka kang wong sanagari.

20b wong dalem puri sama prapti anembah ring raden dewi anahur sasangi samamecil lamun sira prapti.

21a angling sri narapati mangke ring rakryan apatih suka ngong yen senggunen mitya dera kakajing Janggala muwah nanak Makaradwaja sapa kang mitya iki niningsunpakramaken ing lyan tan lyan mangko nanak Singhamatra tulusa sudi amupu wong kawlas-arsa.

21b lingira pramiswari atut iku kaka aji apan nora kahura muwah nini denira nanak Makaradwaja wus akeh ksatriya lewih wibuh kawiryan kasukan paran kakurangira bara-bara iki lamun sredah nanak Singhamatra lan anakira.

22a mojar nrepati lah nanak Singhamatra depuntumulus sredah sira amumupu mangkweng arinira kaki.

22b tan lyan sira tuwan rumaksahasahur sembah sira sang winuwusan tumungkul kemengan pangrasaning ati.

23a rumaseng twas wruh sireki yen dudu tandinganirapan tan sawawa ring rupa makadi ring kagunan anging awedy amiwal andika nrepati ya karaning anurut ndatan kawarnaha tingkahning sinambrama ring enjang pajeng punang wiwahakarya sri narendra.

23b gelisning amarna polahning wiwaha wus teki sira prasidatemu raden dewi lan twan Singhamatra kasub punang wreteriki raden dewi siralaki adoh-dohan durung sasmareng tilam raden Warastrasari tan sudi ageting sira yen sacumbanaha. 24a tansah kadga makanak-anakan makadona rakwa sira prawasanen ing kasur suka pejaheng jinem mrik.

24b kuneng sira raden Singhamatra tan kudu ingidep asanak inganti lumunganing arsanira twan dewi.

25a lumrah punang wreta tekeng Kahuripan awas punang awreta katur ring raden mantri yen sira rakryan dewi Warastrasari wus prasidalaki lan rahaden Singhamatra enti bramatyanira rahaden Makaradwaja katareng liring amredu atungtung mirah.

25b sami tan pangucap sakadehanira wruh yen sira bramatyanging empu Siwasmreti uga matur kang wani alabeh Beni amelas-arsa swaranya mans duh pangeran aywage panasbara wurunganira rikanekaken kawanin depunwiweka ring lampah.

26a yen sira kaki anekaken prakosanira bahula brasta wong Kadiri paran ta polah sri narapati.

26b nenggeh sirayinira laki lagy adoh-dohan durung prasida sasmareng jinem rum raden galuh sira elik.

27a balikan peten saking alus geremeten teki ri putusnikang alapkena pehnikang Kamandaka gawayakena kaki meneng ta sira karasaturira empu wonten ta kadehanira aran ki Carang-Lengkara puniku dutacaranira maring Daha.

27b wredi wus weruh caraning Kamandakasastra wijna ring gina wahya weruh winekas-wekasan sampun labdakaryahanira makamarganingwang kawasaha maring Mamenang ayo ahiwag tumuli amit ta ki Carang Lengkara ndan byatita lampahipun ing marga.

28a satekane mangkweng Kadiri jugjug sumur maring pun luwarak in Kadiri sambrama majar karyane prapti.

28b yen luwarakira twan mantri ring Kahuripan karane lungha ndatan inupapira dera rahaden mantri.

29a eling pun luwarak ing Mamenang mangke sun olih atyaning atur-atur ing twan mantri ring Kembang Jenar akon angupaya wong agina gelem tasira sunparekakena paran tan sukaningwang lah mangkat mangko kaki tumuli anangkil pareng mangke pun luwarak.

29b kuneng rahaden mantri ring Kembang Jenar pinarek sira asanding samepa kakalih prapta pun luwarak garjita twan mantri angling lah wuruken ingsun kaki pun luwarak angling punika luwarakira raden Makaradwaja arep angawula ring pakanira.

30a suka sira rahaden mantri kinon anamepa mangwa ambarung tumuly anamepa sikepipun angrawit.

30b gamelan muni ndan Smarantakaglis mlecut dadi kari mangke pun luwarak ing Daha jenger rahaden mantri.

31a tuhu yen wurukira raden Makaradwaja ile-ile kang dentiru jenger twasing wong angrungu gamelanipun angrawit enti arsanira raden mantri duk awusan lingira Singhamatra sredah gane sirangheri ri ngwang muwah sapa ta kaki aranira.

31b sang tinakenan angling pun Carang-Lenkararaning patik talampaka-nira doning prapta ayun angawulaheng jeng talampakanira suka rahaden mantri sinulngan wastradi mwang arta muwah kang pala boga winehan dera twan mantri brayan kinen anguninga.

32a wyatara mangkwa made sasi lawase angawula ring rahaden mantri awuwuh resep arsa raden mantri.

32b dening guna ndatan ana kapinggingan awayang atekap mwang agupit anantung bisa denyilingukir-ukir.

33a lewih ambeknyangatyani tuwan alus aririh angaladesa matur yen ana kaprenah guruputra anakira sang wipreswara sang munggwing asrama ring Giha Tiga widyajna wicaksana ring gina tan ana kapinggingan apekik warna lwir wong tan samanya.

33b pawekasireng uni yen sira kaka antuk enggon ingsun tan wurung miluwa apti amangalasana ing sira twan mantri sapa to arane wong ika deratutur tan wenang manirangarani awaler tembe lamun teka ing benjing sira kaka angundanga.

34a makasukaningong lamun tumulusa sredah ki Carang-Lengkara angling paran tan sukahanira puniki.

34b apan masa tan raweha yen manirangundanga lingira rahaden mantri agengsun sira mangkata ing benjing.

35a tan kawarnaha ring wengi enjang mangkat agelis sang awasta Carang-Lengkara prapti ring Kahuripan matur ing raden mantri dentata sapanabdanira twan Singhamatra makadi ambekira tuhw asih yen ana wong agina dahat deragya yan teka pangeran.

35b suka rahaden mantri lingira ka rangga Wicitra muwah kaka empu Siwasmreti kaka Ajaran-Wirapaksa ka Banak-Sudira ana sira yayi Srenggara-Yuda ngwang asalina aran arananingwang Wangbang Wideya apanji Wireswaranaking priya.

36a aja akeh miluwangiring kawulaningwang sok kang wang Amunah-Sari lan wong Anurida-Ragaja kari.

36b kang wong Tan-Kokih kalawan kang wong Tan-Mundur aywa kari mangkat ngwang ring ratri amangalasan maring Kadiri.

37a ikang matengga ajujuluk Wira-Pralabda kuda petak lawan jamus aja kari lan jujulukingwang kakaglis dandani densregep sanjata aywa kari pajangning wulan mangkat mangke sira Wangbang Wideya asuluh pajang- ning sasi ndatan kawarnaheng marga.

37b enjing prapta ring Kadiri jumugjug sireng Candi Bari Carang-Lengkara matur karihin ring twan Singhamatra yen prapta sira sang inundang garjita raden mantri ndan lingira lah kakageliskena tumuli mangsul Carang-Lengkara matur ing sira panji Wireswara.

38a yen raden mantri aken ageliskeneng sira tumuli agya sirasalin kampuh imasrayatumpal wilis.

38b asabuk peremas katangi asmu landung asumpang mandalika wilis asuweng danta ingijo rinukmi.

39a mangkat siranunggang waji petak tan akeh kari angiring sok sakade- hanira prapti ring kagaluhan mangke tumurun saking wahana lumakw alon angrawit kuneng sira twan Singhamatrasmu kawengan lagi gipih tumurun anjeneng ing tepas akon alinggiha.

39b mesem sang kinen alinggih alinggih mangkweng papadon lor wetan kiwa samarsa sakwehing andulu sawongira tuwan mantri kawengan mulat rupapekik samangucap wong iki tan samanya ring paripolah makadi warna lwir hyangning radya aminda manusa.

40a prapta mangke atur-aturira kombala abang wonten rong puluh lawan tumbak pisan abusana mas adi.

40b duhung kakalih samabusana nawaratna ameng-amengan salukat lan cantung sameng-emasan angrawit.

41a ndan lingira sira panji punika kaltatur ing lemah talampakanira tan sapala pukulun dening ayun kinasredahanamangalasana puniki ndan lingira twan Singharmatra tan waningsun kaka atingkahen sira ingan andikanira ari narendra.

41b lah mareka mangkeki dateleng sri narapati sira kang asung anugraha, lingira Wangbang Wideya sandika pakanira tuhan mangkat rahaden mantri adulur kang atur-atur binakta kuneng sira sang nata ring Daha tinangkil sirapepk akalihan.

42a saksana prapti raden mantri marek anembah ring sira sang prabu sira Wangbang Wideya sadadoh ing uri.

42b lingira mantri wonten ayun amangalasan sira Wangbang Wideyara-nipun anom wayahipun puniki.

43a nengeh sutanira dwijeswareng Giha Tiga punikatur-aturipun sira panji prapta anembah ring sira sri bupati kawelegen sang nateng Kadiri kidepira raden Makaradwaja warnaniranunggali Ian sira rakanira sang nata ring Janggala.

43b teka resep nrepati ring paripolahira Wangbang Wideya makadi rupa dady angling sang prabu paran tan sukaha mami yen sredah sira asanak lan ki Singhamatra lamun tulus santosa mesem sang inujaran anembah nrepati aken alinggiheng sira.

44a tumuly alinggih sandilngira para bujangga twan mantri ring wuri nrepati sama arsa wor ring dalem puri.

44b kuneng sang mantring Daha sama kawengan mulat ring sang wahu rawuh tekan ing wongira prasama pekik-pekik.

45a kuneng sira prameswari teka arsa mulat ing sira apanji Wireswara yen angucapeng daya tan samanya wong iki lewih sakwehing wong dalem puri ragan-ragan pada aseweh smara prasamawisik-wisik ndan lingnya apekik sang pinakapriyaningwang.

45b angling sang nateng Kadiri paran adeganeki adegakena pangalasaning tigang atus ring Gopranawa karangnya abecik sirapatih bisa anopeksanana ken apatih anembah anurut ajnanira sang nata tinuting aluwaran mulih sira.

46a punang atur-atur kasrah ing twan Singhamatra ndan sang wahu rawuh tinuduhan karang dera rahaden mantra.

46b rakryan apatih angajak maring Gopranawa tutut to sira lumampah adulur kalawan rakryan apatih.

47a ri saksana mangke prapting Gopranawa wus samamanggih papahayon tuhu angrawit ndatan kawarna panambramanira nrepati tuhu awirya apangiring tigasan wus prapta ata sira ring Gopranawa muwah wongira sama tinata tingkahing wesmanya.

47b enengakena sireki ucapen raden dewi ndatan kanan lila sukseka wingit salawasirapapangantyan lan twan Singhamatra durung ica abudi mangke masa purnamaning Wesaka dina Anggara-Kasih radyan araradin sira anglilaken manah.

48a tansah sireng jungut seksari sokangrungrung tansah ken Bayan lawan ken Sanggit dady aguling panaputing arip.

48b mahw angleyep turu-turu ayam kaswapena hyang Trinayana umunggwing padmasana katon awarah jati.

49a ndan liingira ih nini galuh Wangbang Wideya apanji Wireswara ika lakiniranakingsun nanak Ino Makaradwaja ika ya done mara take amrih prasidapanggih kalawan sira ih aja walang ati tulus sirapanggihi ngwang aweh anugraha.

49b ri saksana muksa tumuly atangi raden dewi awawarah maring ken Bayan ndatan ana umung prasama awisik-wisik ndatan kawarnaha sireriki ucapen sira panji Wireswara awiweka lan Carang-Lengkara indrajalanira wruheng rahadyan.

50a nahan linge ki Carang-Lengkara ingaturan it raket lan kapan sira pukulun resep yen aniningali.

50b lewih lamun wonten kang binisapan wong pakanira luhung-luhung daweg ing mbesuk angaturana puniki.

51a anurut sira panji ndatan kawarnaheng wengi ing dijang mangko adan anangkil sira Wangbang Wideya wus ahyas angrawit awastra puru anom bwat Keling atumpal syama asabuk peremas ijo krisnyatrap-trap dyah kakmng anatar ijo rinajaseng mas ratna.

51b asuweng danta winilis rinenggeng mas asumpang puspanidra jinebadan mrik minging ahurap-urap mangkin saya amuwuhi smara nenering soca lwir warastra Smara kang nityangrundah twasning stri yen apapagan tinghal tanwun kagingsir raras-raras rumning preman.

52a ketebning weni amekiki wajanya wahu ararawat jamus lati angatirah agawe raras ati.

52b anjeneng ing batur lagi anata kesarja kancit mangko rawuh teki raden Srenggara-Yuda saking jawi.

53a solahira angrawit awastra candana kawi asabuk lubeng luhung arja asekar rabuyut nirukty asuweng pepelik tan ilang tejanira rajaputreng Gegelang akris rinenggahing rukmi mara ta sira tekanjeneng ing sandingira panji Wireswara.

53b ndan mesem lingira panji kaya ta dudu sadina dera enggal agung mesem sira sang winuwusan matur mpu Siwasmreti meh smaraturani sira rayinira tuhan sira Srenggara-Yudangling tan palawan yen amamarna gumuyu sira panji Wireswara.

54a sira mpu arjawastra putih sanebab cinitrahing emas ajar sama lan sabuk tuhu yen bujangga lewih.

54b sira mpu rangga Wicitra mwang Jaran-Wirapaksa Banak-Sudira sama berem alus sabuk patawala wilis.

55a mangkat anunggang padati twan Srenggara-Yuda amregi anggayut empu Siwasmreti kadehaniranunggang kuda mungguh ing iringan para ksatriyeng uri enty arsaning wong Daha anininghali metw ing lebuh istri jalu tandwa kagiwang pada kawengan mulat.

55b padangucap sahur paksi duh tuhw antyantangrawit polahira Wangbang Wideya kadi wong tan samanya lwir tingkahing prajurit tan warna ujaring aninghali kuneng twan Singhamatra enjang tinangkil awastra jinggalus arjatumpal putih sabuk limar mandalika.

56a aduhung rinenggahing rukmi asekar greh ing kapat riaras bahu lagy anguwah karna ahurap-urap.

56b solahira akung aririh panjenengira sada adawagung akuning kesar janira asemu bontit.

57a ambek basajaririh yan ing prang sada awani anging denira tan wijna tan alandep ing semu Carang-Lengkara wus marek enjing dodote cahutar sinurat simuk densabuki limar petak solah sengehnyangrawit tuhu kadehaning pragiwaka wicaksana.

57b ndan linge matur aris Carang-Lengkara yen sira sang awasta Wangbang Wideya apti angaturana raket lalangkaran suka rahaden mantri kapan ta kaka mangke reke pangeran ujarira ring wingi ndan tumuli prapti sira panji Wireswara.

58a tumurun saking sakata maharjakampuh lumakw aris lengleng sakwehing andulu lingira rahaden mantri.

58b lah ta alinggiha sira kaka alungguh papadon lor wetan ingajak arep-aripan sira ndatan apti.

59a mesem lingira twan mantri ka Wangbang Wideya kinon alekasa pangraketira punang linuhung kapengin sun aninghali mesem sang inujaran anolih ing ken rangga Wicitra sirangulante Ajaran-Wirapaksa sang guru Banak-Sudira siragamela.

59b pun Carang-Lengkara pukulun anapeteta gumuyu rahaden Singhamatra tumuli samadandan kang angraket iriki ndan rahaden mantri lagy akon angaturana ing raden Warastrasari kedinira angundang teka mendek anernbah ing sira rahadyan.

60a ndan linge pukulun lemah talampakanira milw aningalana raket lalangkaran lingira raden mantri.

60b nengeh ta gambuh ariar pangraketira apanji Wireswara punang linuhung meneng raden Warastrasari.

61a ken Bayan angaturi aken tututa tumuli sira ahyas asalin sinjang gringsing lubeng luhung kumram ginatra ring sang awastra petak alus sinuji mandalika nirukty akerner akendit asengkang danta sineru sinalageng mas tatur saha sosoca.

61b asekar campaka wilis saha patra tinulising parada panelekira mirah abra murub sirenanira angiring pawongan sopacara angrawit lampahira alon angaras katuwon warnanira sumilah murty anelehi nagara wyapakeng sekar.

62a duk rawuh ing paryaketan kinen alungguha ring mandapa kidul tutut alungguh rahaden Warastrasari.

62b sesek punang anononton ndatan palinggaran sajro kagaluhan akrigan metu age wruheng sira panji.

63a kuneng malih sira panji Wireswara mulat ing sira rahaden galuh nenering nala mar tenuh keneng wisyaning warastra lwang Smara lara dene kasarik lagi tan pegat angler ing pracidraning liring kapendak tinghal sang kadi Ratih lwir sodra aratus gula.

63b malih sang lineran liring asmu wirang maras-maras ing nala mar tenuh kena ring wisyaning sara kusumayuda angdani ragi ken Bayan ken Sanggit amaswas ing sira Wangbang Wideya yen angucapeng ati masa dudu raden Makaradwaja ing Kahuripan.

64a punang pawongan aninghali ring sira apanji Wireswara memper ing twan galuh lingnya lwir Smara lan Ratih.

64b rahaden mantri ring Kahuripan niscaya rupaha kaya iku ing endi peten sasoring tawang kayeki.

65a sakwehing umulat ing sira Wangbang Wideyatemahan kagenjong Fewih sireilanira andulu cengeng gawok lwir kawenganing smara kuneng rahaden mantri tan uninga karamen anininghali pambanole Carang- Lengkara muwah bisane ki rangga Wicitra.

65b oreg kang anininghali duk Kulantyacecenggingan kalawan dang guru kang guyu ambata rubuh anging wong ring dalem puri aparo ulate aninghali pijer tan pegat arsa ring sira panji Wireswara sang paraning dulu tan uninga pan pijer kemengan. 66a awuwuh branti denira rahaden galuh milu suka gumuyu aningali raketan twasira lwir pinis.

66b muwah sira raden Singhamatra bungah rasaning ati denira rahaden galuh pinda sukaniningali.

67a ndan sang kataman ragi turida angel angrei kapti rasaning twas yayangembana rakwa ing sira raden Warastrasari lewih to polahira pindanglung ing semu samar-samar sambarana ih kaya kasalahanapuwara tan pawekas twas muksa bayangan.

67b ndan citanira ing uni tan ana amadani ayunira rahaden Kesawati dadi ta ana sira sang anglimpadi kadukan raras srenggaramanis lwir hyang-hyangning pasir gendis aminda pamratning lara tan pahamengan suka pejah yen tan katekan arsa.

68a wong dalem puri samanguninga semunira Wangbang Wideya muwah raden galuh prasama awisik-wisik.

68b rame guyuning aningali raketan samangucap ih satuhukingsun durung wruh raketan kang kaya iki.

69a dening bisanira sira sang amawa endi si ana bisa anggambuh kaya iki tan kawarnaha ujaring aningali ndan rahaden mantri anuly anadah sayub anami ing sira apanji Wireswara kadi gunung tang ulam lawan sekul sarah drawina.

69b lepananira anglilipur ing rahaden dewi pinilih kang warga anglala-wani sira Srenggara-Yuda malih alinggih lan mpu Siwasmreti rame deniranginum anging ki Carang-Lengkara pinuji dera twan Singhamatra duh mangkin telas sihira rahadyan.

