Aku ingin hidup seperti kupu-kupu

berwarna-warni di bawah sinar matahari

Mata Hari

Kisah itu berawal dari Paris dan berakhir juga di Paris. Dia akbar di panggung hiburan dan berhenti di panggung pengadilan militer yang kaku serta kejam. Dia penari penghibur  yang berakhir tragis, seolah bertukar nasib dengan penerusnya—sang “penari pisang” Josephine Baker—yang menerima tiga penghormatan sekaligus: Croix de guerre, Medaille de la Resistance pemberian jenderal de Gaulle, serta Legion d’honneur warisan Napolen Bonaparte. Semua untuk Perancis. Di waktu yang berbeda mereka melakukan hal yang sama. Baker menjadi mata-mata sama halnya dengannya, menjadi penari eksotis yang masyur di Paris sama halnya dengannya. Tapi Baker menjadi muse abadi bagi para pengagumnya—dari Ernest Hemingway, sang don juan Pablo Picasso, hingga Christian Dior—sedang  dia terpuruk sepi dengan predikat menakutkan: femme fatale.

Dialah Mata Hari, wanita paling sensasional seantero Eropa kala benua biru itu jatuh dalam masa gelap Perang Dunia Pertama awal abad keduapuluh [bermula pada 28 Juli 1914 hingga tamat pada 11 November 1918]. Mata Hari harus dikorbankan mati demi perdamaian Eropa, terutama demi Perancis.  Ia harus ditempatkan sebagai scapegoat atas kematian ribuan tentara Perancis akibat kegiatan klandestinnya untuk Jerman, musuh utama Perancis. Dia memang mata-mata dan semestinya memang banyak mata-mata bersliweran di kala perang, baik yang bekerja untuk  Triple Entente [Perancis-Inggris Raya-Rusia] ataupun bagi Mittelmachte (Jerman-Austria Hungaria-Italia].

Namun nama Mata Hari sebagai seorang mata-mata menjadi sekian kali lebih menarik perhatian bagi siapapun daripada nama mata-mata lain di seantero perang dunia pertama atau jelas punya nilai sekian kali lipat untuk dipersalahkan pihak Perancis daripada menyebut  pseudonim Clara Benedix yang telah membuat geger para “pemikir” MI5 [Military Intelligence section 5] Inggris jauh-jauh hari. Itu karena nama Mata Hari telah tersohor sebagai penari dan courtesan (gundik) eksklusif di Eropa. Dia mengingatkan kembali sosok Nyai Dasima di Batavia di masa penguasaan Inggris di bawah Sir Thomas Stamford Raffles [1811-1816], wanita Jawa eksotis yang memikat banyak mata laki-laki ibukota. Mereka wanita jenis tertentu yang mengundang decak kagum sekaligus caci maki hingga dalam level paling rendah dengan cepat mampu menaikkan sentimen kebencian orang-orang saat mereka dianggap melakukan kesalahan. Mereka mati mengenaskan. Dasima dibunuh di Batavia dan seabad kemudian Mata Hari tutup usia di depan regu tembak di pinggiran Paris. Sensualitas yang mereka miliki menghasilkan mara bahaya. Mereka harus lenyap dan kesalahan Mata Hari menurut pengadilan adalah menjadi agen ganda: dia memberi “madu dan racun” bagi Perancis juga Jerman, dua kutub yang saling berseberangan.

Garis hidup Mata Hari berakhir dengan selembar kertas. 10 Februari 1917, tepat selusin hari sebelum Dinasti Romanov dibawah Tsar Nikolas II dikejutkan gerakan buruh dalam revolusi Februari di Petrograd, sebuah surat perintah penangkapan ditandatangani oleh menteri perang Perancis, Louis Hubert Lyautey, jenderal berbadan kurus yang pernah berujar “perang Eropa merupakan kebodohan paling monumental yang pernah dilakukan [manusia]”. Lalu aparat segera bertindak cepat, tiga hari setelahnya [13 Februari 1917] dinas rahasia Perancis dibawah komandan Albert Priole mengetuk  pintu kamar Hotel Elysee Palace bernomor 113 di Paris, tempat Mata Hari menginap selama beberapa minggu.