70a ndan lingira rahaden mantri kaka Wangbang Wideya depuntulus sudi sihira asanak lawan pun yayi.

70b gumuyu sira Wangbang Wideya ndan lingira babalikan raden mantri punapa ta banggi manira malih.

71a prasama gumuyw iriki wyatara tunggang adri aluwaran twan Singhamatra amit sira Wangbang Wideya tur metu anuli munggah sireng undakan putih sigra prapta ring Gopranawa teka aguling ing mahari lesuning angga lwir kelangan prana jiwita.

71b anging kang kaprayesti rahaden Warastrasari endi nggoning olih dyah kadi sira anukuhameta sasoring langit masa ngwang amanggiha yadyapin mahasa maring Smarabawana istanira rakwa ring uni katurunan laksmining kusuma saking kendran.

72a sekeling ati denira wus sakarma ing lyan arep sirangrebut ing jurit kewuhan denira sri bupati.

72b dady angrasa sira runtikira sri narendra dening sampun antuk istri rumuhun nityasa mamalih kapti.

73a tandwa atemahan tangis lehira adrawayan mijil sayan kahitung muwah denira yan kewuh anekaken kahapti kemengan pegat rasaning ati sawongira malih pada kemengan sira raden Srenggara-Yudasemu tangis awelas sireng rakanira.

73b matur empu Siwasmreti swaranya amlas-asih sampun sira arare tuhan kadi wurunganira rika raden amanggih lamun sampun olih upaya apan sampun saksat wus olih satengah upayanira kaki aron dinaranan uga rimihin pangeran.

74a ranga Wicitra matur aris apan masa wurunga mangke antuk gatining upaya sampun tan aramping.

74b manawi kadi abibisik mundur apetak-petak katon tiwasing adrewe polah meneng sang pinakeling.

75a wengi pajangning sasi abra kumenar kady angawruhi laraning katuridan panangisning cucur lwir tangisning kahuwan sih tadah-arsanangis amlas-asih amungu laraning kasekan rimang pangrengning sadpada apti sekar lwir rengihning dyah pinrahaseng tilam.

75b pater mandra kady amisik-misiki panggyatning kilat kumedap yaya angujiwati kumram sorotning indracapa lwir wastrawiretan prang-prang sang mangkin tan palipuran laranira sira panji Wireswara dalah gyatita ping pitu lagi katurwan.

76a saksana rahina umijil hyan arka kumran angrandinima yaya cinirup sawang strya angliga panepi.

76b neher atangi sang kasekan kingking warnanirawenes akusut socasmu balut lwir tumes madu jaladi.

77a semang rasaning ati paksanira tan panangkil kancit prapta Carang-Lengkara anembah matur yen twan Singhamatra aken angundang anenggw apti aningalana pawayalngipun rangga Wicitra raden Warastrasari ayun aninghali lalakon Jinawikrama.

77b gumuyu mpu Siwasmreti mesem sira apanji Wireswara tumuli ahyas sirasalin kampuh petak tinulis kumitir asabuk giringsing winewetwing nagasoca akris atrap-trap alalakon Gatotkaca sraya anatar wilis panelek ratna pakaja.

78a asekar sumanasa putih asuweng ijo pucang urap-urap mrik minging patapning kesarjagawe branti.

78b nenering liring agawe semanging dyah raden Srenggara-Yuda arja akampuh udaraga atumpal wilis.

79a asabuk peremas wilis suwengira pepelik asekar sempol rinaras twas krisira aselut binang ijo empu Siwasmreti awastra pik amaragi lan sabuk muwah ki rangga Wicitramanjeti kinujar arja anatar wilis asabuk gringsing pinelag.

79b sama lawan sirajaran-Wirapaksa muwah Banak-Sudira para ksatriya prasama sopacara mangkat to sira anunggang liman pun Wira-Pralabda wus binusanan asekar kombala bang kang wong Daha jalw istri samanininghali prasamajenger kascaryan.

80a kuneng sira sang nata ring Daha mareng sira ranakira katemw ing yawi mwang raden Singhamatra iriki.

80b tumuly alinggih sri naranata sandingira twan dewi mwang paduka swari asung sepah ing sira twan dewi.

81a raden Singhamatralunggw ing urinira nrepati sadadoh pepek para rabi-aji sang ahulun menggep polah sri bupati awastra canglwi kukus asabuk lubeng mihat sama lan sri prameswari asinjang Iubeng mihat rupaniradi tuhu supatni sang nata.

81b malih para biny-aji prasama sopacara ndan sira rahaden Singhamatra menggep akampuh sutra mandalika asabuk gringsing dultung kaputran angrawit asumpang mas tiningkah angrek wulan anting-anting kalacakrahurap-urap kanaka curnasri kumenar.

82a kuneng sira sang lwir hyang Ratih awastra petak kumitir lawenyalus asinjang patawala anatar rani.

82b akemer kendit bot tanjawi asengkang gedah katangi sinalageng emas tatur asekar campaka putih.

83a endi ana suputri kadiya sira tuhu yen hyangning kadaton wyapakeng rasmining sancaya puspa wana saksana prapti sira sang murtining Smara lagi tumurun saka ring matengga amaharja rawitning basahan lumakw angrawit lengleng sakwehing tuminghal.

83b ndan sira apanji Wireswara asmu wedi aparek ndan anjeneng sira soring pandan sinengan denira sri bupati tur kinen alinggiha sireng palanca wetan parek ing sri narendra tumuli amit anembah sira alinggih wong jro puregar semu ragan.

84a pada silih jawil denirasasaman wastra lawan raden galuh kady apapatutan polahira puniki.

84b duh tuhu malih dening tan iwang teka pega mangke atiningsun rehing dudu karma kalawan raden dewi.

85a aningg  tan suda atiningsun denira tan bakti ing sira raden galuh mwang twan mantri ring Kembang-Jenar kang wruh sumahur wus rehing wangbang tan pati sesembahi bahula siring sira sri narendra ndan sang pinaran wasita tan salah liring lwir sadpadanoning sekar.

85b tan pegat anglering liring cidra ing sang lwir Ratih nityarsapapagan tingal kalih nala mar tenuh lingira rahaden mantri lah kaka kinen alekasa rangga Wicitra mesem sang inujaran anolih wujilira punang Angalap-Sih akon i rangga Wicitra.

86a tumuly alekas rangga Wicitra mangkw awayang prawa lalakonipun Jinawikrama duk atanding kasaktin.

86b kalawan maraja Wignotsawa duk kasoran sang Wignotsawa anuli upadesa lan sang Suprasenadi.

87a end pangalem nrepati muwah rahaden mantri ndan lingira sri naranata apanji Wireswara panggatrakena nini susulaman lalakone iki asahur sembah sang liningan tumulingaturan wastra pik mwang gatra panuli mangsi sampun ingadonan.

87b tumuly anggagatra sarwi asideha nenering liring lwir tumesa madu-jaladi ndan sawegung tiningalan de nrepati mwang rahaden mantri yen angucapeng hredaya iki si wong pratyaksa deniranggagatra mentas angrereka pisan sira Wangbang Wideya.

88a wong jro padangling kaya ndi baya rupaning rerekan lamun sampun aduh agengsun wruheng wury-astanireki.

88b aduh teka mir mangke rasanyatiningsun yen sira raden galuh amujiha rerekanira sira panji.

89a delengen semu iki ih abong sambarana nityarsapapagan dulu ih balikan twan Singhamatra sira tuhu tan sudi apan tutu malih sira tail sawaweng rupa makanguni kagunan songgon lan sira panji sadewa sadewi eman tan sawaweng kula.

89b rame sumyok guyuning aningali wayang dene bisane ki rangga Wicitra anggegempal suka guyuning wong dalem puti twan Warastrasari milu suka gumuyu ndan sang angrereka mentas tiningalan dera sri narendra duh enti pangalemira sang nata.

90a ndan lingira sri narapati ih kamangkara deranrereka tan pasiring lemes sasat angrambut dumeling.

90b kaya dudu olihing manusa lagi mesem sira sang paraning puji neher sinungaken ing raden dewi.

91a ken Bayan ananggapi won jro pada silih jawil ndan lingira sri naranata lah wehana ganjaran panji Wireswara ken Sanggit mantuk aglis amet rapi lan sabuk warnane dewangaban wilis kalawan sabuk luben mihat tumuli katur ing sri naranata.

91b kedinira angaturaken maring sira panji sira sang sinungan anembah ring sira sang prabu muwah ing sri prameswari anlgin aneda patik nrepati sri narendra anuly anadah nrepati rame deniranadah sarwy aninghali wayang sira sri narendra.

92a wyatara dawuh lima ndan aluwaran sira mantuk sira sang kataman lulut tekeng karang anuly aguling.

92b nenakena sira ucapen raden galuh aningali antukira panji Wireswara anggatrani rapi.

93a analem sireng ati ken Bayan lingnyangucap ih dereng ugi manira mihat ring warnaning rerekan mangke kaya puniki kaya dudu olihing wwang lwir antuking dewa mesem lingira radyan kaya tan kenaha deningsun anututi dening rawitning rerekan.

93b sore sumurup hyan rawi tan kawarna ing wengi muwah enjang kawuwusa teki sira Wangbang Wideya lungha anisaken turida mahas sira marin taman Bagenda tan akeh andulur maler wastranira wingi asmu kusut mangkin angemu smarangde res mar.

94a sigra teka ring taman Bagenda konang-onang langening taman panedening  kusuma sarwanjrah mar mrik minging.

94b sumrak rum sekaring syama lwir gandaning sinjangning istri sah saking panepi wuluh dantanyangesah kumisik.

95a wwahning nyudanta kadi nurojaning dyah kenyeni rosning petang danta lwir tengah angligeng jinem rum ketaka kumucup kadi wentis kesisan tang sangga-langit yaya kesarja muryawra ring tilam sekarikang srigading yaya wajangisis sinung sepah ring pamreman.

95b sarasija mekar kadi netraning dyah lumirik roning imba yaya kedaling alis arengu kumram sekarikang jamani kadi pamuluning dyah akuning lumrah tang sewaleng talaga lwir sisinom kumyus karahupan amangun ragining sang kasekan turida.

96a adikara langenikang paparwatan asamipa walahar wenika mumbul sakeng grong anembur lwir wresti.

96b lwirnyaniram pangajrahnikang sarwa kusuma lyan ana tumendun ing beji urusanya talagalit-alit.

97a warihnya nirmala atis sada arang sarwa katon kwehnikang ulam awijah amrih arebut arah asrang awanti-wanti agirang tekang manuk waliwis lan trabayak salaki binya lagy angaroki tekang manuk pecuknyangosahi ulam munggwing grongning parang.

97b arsa sira panji Wireswara lagi anganti ing sira twan Srenggara-Yuda lumampah atut toyaracak-racak sarwy aningali kalangwan neher munggah ing paparwatan ana patani tonan mara teka alinggih to sira rasaning twas epuh anahen rimang.

98a istanira kapalgiha sira sang sangkaning akingking makakundasian ing angarwanana rengkarangawi.

98b kidep ana metuwa saking panjrahning sekar ih dadi noraduh mangkin laraning twas ndatan palong atindih.

99a sumbali sy antuk anglilipur mangkin sangsaya katangi twas mar muksa bayangan dadi ana pawongan katon angunduh gambir ndan pun Duta-Liring araneki wujilira rahaden Warastrasari eling sira Wangbang Wideya tumuli sira kinen angundanga.

99b sangsiptan pun Angalap-Sih tumuli malayw aglis maring nggone pun Duta-Tinghal ndan linge tan asru lah mareka reke nini maring sira sang pangeran meneng pun Duta-Tinghal ndan asmu kemengan kepon lagi sinreng denipun Angalap-Sih marek mangke asmu maras.

100a semu guyu sira Wangbang Wideya tur angucap lah ari mangkengsun amalaku sakitaheng kawlas-asih.

100b malar bisa anahura utang wwaya tika aturakeneng raden dewi ndan meneng kemengan pun Duta-Liring.

101a wekasan angucap ih wedi manira lagi sinreng mangke ingembang-embang apuwara tutut awor awelas aningali sang kusut prihatin tumuli mangkyanunurat sira Wangbang Wideya munggwing ketaka minging apamateh ati panelek ratna kostuba.

101b dinodotan gita antuking andadak wacanamlas-sih tumuli sampun kasrah lagi ginanjar kalpika sakawan tumuli amit anembah pun Duta-Liring winiwekas enggal mangsula tumuli mulih tan kawarnaheng marga kuneng rahadyan sira kawarnaha. 102a tansah sireng jungut Seksari lagy anunulam antukira sira panji Wireswara anggagatrani wingi.

102b maler wastranira lawan sinjang smu kusut anyuh ati ri saksana prapti mendek anembah pun Duta-Liring.

103a lagi atur sekar neher tinanggapan winaweng kisyapon dadi katilalan abra sumunu prabaning kalpika ri madya ning tika ingiling-ilingan neher winaca gita dadakan sahaa wacana amlad ati kady analapa jiwa upaksamangde res mar.

103b rakryan sang kadi Ratih dewa sang murtining pasir gendis raras-raras rumtamisani twasning turida raga agawe branti punapa wekas manira saya tan darana miyating ayunira yayapuwara pati tan ana sihanira dewa ring gring kasmaran.

104a sampun wriili po si manira yan masa kahura ndi mapa sang arum angureng atpada papa kawelas-asih.

104b aning dyah ari paneneda manira dewa yan sampun pejah amalampah rurubana langsaraning tapih.

105a pan masa wurunga mati wetning tan bisa lumiyat ing rarasira wyapaka ring jaladi madu nenering nayanantanuksma raras kusumayuda angdani kung rimang wyakti kakenan ragan kang wwang apapagan tingaling sang lwir Ratih atemahan brantajnana. 105b uninga masku rani tangiskw aneng tadah-asih tanwun paratraluh-luh ri tileming candra mangkana to samanipun Wangbang Wideya panji Wireswara tan ana sihanira atma juwita sampuniramaca tika dewi lali yen asemu waspa.

106a ken Bayan angling asemu waspa kamakara denira anurupi ih tuhu angandapaken kajatin.

106b angIing sira Warastrasari densengguh baya ingwang during weruh kulane iku yan rajaputra ing Keling.

107a ndi nggwane uni kapanggih matur pun Duta-Liring yen katemw ing taman Bagenda meneng raden galuh pun Duta-Lirin ambibisiki ken Bayan awarah sapawekasira Wangbang Wideya ken Bayan angling pamatur kita yen asemu tangis kewala rahadyan.

107b mangsul pun Duta-Liring maring Gopranawa ndan kapanggih sira Wangbang Wideya ring made alungguh ndan prapta pun Duta-Liring lagi matur sapolahira sira rahadyan muwah sandikanira yen sampun angrawruhi yen pakanira sira raden Makaradwaja.

108a anging sira asemu tangis sang inaturan lali yen kahantu anibeng kajang sirah lwir anuly anis nir.

108b prasamagipih kadehanira atulung twan Srenggara-Yuda anangis sira mpu mangkwametekaken ati.

109a rangga Wicitrangrangkul suku marma anangisi lawan ki Jaran-Wirapaksa ndan ki Banak-Sudira praya angamuka ira twan Singhamatra kang wong prasama asayut anangameli ndan sira sang kantaka anglilir angusap soca lagi mengah alon angucap.

109b paran wekase lakw iki saya tan darana to nong matur alon empu Siwasmreti dentulus samayanira pehnikang alapkena sampun raden lali lan sampun sira tan asung pasambulih ing sri narapati apan tuhu alih kaki luput saking sira.

110a apan sira sri narapati tanwun amumusuhan lan sang ratw ing Lasem pukulun sira panangkaning juti.

110b anenggeh nguni duk ilangira radyan Warastrasari siramaracidreng dalu tur luput rahaden dewi.

111a mangkin ana wletiking wuwus yen sirayun prapti amerepa nagareng Daha lingir corepracara nahan lingira panji ih angengsun kapan baya prapti narapwan oliha gatining karya yen tan teka tumuli ingsun amita ing sira sri narendra.

111b amamalesana lara wirang apan yen wruh ngong uni duk ana ring Janggala pilih uwus ingsun kakanekananeng jurit sira empu angling sampun kadi agegeyan manawi durung awas punang awreta punika kadi sira lumancang ing sira sang nata.

112a meneng tan pangling sang inaturan karasa ature sira empu tumuly atatanya sireng pun Duta-Liring.

112b polahira Warastrasari lan raden Singhamatra jati pun mater sapolahira raden Warastrasari.

113a yen sira durung sapagepokan sigining tapih sampun si katekana saharas ing jro jinem rum tansah patrem derakatik makadona rakwa sira yen sinreng ing tilam suka reke pejaha tan lyan pinalar asihanira rakanira raden Makaradwaja.

113b mesem lingira panji kalinganira wus teki kapo weruh yen ingsun putreng Keling sampun weruh batara Manmata kang kaswapna swajaty awarah ndan lingira Wangbang Wideya kita weruh teki poma aja wawarah sapa punang wani apan sira angubda.

114a pun Duta-Liring mangke amit lagi sinungan wastra amarempuh manjeti pinggel salaka arta rong unting.

114b kary angucap-ucap lan kadehan denira sirayinira rehning wus weruh yen sira rajaputra ring Keling.

115a prasama gawok iriki ndatan kawarnaha muwah lamanira angher ing Kadiri wonten rong ulan sayan sih raden mantri apan rehing sarawaira Wangbang Wideya kadi atur sukaning twan Warastrasari pan tan pangogangi sira yen arep kasukan.

115b malih wong ring dalem puri prasama kedanan ring sira apanji Wireswara anging kang winuwus akeh punang asasangi yen tarimakena de nrepati metw akarwana puspa mrik arum lyan anakriyanunglahn cidra amamahugi anduk rawitning wilapa.

116a kweh swabawaning istribranti kadi kakenaning smaratantra lali swaminipun mendra-mendra anggeng ragi.

116b lyan tang Tiara tan darana denyangreti raga tan isin aserah lulut sih sang pinaranan tan panampani.

117a akeh mulih anangis sambat-sambatnyangresy ati katuwon kapweng ambek mendra iki yan inguluran atemahan tan yukti ing dahat pupuji kapo ring wong wicaksanapekik tan kawarnaha sambatning istri branti tan kapadan kapti dera sang kadi hyang Smara.

117b nora lyan ingucap malih dening wong saKadiri anging sira Wangbang Wideya pragiwaka sastrajna paramarta ring budi niti bisangiring ri telengning jinananing lyan nirmonaheng daridra nityasasung songong ing katiksnan samasih sira sang paramadwija.

118a muwah yan ana kaliliping nagaranira punang wani angalapi sayang

tumiba sihira nrepati.

118b yen ana angamuk tan ana wavy amagut sira kang wani angembari kakartalanira sangsaya koni

 

CANTO 2 (Puh Pamandana)

1a gumantya carita wuwusen nrepating Lasem kasub prawira sakti widagda ring yuda suka sugih wah pamukti balanirabyuh nrepati.

1b katrini sanak sang prabu pamade sira sang nateng Mataram sendi sang nateng Kabalan prasama prakoseng jurit katiga sri narapati.

2a mungguh siraparipeyan lan sang nateng Camara mwang ing Pajang mwalng sang nateng Manungkuli sama atut sang nateng Lasem kadbuta prajurit pracacah ing karasikan akeh para biny-aji nrepati wayahiranom wawadonen sang ahulun.

2b karanira bendu luput angaladesa ring uni ring sira rahadyan Warastrasari duk ilang sireng kuna amaracidra umungwing pacangkraman mangkin kawreta yen sampun prasida alaki ya karananirabangun perang sang prabu.

3a enjang sira tinangkil sri naranata umungguh sireng manguntur pepekang bala warga mantri anangkil menggep polahira sri narendradodot randi arjatumpal biru asabuk gringsing carita.

3b krisiralandeyan cula awarangka sinurat dedenguhan asumping campaka suga arjanting-anting mirah murub agegelang kanaka sinangling panelekira anayaka niladikara.

4a ndan lingira sang ahulun ih rakryan apatih lab pangarahana wadwaningsun anglurugeng Kadiri nem dinangkas mangkata kaharepingsun den seregep sanjata lara wirang kami luputira twan galuh ing Daha.

4b atur sembah ken tumenggung punapa makajrib paduka batara ambrastakena nagareng Kadiri embuh malih tatit Wanokeling masa kami gumirisina ih apan nora wawahu kami anglawana katah.

5a ih nora suda rasanyatiningsun yan tan katekananawan sang putri ring Daha luput rara ulangjare katemu wetning dama-damaningong dening kawreta yen ayu dahat norana amada.

5b gumuyu sakwehing amarek ing sira ndan rakryan apatih sampun ken apangaraha kang bala tani wus rumuhun ndan sira sang nata angluwari panangkilan mantuk sira maring jro kadatwan.

6a sang nateng Mataram sampun ingaturan mwang sri narendreng Kabalan prasama acadang sri narapati sang nateng Camara mwang sang nateng Manungkuli lawan ing Pajang prasama angiring sampun pasti intaran sang nata.

6b sampuning sami apupul balanira sang ahulun prasama mangke amanggung sanjata sri bupati munya gending gong surak umwang gumuruh samagingoni bala sira sri bupati ing benjang intaran sri narendra.

7a tan kawarnaheng ratri ring enjang mangkat sri nrepating Lasem sampun munggwing samajadbuta kagiri-giri geng aluhur akalihan sri ngrameswari pan tan kasahan wawadon sira sri narendra.

7b lwir sagara rob kwehing wadwanira sri narapati makacucuk mangke ken tumenggung lan ken demang ken kanuruhan sawiwi tengen kiwa ken apatih kang makagugulu sira sang para ksatriya.

8a tumuli sama lumurug kang sanjata asri patinghalanikang kombala saha dwaja kading tulis taba-tabehan ika umyang gumuruh wus lepas saking rajya sampun apapanggih sri bupati lan sirayinira.

8b muwah kalawan sira bra rakanira sira sang nateng Camara katiga sama lumurug nrepati pitung ratri lawasireng margi kadungkap jajahanig Daha mandeg sri bupati lagy akon ambrastakena desa.

9a sirna lungsur sakwehikang desa wongnya tinawan sahistri kakung pan sama katungkul tan weruh yen musuh prapti sami tan padrewe polah kagamelan anak rabinipun marmane akeh katawan.

9b ken tumenggung lan ken demang makapunggawanikang anjajarah polahe andalurung kwehing tawan denpilihi sanggem dene anjamah mangkwanitil ndatan panahen baya sotaning wong kabongan.

10a punang sesanikang katawan malayw angungsi luput kabarasat mungsi pandeman ring pringganing adri kaparek ing Daha angungsi jro kuta kuneng sira sang ratw anglurug sadawani enu sira ramyasukan-sukan.

10b brayan amangan anginum punang bala amumunuh patik wenang ndan kawuwusa sang nateng Kadiri wus ingaturan yen musuhira rawuh sang nateng Lasem sira mangke woyeng margi tumuly abawarasa sang nata.

11a ring manguntur tinangkil sira sang nata pepek kang bala warga woya sira sang prabw ing Jagaraga ring Kembang-Jenar ring Putrasena kalawan twan mantri ring Kembang-Jenar tanseng urinira sang nata.

11b tandwa rawuh sira sang kadi hyang Parameswaratmakangindanung-gangi kuda jamus kadbuta kwehing angiring abra kadi warapsara apan malih sampun oyeng prawiranira angiring tansah.

12a tumuli kinen alungguh urining twan mantri lingira sang nateng Mamenang ingsun tinekan ing jurit ki palibayeng Lasem mangke anglurug anengguh asomahan kagem menang karepe anglindiha nagareng Daha.

12b mesem sira sang winuwusan ndan lingiraris lamun sampun pejah patik batara kalah sri bupati punapa karyaning kawula pukulun atoh prana juwita lamun wonten baya kewuhira sira sri narendra.

13a panahuranipun utang sih tahurakena ring pabaratan nrepating Daha kapyuhan angrenge wasitanira Wangbang Wideya ri saksana prapti utusan sang prabw ing Lasem amwat pangandika.

13b ken tumenggung lan ken demang tekanembah ing nrepati ring Daha ndan lingipun umatur palibaya sri bupati mangke prapti asasanja lan nrepati lah rakwa pitemonana sanjata denenggal.

14a sampun to kady angrarangu sanjata sri narendra yen awedi daweg anungkul srahakena sang putri Banak-Sudira srengen mangko angrungu abang awinga-wingan wuwuse tan aris tatah gawal ko dadi utusan.

14b akeri iki tanganku arep amerang tendasmu aja ngko kakehan wuwus tekaken paksanteki dudu si Banak-Sudira si aranku lamun sira ulapa ring mukamu iki lah si ngko angamuka denenggal.

15a awirang punang utusan lungha tur ametek keris apetak kagyat kwehing angrungu kuneng sira Wangbang Wideya mangkyamit amapageng sri bupati lingira sang prabw ing Mamenang aywagegeyan.

15b parenga lan wadwaningwang angiringeng nanak mantri lingira apanji Wireswara lamun sampun patik aji kapepesan tumandang rahaden mantri twan mantri tan ayun kantuna paksa miluwa.

16a anuli aluwaran wus samadandan sanjata sang mangkat aprang ndan sang prabw ing Daha asung kalambi lancingan ring sira Wangbang Wideya muwah sakwehing wongira malih raden mantri ndatan kari sakwehing wongira.

16b ndan sira panji sigra mangkyanunurat lawening tarate petak kancit rawuh mangke pun Duta-Liring lingsenyatur urap-urap asmu guyu sira Wangbang Wideya lingira kamayangan yen prapti sira sawong pura.

17a mesem neher atur sembah Iingnyangucap manira malih sahesuk apti marek atur pakanira kasarimuhan anangkil mesem sira panji angling wwaya citra aturakena ring pangeranta.

17b wus sinungan wastra sinjang neher lungha lampahnyaglis tandwa rawuh ring kagaluhan kunen rahaden dewi asmu semang alungw ing tepas ndan pun Duta-Liring rawuh sarwi atur citra tumuli ginangsal.

18a swaranya amit lab kantuna sang lwir laksminikang Smarabawana sal adikara waniteng Kadiri kakanta dyah arya mangkyamapag ripunta niscaya miyata ring warnanta malih pilih malih kalangan antaka.

18b ih pamekaskw i sang arum kariya pasih-sihan lawan lakinta urip warasa sadakala mukti majaraken ngwang tan sakarmalaheng dyah ryuwusiramaca surat sira raden dewi kapitangis leh mily angrawaya.

19a tibra wlasing rakanira kaya-kaya tuhu yeki paratra ajurit sira kanira ken Bayan Sangit samalaranangis awelas ing sira panji lingnyangucap sungana sira pangunang-unang.

19b kalpika winten punika embanen kembang waduri kakasihira miles anungdangana mangke ajurit lan sepah pitrini kabakteng pun Duta-Liring sigra mangkat sampun marek ing sang lwir Kadarpa.

20a punang kalpika wus katur punan sepah neher to kininangira tumuli ingange kang ali-ali asmu tangis linira mangkyakon mantuka ring pun Duta-Tinghal anembah mangkyamit asmu tangis enti wlase mulat.

20b tumuli manke lumurug sira Wangbang Wideya sampun atata wongira punang wong Amunah-Sari won Tan-Kokih kalawan kang wori Tan-Mundur won Anurida-Raga prasama arawis kombala bang abubungkul emas.

21a munggah sira maring liman abra busananyingrawit Wira-Pralabda jujulukipun kadbuta kagiri-giri sangsipta akita-kitak ndan rahaden Srenggara-Yuda wahananira kuda kresna.

21b sira sang amaweng Anurida-Raga ndan ki rangga Wicitra AmunahKusuma muwah ki Ajaran-Wirapaksa Tan-Kokih Banak-Sudira mung- guh ambakteng wong Tan-Mundur prasama widagdeng yuda.

22a saha wahana satunggul tabeh-tabehan gumuruh ndan pun BentarKadatwan angalun-alun amlingi wyatara wonten salaksa gelaripun safijatanira Wangbang Wideya lwir kadi wong sinaringan sama prawira.

22b mangkin muntab ujwala prabawanira panji lwir surya sahasra baswara tuhu angalijuraken ari gempung lilis tekapireng paprangan tuhu sira yen pangawak sang hyang Pasupati alngalapi kalengkaning jagat.

23a sara baswara ring tangan kanan gandewa ring keri lan jujuluk pinandi ring ayun saha dwaja Wisnumurti endi ana duratmaka kang wani amagut ring paprangira mene sawyakti brasta.

23b lumrah aneng dikwidik panggyatning kilat prakasa munyang gelap udan braja sumembur bayubajranya adres alisus teja angadeg tengahing langit lawan kuwung-kuwung byakta mastwaken jayeng prang.

24a larapnikang sanjata awor lan manisning ulatira sahajabraning kampuhira mega rinandi aruna sinurating indracapa lan krisira rawipraba gumyar ali-ali kostuba asekar saroruwa.

24b sira twan mantri lumurug umungguh ring asti sampan kinawaca ki Carang-Lengkara anarateni sregep sanjatanira abra lwir gunung sari kadi wontena sakti angiring ing balanira sang nata ring Daha.

25a sira rakryan apatih pinakahumah munggwing uri ken tumenggung pinakagugulu lan ken dernang rowangneki prapta ring jabaning kita kulon tegal sama kukuwung sakwehing watek prawira.

25b sira panji Wireswara awiweka Ian raden Singhamatra ujarira pakanira rahaden mantri amrangana saking arsa manira raden anglambung saking pungkur asangidana ring alas.

26a sira Srenggara-Yuda pangawak kanan Gagak-Prahara pangawak keri Carang-Lengkara angrowangi raden mantri lamun po si wus kalambung den kayangamuk rampak den pada atarik sama idep mangke kang winekas.

26b ucapen rakryan tumenggung Ian ken dernang sampun matur ing sang nateng Lasem yen ana prajurit nrepati aran panji Wireswara kang asanggup amapaga sang nata lingira nrepati waspada kita maring wong ika.

27a waspada patik aji pan alunggw ing wuri nrepati antyanta apekik rupanipun nenggeh norana wong mangkana prajurit widyajnana dahat sih sang prabu sring ingadu dereng tan pralabdakarya.

27b garjita sira sang nata ndan lingira agengsun apaguta kang pitik sowe ewuh pejahnya de mami ken tumenggung angling wonten to malih kawulanipun agul-agul aran pun Banak-Sudira.

28a punika dahat depun alpa wacana patik batara makalawananipun ahurap-urap getih mesem sang nata nengakena rumuhun kuneng sang lwir Manmata wus prayatna malih wongirasungga sarwastrasnada.

28b kejepning hyang arka prasama anidra enjing sampun atitingkah arencang tingkahing widagdeng jurit sira panji sigra mangke wus rumuhun asangidan ing alas wuwusen nrepating Lasern enjing siradan aperang.

29a lingira pramiswari kaka ala tinghalingsun uni ring turu kepi sakanta grehaniranunggang banawi saksana karem ing tengahing udadi sampun patikutu denira mangkat ayuda.

29b sira sri narapati asahur smita ih rare sira tuwan duk tan mangkata ingsun van masaning mati masa wurunga paratra lah punapengungsi dyahku dening prawira swarga mating ranangga.

30a rame ingucaping kantun makadi tinulisakena ring awig-awig guriten ing kidung kakawin yen ana purusanikang sarira umungsi maring kamoksan ring mati ajurit apan punika sunprih satata.

30b amimisiki sang prabu ring sira rayinira duh atmajiwa depuntulus sanggupireng jinem mrik anutaken ring kapatiyaningsun duh ping sapta anjanma kapanggih dyah ari rowanganing akarwan panglahan.

31a sira parameswari asahur waspa krisira punang kaprabun karekena ingsun marganing apanggih lan sira nrepati angasparsamangkwaken kris tumuly amintadyus sirasisig akaramas.

31b sampun weruh sri narapati yan teka ring kapati tengeran wus sepi sarira lupa lesu lwir tan pagalih anging sinreng ing kadiran tanaganira tan kanan surud tuhu yan wani sang nata.

32a ahyas sira sang ahulun alangcingan gringsing ndan Rawantaka tulisipun kumram ginatreng sang anting-anting kalacakra tutup gelung agegelang kemitan apadaka sasih tumanggal sirakarambalangan.

32b mangkin amuwuhi bagus warnanira sang ahulun sira prameswari lumiyat tan tresna ring putri lingira sang nata lah kariya dyahku mangkat ingsun pangeran lagi sinungan sepah sirayinirasmu karuna.

33a wahu tumurun ing natar sinambering nilapaksi mutah marus lor wetan sangkanira sri narapati tan panangsaya lingira ih sang nilapaksi lab wruh ingwang tuduhakena kaswarganingwang.

33b ndan sira prarneswari anjrit sang nata mangkwanolih smu smita awali tur amekul sawacanamlassih mas mirah tuhw asih pakanira alaki iringsun lah dentulus sanggupirari pangeran.

34a sumahur narendrawadu paran sankaning tan tuhuwa ring sirapan alumuh ta ngong  muwah andadi jarahan awet wirang kaguyu-guyu swarga mati lan sira ndan sri narapati anungkemi enti welasira.

34b lagi ingaras-aras sirayinira sarwy angusap-usap angangajum gelung lagi angusapi isning luh rasa tan mintara sang ahulun lagi kabwatan tresnanira anglindihi kinusah-kusah sirayinira.

35a sira sri prameswari minta tumuta datenga ring payudan ndan lingira sang prabu luh sampun maskw ari sira tumuta riwed kakanta lamun ingsun uwus pejah tumutura sira atmajiwa.

35b tumuli mangke pinegat tresnanira ring supatni neher metu lagy angantun-antun satekanira ring yawi sampun prasama acadang kang prajurit anuli lumurug mangko sira sri narendra.

36a ndan lingira sang ahulun kaka ajiring Pajang panawak kanan keri yayi aji ring Manungkuli cucuk sira yayi ajing Mataram lan yayi ajing Kabalan kaka sri bupating Camara sira pinakahumah.

36b wusning atitingkah sama munggah sira ring liman tumuli samasru lumurug umwang tekang gong beri dawuh trini tekeng tegal paprangan tumuli cucuh kang yuda rame silih-tangkis bedilnya lwir ketug muny asimban.

37a  wonten wyatara sayuta gelaring bala nrepati anging tatan pati sopeksa durgamaning prang akeh ta longipun bala sri narendra dening selirira apanji Wireswara pratyakseng yuda.

37b srengen sira sri narapating Mataram mwang sang nateng Kabalan tumuli samanempuh ndan sira twan mantri ring Kembang-Jenar amalaywaken siragelis anuli binuru denira sri naranata.

38a kidep palayuning takut wijnanira Carang-Lengkara anarateni kaduk pamburu sri bupati kuneng sang lwir Parameswara mangke wruh yen giwang musuhira tumuly ametoni saking uri lwir angamuk rampak.

38b ndan lagi siranggelar karanayajna rep dyanata sirahoma glarning ripu tatwa kunda inisti samuhaning astrojwala bahni murub murti tatwaning wija tang dwaja mwang rawis kukus rudira tela kotama.

39a melesnikanang swedangga ya satkara makahuti tendasnikang ani kapekan yangken caru paglarning kunapa kreciking sarwa astra lan sabdaning danuh pranawa ucarananireng pamujan.

39b tatwa modakarantaka tang lalangkap lawan rangin sawit lan ganitri curiga tatwa tang hru malungid ajapa tatwadi punang basma meletuking lebu makakusuma wastra tang dilah sunya.

40a munggwing ri sanmuka Sadyojatakala ring kanan Bamahadewa kang ring pungkur Atatpurusa kalih munggwing keri sira Agorakala umurti Isanakala mangke sira panji ring anta batara Sadasiwa.

40b apa palaning karanayajna yan ginawayakien ing payudan niyata pralabdakaryaning jurit yen pejaha ring payudan rakwa tanwun maharata dinungkap makady awus wruh ing acintya nirbana Siwalagna.

41a wus ginuhya yajna homa ring payudan dera panji umuni amlinging pereret sangka lan genta genti sang dwija awiradira sahongkarastuti batara Paramasadakala maberawa.

41b niyata rekengardana sira wyakti gempung lilis kalawan purih sarwajna ginegem denira apanji sunyamurti sang hyang Kala angandeli yajnanira sang wus sulabda darmayuda.

42a tumuli mangkyadan satru winahasa malih tikang indrajala aglis sampun ginawayaken purih purnahaning wadwa brastahaning ripu apan mangkana ulah sang widagdeng jurit apapatiyan tang wadwanira.

42b mangseh punang wong Tan-Mundur wong Amunah-Sari lwir kebo angundang tandangipun kalawan wong Tan-Kokih punang bedil lwir gelap ewon abarung mimis tan pendah udan akeh angenani musuh mati syuh pating sulayah.

43a kagyat sang nateng Camara ingamuk saka ring uri ginomyoking mimis balanira  gigisu apan akeh pejah bubar malayw amrih sri narapati anglereg amrih kiwa tinut mangke sinurak.

43b kuneng ki Carang-Lengkara malih wruh yan bubar sanjata ring pungkur tumuly ambalekaken mangko anarik anembak katah olihnyamejahi musuh apatih ing Mataram wus kaprajaya.

44a sira raden Srenggara-Yuda malih anarik pantes anitihi kuda jamus kinawaca angrawit akeh olihira ambrastaken ripu raden Ino ring pajang malih sampun mati dera Srenggara-Yuda kadbuta.

44b ndan ki Gagak-Prahara mangke malih anarik akeh olihnyamateni musuh ndan sang prawirapekik amejahi raden Inweng Lasem pinanah saking luhur liman kang surak atri gumentus wong Lasem epuh kemengan.

45a ndan pun Wira-Pralabda metangamuk anujah mangkwanbanting lyan kedekan atusan jengkel peyek lyan mati ndan pun Jaran-Wirapaksa Banak-Sudira lwir Bimangamuk hyang Kala sira umawak.