Entah mengapa Mata Hari memilih kamar dengan elemen angka keramat 13 dan “dijemput” ditanggal [13] itu pula. Angka sial yang memunculkan penyakit triskaidekaphobia orang-orang Eropa selepas Abad Pertengahan. Mungkin itu hanya takhayul tapi nyatanya nasib sial memang dialami Mata Hari. Petugas membawa surat perintah penahanan yang tertulis jelas: “Madame Zelle, Margarethe dengan nama Mata Hari, agama Kristen Protestan, lahir di Belanda 7 Agustus 1876, tinggi 1,75, bisa membaca dan menulis, telah dinyatakan bersalah sebagai mata-mata yang menyebarkan berita ke musuh”. Mata Hari pasti terperanjat, dia belum selesai menyantap sarapannya dan—dalam rumor paling liar—dia masih telanjang.

Penangkapan dimulai dan penggeladahan segera dilakukan. Mata Hari tambah ketar-ketir. Dinas rahasia Perancis menemukan tinta rahasia di kamarnya. Dia mengaku itu adalah bagian dari makeup-nya. Mata Hari mencoba berpura-pura tidak tahu apa-apa. Dia memperlihatkan wajah lugu. Tapi Mata Hari begitu panik luar biasa saat dibawa pergi.

Saat itu juga Mata Hari datang ke penjara Saint Lazare, sebuah gedung bekas rumah sakit Lepra yang menjadi penjara sejak pemerintahan teror Perancis [5 September 1793 – 28 Juli 1794] dimana banyak sastrawan, seniman, dan politikus pernah mendekam di tempat ini dan baru tahun 1898 Lazare menjadi penjara wanita. Mata Hari menempati sel nomor 12 yang juga pernah ditempati Marguerite Steinheil, gundik fenomenal seperti dirinya. Ini mungkin pengalaman pertamanya, menatap dinding beku Lazare seperti sosok anarkis la Louve rouge—Louise Michel—yang juga pernah merasakannya dinginnya lantai Lazare, sambil mengingat penggalan puisi untuknya;

Today, go blossom in the shadow of the black and sad prisons.

Go, bloom near the somber captive,

And tell her truly that we love her.

Tell that through fleeting time

Everything belongs to the future…

Semua hal memang akan menjadi bagian dari masa depan dan Mata Hari tidak pernah tahu apa yang bakal terjadi berikutnya. Yang pasti, Lazare menjadi langkah awal hidupnya yang menyedihkan dari penjara ke penjara sebelum dihempaskan di lapangan kematian di pinggiran Paris. Sang penari itu juga tidak pernah tahu bahwa sang kekasih Masloff menghujaninya kata-kata indah dalam surat-surat yang tidak pernah dibacanya. Dua hari selepas penangkapannya, sepucuk surat mampir ke hotel tempatnya menginap dulu. Mata Hari pasti akan menangis sendu dalam keterkurungannya jika ia membaca untaian kata lelaki muda yang memuja cintanya seperti ini;

…Aku selalu berkhayal engkau disampingku, hingga aku bisa membisikkan kata-kata cinta ke telingamu … aku selalu memimpikanmu begitu kuat dan aku lupa itu hanya mimpi. Aku mencintai kamu …aku kirimkan cinta dan rindu yang dalam [untukmu], membalut tubuh indahmu dengan ciuman[ku]…

Surat ini nyata tidak pernah dibacanya. Saint Lazare mengunci rapat tubuh dan pikiran Mata Hari dari dunia luar. Penangkapannya tidak pernah dibeberkan pada publik. Ia kala itu hanya sibuk melayani Pierre Bouchardon, bukan dengan tubuhnya tapi kata-kata jujurnya. Entah apakah Mata Hari pernah membujuk jaksa militer bertubuh kurus itu dengan menggadai tubuhnya untuk  pembebasan atau tidak, yang pasti Mata Hari mendekam di Lazare selama hampir 6 bulan sebelum menghadapi juri militer yang sebenarnya di pengadilan militer. Hari-hari penuh siksa bagi wanita yang selalu dikerumuni publik kala tampil menari, berhubungan dengan banyak pria, dan tinggal di hotel-hotel mewah. Ia harus bertatap mata dengan Bouchardon tidak kurang dari 17 kali untuk interogasi.