45b sirna sing kaparag gempang lawane tan anapulih mangkin gimbal-gimbal rawisipun amuwuhy anggilaken lawan nrepating Lasem kemenangan abalik sira maril pungkur lawan sang nateng Mataram.

46a sang nateng Kabalan mangkyarep-arepan Ian rahaden Singhamatra malih musuhiratanding kawanin twan Srenggara-Yuda malih sirapagut Ian sang nata ring Pajang mangkyngkol kawanin prasama sira widagdeng yuda.

46b awor kang prang tan karuwan lawan rowang pan kalebu uwus keneng upaya wong kulon kuciweng jurit tan pawilangan kwehikang mati kadi wukir tekang kunapa asagara getih nrepating Lasem runtik tumingal.

47a ken tumenggung mangseh kalawan ken demang tumuli mangke pinagut dening Banak-Sudira srengen ken tumenggung amuwus wong iki wani iringong ih kaya asuwe ingsun amatenana bakatak.

47b ki apanji Wireswarakon maraha ngong lawanyamilang tatu Banak-Sudira kady ararahup getih bramatya tumuly asalah watang sigrangunus duhung winatang ndatan kewran mangseh sahasa.

48a dencekah rakryan tumenggung sinuduk tinitil Banak-Sudira ateguh timbul males mangkwamatitis bentar hredine mangke rakryan tumenggung rudiranya mulakan anibeng pretiwi durung mati ginalba sinurya.

48b ken demang malih anempuh Jaran-Wirapaksamagut sikepnya tameng adukduk ken demung anudingi tur angincih watang amatangi tan pantuk sinreg sinep linempag terus jajane ken demung mati atanibeng kemah.

49a mangseh rakryan apatih asikep dadap rangga Wicitra amagut sami adadap suwratanding kawanin ndan sor ken apatih wus kawenang Ian nrepati ring Kabalan kawenang dera twan Singhamatra.

49b sira sang nata ring Pajang wus kawenang dera Srenggara-Yuda Gagak-Prahara antuk amrajaya rahaden arya marmaning lawan tan ana apulih sinereg ingamuk dera panji Wireswara.

50a umunggwing pun Wira-Pralabda wahananirangamuk anujah ambanting musuh dantanyangsanglup wesi dudu tang pinanah pating sulayah nrepating Lasem amleg liman anguncit wedi apan ing uni durung kabyasa.

50b tumuli sira tumurun saking liman adarat sri naranata mangkyangamuk ndan sang ugraning jurit weruh yen sang natarep atanding kawanin tumuli glis tumurun sakiri asti murub parjangonira kumenar.

51a alancingan lubeng mihat sinawang madu atumpal putih kawacanira peremas ijo anting-anting kostubaduhung rawiprabapadaka sasih sumu klapaksa anayaka ratna pakaja.

52b belengkerira mas rakta anayana binang wilis karambalanganira mas tatur agegelang kemitan alocana komala gumvar ali-ali ratna kostuba atetebus putih amenak.

52a dadapira abra murub acamara bang ijo kumram tuwekirajujuluk Mretyujiwa alungid mangseh lwir Parameswaratmakanurun prapteng ayun sang nateng Lasem mangke angling iya ngko apariji Wireswara.

52b agelis kita pamundur eman rupanta abagus ndan lingira panjimene yen wus kuciwa kami srengen sang nateng Lasem angukih sang inukih dahat pratyaksa aluyu caliring mlecut kadi tan panampak lemah.

53a kuneng sang nateng Mataram mara sakeringan keri prayangembulaneng sira panji Wireswara meh tan kawruhan katingalan sakedap dera panji cinangkewang pinerang tenggekira apasah.

53b asta kiwa atangkis pan sang prabw ing Lasem anitil deranuduk tur arep angreguta sri narapati sang rinegut caliring tan kena winor angles marry kiwa pinrih ring kiwa cet aneng kanan.

54a pinring kanan cet ing pungkur pinrih mangkweng uri cet ana ring arsa mangkin sayan bendu sira sri narapati anudingi tan pracura ra sangulun sikara yen prawira ih kapan masaningwang yan matiya demu ring rana.

54b arsa sakwehing andulu paprangira parili luyu mesat-mesat mangkin sayan amuwuhi apekik kasenwaning tatrapnikang rangin murub lan larapning curiga lwir kilat anjrihi awor lan manising ulatira.

55a srengen sri narapati maranuduk aneseb mangkwanitil ndan sira panji Wireswara mlecut lwir angin angles lagy akulilingan sambi amet pracidramales anuduk sudukira labdakarya.

55b ceb kumetug dadanira sri narendra kasuriring tumeng teguh kang surak gumentus ndan sri narapati kemengan tan polih mangkwngmrih yen angucap ing twas ih tembe ingsun anglawan wong lwir Anuman.

56a ndan sira panji malih asmu kemengan aglis mangkyanambut panah abra murub pinanah sri bupati tumempuh ing jaja tan tedas kumetug kanggek tibeng butala kang surak muny atri sira panji maly anambut dadap.

56b mangseh mangkwasring anuduk sang prawirapekik ndan sira sang natateguh timbul dalah surup hyang rawi denira akol kagunan ndan sang prabu srengen anguman-uman mangkweng sira panji neher angubat-abit sang nata.

57a lingira sri naranata lah ajaken ramanteki mangkwangembulana mareriNGsun ih masa ulapa kami rodra sang lwir Smara soca asmu rang sigrangunus duhung suryateja prahaswara.

57b sigrangregut mangko sira pada silih-pekul rangin ndan sang prabu anitil anuduk ndatan pamatyani ing sira apanji Wireswara amatitis males mangkwanuduk engko bentar tekeng jaja.

58a rudiranira anembur ing sang wirapekik kadbuta mulakan lagy atutur sireng darmayudacamana getih neher asunyayoga tinuting anuli lina ndan sang dibya jurit gutguten sira anuly anigas.

58b tumuli to sira mundur wonten sarebah watang dadi angrasa geyuh dening suwenira aregut mangkin peteng tinghaliralesu tan kawasa tumindak angrempoing neher angaduh pegat rasanyatinira.

59a lagi anungkemi dadap kuneng empu Siwasmreti asemu gupuh kidepira kacurnan tumuly aglis angisyapwan rangga Wicitra marmangisi anggarap – garap gatranira sang wira dibya.

59b karok dening rudiranira sang nata angebeki sariranira ndan rahaden Srenggara Yudagipih kalumrah suraking wong tan awas sira panji adadagan Ian sang prabw ing Lasem sira lina.

60a lumrah tekeng jro kuta mangke kawreta ndan sira sang kapesehan mangkwamuwus ih aja walang ati rowang iki apan ingsun tan patatu anging apeseh dahat empu Siwasmreti angling akon apasanga pandam.

60b tumuli prapta kang suluh sira raden mantri rawuh asmu maras tur amuwus nora gane sireki gawe ala awalang ati mangkengsun angling sang inujaran bonten raden mantri kewala manira kapesehan.

61a suka rahaden mantri lagi angajak mara ring pasanggrahan tumuli sama munggah ing wahana prapti ring pasanggrahan sira panji mangkyajalasnanakaramas adyus sirangudakatarpana.

61b sampuning asiwardana neher aprayogasandi tinuting aharip anuly anidra ndan warnanen nrepati ring Daha sirengaturan yen sira Wangbang Wideya paratradadagan lan sang nata.

62a tumuli runtik sang prabu sira prameswari alara karuna malih sira raden Warastrasari ndatan pangling lengleng kapenetan mar lesu duk mahw angrenge wreta linociteng ati yan sira bra rakanira moktah.

62b ista prayanira masarep kariya anging to yen tuhu moktah sirakanira masa tan anaha potusanira ki Carang-Lengkara ring wengi tan kawarnaha wuwusen kang enjing sri bupati mangke apotusan.

63a amaspadaken sira Wangbang Wideya ken rangga punang ingutus mangkat tan asantun ucapen wong dalem puri samanangis mangkwangeman sira panji Wireswara ela-elaha ring rupanira.

63b padalara priyatin wong sanagara ndan sri narapati asasangi andarmaputra lamun ahurip sira prameswari anarimanana stri pipitu anigasana lamun mulih agesang.

64a padasasangi punang wong sanagara malih punang wong jro pura sami asaneh-sanehan sasangi ucapen ken rangga muwah sampun rawuh ing pasanggrahanira sang prawirapekik ndan kapanggih sirenak anidra.

64b mpu Siwasmeti atungu ring iringan tandwa rawuh ta ken rangga sira empu angling akon alinggih ken rangga kapenetan miyat tur alungguh kidep kapanggiha gawe ala dadi rahayu twase kadi anupna.

65a suwe ndatan pamursita pijer arsa aningali sang enak aguling yen angucapa paran karanira sira nrepati tan pangemani sireki kalud wijna prawiranom apekik ing rupa.

65b saksana siratangi sira empu matur yen ana utusanira san prabu rawuh ndan ken rangga teki mesem ta siralinggih ndan lingiralon punapa karya pukulun ken rangga alon angucap.

66a majar mangke yan ingutus anopeksaheng sira apan kawreta mati adadagan lan sri bupating Lasem sang nata ring Daha sirabendu malih andikanira sri paduka sori laranangis angeman ing sira.

66b sumahur asemu guyu ih kalinganeki ingsun kawreta yen mati singgih sri narendra priyatin ya marmaning akon anopeksaha Wangbang Wideya tan waspada punang matur punika ing sri narendra.

67a lingira Srenggara-Yuda manawa ta duk sirasuwe arenggut lilih angrasa pega angrempong nguni ken rangga nahan lingiraris singgih baya puniku tatar sakala kang awreta punika.

67b tur tan kawruhan dening wengi mesem sang wirapekik kancit rawuh teki Gagak-Prahara matur yen ratw ing Camara lan sira sang nata ring Manungkuli kalih samanungkul marek ing sang wira dibya.

68a sang nateng Lasem pukulun ambakta biny-aji mangkyadandan bela angling sira Walbang Wideya lah sira rakryan rangga matur ing sang ahulun yen sang ratw ing Camara lan ing Manungkuly anungkul ingsun mangkyanonton bela.

68b sira twan mantri malih wus ingaturan ndan rakryan rangga tumuli amit kuneng sira sang wirapekik ahyas awastra sutra bang wilis pasungira sang lwir puspita sabuk lubeng lewih duhung atrap-trap singhamrajaya.

69a asuweng ratna pakaja rinajaseng emas adi asekar ema parijata patra kinitir-kitir belengkerira kancana rakta binang wilis urap-urap mrebuk gumyar kanaka cinurna.

69b ndan sira Srenggara-Yuda samawastra lan sira rakanira sawongira sopacara angrawit kalicit rawuh raden Singhamatrawastra kuniing atumpal rakta kumram sabuk giringsing wayang.

70a wus arnepek busana sarwaning emas malih ki Carang-Lengkara pahyasipun abra tuhu angrawit raden Singhamatraseng smita amuwus kaka tanonton bola mesem sira panji singgih maniranganti rahadyan.

70b tumuli prasama metu samanjeneng ebning priyaka mrik sumar tandwa rawuh sira sang ratu kalih anembah ing sira lwir kusumesu mwang ring twan Singhamatra lingira nrepati ingsun asraha paratra gesang.

71a lawan rajya kakalih Camara lan ing Manungkuli angling sira Wireswara lawan ken apatih ring Daha lah sira puniki ingsun salahi ken apaty anurut linge sahandikanira.

71b ndan sang anononton bela sama munggah maring asti sigra rawuh mangkwen tegal paprangan ring gwan nrepati sate lina lwir wukir gelarning sawangebeki marus yaya sagara karusan kang tuminghal.

72a sahning mastaka sang prabu kinen tepukakena de sat lwir Smara tandwa rawuh sira sang satyeng laki ingiringing pawongan samasmu balut papat katahing bola sira pramiswari kang makadi ayu rupanira.

72b warna lwir sumanasa petak siniraming jebad ragakaranangrawit denira awastra pik mirir sinjangira sutra petak kadi atruh gendis balutning soca luncipnikang alis angayoni lan mambeting tengah.

73a sama winwat ing gilingan wong Wisnuwredanangiring duk tekeng unggwanira sang paratreng ayun sama mangke tumurun dady asmu kemengan kepon dening tan karuwan mangko layonira sri narendra.

73b pan dening byuhning kunapa aglar lwir gunung atindih pangibeking swanita yaya sagarangresi ati ndan apanji Wireswara akon mangkyanuduhakena ring layonira sri narendra.

74a ndan Bango-Racana inginggitan wulat wruh ing semu neher mara tur amuwus puniku layonira sri bupati kang arurub dwaja biru sira sang tinuduhan lumampah mangkyaris padangres twase kang wong tumingal.

74b ndan sira panji andulu ing sri prameswari akeh emperira ring sira rahadyan Warastrasari ndan tumuli prapta mangke sira sampun gwan sang paratreng rana sira prameswari anganjali ring sang senengira.

75a lingira ih sang wasa-wasitwa ring jinem mrik minging sang pratameng sandining sacumbwanangenteken ati sirangak parenga santaka lah to kaki antinen iringsun ayo siragege lepas.

75b ndi pametana kadi rasika prawira apekik bisa among budining dyah sungkawa ring jro jinem mrik pinanggilan karasmin daranasewakapti bangun bramara angareki maduning sekar.

76a yaya tan ing rat istangku pamongeng jidem mrik lwir kusumayuda murti wyapaka angalap lulut sih murca anglih leyepning jilana iwir wuwus aminda ring niskala wyar mukta kwehing klesa ry uwus ing ngwang sasmareng tilam.

76b lah to liyati sang prabu arinta marek ing sawanta tan kanan elik lumiyat ri wetning agyaningwang amor ing Siwatmaka ali pintangku mene lamun kasasar ing loka Yamani atmantanuntuna maring swarga.

77a nahan wuwusira sahangliga kadgangure weni nirtresna tumuli mangkwanuduk jaja trus rudiranirtmembur lagy acamana rah ngemu getih ndan narendrawadu lagy amuja ing sang raka.

77b lot akembang ura pawranilng kesarjalinga leyepning netra abasma sira lebu ring sukuning laki ndan ri saksana asunyayoga tinuting lina duk tiba anungkemi wadana sang priya.

78a tumuli prasamasuduk sarira punang tetelu pacla wani-wani ndan sira sang dibyaning jurit ngesngesen lumiyat twasira mar tenuh kagrahita rahadyan kwehing aningali samamuji ring sang patibrata.

78b suka punang wong anutur ramening prang pan satuwuk ing ayuda teki durung rame kang kaya iki ndan sira Wangbang Wideya mangeke mantuk Ian raden Singhamatra mastaka nrepati sampun malili sama ingambilan.

79a pada winadahan sangka ingulesan ing manjeti mungwing ayun papanden abrasinang iwir gunung sari ndan rakryan rangga wus marek  sri narapati matur sapolahira apanji Wireswara.

79b suka sira sri narendra ndan lingira paran karane kawreta mati matur ken rangga mangke ring sira sang nata apan dening kakembalan sira pukulun de sang nateng Mataram karihin pejah.

80a sang nateng Lasem pukulun lawanira suwe atanding prabawa teguh timbul malah surup hyang rawi ya karananirarodra silih regut duk sampuning kawenang sira sri bupati sudira sira neher anigas.

80b tumuli to sira mundur wyatara tigang depa baya kangelan sira rempuh ndan angrempong tumuli punika karaning kawreta pakewuh sapa punang prawira amadanana sira putusing paramasaktiman.

 

CANTO 3 (Puh Kadiri)      

1a aduh mangkin telas sihira sang prabu ndan citanira ring ati lwir katurunan batara Parameswaratmakaminda prajurit dening ripu syuh brasta tan ana tumanggaleng rana de sang prawiranom.

1b ndan sukaning wong anutur-nutur gunanira sira panji tekan ing sawongira pada sakti katuwon kadewatmakanira sira sang nata ring Daha katurunan prajurit ramyasrang pangaleming wong.

2a tumuli prapta adarak pakrepning papanden abra kadi parwata kusuma mwang bedil analuktak tabeh-tabehan umung cewagaraneng ayun tandwa rawuh sang prawira kalih wus tumurun saking wahana prasamawot sang ring sira sri narendra mwang sira prameswari.

2b tustaning wong miyat ing sira panji Wireswara istanira yaya rakwa sira urip amarabangun ndan sira sang wahu prapti kinen alungguh alinggih sira rahaden mantri munggwing pungkurira sang nata kunseng sira panji sinreng winidi alungguh ring arsa nrepati.

3a tumuli mangke amit alinggih ring arsa sang katong woya sira twan Warastrasari sinanding denira sira prameswari punang mastakanira sang mati wus pinrajaya dera sri narendra tumuli prasama pinalenpalenan sira sang prasida ayuda.

3b wusning prasamapapali lingira sang nata ring sira apanji Wireswara wus pegatiningsun duk sira kawreta mati wus anangis sira yayi sori apan tan papala sira matiya ih mangko tan pahingan utangingsun kaki mangko lawan sira tuwan.

4a anging panahuraningong utang sira makarajaputraningsun gantyaningsun anak-anak ing sira kaki.

4b ndan lingira sri prameswari malih ingsun asasangi asung putri pipitu sun amras lamun sira urip.

5a awot sekar sira panji niskarana puniki apan wus anawula makajaga musuh yen ana musuh nrepati sang nateng Daha mangkin tan wruh wetwaning ujar antianta kascaryan sang nateng Jagaraga angucap kakaji sira saksat katurunan.

5b endi si ana kadi pun apanji ameta sahasra nagara masantuka riq gina makadi warna sang nateng Putrasena sumahur paran karanira tatan ambrastakena lawan saka ring paripolah makadi prabangesengi tuhu yen prawira dibya.

6a saksana prapti sira sang ratu anungkul marek ing sang ahulun tumuli sira kinen alinggiha kalih.

6b raden Srenggara-Yuda prapti angaturaken dadap lawan duhung muwah tewek pisan ring sang nateng Kadiri.

7a titingalanira sang paratreng rana lingira sri narendra ing sira apanji kaprenah punapa kang wong puniku denira tuwan sira pariji mangkyangling amisan saka ring istri sang nataningali lingira iya kang amateni palibaya ratw ing Pajang.

7b sira panji angling singgih sarwi to andulu ing sira sang saksat hyangning kusuma apapagan dulu syuh sirna twasira panji denira kang arupa priyatin istanira nora gane siraruntik denira ujarira sri paduka sori anarimananeringwang.

8a angemu ratih denira mangke angusut awastra pik asmu kuning asinjang sutra petak asemu kuning.

8b tan pasusumping anguwah karna anyuhi twas ndan sang lwir Atanu tan pegat angler ing cidraning ulat liring.

9a kuneng wonging darem puri prasamawisik-wisik denira Wangbang Wideya malih angangge kampuh saking twan Warastrasari ganjaranirang-gagatra wingi nahan lingnya ih kaya wus awora katareng ulat amisra asilih-kahit lwir sodra aratus gula.

9b sawaneh ana angling kaya atuta endi si pametana kadiya sira pragiwaka sastrajna tur putusing paramasakti lewih ing warna lwir hyang kusumesu sor tan patanding lan sira twan mantri rahaden Singhamatra lwir sasi abandung kalawan damar.

10a tan kawarnaha lingning tuminghal aluwaran sira sang ahulun saking manguntur mantuk dateng ing jro puri.

10b kuneng sira sang wirapekik malih mantuk maring Gopranawa teka alungguh rasaning twas mange lwir pinis.

11a sangsayeng rahaden dewi manawa tulus runtik wring semu sira empu Siwasmreti linge matur punapa karaningmu runtik pinacang-pacangan tinariman sumbaliki sira sukaha mesem lingira apanji duh teka balik teki sun kewuh-ewuhan.

11b akeh-akeha sasanginira paduka sori lamun ajanarimanana ih kaya awuwuh kadosan ngong dera yayi wongira sama gumuyu iriki samangucap ih mangko si wudu sakwehing jarahan kang saka kilyan yen sira pangeran lagy aprartana. 12a mpu Siwasmreti arupa beda umatur kalinganira tan panimbali tatariman ndan lingira panji.

12b nora kaka awedi ingsun lan arinira manawi sira aruntik ih kalud sira adreweya kapti.

13a gumuyu mpu Siwasmreti ih kalud to puniki amirogananapan sasanginira sang prabu lingira sira kaka kang bisaha matur ing sri bupati yen ingsun kaka apratijna tan pangambah-ambaha ing stri ih lamun tan ariniranglabahaneringwang. 13b prasama gumuyw iriki tumuli mangke prapti tadah saking sri naranata wong ing jro amundut antyanta wirya tuhw asri malih prapta saking raden mantri atumpuk kwehnikang ulam sekul aglis malih sarna wus tinanggapan samamit anembah punang utusan.

14a tumuli prapti saking sira raden galuh ken Bayan punang andandani nini Sadakangateraken iki.

14b marek tumuli ndan lingnyanglicap punika saking sira Bayan angaturi ring sira gumyar twasira panji.

15a karasa yen saka ring sira twan Warastrasari angling asemu guyu ih bibi asambega kaka Bayan iringsun aris sira, Sadakangling punapa si tan muleya rika ni Bayan mapan sira anguripi sanagara makatundung musuhira rahadyan.

15b ih lewih ta ring uni duk sira kawreta mats sira rahaden galuh smu priyatin sirangrungrung ndatan panadah aguling mangkin tenuh nalanira panjindan lingira ih baya durung pegat pahutanganingsun angawula mantangen ingsun bibi tan paratra.

16a ni Sadakangling ilag moga sira tulusa sasapu-dendaning bumi tirtaning nagara dera twan dewi.

16b ni Sadaka mangkyamit mulih lagi sinungan wastra solok alus lawan sinjang pisan gondala lawan rukmi.

17a ken Bayan malih kinirim wastra wijil Wajak sinjang paparempon lawan ali-ali neher mantuk ni Sadaka prapta ring kagaluhan anuli mara ing ken Bayan katemw ing umah ni Sadakangling awarah sahandikanira panji Wireswara yen atarima.

17b lan punika reke nini sinjang pakirimira lawan dodot muwah ali-ali ken Bayan angucap kapihutangan si ranakira ni Sadaka mangkyangling ingsun muwah kapihutangan ken Bayan angling tan lyan ta mangke sira bibi sunkon yan amarek ing sira.

18a sira Sadaka gumuyw angling lah yen sredaha sirakon iringsun mesem sira Bayan ni Sadaka mangkyangling.

18b lagy anata sojarira panji Wireswara ken Bayan angers twase lwir winuluh ndatan kawarnaheriki.

19a kuneng sira prameswari wus malih anenelir ksatriya awayah papangkas sami ayu-ayu sampun genep pitung saki sami rinisakan sireriki rwang dinanekas masaning wiwaha ndatan kawarneng wengi ucapen kang enjing ararasan sri narendra.

19b mungging pangastryan nrepati ararasan lan mantri rehanira andarmaputra ing sang lwir Atanu tandwa prapta empu Siwasmreti matur ing sri narapati nahan lingnya pun panji Wireswara aken matur ing sang nata rehipun kadi tan pangatyani andika.

20a denipun lagi mangkyapratingna tan pangambah pawestri manawa katon tan wring kalinga kajrihipun panji.

20b tembe rakwa yen wus alabahan depun katah pawestri gumuyu sira sang prabu mwang sira sri prameswari.

21a lah sandikanira kaki ingsun anurut anging tan wurung ingsundarma putra amit sira empu marek mangkweng sira panji sampun katur sandika nrepati suka sira Wangbang Wideya tumuli ararasan to sira rehanira akenkenan mangke mangilyan.

21b mareng Lasem kaka Banak-Sudira ka Ajaran-Wirapaksa Mataram sira Gagak-Prahara maring Pajang prasarna amit anembah mangkat mangko kang ingutus ndatan kawarnaheng marga kuneng sira panji ndatan ana anangkil lagi angrasa sungkawa.

22a lagi, angukir gegelang kana tiningkah lubeng lewih abra tinuting nawaratna pelag-pelag angrawit.

22b sore sumurup san hyang rawi aguling sira muwah ring enjang tumuli pajeng karyanira sri narapati.

23a byatitan polahira dinarmaputra iriki rinajamanggala wus kinulawisuda sampun angadeg Inweng Kadiri antyanta sih marma sri bupati muwah sira prameswari kayanak-anak olihing ayuga idep nrepati tinurut sakarsanira.

23b sinanakaken sireki Ian twan Warastrasari mangkin sayawor pola-hira tan warnanen ingsun ucapen wong saKadiri brayan mangko anahur sasangi marek mara ring Gopranawa atur tadah tigasan ndan muwah wong dalem puri prasamanahur pratijna.

24a ana angaturi taclah lyan atur tigasan ana malih atur rawiting kusuma lyan tang burat mrik minging.

24b kang kataman smara akirim langsaran wastra sinung ganda kang mrik minging anasung kalpika rawiting tulis.

25a tan kawarnaha kwehing asasangi kuneng teki awyatara rong dasa dina enjing sama  rawuh kang kinonkon angruruha jarahan marek ing sira panji tan pahingan kwehing tawan jarahan putring Lasem lawan ing Mataram sama papangkas ayu rupanira.

25b kadi parwata tumpuking emas kalawan pisis muwah tang dodot lyan tekang ratnadi tumuli ahyas sira sang wirapekik awastra puru alus bwat Keling atumpal sweta sabukira peremas wilis agegelang kemitan gumyar sama anayaka komala.

26a arja akeris atrap-trap Kresnayana anatar wilis aselut bang wilis aselut bang wilis alandeyan kanaka liningir.

26b suwengira mirah katangi rinajaseng mas rinawit asekar rukmi tiningkah sesemen kinitir-kitir.

27a kalpikaniranayaka nawaratna kakalih sisih belengkerira adu manis mrik mrebuk crap-urapirangebeki lindining soca agawe branti patapning romamekiki ndan sira Srenggara-Yuda awastra sanebab suji asabuk gringsing pinelag.

27b akris rinenggahing rukmi suwengira pepelik sekar cacarang menur ali-ali mirah murub muwah empu Siwasmreti awastra pik mirir kumram cinitreng parada asabuk sutra petak krisnya sinurat brahmana rinenggeng rukmi solah sengehnya dyatmika.

28a kuneng rangga Wicitra awastra sisinduran atumpal syarnasabui lubeng luhung krisnya rinenggahing rukmi.

28b sama lawan Jaran-Wirapaksa mwang Banak-Sudira samasabuk lubeng luhung samakris rinenggahing rukmi.

29a sami kalawan sira Gagak-Prahara tumuly anangkil sira Wangbang Wideya anitihi undakan petak byuh kang angiring asri tan pendah parwata sang ring ayun papanden kombala abang tatabuhan amlingi asimban lan bedil muny analuktak lwir gelap.

29b tawan jarahan ing wuri wus tiningkah sira rangga Wicitra punang atingkah sahos punang katur lan raden Warastrasari wong Daha rug mangkwaniningali samangucap katuwon sri narendra katurunan hyang Parameswaratmakanginda sirasungsung jarahan.

30a pan dudu wyakti manuseki tekaning balanira kadbutapekik-pekik duh lewih bujangganira iki.

30b aluhur semune angrawit tur widyajnana resep atiningsun masangogangana yen arepa kakawin.

31a sawaneh ana angling lewih to kang bontit kuning ririh semunyamor ing mega resep atiningsun rowange amuwus kang bangbang awak kang bontit ika ingsun katuju ambeke basaja anangling kang uwang malang masa tatuhu bontit karesepingsun wong lanang.

31b banggi tur pengkuh ambek srengenan kang waneh angling kang lwir Jawa saka lor ika ikengsun katuju rowange amuwus kang anom ika angrawit rupa kadi kembar lan sang kadi hyang Smara ika karesepingsun wong lanang kang waneh angling lamun tan sang wira dibya.

32a makakundanging mangkat ayuda punang tunggal lingnyaris kaka ingsuri makakundanganira mahas angawi.

32b gumuyw abelik rowangnyangucap cabol andungkap langit sireku wongira iku bara-bara lamun sudi.

33a sami wring semu sira sang jinajawat prasamasengseng smita kuneng sira twan mantri sampun atur jarahan ing sri bupati wus pepek tianangkil sira malih ring pangastryan wonten twan Warastrasari sandingira sri naranata tumuli prapta sang pralabdeng yuda.

33b kadi parwata sari krepning kombala abang sama suminggah mangko anganan keri tumurun sira sang prawira apekik saking wahana anandang kuning mendek pranata ring sang nateng Daha nahan lingira patik bataratur jarahan saking Lasem punika.

34a punang saka ring Pajang katur ing sira paduka swari muwah punang saking Mataram katur ing raden dewi.

34b panungkul kalih nagara punika katur ing sira para rabi-aji sang prabu lingira sri narapati.

35a tarima ingsun kaki duh saya tan karuwan mangko genge utangingsun kalawan siranakingsun lingira paduka swari lah talunggulaanakingsun kaki alungguh ring arepira sang nata patarananira kumrarn peremas randi arenga aleping warna.

35b tumuli deratolih rangga Wicitra weruh ing siptanira malayu mangkyagelis amarekaken sakwehing jarahan tawan putri kakalih amarek ing sira twan Warastrasari sampun katimbalan kwehing tawan jarahan wong puri pedaseng smita tuminghal.

36a samangucap katuwon ing asanak prawira mangkeki sira animbali jarahan kady angebeki puri.

36b duh kaya ahiwang sih sihan asanak pantes pasisihaning laky arabi duh tekaturun miringsun iki.

37a kadi tembyatemahan arundah saking smu iki tan pracayatiningsun lawan sapa kang kineringan apan prawira sakti tan kawarnaha lingning wong puri ndan sang nata anuly anadah suka sarwi adumdum jarahan watra tan ana kaliwatan warga wadwa.

37b ndan sira sri narapating Jagaraga makadi mwang sang nata ring Putrasena prasama sopacara panganggo sri bupati mwang para biny-aji ndan rahaden mantri muwah awastra sutra rakta kumram atumpal tetejan asabuk gringsing krisirabek nawaratna.

38a kuneng sira sang kadi Ratih lagy angusut wastranira mayang gandasuli sinangira peremas katangi.

38b sumunu ali-aliniraratna kostuba pasungira sang wirapekik anguwah karna tan pasusumping.

39a mangkin angemu ratih denira angubda wingit mangkin sirna mar tenuh nalanira panji Wireswara denira anganggo kalpika pasungira ring uni yaya rakwa tekangembana angarih-arih puwara tan pawelas laraning twas epuh tan palipuran.

39b rame deranadah sri narapati ndan sira Srenggara-Yuda malih kinen alinggih ndatan kantun sira empu Siwasmreti watra sawongira sira panji sang mantring Daha watra alungguh gending muni lawan gong angalun-alun muni tontonan tan paligaran.

40a tan pendah wukir turnpuking ulam lan sekul balabur drawn akeh awuru punang mantri anglalawani.

40b wengi aluwaran sira narendra muwah ucapen kang esuk sampun awungu sira sang prawirapekik.

41a lagy acota tan pasalin wastrakusut angrawit ndan lingira ring pun Angalap-Sih den tameng semu undangen si Duta-Liring amit mangke pun mangkat tumuli satekane ring kagaluhan anuli maring taman panglipur lara kapanggih irika pun Duta-Tinghal.

41b ndan linge pun Angalap-Sih mareka reke nini angling mangke pun Duta-Tinghal muliha karuhun pan deningsun anut buri tumuli lungha pun Angalap-Sih pun Duta-Tinghal maly atalutur prapti mangke ring Gopranawa wus marek kalih ring sira Wangbang Wideya.

42a sampunira mangkyamilihi anak-anakan mirah abra murub Ian pinggel rong rangsukan muwah kemer kendit

42b samanayaka waratnadi lawan kalpika sakawan asosoca ratna pakaja kalawan weduryadi.

43a lawan suweng manten wilis mwang mirah wungu sama rinajaseng mas tatur tumuli winadahan eban kancana cacarangcangan tuhu angrawit lagi mangke anunurat sira Wangbang Wideya ring pinggel kana mesi salaraning ati kasrah ing pun Duta-Tinghal.

43b lingira sira panji kita pahenggala wali den karuwan ujar sang kadi Ratih amit anembah mangke pun Duta-Liring wus sinungan kalpika papat langsaran wastra tumuli lungha sigraglis prapti ring kagaluhan ndan sang lwir Ratih tansah ring jungut sek sekar.

44a katujw asepi marek aglis pun Duta-Tinghal anuli mangikyatur eban cacarangcangan ring sira twan dewi.

44b arsa sira lagy angungkabi katingalan anak-anakan murub lawan pingel kana katon rawiting tulis.

45a winaca swaranyamlas-sih dyh sang saksat sulaksmining kusuma wyapakeng kalangening masa kartikangde raganing sang pragiwakajnga yen rinci rarasta wus tan popama punapeki pangeran wekas manira yaya paratra akingjing lara kung tan palipuran.

45b anging kenakaneki paratraha ring jinem mrik tan jrih kaciryana maty asilunglungeng surasminta dyah ari mas mirah talungha saking nagareng Mamenang tangungsiha jangala sira tembya wyapakaheringwang lah tahuren reke manira dewa.

46a manawa malih tuna srenggara raras rum ksatriya Janggala tan sengeh patempuhning prang-prang smareng jinem mrik.

46b.  sampunira amaca tulis asemu maras tumuli derasunaken ing ken Bayan mamgke amaca tulis.

47a ri sampunyamaca tulis ken Bayan wlase enti ndan linge mangke matur punapa si wekasipun bage yan mangkahana karepira meneng rahaden dewi pun Duta-Tinghal anjawil ken Bayan awarah sawekasira sang wirapekik yen akon enggal mangsula.

47b ken Bayan lungha tumuli sigra mangkwandandani langsanira twan Warastrasari punang kampuh sanebab surat kumitir lawan singjang patawala randi wus kasrah ing pun Duta- Tinghal tumuli maring Gopra-nawa mangke tan asari mare king san lwir hyan Smara.

48a neher deraturaken kang wastra sumar ambeting suganda kang mrik mining mangking ragan-ragan twasira panji.

48b.     istanira sang adrewe wastra pinangku ih dadi tanoraduh mangkin wantuning lara sangsayan lindihi.

49a peteng tinghalira dadi kapati lagi sumungkem ing langsaran kampuh sira raden Srenggara-Yuda marma mangkyanangisi mwang mpu Siwasmreti muwah ki rangga Wicitra ndan ki Banak-Sudira puha mangkwatineki ndan ken Jaran-Wirapaksa tan bisa angucap.

49b ndan sang kantaka anglilir sira sarwi anangis Banak-Sudira matur punapa si wekasipun wasana mati akingking maniraneclangamuka ing twan Sirjhamatra den kadiya babalang antiga suka remek rempuka yen sira pangeran sidapanggiha. 50a pada wekasing bawarasa demit lan ganal suwe kewala puniki ndan rangga Wicitra asemu runtik.

50b linge tan aris apantes yen agul-agul tan wring wisti umatur sumuluduru ujare tan pambeciki.

51a Banak-Sudirasengit ujarnyanggegetu sarwi apingkas anggetem apetak norana angamuk rampak mangko dakkembari rangga Wicitra wring smu tur angling denpekul arine lah papacuhaningsun pangeran Banak Sudira lagy apiyewa mangke neher lungha.

51b ndan malih pun Duta-Liring awlas mihat tumuli amit satekanelng jro pura lagi tinaken-takenan dera raden dewi polahira panjijati mangke pun matur yen sira kantaka suwyanungkemi laingsaran wastra sawongira samatulung asmu kemengan.

52a meneng tan paing1ing lengleng kapenetan sira Warastrasari rasaning ati mar tauh dadi kemengan lwir pinis.

52b tibra welas lali yen adrawayan luhira ndan ken Bayan lawan ken Sanggit tibrawlas prasama milw anangis.

53a kaka-kakanira awelas sama miles anangis ekapraya yen ana kewuh ing lampah tan wurung rakwa milw angiring-iring ndan sira twan dewi angraciki ganda ken Bayan ken Sanggit andandani amik-amikan madupata saha secjah arum lan pucang luwak.

53b sampun sama kinasturi mungwing nanampan rukmi burat ring cucupu mrakata ndan sira Warjbang Wideya mangko tantun agugulingan sarwi angucap-ucap anutur ring rahaden Singhamatra polahira tuhw asih ing sira aseng smita raden Srenggara-Yuda.

54a ih milw ing pekik rupane kaka anging denya tan pragiwaka sok kewala sadu ambeke basajaririh.

54b sada awani dene aprang nghing durung ngeruh ing gingsir kewala wani puguh angucap empu Siwasmreti.

55a ah punapa ujaraning rupa yen to nirukti lawan solah nawang semu makadi ring gina ndatan kasepuhan pekikneki asmu guyu angling sira panji tur arep dahat kaka yen bisaha sumbali awelas ingsun kaka anging deningsun kasaputan wirang.

55b sedengirangucap-ucap iriki tandwa prapti ni Sadaka ingutus dening ni Bayan atur boboloiloh lawan amik-amikan marek ing sira panji pun Bayan aken angaturi puniki amik-amikan lawan burat sira rahadyan aholah.

56a asemu ragi nahan lingira kamayangan sira teka arep ingsung asungsung  lawan ka Bayan ka Sanggit.

56b lan sira bibi arep ingsunwehi jarahan ni Sadakamurus asmu tan sep ana ingsun kaki.

57a lingira sira panjialing mangke sira bibi kang sopeksa iringsun apan dening tuna upacara tan padrewe istri kulehipun deratulak kaki tinariman denira sri narendra apratijfiengsun bibi tan pangambah istri tembe yan wus alabahan.

57b sira Bayan sinung pinggel kalawan ali-ali tan kantun dodot mangkelawan tapih wong nem puluh sama kalawan ken Sanggit ni Sadaka sinung kancanadi muwah wastra kalawan wong rota dasa kabeh watra kaka kakanira twan dewi sama sinungan jarahan.

58a ni Sadaka asmu kagawokan lingnyak ngucap quh ahutang isun puniki paran walèsane tembe kaki.

58b lingira panjiah niskarana puniku anging sihanira bibi iringsun poma aja tan patitilik.