Mata Hari berusaha berujar jujur pada Bouchardon dan selalu membantah bahwa dirinya agen ganda yang berbahaya. Dia merasa tidak bersalah sama sekali dan tegas menyebut bahwa ada seseorang yang mempermainkannya. Dalam waktu-waktu terakhir, Mata Hari sedang dalam tugas mata-mata untuk Perancis dan bertindak berdasarkan instruksi-instruksi petinggi dinas rahasia Perancis. Tapi Bouchardon tidak percaya sama sekali.

Saint Lazare tidak seperti Elysee Palace atau hotel yang penuh kenyamaan. Lazare adalah selayaknya penjara masa itu. Tempat yang tidak ingin didatangi siapapun untuk tinggal dalam waktu lama seperti petikan syair Aristide Bruant, “C’est la misere. Ici tout l’monde est decave. La braise est rare. Faut trois mois pour faire un linve a Saint-Lazare!”. Lalu siapa yang akan senang tinggal di sana, termasuk juga Mata Hari. Lazare tidak memiliki kamar mandi yang bisa dia gunakan secara leluasa, sehingga satu-satunya cara agar dia bisa membersihkan dirinya adalah dengan semangkuk kecil air yang terkadang dibawa ke dalam selnya. Mata Hari begitu tertekan saat menyadari betapa pengap dan kotornya penjara. Dia terasing karena terisolasi dan tidak diperkenankan berkumpul dengan tahanan lain. Isolasi ini mungkin untuk perlindungannya sendiri dari narapidana lain yang akan bertindak nekat menciderainya karena rasa benci pada sosok yang dianggap mata-mata Jerman itu.

Mata Hari hanya diberi waktu sekira15 menit sehari untuk berada di luar kamar selnya. Keadaan itu semakin menyiksanya, membuat batinnya merana dan dia menulis surat untuk Bouchardon dengan penuh iba;

Anda telah membuat saya menderita luar biasa. Saya benar-benar gila. Saya mohon padamu, akhiri semua ini. Saya seorang wanita. Saya tidak kuat lagi.” “Saya mohon, berhenti membuat saya menderita di penjara ini. Saya sangat lemah dan sel ini membuatku gila. Saya tidak melakukan kegiatan mata-mata di Perancis … Berilah saya kebebasan sementara. Jangan menyiksa saya di sini.

Tulisannya sia-sia. Bouchardon tidak bergeming sama sekali. Hingga akhirnya pada 21 Mei 1917 Mata Hari buka suara bahwa ia memang pernah diminta oleh diplomat Jerman untuk  memata-matai Perancis dengan bayaran 20.000 frank. Tetapi ia tidak pernah melakukan tugasnya dan hanya mengincar uang itu sebagai ganti atas hilangnya beberapa barang di kereta saat dia “diculik” oleh militer Jerman.

Skak mat! Ucapan itu menjadi blunder paling dahsyat dari Mata Hari. Hari-hari akhirnya semakin mendekat karena ruang pengadilan telah menunggunya. Alasan Mata Hari bahwa dia hanya mengincar uang dari Jerman dan enggan melaksanakan tugasnya tidak mempengaruhi pikiran Bouchardon bahwa sang penari itu bekerja untuk Jerman. Bouchardon merasa telah cukup bukti bahwa sesungguhnya Mata Hari memang agen ganda dan segera mengirim Mata Hari ke Palais de Justice [gedung pengadilan].

Di awal Juli 1917, Il de la Cite telah menanti Mata Hari. Pulau di tengah sungai Seine yang membelah Paris itu memiliki pemandangan indah dan di tempat itu pula berdiri Palais de Justice. Mata Hari segera masuk La Conciergerie yang menjadi bagian dari Palais de Justice. Dia merasakan kembali nuansa penjara. Tapi kali ini dia berada di dekat katedral Notre Dame, gereja gotik yang dipersembahkan bagi Bunda Maria. Entah apakah dalam kesunyian penjara, Mata Hari turut berdoa dan menangis kala lonceng di menara kembar Notre Dame berdenting atau dia mengingat kisah Notre-Dame de Paris Victor Hugo yang syahdu. Atau mungkin Mata Hari semakin meratapi hari-hari mengenaskan di sel barunya itu. Dia pasti mengetahui bahwa Conciergerie merupakan tempat masyur berjuluk antechamber to the guillotine semasa Revolusi Perancis. Mata Hari pasti pernah mendengar bahwa sosok negarawan besar Robespierre pernah terpenjara di sana sebelum mati terpancung pisau guillotine atau mengingat kembali ratapan putri cantik Maria Antoinette di tempat itu sebelum menemui takdir yang sama, mati terpancung guillotine, setahun sebelum Robespierre. Yang pasti Mata Hari menunggu detik-detik persidangan dengan penuh ketegangan di Conciergerie. Dan akankah ia bernasib sama malangnya: mati?? Itu pasti ada dalam benaknya. Meski cemas, selama masa menunggu itu setidaknya Mata Hari diperbolehkan untuk membawa serta pakaian-pakaian kesukaannya. Pada 19 Juli 1917 sepatu boot, pantalon, korset, blus, dan beberapa baju miliknya tiba di Conciergerie menemani Mata Hari untuk sidang perdananya.   