59a ni Sadaka angling singgih anuli mangke amit aglis lampahipun tumuli prapti ring kagaluhan mangke jumugjug maring ken. Bayan katemw ing urnahneki ni Sadaka mangke asung jarahan ken Sanggit mangke prapti sampun sinung malih kehing kaka-kakanira.

59b samangucap yen kapihutangan ni Sadakangling awarah sahandika nira panji ndan marèmpuh twase ken Bayan marma wlaseng sira muwahwong dalêm puri nedngakena muwah ucapen lamanira panji Wireswarangher ing Kadiri awyatara pitung wulan.

60a pepek pasagi nagareng Daha ndatan ono abaning kalana juti kawus dera sang prawirapekik.

60b ndan kaprakasiteng loka nrepating Ma.menang adre’we prawirapekik anulus saksat sang hyang Arimurti.

61a enjing kawuwus sira Wangbang Wideya anangkil awastra kayen alus atumpal swetarjasabuk limar ijo duhungiralandeyan buta Sancayasari awarangka cinitra hyang-hyangning sang asumpang dosa rinabut singhapanjarahurap-hurap mrik sumar.

61b sira raden Srenggara-Yudawastra patawalejo atumpal rakta sinurat ing paradasabuk lubeng kahot duhuniralandeyan buta pangawe sari mangkat sira Wangbang Wideya anitihi kuda petak rug kwehing wong angiring abra yaya widyadara.

62a kuneng sira sri narapati maring siranakira mwang sira prameswari sedeng angipuk ing raden dewi.

62b ingajak maring bacingah ingipuk-ipuk apan apti sira anuji ing pahan buta Sancayasari.

63a tan anasangup kehing para sunging anging atrani prapta sira Wideya garjita sang prabu lingira kamayangan sira teka ana sunpangar sayaken ing sira mesem sang inujaran neher kinen alinggiha tumuly alinggih ring ayunira sang nata.

63b raden Warastrasari sandingira prameswari twan Singhamatra ing wuri nrepati akampuh nila akampuh sutra kuning ndan sira sing kadi Ratih angusut awastra canglwi jiningga sinjangira pik mirir ndan asemu kuning agawe raganing mulat.

64a saksana prapti kang kampuh pik kalawan gatra mwang mangsi tan kantun panuli katur ing sang wicaksanapekik.

64b rangga Wicitranglalawani lagi anadoni mangsi tumuly awereti sira Wangbang Wideya iriki.

65a tuhu yen pratyaksa polahira angagatrani aglis mentas pisan sumelang andulu ring raden Warastrasari apapagan liring sang dyah semw erang tumungkul sri mahadewi angawruhi lali yen asmu guyu silih jawil para biny-aji sang nata.

65b ndan sang angrereka malih wus asalah panuli tiningalan dera sang nata prasama andulu para biny-aji nrepati mwang sira paduka prameswari gawok mulat dening sarwa kusuma rineka purwaka buta galak dedeling angalong-along ring pandan.

66a netra sekaring prabusatmata irungnya pangada wajanipun kuduning menur talinga patra sesemi.

66b alisnya awarna ganggong tutuknika lungning cikak brengosipun sesemen alus dangstranya tatar awresti.

67a gelung sepat urang tiningkah patra parijata atangan mandalika sasekar kawacanipun patraning arawinda asarira sekaripun angrawit ndan wentisnya awarna pudak jariji sekar subanimita kabeh sabusananya sesemen rinengga.

67b lingira sri narapati ing twan Warastrasari kongang rika katututana denira anunulam tumungkul twan Warastrasari lingira sri narapati nanak apanji Wireswara pawayangakna rakwarinira wayang prawa alalakon Supraba duta.

68a asahur sembah sang inujaran tandwa tumuli prapta kang wayang ring rimpi paparadan catcatan angrawit.

68b wayangira panji Wireswara ingemasan sabusananipun angling sang prabu lah alekas nanak panji.

69a mesem sari lwir Smara tumuli amit dateng ing mandapa wetan rinenggahing manjeti praptalungguh sira Wangbang Wideya sarwy amedar wayang awuwuh rawit raden Srenggara-Yuda mangkyanggenderi emptu Siwasmreti malih angredepi gong amer-amer barungnya.

69b gender sadagung ajujuluk pun Asep-Menan swarane amanis arum misra manising swaranira sang  lwir  Smarakakawin kadi atruha madu jaladi kasmaran sakwehing tuminghal wong sajro puri akrigan aninighal wijah sama amargeng têterusan.

70a arebut samamet enggon malar kasanmata de sang lwir Smaramatya pahesipun asawiteng ulat liring.

70b asrang wuwusnyangangken kastri kapitemen andadyaken tukar ndan sira sang awayang wus amrakreta malih.

71a lewih duk Arjuna angipuk mangkyangarih-arih ing sira dewi Supraba

ragan punang andulu lewih twan Singhamatra asmu ragan kascaryan aningali muwah para rabi-aji sari nata pada asilih-jawil angucap mapa ring wong arijajawat satata.

71b ndan sira Warastrasari asmu karaseng ati yen sira piniring-piringan maha api tan wruh muwah ken Bayan ken Sanggit sami weruh siptanira panji ndan sang nata malih asmu kascaryan kakarsanira panji agawe raras srenggara angenteken cita.

72a lagy angecapaken wayang muntab senening kalpika awor lawan kedaping kukunira apanjang ahening.

72b sumelang amanjang sindenira kady amiring-miringi swaraniramanis arum awor lan gender angrawit.

73a mangkin branta atining aningali sama angling mangkin sayamuwuhi rengga derawayang rahina lwir awor anuksmanelahi rumning warnanira lan rawitning wayang tangeh yan kawarnaha lingning aniningali ndan sang awayang mentas sampun olih sababak.

73b laris angayuh malih sababak duk Supraba winidi lagi epuh mangesah elik ing sang Niwatakawaca lagingarih-arih dera sang Arjuna sarwi ingajum pawrani kesarja angaras pipi dewi Supraba asahur rengih ragan sakwehing tuminghal.

74a muwah sangaskretaning basa tan kapunggungan demitning sastra wus katitih tuhu sira kretarta ring aji.

74b kakarsanggegempal duk pun Semar milu ragan tan wring polahanipun gregeten sira angrangkul witning cangkring.

75a sumyok kang guyw ambata rubuh neher awusan sira Wangbang Wideya sinengan denira sang prabu marek mangke awot sari tur kinayuh astanira sarwi pinetuk rawitning cecentungira neher inganggeyan belengker emas randi nayaka suryakarana.

75b sinungkelangan keris panganggenira nrepatibeking nawaratnadikara suweng manik banu rinajaseng emas adi sira prameswari maly angganjari kampuh kumitir anatar jenar sabuk peremas randi kalawan kalambi peremas wilis pinelag. 76a muwah sira raden Singhamatra maly angganjar wastra pik sabuk gumiringsing pandulure arta kalih keti.

76b winales malih dening jarahan dera panjya emas patang puluh tahil lan selut papat nayaka ratnadi.

77a ndan sira sri narapati nuly anadah suka sinarwi aninghali raketan suka malah dalu akon mangko andandani maring sira panji agawe gunung pawaka tumuli dinandanan denira Wangbang Wideya aglis rencang, mangke sampun wetning pratyaksa.

77b ingaladaken punang gunung api murub aglis mangke pating pelecut pelag awarna sarwa kusumana awarna tangi priyakanawarna sekar mangli kanigaranawarna tigapatranawarna sarpasari lyan tang tunjung sawit anawarna mandalika.

78a umurub mangkin ujwala saya tela-tela sama kascaryan punang andulu dening kabisanira panji.

78b sri narapati arsa lagi akon angaladaken sekar tunjung aglis murub sinungaken ing raden dewi.

79a lagi tutut ananggapi mangkin kady angemuki carmanirangancana drawa wong ing jro amuwus saya awor semu iki ih tuhu kasilib andikanira sang nata apan sama kapusan dening purusa guna wisesanira sira apanji Wireswara.

79b lewih sira raden Singhamatra wus tan pangiding tan uningan lingning amarna tiba dawuh catur aluwaran sri bupati mantuk sira panji aniba bok aturu sigra agatra rahina ndan awan tan patangi apan dening sekeling twas ndatan palipuran.

80a saksanatangi asoca tan pasalin wastra angling sira empu ih baya ayun anangkil sira puniki.

80b meneng tan pang1ing kemengan rasaning hredaya angin punang ketung olihaning upaya anidra karasmin.

81a wetning tan daranangreti kahapti kadi tan pangantiya pehning salapkena lewih yen anangkila katon raras rum sang lwir puspita tan wruh pamawaneki lara raga(n) ndan sawongira awlas lumiyat ing sira sang kataman roga smara ndatan polih osada.

81b kancit prapta mangke ki Carang-Lengkara anembah ing sira pani Wireswara lingipun umatur kapan ta masa pakaniranglajoken kapti apan sampun katungkul sira raden Singhamatra muwah sri narapati sira panji ang1ing kapan ta angaladesa.

82a malih dasa dinanekas patotoyanira rahadvan Warastasari pukulun malar olyangalatani.

82b pan manira masa tan kinen awayanga dating ing jro pukulun mesem sira Wangbang Wideya neher angling.

83a kamayangan apan agengsun iki empu Siwasmreti mangke gumuyu rangga Wicitra amuwus ring ki Carang-Lengkara ayo iwag denira angambil sib mesem Carang-Lengkara tur angucap lah karasa siptanira ika tumuli amit ki Carang-Lengkara.

83b wus sinungan wastra lan sabuk mwang kris lyan tang emas adi anembah neher lungha tan warnanen ingsun ucapen wong saKadiri sami atun maring sira panji Wireswara apan kongkulan dana brayan anglalawany andrawina sama kapusan sang mantri ring Naha.

84a lan kena dening angambeki nityasasung pakenak ing wong lamun amanggih duskreta bisa anglusi budi.

84b saya telas sih marmanira sri naranata mwang sira paduka swari lwir katurunan sang hyang Pasupati.

85a kuneng sira raden Singhamatra saya tan darana malih tumon ing raras rasminira twan galuh marek mangko sira ababarija ambakta sekar mangli ring walangsang tekanjeneng to sira ring arepira rahadyan Warastrasari lingira alon angucap.

85b manirangaturaken sekar sumanasa wilis sira rahaden galuh semu runtik neher angunus kadga ingagem alungid lingira lah palungha den aglis neher lungha mangke asmu wirang twan mantri satekanireng jaba kapanggih ana ki Carang-Lengkara.

86a angacapurit wayang jenengan ndan lingira twan mantri ing besuk patotoyanira raden Warastrasari.

86b lah sirangringgita ring jro pisan malar sira suka andudulu angling Carang-Lengkara sandika twan mantra.

87a enengakna rimihin kuneng prapti triyodasi sasi kapat wus amamajang ing witana paselanganira raden dewi antyanta upacara tuhw asri ndan sang nata prapti Ian sira sri prameswari rabi-aji sang nata angiring prasamangapti pahesnya.

87b pahyas sri narapati arjakampuh dangdang gendis sami lan sira paduka swari sinjang lan sabukira sama gumiringsing sang nateng Jagaraga wus prapti lan sang nata ring Putrasena rahaden Singhamatra panganggonira tuhw asri amepek sarwaning emas.

88a akampuh udaraga atumpal gagadungan ndan asabuk peremas wilis duhungira alandeyan manic.

88b asuweng manik  ing toya rinajaseng mas asekar kanaka tiningkah rabuyut ahurap-urap mrik minging.

89a enti arsanira paduka swari mulat lagi sinengan ndan sinungan sedah wangi tur amuwus pekik mantuningsun iki lah tuhan alinggih tumulya mangkyatur sembah rahaden mantri alinggih prapti papali prasama alep asri pinundut dening pawongan.

89b tumulya muni tang gending angarangi tandwa prapti malih sira sang para dwija mukya sira empu brahmaraja ring Kadiri kang amamaleni umreng punang tatabuhan asanggani lan sangka pereret genta genti umuni amlingi ana amidu atekap.

90a sampunira mangkyapasilih tumuly adan angigel raden galuh maring pangigelan ginelaran manjeti.

90b araras muni punang gending rara buyut duk ing kaping tiga tuhu alangu atut lawan wirama kangsi.

91a ndan sira apanji Wireswara tumurun anjeneng ing tepas oreg kang aningali sek supenuh ndan sang angigel tumandang malih antyanta pratyakseng gingsir mwang tanduk tindak wus tan kapinggingan mwang solah sengeh bangkit panus tan pasiring cengeng sakwehing tuminghal.

91b ken Bayan lawan ken Sanggit samangayap rnuwah kaka-kakanira samangayap angadeg ing batur ndan sira sri narapati mangkin andumpili mwang sang nateng Jagaraga sang nateng Putrasena muwah sira raden Singhamatrandumpili mwang sakwehing para kadang.

92a ndan sira panji yaya pejaheng pangadegan miyat ing igelira raden galuh tuhu yen agawe branti.

92b syuh rempuh lali yen arep tumindak angemban yatna sira empu anjawil ayun datengeng endi sireki.

93a meneng tumungkul tan pangling ndan sira bupati aken andumpilaneng sirasahur sembah tumuly andumpili sireng anak-anakan ratnadi lawan rukmi pipitu ken Sanggit punang animbali wong ing jro aseng smitangucap kasilib andikanira sang nata.

93b pan masa basaja iki saka ring smu kalih apinda awor awiletan ih mir atiningsun ndan sang angigel lagi apudetan sinjangira kasirir asmu singsal mangkin agawe rimang meleking gandanerus pura angdani ragining sang kasekan kung rimang.

94a ndan awusan sira anembah ing sri narendra ndan sang nata amuwus asmu guyu andulu ing sira panji.

94b tan pendah kading swapeneki istaningsun dene arinira kapanggih yayengsun katurunan ing batari.

95a meneng tan pangucap sira panji Wireswara asahur sernbah ndan rasaning ati tibra mar tenuh asmu kepon ndan sira sri narendranadah sayub iriki antyanta ramening tadahan umunyang gending gong angalun-alun sama angigel sira para ksatriya.

95b raden Singhamatrangigel igelira angrawit menggep ndatan kakehan polah raris anambut dadap winatang sira Wangbang Wideya tumurun neher amit angigel sira ile-ilenirangrimangi aweh prapancaning aningali lewih duk anambut dadap.

96a jenger sakwehing aningali pangigelira tuhu pratyaksa teka uwus mungguh yen kinajrihan ing jurit.

96b enti arsanira nrepating Mamenang tur angucap paran sangkane tan anggempungakena lawan wong iki.

97a sang nateng Jagaragángling sor rajaputra lewih paripolahipun kaka aji sira sang prabw ing Putrasenamuwus sasar ing kuna denyamet panjanman mantangen nora dadi ksatriya mulat ndan sang angigel awusan sampun alinggih wong jro alam-alam miyat.

97b wyatara tunggang adri aluwaran sri bupati kuneng rahaden Singhamatra malih anayub Carang-Lengkara andandani drawina arak brem wus denlaroni majum anadah sireng jro pisan Carang-Lengkara kinen awayang milw aniningal sang laksmining pura.

98a kadehanira kang sinelir sama milw anglalawani pada milw anginum majum sawongira tuhan mantra.

98b sedeng arame denyangringgit alalakon Asmaradahana ndan arasawuru mangke sira raden mantra.

99a tumuli awusan neher aguling raden mantri sakadehanira awuru mati dening majyum kang anggender samalara wongira pada awuru mati ndan ki Carang-Lengkara malih wruh yen kawuron rahaden Singhamatra tumuli medal api atotoya.

99b satekanipun ing yawi kapanggih sira panji lawan raden Srenggara-Yuda muwah sira empu rangga Wicitra Jaran-Wirapaksa Banak-Sudira lan Gagak-Prahara neher mangke dengawa mingjro tan ananing awungu kang akemit kabeh pan pada kawurwan.

100a ndan sang amaling smaranuli maring jungut seksekar neher asangidan ing paparwatan sawongireriki.

100b kuneng sira Warastrasari malih mantuk saking pawayangan ken Bayan andulur tansah kalawan ken Sanggit.

101a    prapta ring jungut seksari neher sira alinggih patiganing pandan mrik sumar lagi maler kampuhira pik mirir smu kuning lan sinjangira patawala jingga pasungira panji Wireswara kang marek sakaka-kakanira tan ana wong lyan amarek ing sira. 101b  arsa sira mihat ring pajangning wulan mwang tangising tadah-arsa mlas-hyun nahan lingira amuwus kaka Bayan kulehengsun awlas mulat rikang tadah-asih sama lawan awakingsun tanporat sangkan walaka pataka durung suka dadiyaning paran gane ngwang.

102a lamunkalalawening ati polahingsun anusup ing alas mangke ginawe suka denira bapa aji

102b ndatan sukaning suka rasanyatiningsun sumbaliki sy awuwuh priyatin nghing kenakanyangher ing asepi.

103a wetning tan darana wineh lara wirang ndan sira panji malih sawegung angawruhi sapamuwusira twan Warastrasari mangkin tenuh twasira lwir pinis tandwa mara sarwy aningcing basahan lagi maler sapanganggenira ring uni sumrakning gandangde rimang.

103b    wasa angarih-arih lingira ih sang dewaning rasmi misrarjanurun saking Smaralaya anuksmawahana sitarasmi asung nugraha ring roga kandehan lulut ih kalinganira tan pangandel kapo adrewe kawula puniki ring pun panji Wireswara.

104a tembe sakahayun lemah talampakanira yen sampun pejah pun apanji ayun mungsira sunyaning adri.

104b    mangke to ari tan paweli pun Wangbang Wideya yen sira datengeng wukir ih angur mungsiha ring Wano Keling.

105a malar sang nata ring Keling angangken kawulaha ring pun apanji Wireswara muwah raden galuh meneng kapenetan tan pangling ingemban mangke denira panji ndan ken Bayan gipih malih adandan prayogane kang denbakta sregep pepek wongira angering rahadyan.

105b pun Duta-Liring tan kari lawan ni Sadaka muwah kabeh kakakakanira sami apralalu tumut ing rahaden dewi neher metu mangko sira panji sarwi angembani sira rahadyan sama prayatna kadehanira angiring atyapadanaha baya.

106a Banak-Sudira munggwing uri lan Jaran-Wirapaksa rangga Wicitra munggwing ayun lan Gagak-Prahara malih.

106b    tuhu panagih ing karmanira kalih samayanira ring dangu ana ajagra sakehing wong akemit.

107a    aglis lampahira liwat ing bacingah tumuli prapti sireng manguntur kapanggih wongira sampun acadang liman anuli ingunggahaken rahaden dewi pinangku Carang-Léngkara asarati muwah sakaka-kakanirasahosan Liman wus pada ingangkat.

107b ndan kang wong Amunah-Sari kalawan wong Tan-Kokih tan gindal wong Tan-Mundur munggwing wuri wong Anurida-Raga ring ayun sira panji Wireswara mangke angling lah ta rowang pada asurak lah bedilana kang akemit iku aja minimisan den kaget balaka.

108a awaraha yen balanira raden Makaradwaja wahu rawuh saking Kahuripan amet ing raden dewi.

108b    kang aharan panji Wireswara ika lelebonira rahaden mantra angupaya ing twan Warastrasari.

109a tumuly anembak ing bedil tur asurak muny atri kaget mangke kang para tanda siptanipun musuh prapta mangko samatiyang sanjata wongira panji angling iku balanira rahadyan Makaradwaja wahu prapti anidra ing ratri amet ing sira rahadyan.

109b kang aharan sira panji Wireswara ika lelebonira Makaradwaja pinakahindrajala amet ing twan Warastrasari lah ena prang wong Kadiri lamun sira tuhu wani wong Daha sama kemengan yen anglawana paprangira raden Makaradwaja.

110a    rakryan apatih mahw atangi mangkwengaturan yen sira rahaden mantring Kahuripan anangtang prang ing wengi.

110b meneng kemengan ken apatih tumuli adan matur i sang prabu ndatan kawuwusa wiwaksan sira panji.

111a lepas lampahiraglis liwat ing jaba kita lumaris mangalor akweh punang tani kang kahenu tanseng kisyapwan rahaden dewi araras pajangning sasih sigra prapta mangkeng lurah Janggala amanggih pasanggrahan tuhw alangu lagi amingkingaken walahar.

111b pan rangga Wicitra nguny akon akarya rimihin awangunan pring wulung rinenggahing sarwa kusumagubah peremas wilis wongira wus atatangideri tumurun sira saking Liman tumulingemban sira rahadyan maring jinem mrik marma marmarangisapwan.

112a wasa angukih pakekesning pundutan rahaden dewi asemu runtik lumungsur saking kisapwan angrengih.

112b lagy aningseti rasmining sinjang ndan sang asewa rasmi yaya sadpadapti rumning kusumanedeng mrik minging.

113a saha wacana kadi sarakusumayudanganini prana marempuh pupuji kapweng ahayu dahat tan kahanan wlasing anahen lara prih yayatemahan antaka yan tan katekan misraha lan rarasta dyah inang lah to maskw ari kawlasanengsun pangeran.

113b lewes denira ari tan pananmataninghali kakanta asewa rasminta usadananen rumning nada titi ruming serang sah rasa tan apapanggih lepan sampun kena ring sapta upaya rasmining tikenguni angalap sihira sang kadi puspita.

114a sinreng ingukih astaliweran arebut pakekesning sinjang sampun kalungsur rosning madyangliga angisis.

114b atigremus anakar anarik sinreng sampun kawawa neher lined tinitih-titihan kinenan résning gati.

115a mangkin métaning astrakusuma makas anitir amisra rahasyanira sang pinrahaseng kasur ndan sang amurwa yaya tan pangluwarana sawetning kolihan rarasning istri dadi kamagan kalangan dera sang stri kantaka marmanira mangkyangluwari smara.

115b gipih anambut amaweng pangkwan marmanangisi ndan lingira atmajuwitanglilira pukulun sang munggwing telenging ati lah tewasana kakanta atoh prana jiwa sampun lalis pangeran ndan sari kantakanglilir lwir tinirtan dening lehira Makaradwaja.

116a tan pendah kadi minretan dening rumning nada anglilir lagi sumare ring bahuning sang sangkaning lesu anglih.

116b ndan sira panji lagy amalampah toya dyus ken Bayan mangko angaturi toya dyus wus munggwing jambangan rukmi.

117a dinyus tanseng pangkon muni gong curing ndan pun Bentar-Kadaton muny angalun awayang atekap wus alekas ndan sang wahu apulang smara lagy anggandani rabi sinalinan tapih sanebab tinulis lubeng mihat lan wastra sanebab wilis kumram cinitreng parade.

117b    kalawan kemer kendit samanayaka bang wilis lan kalpika ratna pakaja tumuli sampun ingemban mareng jro jinem mrik tanseng kisapwan ingiling-ilingan lingira kadi tan ing rat rasaning twas maniratmajiwa awor ing rasminira sang laksmining pura .

118a    yaya umor ing Smarabawana sacumbana lan rasminira sang hyang Ratih mangkana ista manira rani.

118b    asuwyamamacuh mangkin saya raga-ragan anuli wasanareken ing kasur astamrih lukaring tapih.

119a    sang stri tan kawasapanggil apan dahat lesw anglih apuwara pralalw ing tilam ri sampuning sacumbana ping ro tinuting samanidra enengakeneriki kuneng sira sang nata ring Mamenang sampun sira ingaturan sri prameswari telas mangke runtikira.

119b sira rakryan apatih matur susumbar ing balanira raden Makaradwaja yen sira Wangbang Wideya lelebonira indrajala amet ing raden dewi sri narendra udani sira yen kena saptopaya lingira masa dudu ika si apanji Wireswara.

120a    lilingsenira nanak mantri Makaradwaja lah paran teki ujaraningsun tan daya sang adrewe rabi.

120b nahan lingira anuli kinon toweksanen sira nanak galuh yen sira wus ilang kalawan ana kari.

121a    ken Pisangan mangkat aglis lan ken demang angiring prapti mangko ring kagaluhan tumuli anjugjug maring bacingah anuli manjing kang lawang kabeh menga muwah sakwehing kang akemit tan ana atangi ming jero ken Pisangan anuli mara ring jungut seksekar.

121b katemu sampun asepi kang pamreman anuli maring patotoyan pagandan tan ana katemu ken Pisangan menggah tumuli mara ring twan Singhamatra katemu siraguling ginugah tan kenatangi pijer kawurwan apengeng lali katuwon keneng upaya.

122a    ken Pisangan asemu kemengan kang pawongan dentangi karng tan milw anginum majum prasama mangke atangi.

122b neher mangko dentatakoni endi andikanira raden galuh sama sumahur lingnyaneng jungut seksari.

123a    ih pepeka sira nini wus tan ana ingsunulati lan kulehe sira twan mantri derawuru dahat tan kena atangi sungugah-gugah apengeng lali ena sira wus keneng upaya kawatgata indrajalaning musuh kang pawongan padasmu kemengan.

123b kadehanira dentangi pada tan anangiding ken Pisangan glis metu kang akemit denkon gugaha tumuli samatangi denwarah yen twan Warastrasari sampun ilang sama kapenetan sakwehing para tanda ken Pisangan sigrawali matur ing sira sang nata.

124 a yen tan kapanggih sampun sepi kang pagulingan punang lawang kabeh menga pukulun kang akemit tan pangiding.

124b sira raden Singhamatra sira awuru yaya mati ginugah-gugah pukulun sira tan kawasatangi.

125a sakadehanira tan anatangi meneng sira sri narendra sira paduka swari dahat bendu lingira amuwus ah cekap Carang-Lengkara ika celih iya kang amamakani karananing wong kabeh pada awuru lah kakaji ilangakena wong ika.

125b ken demang matur yen sampun kesah rakryan apatih angling gegelon yen katuna punapa to linganira sira prameswari pepeka sira sang adrewe sih sira prameswari tan parisuda kedeh sira akon angrebuta nahan lingira ring sirakanira.

126a ih katuhon ing wadon iki tan kawasa adreweha kahayun yen langan ingsun sukangemasana pati.

126b ndan lingira sri narapati lah pilihana warganira punang wani amusuha nanak mantri ring Keling.

127a matur rakryan apatih sapa sira punang sakti anglawana siranak parameswarapan putusing dibya parama sakti wyakti gempung lilis sakwehing para ratu kang tumanggalang ring rana punang kawula rika waniya manawi sira raden Singhamatra.

127b wani anglawana ing raden Makaradwaja akola guna ring pabaratan ndan ri saksana rahina mangko durung atangi sira twan mantring Kembang Kuning sri narendrakon adyusa ing sira tinahapan toyaning duwegan tumuly amrétapageh manahira.

128a neher atangi nahan lingira ndi Carang-Lengkara ana matur kesah pukulun pareng lawan sira panji.

128b    muwah sira rahaden dewi sampun cinidra denira sira rahaden Makaradwaja prapta sireng wengi.

129a meneng rahaden mantri yan asipta sireng ati ring sira Wireswara apan masa duduha sira rahaden Makaradwaja wruh ta, yen wus keneng upaya anging ta sira masa waniya adrewe polah kewala apralalw ing katiwasanira.

129b kancit prapta punang angundangeng sira tumuli mangkat ndatan pasalin wastra prapti ring arep sang natanembah raden mantri lingira sira paduka swari tuwan rebuten arinira alara wirang ingsun pangeran meneng twan mantri kemengan sanggupanira.

130a wekasan angling sutra senggunen tan paguna pun Singhamatra sapadi amusuha raden Ino ring Keling.

130b mapan rasika wira sakti mahaprabawa putusing widagda ring jurit sapa sira waniya puniki.

131a    lan saptapayu tatagonira reko ring uni patik prameswary angalang-alangi ih lamun kampuraha polah puniki sami awlas angrungu sang mantri aturira tuhu sadu manuh ndan sira pramiswari awuwull mangke runtik nahan lingira angucap.

131b  ih kalingane iki wus padambucal ing nini neher mantuk sira sri prameswari tan kawuwusa ndan sang mahw apulang sih sampun samatangi araradin sama sira asalin wastra pik mirir cinitreng ijo pucang awarnalas-alasan tinuting parade.

132a samamaragi sinjangira lawan sabuk sutra randi cinitrahing emas ajur samasuweng manten wilis.

132b sama asumping priyaka sumar akalpika bang wilis kerisira ring dangu samahurap-urap mrik minging.

133a wongira prasama sopacara acadang asti pun Wira-Pralabda wus binusanan abra murub asekar kombala randi apalana mas agubah peremas wungu kumram akajang rontal wilis munggah ingemban sira sang kadi Ratih marma marmarangisapwan.

133b Carang-Lengkarasarati akampuh udaragi asabuk limar amenak ndan sira Srenggara-Yudapaparempon bang wilis lagi anitihi kuda putih panganggonira sira rakanira tanseng urining matengga lwir Smarapalih lan sira bra rakanira.

134a muwah sawongira twan dewi wus munggwing liman lumampah ring ayun liman wowolu sama abusana asri.

134b ring ayun papanden kombala randi lan cewagara tatabuhan amlingi punang anuntun kuda rimihin.

135a sakamargakrigan anininghali sawong lurahing Janggala amuwus sang pangeran sira rawuh ambakteng rahaden dewi mangkin rame nagara ring Keling praptanira raden Makaradwaja tan kawarnaha lingning tuminghal lepas lampahira Makaradwaja.

135b prapting tegal-tegal alas-alas alangu tistis anedeng tang sarwa kusuma malih apan catur dasaning Kartika sasi eb anong ing margi asana lawan wungu wresiki lan tigapatra jangga mrik angalaya ring marga duryan manggista byut aneng iringnya.

136a ndan sira sang lwir Smara Ratih arsa lumiyat ing wohing durian sedeng ratengipun tumuly amredi ring asti.

136b sangsipta malih pun Wira-Pralabdangayuh dening tulalenipun amet wwahing duryan denaturaken malih.

137a suka twan Warastrasari neher siranimbali lingira anempala sekar tumuli tutut anempal asana mrik minging denwuloken malih ring sira sang  lwir puspita lingirasmu guyu kadi wong dene anghidep ing ujar akeh liman tan ana mengkeneha.

137b mesem sari prawirapekik ndan lingira ih lewih yen polahipun ring payudan meta  maring musuh anujah neher ambanting mesem raden dewi ndan sira Makaradwaja asmu ragan angaras pipi amisit payodarasemu runtik mangke sang pinrahasana.

138a sang kakung marmangarih-arih sarwi amisik-misiki majar tan daranangret hyun anghel anangreti kapti.

138b lumungsur angesah asmu ewa raden Warastrasari sang kakung asemu guyu saha wacanamlas asih.

139a rari lah ta angawi lengkaranen kalangening sakamarga denmunggw ing dwistaning lambang mwang kidung tululngen kakanta tuna rancana sang dyah semw erang tan pangling sang lwir Smarambabar lepihan angrawit sirasumpang tanah garung tuhu kawiswara wyapakeng kalangwa.

139b linengkara karasminira sang lwir puspita ingungguhaken ing kidung kakawin neher andarung lampahira tekeng alas larangan lagi akon anggerit sira tuhan Srenggara-Yudamawani anggrit mwang sang para ksatriya asrangsrangan ri samipaning marga.

140a prasama olih kang anggerit apan dening kakehan buron sama rame anduk anumbak lyan antuk angeris.

140b ndatan kahuninga denira Makaradwaja katahing mrega sawisayeng dangu tan ana karaseng ati.

141a pijer angipuk istri anglila-lilaken wingit laris lampahira wus prapta ing Koripan awyatara dawuh pitu ndan sri narendra ring Kahuripan malih wus acadang papali pidudukan sampan mungguh ring pangastryan upacarasri muntab lwir gunung pawaka.

141b tandwa karungu swaraning tatabuhan ndan pun Bentar-Kadaton angalun tengeranira sang wus pralabdakarya sida amrih kawiryan ndan sira prameswari mangkyamapag lan sira sri narendra kapapag ring batur bayangkara sang papangantyan wus sah saking liman.

142a    lumampah angemban ing rabi prapting ayunira sira sang prabu sang stri tumurun pareng prasamawot sari.

142b    kuneng sira sri narapati mangkwamekul ring siranakira lingira aduh atmajuwitaningsun prapti.

143a    kadi katurunan putri saking kendran pangeran rasane atiningsun dera pralabdanakingsun muwah sira prameswari mangkwamekul twan Warastrasari ndan lingiraduh ayu dahat kapo sira pangeran tan larang tohana pati tumbasen ing prang adbuta.

143b    neher sama lumaris tekeng pangastryan tumuli to mangke piniduduk muwah sarwi pinangku sira raden Warastrasari sira ernpu brahmaraja prapti mangkwamamaleni sang papangantyan umreng swaraning gong tatabuhan lan genta genii pereret mwang sangka.

144a sampun sirapiduduk apti muliheng karangira ndatan sinung dera sang prabu ingajak maring jro puri. 144b dinunungaken sira malih munggwing jungut srenggara wiraga tuhu alangu sek pinajang-pajangan asri.

145a tan kawarnaheriki kuneng raden Kesawati malih sira kawuwus mangkeki binabak lungguh suka tan padrewe kapti apan atut malih sira munggwing salu wetan dera twan Warastrasari muwah enjang sang papangantyan samadan pahyas amaragy araras.

145b sami akampuh sutra liliran saha patra atumpal sweta cinitra kumitir sinjangira sami kalawan sabuk lubeng lewih  sinawang madu tinuting warna pucang wilis saha parada kemer kenditira bot tan-Jawa samanayaka weduryadikara.

146a    sama asengkang ratna pakaja rinenggeng mas sekarira mas awarna patra parijatarwan sutra wilis.

146b sama amurit ratna kostuba samagelang kana rinengga dening ratna murub samatetebus datu tri.

147a ndan sira sri narapati lan sira prameswari sampun munggah ring paselangan sami akampuh sutra bang ijo sabuk gringsing sopacara raby-aji nrepati sira mpu brahmaraja wus acadang tumuli prapta sang papangantyan kinanti denira sang makapriya.

147b munggah amangku dyah ndan apasilih sira sang nateng Gegelang sasomah anjenengi apan sira sumewaka ring sang nateng Keling umreng swaraning gong gending muwah genta genti pereret sangka sira sang paramadwija samangastuti muwah tang para bujangga.

148a wong dalem puri prasamanata semunira sang kadi Smara sama amuwus endi baya kang telenging sih.

148b twan Kesawati kalawan sira raden Warastrasari anamuwus ih aduh kaya telas sihira iki.

149a ring raden Warastrasari angresepaken twas sarah srenggara raras rum ana angling masa kabuncala dahat raden Kesawati ring warna alep angrawit pamulu gorangayoni kuciwa dening pamulw angancana drawa abangkit sira twan galuh ing Daha.

149b tangeh yan warnaha lingning mihat kuneng sira sang papangantyan wusing apapali tumuli mantuk munggah maring jro jinem mrik tansah anglengengi paturon makalepihan lukarning sinjang mrik minging atanah kasning astrapuspa rinucira raras sang lwir puspita.

150a ndan sang dyah malih wus angiring apan sampun kakenaning astra wira kusumayudatantra amunah rasmi.

150b paran manahing wanita yan tan kapuluta de sang lwir Smara pratameng karumruman wasa-wasiteng gati.

151a  kuneng sang nata ring Keling saya telas marma-sihira ing twan Makaradwaja mwang ring raden galuh brayan winong kasukan sarwy anadah sambi anininghali lalangkaran mwang tang wayangan salwir ikang kasukan tinekan dera nrepati inganggan sakarsanira.

151b awyatara made sasih mantuk rahaden mantri maring kamegetanira ring uni karang Guhyaraga arane angrawit wus amit ing sira sri bupati wongira acadang sakata munggah amregakna rabi anorojog angrawit kang angiring sopacara.

152a aglis lampahing sakata prapting Guhyaraga tumuli anjugjug maring dalem pisan sira rahaden mantra.

152b munggah ing salu kilyan ndan twan galuh ing Daha lingira amuwus alihen ingsun maring salu kidul ari.

153a raden Makaradwajangling ah sampun walang ati apan tan lyan sira pangeran wyapakaheringsun lingira Warastrasari tilikana yayi Kesawati sang lwir Smara angaras-aras sahangling anulus avunira dewa lah amit manira atmajuwita.

153b tumuli lungha aris kuneng sira Kesawati woya sira ring jungut anglilaken manah angododa lungw ing patiganing ketaka ken Sanggit Bayan aparek ing sira sami asmu karuna dodotira petak asmu jenar lan tapih sutra petak asmu jenar.

154a akusut ndatan pasusumping wury angalapi sengkang asmu balut mangkin angemu smara angenteken ati.

154b akalpika inten angrawit mangkin gumyar anempuhi lurusing jariji lagy anawang tinghal asmu tangis.

155a    tan kena sinamar dening oneng ing kakung katareng sarira angunus pan dening arang anadaha ndan ri saksana prapti sira sang sangkaning lara enti welasira neher amekul tengah nadanirasmu tangis ih dahat anglalara

kapo siratmajiwa.

155b ih depun agung ugi sapuranira ing pun Makaradwaja malar bisa anahura pukulun depun kapihutangan sih mas mirah mangke kewala manira atur laraning hredaya tan malih-malih ari pangeran mangke wekasing atur rasaning hredaya.

56a tur anganggoni kalpika mirah adikara lawan pinggel lulut kendit kemer pisan anayaka bang wilis

56b pun Angalap-Sih mangke prapti anampa wastra pik mirir sinurat kumitir lawan sinjang patawala randi.

157a    lawan sengkang manten wilis rinenggeng mas mwang sekar rukmi awarna pupulutan lingira sang kakung puniki panungkul manira dewa ken Bayan animbali sang lwir Smara anuly angemban datengeng salu wetan wus nunggah maring jinem mrik marma marmarangisapwan.

157b saha wacananrang gendis dyah sang pawakning sasih purnamaning Kartikamasa raras-raras rumira angemu lulut lah ta sanmatanana kakanta rasminteng sayana sang dyah malih lagy apanggil sinreng sampun kawawa lukaring tapih rosnikang madyangde res mar.

158a resep deranekaken kapti amisit payodara tanwun lutur runtiking wanita ingupaya ing gati.

158b sampunira mangke sarasmi winaweng pangkwan sira sang ahayu saha wuwusira saha metu-metu sih.

159a ena masa kandela atur manira puniki sang stri lingiramuwus lah wus karasa deningsun yen prayogane ambabakeringwang ih aja walang ati pan ingsun wus rowanging awor kung masa adreweya banggiya muwah yadyan saderangrehakeneringwang.

159b    sang kakung awlas lingnyaris singgy aranipun dewi anging tan lyan sira mangke kalih wyapakeringsun kalawan kakangirari pangeran sang dyah ndan lingiraris lah ateren teki malih ingsun angaturi amucang lan kaka galuh lah sahandikanira mas mirah. 160a ndan prasama tumurun kalih samangusut akampuh pik wongira angiring suruh umunggwing nanampan rukmi.

160b saksana prapting kahananira raden Warastrasari lagy anjeneng ing batur wastranira sanebab wilis. 161a ndan lingira Kesawati atur sembah lah bageya sira kaka galuh sang sinapa asmu guyu lah suruda ingsun yayi lah ta alinggiha sira yayi alungguh mangkwarep-arepan sang laki alungguh sandingira Warastrasari arsa sakwehing tuminghal .

161b    lingira Warastrasari ingsun puniki yayi dahat kapengin wruheng sira dening karungu sira yen tuhu ayu tur wicaksana lingira Kesawati ingsun muwah age wruha ring sira dening kawreta yen ayu dahat tur kawi widyajnana wicaksana.

162a prasama gumuyu iriki raden Makaradwaja asmu guyu angling

mangke wus pada katekan apanggih.

162b ndan sira sang lwir Ratih kalih adan anadah atatanjakan kabeh teki marunira samanglalawani.

163a kuneng sang prawirapekik mareng taman samuha sari sira anjabung olihira mangke katur ring sirayinira kalih makalalawuhira iriki sore sira mangkyaluwaran ndan raden Makaradwaja wus mantuk maring salu wetan anuly amrem pisan.

163b    mangkana polahireki sang dyah sama ginilir teki angalih wengi sowang nityasa kang anglewihi turon dyah Warastrasari kadarpa amunah rasmining maru sama kawengisan ndan sawongira Makaradwaja sama suka rehing wus sida prayojnana.

164a brayan suka sama anglalawani anadah sinungan dana emas pisis kampuh dera sang prawirapekik.

164b lewih sukaning wong sanagareng Kahuripan praptanira raden mantri wibuh punang nagareng Wano Keling.

165a 1ewih kotamanira sri bupati kasub kaprakasita ring jagat buwana yen tan ana prabu kadiya siradrewya rajaputra prajurit wira sakti Mahabara sastrajna wicaksana nora lyan pinakatempa-tempaning wong ring rahaden Makaradwaja.

165b    enengakena ring Keling ucapen sang prabw ing Kadiri kuneng sira prameswari sayan alutur runtikira ing twan Makaradwaja sayan karaseng ati polahira maprangaken ing sira lewih ta denira tinariman tan apti punika saya karasa.

166a kalawan dening wretanira siranakira yen ambabak lungguh marmaning ayun datenga ring Wano Keling.

166b ring esuk mangkat sri bupati sakanta greha sang mantri akrigan samandudulur ndatan kawarnaheng margi.

167a kuneng sira raden Singhamatra wus ingundang denira raden Makaradwaja tinariman jarahan sang putring Lasem ayu lewih pan ing uni rakwa dahat kinayunan denira Singhamatra Carang-Lengkara kang wikan umatur rumojong ing twan Makaradwaja.

167b    enjing ucapen sang tatariman wus ingesan sapanganggo saking twan Warastrasari ndan sang kakung panganggo saking twan Makaradwaja kang pasungsung ndatan kena winilang wus malih sacumbana antyanta sihmarmanira ring dyah samatut adulur munggwing pamreman.

168a brayan winehan dana dera Makaradwaja nityasasomah praptanangkil dahat sihira sang wirapekik.

168b kasaputan wirangira raden Singhamatra pinuket tineguh dening wirya dana de sang dibyaning jurit.

169a kuneng sang nateng Kadiri sampun prapta dinunungaken sireng taman samuha sari antyanta sukanira sri narapati mangke apapanggih lan sira bra rakanira muwah siranakira ndan winiwaha malih sira raden mantri kadbuta genging bawahan.

169b nora lyan ingucap nghing raden Makaradwaja tinata-tata ring lakunira wusing karya awyatara mangko made sasih malih twan Srenggara-Yuda teki tinariman putri ring jagaraga wastanira dyah Telakusumayu lewih ya ta tus-tusing susila.

170a    naksastranira sri bupati ring Jagaraga raras lwir sumanasa wilis tinetes sumagunangrimangi.

170b    siniram dening jebad minging munggwing nanampan emas sinamiran lubeng luhung sang dyah angroronce angrawit.

171a ndan sira sang nateng Jagaraga malih wus prapti dumunung sireng kaksatriyan ti suka sang prabu denira olih wong prawira wijna apekik tur tan wong lyan kaponakan amisan kuneng enjang sira sang nateng Keling mangke punang koni prasidanak-anak wadwa.

171b    binakta mareng jro puri dyah Tilakusuma sira sang nateng Janggalandedreweni byuh pasungsungira sira prameswari ndan muwah sira raden Makaradwaja punang koni aturun lanang suka sira sang nateng Gegelang duh mangkin sayatindih utangira.

172a    ndan sira sang nateng Kadiri milw aturun wadwan mangkwapasungsung mangkin atumpuk kwehing emas mwang ratnadi.

172b kuneng sira sang nateng Gegelang maly adan panomah kadi Guntur asri dinulu kwehing emas lawan pisis.

173a    kuneng sira Kesawati awastra canglwi randi cinitreng mas ajur atapih pik mirir alus pinggir surat lubeng lewih akemer akendit bwat tan-jawi arjasengkang manten wilis asekar mas tiningkah pupulutan rwan gedah wilis panelek inten kumenar.

173b tuhu yan ayu lewih kaduk manis wadananrang sasih lati tumurut waja sumridanta gulu tan pendah lunging sikari tan ilang tejanira rajaputri ring Singhasari dahat sih marmaning sang adrewe rabi ginilir rong wengi sowang de sang lwir Kadarpa.

174a muwah sira Warastrasari awastra sutra winilis cinitrahing emas ajur asinjang peremas randi.

174b akemer kendit bot tan-Jawi asengkang mirah katangi arjasumpang rukmi prabusatmatarwan kaca wilis.

175a panelekira ratna pakaja gumyar muwah sira rahaden Makaradwaja arjawastra wungu saka lor atumpal putih abra asabuk peremas wilis duhungira prabarawi atrap-trap singhamrajaya anatar ijo pucang alandeyan ratna pakaja.

175b asuweng weduryadi sinalageng emas adi asekar mas mandalika kinitir belengkerira anayaka bang wilis nenering ulat kadi tumetesa madu anuksmeng sarakusuma wiragaweh raganing dyah apapag liring tanwun atemah kagiwang.

176a mangkat siranunggang padati amregaken ing dyah kalih kang andulur kadi widyadarangiring surapati.

176b ndan sira raden Srenggara-Yuda tanseng wuntatikang sakatanunggang kuda jamus amepek pahyas angrawit.

177a wastranira pik mirir sinulam lalampahan sily-asih arja asabuk giringsing pinelag smaratantra lalakonyangrawit akeris atrap-trap sumengkarah asuweng mirah sekar mas tiningkah bot sih akalpika weduryamlek sumar mrik ahurap-urap kalembak.

177b

apinggel lulut amata bang wilis atetebus putih ndan sira empu Siwasmreti arsandulu mesem neher andahemi linge meh tiba udan puniki saya tanaga greh iki swaranya gumuyu sira Srenggara-Yuda tur angling apantes yan amamarna.

178a lepas lampahira twan mantri tekeng pangastryan sampun prasama kapanggih sang prabu asomahan pocarasri.

178b tumurun saking sakata twan Makaradwaja angiringaken dyah kalih marunira mangke prasamangiring.

179a enti arsaning wong andulu dera sang dyah kalih kadi Supraba Nilotama ideping andulu kuneng sira prameswaring Mamenang teka arsa mulat ing sira Kesawati lagi sinengan tumuli marek anembah sri prameswari angrangkul neher angucap.

179b    ih enggal temen sira agung lawas ingsun tan pandulw ing sira tumungkul sira sang liningan kangen sira ing sri prameswaring Singhasantun dening anunggali warnanira prameswaring Mamenang sampun prasamalinggih sira sri bupati muwah sira rakanira.

180a kuneng sira Srenggara-Yuda muwah sinengan denira sang prabu lah kaki tekanembah lingira nrepati.

180b abagus mantunisun iki anom prawira prasama gumuyu sira sang prabu sang nateng Gegelang angling.

181a arseng punang angranggoni pun Tilakusuma gumuyu sang nateng Jagaraga lingira amuwus kapalang kang angranggoni ing sira Srenggara-Yuda sama gumuyu sira sri narendra nrepati ring Gegelang angling moga tiruwa si kalawan sang amamarang.

181b    warnanen sira sang tatariman sampun ahyas wastranira petak alus sinuji sily-arsa sinjangira pinelag giringsing madanatantrakemer akendit agegelang samy awarna lulut samanayaka ratnadi asengkang kresna sinalagahing emas kumram.

182a asekar rukmi warna bot sih mangkin ayu pamulunira jenar awilis ragakarana agawe branti.

182b    duk metu ingiringaken ing sirebunira pawongan andulur sesek supenuh sirenanira angering.

183a prapti ring pangastryan marek ing sira sri bupating Kahuripan lagi manke anganti sira empu brahmaraja ndan sang nateng Gegelang anganti ing raden Srengara-Yuda dewi Tilakusuma muwah sira kinanti sinangkalpa riki tinemoken astanira.

183b sampun genep ping trini munggah sira apasilih sang dyah mangke pinalku mangkin awiletan warnanira sadewa sadewi enti arsaning wong dalem puri samangucap ih songgon sira twan mantri ring Gegelang olih wanitayu lewih sama sawawa ring kula.

184a umren swaranikang gong gending pereret sangka sampun sah acaraning janma sawuwusing apaselang mulih.

184b mantuk maring karang kaksatriyan kinasut wusning sacumbana sang laki tuhu marma resep kolihan rasmi.

185a tan kawarnaha ramening bawahan ndan awyatara mangke dawuh pitu aluwaran sang ahulun kuneng sang prawirapekik mangkyadan muwah anarimani sawongira para ksatriya rimihin jaga tatariman ing kuna punika kapitu sampun ingesan.

185b putring Mataram sasiki punika tinarimaken ing ksatriya sinelir rupanya luhung-1uhung muwah empu Siwasmreti winarang anakira mpu dyaksa ring Mamenang ahayu wicaksana rangga Wicitra sinung ken Bayan ken Sangit sinungan Banak-Sudira.

186a ki Ajaran-Wirapaksa sinun ken Pasiran ken Pangunengan sira Gagak-Prahara tinariman mangkeki.

186b tan kantun teki Caran-Lengkara tinariman Bayanira twan Kesawati Bango-Racana sinung ken Sanggit.

187a  prasama amukti rasmi sawongira tan ananing duskreta apan wus padajrih natgata kawus sakwehing kalana juti denira sang kadi hyang Parameswaratmaka apan rinarahira sakwehing dusta durjana lengkaning bumi tuhu suraksaning jagat.

187b lawan darma winuni pujastuti tang yoga samadi dana gumelar ing jagat yeki mangke etuning hyang Paramasiwatmika sredah mulat saking suksmaning taya niyata umandeli sira muwah sang Paramasiwa matahun dening budy alus niti tur dana.

188a samangkana inganing angracana carita wayang anteban ingapi sukengsun mangko sengganen kumarti.

188b makatangisning kabwatan lara kung turida ndy angenakana dady atemah kidung atembang rara Kadiri //

 

 

Senarai Pustaka

 

P.J. Zoetmulder, Kalangwan: Sastra Jawa Kuno Selayang Pandang, Jakarta: Jambatan, 1983

W.H. Rassers, De Panji-roman, Antwerpen: Boekdrukkerij D. de Vos-van Kleef, 1922

C.C.Berg, “Bijdrage tot de kennis van de Panji-verhalen”, BKI 110, 1954

S.O. Robson, Wangbang Wideya: a Javanese Panji romance, The Hague : Nijhoff, 1971

S.O. Robson, Hikayat Andaken Penurat, The Hague : Nijhoff, 1969

Poerbatjaraka, Tjerita Pandji dalam Perbandingan, Jakarta: Gunung Agung, 1968

[1] Tulisan ini sepenuhnya diambil dari catatan “cerita-cerita Panji” oleh PJ Zoetmulder  yang termaktub dalam  P.J. Zoetmulder, Kalangwan: Sastra Jawa Kuno Selayang Pandang, Jakarta: Jambatan, 1983, hlm. 532-536.

[2] W.H. Rassers, De Panji-roman, Antwerpen: Boekdrukkerij D. de Vos-van Kleef, 1922.

[3] C.C.Berg, “Bijdrage tot de kennis van de Panji-verhalen”, BKI 110 (1954), pp.189-216, pp.305-334

[4] S.O. Robson, Wangbang Wideya: a Javanese Panji romance, The Hague : Nijhoff, 1971.

[5] S.O. Robson, Hikayat Andaken Penurat, The Hague : Nijhoff, 1969

[6]  Dalam Waseng,Panji-lah yang menghilang.

[7] Nama-nama ini juga dipakai buat orang-orang lain di samping putera mahkota Kuripan dan puteri Daha.

[8]Tulisan Poerbatjaraka diambil dalam Poerbatjaraka, Tjerita Pandji dalam Perbandingan, Jakarta: Gunung Agung, 1968, hlm. XVII-XIX dan hlm.370-411.

[9] Dalarn cerita Malang-sumirang disebutkan pula Gegelang, sesuai dengan Ajisaka pupuh XV bait 58. Pada satu tempat, Centini  menyebut Urawan disamping tiga kerajaan lain, ditempat lain Gegelang, disana disebutkan Panji memperhambakan diri pada seorang paman.

[10] Kidung Sunda menyebut Kuripan, Mamenang, Singasari, Janggala, Urawan, Gegelang, Kadiri secara berderet, tapi tidak jelas hubungan yang satu dengan yang lain.

[11] Dalam Panji Semirang sudah ada “panji-panji biru”, terbuat dari sabuk Batara Guru atau Batara Kala. Tapi apa yang selanjutnya terjadi dengan panji-panji itu, tidak dikatakan dalam cerita tersebut.

[12] Dalam kata pengantarnya Klinkrert mengatakan, bahwa syair(Ken Tambuhan) “sifatnya murni Melayu, dari permulaan hingga akhir tidak ada Javanisme”. Dilihat dari sudut Bahasa ini mungkin benar, tapi dalam hubungan cerita pandangan Klinkert pasti tidak benar.

[13] Dua kata dari Malang-sumirang menyebabkan terjadinya sebuah cerita Panji Melayu, yaitu Panji susupan Mesa Kelana (Catalogus van Ronkel). Judul cerita ini terjadi dari Panji asusupan =Panji mengembara berkeliling (bait 4-5).

[14] Tapi ditempat lain dikatakan bahwa Brajanata anak seorang perempuan Papuwa

[15] Suatu perubahan nama dari Paduka Liku, sehingga disini beralasan kita mengira adanya pengaruh cerita Panji Melayu atas cerita Panji Jawa

[16] Penyamaran Panji sebagai dewa dalam cerita Panji bukan Jawa hanya kita dapati dalam Panji Kamboja

[17] Bahkan juga dalam Malat kita temukan kalimat-kalimat dan bagian kalimat yang dengan jelas mengingatkan kita kepada kalimat-kalimat dan bagian kalimat Panji Palembang.

[18] Terjemahan Cohen Stuart hanya sampai ketika Panji dipanggil oleh ayahnya

[19] Dalam lanjutan peristiwa ini, menjadi serangan seri ratu itu dengan prajurit-prajurit wanita,yang mempergunakan wewangian dan kembang sebagai senjata

[20] Juga nama puteri Kelaswara, yang kapalnya karam dan kemudian ikut bersama raja Nusa-kencana ke pulau Jawa, diambil dari Menak

[21] Tahun Wawu 1761 pada permulaan Naskah B.G. adalah waktu menyalinnya. Sebaliknya tahun Dal pada akhir naskah ialah tahun mengakhiri isi salinan. Sebab bagaimanakah mungkin orang mulai tahun Wawu 1761 dan menyudahi tahun Dal 1759? kita ambil tahun permulaan Cohen Stuart: Dje 1758 dengan 1759, maka tepat sekali. Dengan cara ini bahkan besar kemungkinan bahwa naskah B.G. itu adalah salinan yang lebih baru dari babon yang satu dan sama dengan naskah Leiden

[22] P.B. IV amat gemar kesusastraan. Karena itu pendidikan putera mahkota, bakal gantinya, dipercayakan kepada Yasadipura I, pujangga Solo yang pertama dan sekaligus pula yang meletakkan dasar bagi kesusastraan kesultanan. Perwaliannya itu tidak sia-sia. Sebab Centini yang amat indah itu diciptakan atas anjuran putera mahkota tersebut.

[23] Pendahuluan cerita Panji pada Raffles, seluruhnya berdasarkan bagian dari Serat Kanda. Tatkala Raffles membuat catatan-catatannya, rupanya Jayalengkara belum ada dalam bentuknya yang demikian.

[24] P.B. IV dua kali kawin dengan puteri Madura. Setelah meninggal ibu P.B. V, ia (PB IV)  kawin dengan adiknya,yang kernudian (sang adik ini) menjadi ibu P.B. VII

[25] Pada waktu itu di istana Madura, orang berbicara dan membaca bahasa Jawa.

[26] Bahasa CaIon-arang lebih tepat digolongkan kedalam bahasa Jawa Tengahan daripada bahasa Jawa Kuno.

[27] dikutip dalam karangan Hazeu. Dalarn catatannya, Hazeu menganggap “moslemitisch”, aneh. Menurut anggapannya rnestinya seorang bukan Muslim yang membawa Panji ke Siam; tapi melihat penjelasan kita di atas “moslemitisch” itu sama sekali tidak aneh.

[28] Nilai keseniannya yang tinggi narnpak dijelas pada naskah Palembang. Demikian besar sukses yang diperolehnya sampai orang menjadikan Panji mempunyai anak-anak, yang menjadi pelaku utama dalam cerita “sambungan” cerita-cerita Panji.

[29] Menurut keterangan pribadi Dr. Cense, dalam bahasa Makasar ada sebuah Hikayat. Cekele (Cekel).

[30] Kidung Wangbang Wideya dengan metrum Jawa tengahan, menurut Zoetmulder memiliki mutu sastra yang baik. Iktisar Wangbang Wideya suntingan S.O.Robson belum sempat dimasukkan dalam telaah perbandingan Poerbatjaraka karena terbit belakangan. Lampiran teks Wangbang Wideya dalam bahasa Jawa tengahan ini diambil dari S.O.Robson, Wangbang Wideya, The Hague: Martinus Nijhoff, 1971, pp.58-241

No comments yet.

Leave a Comment

All fields are required. Your email address will not be published.