Mata Hari sesungguhnya tidak  selalu sendirian. Selama berada di Saint Lazare hingga Conciergerie, dia selalu ditemani pengacara tua  Edouard Clunet yang pernah menjadi kekasihnya dan masih memiliki perasaan hangat terhadapnya hingga saat itu. Entah mengapa otoritas Paris memilihkan Clunet sebagai pengacaranya karena sesungguhnya Clunet merupakan pilihan buruk untuk menangani kasus spionase karena dia tidak punya pengalaman dibidang hukum intelejen. Dan hasilnya memang sia-sia. Disamping sang pengacara, ada dua orang yang juga sering mendampingi Mata Hari: Justine Julie Lateuligne alias souer [suster] Leonide serta pastor Jules Arboux. Mereka lah yang menemani Mata Hari hingga jam-jam terakhir hidupnya.

Pada 24 Juli 1917, pengadilan dimulai dan tidak perlu menunggu waktu terlalu lama. Sidang perdana Mata Hari digelar ditengah-tengah persiapan Jenderal Hubert Gough menyerbu frontal tentara Jerman di front barat [Belgia]: Ypres “salient”. Palais de Justice segera dikerumuni banyak orang. Di sebuah ruang sidang yang berornamen kayu dengan langit-langit berlapis cat emas dan terkenal dengan sebutan Cour d’Assises, tujuh hakim militer berumur diatas 50 tahun yang dipimpin oleh letnan kolonel Albert-Ernest Somprou telah siap membahas kasus Mata Hari. Sekira jam 1 siang, dengan topi tricorn dan blus biru, Mata Hari duduk menghadap para hakim. Dengan selalu memegang cermin dan juga lipstik, dia berusaha tegar dan tidak menangis. Dia siap disidang.

Awalnya sidang terbuka dan kerumunan orang-orang yang memadati ruang depan kamar sidang begitu penasaran dengan jalannya sidang “simbol seks” Eropa itu. Tapi segera seorang letnan bertubuh ramping dengan muka penuh janggut dan kumis meminta sidang “in camera”, sidang tertutup. Dialah Andre Mornet yang bertugas menjadi jaksa penuntut menggantikan Bouchardon beberapa hari sebelum sidang digelar. Sidang tertutup dikabulkan hakim ketua dan kerumunan orang yang memadati ruang sidang segera diusir keluar. Media massa tidak bisa lagi meliput jalannya sidang secara detail. Tindakan ini dimaksudkan agar rahasia militer Perancis tidak terbuka ke publik akibat sidang Mata Hari. Ini demi keamanan nasional.

Sidang berjalan dan sang jaksa penuntut segera bereaksi, merangkai kalimat retoris. Mornet jelas orang pandai yang berpengetahuan luas. Ia menyebut Mata Hari “sang putri Salome yang bermain dengan kepala-kepala tentara Perancis”. Dengan hati-hati Mornet mulai menguraikan kasus Mata Hari. Dia mata-mata ganda berbahaya yang layak dihukum. Sejak tiba di Paris Mei 1916, dia telah diawasi karena banyak bergaul dengan perwira militer dari pelbagai negara. Dia dianggap bekerja untuk Jerman saat Perancis berhasil menyadap pesan radio rahasia Militer Jerman di Madrid yang dikirim ke Berlin dan menyebut-nyebut agen H21. Banyak  anggota intelijen Perancis hingga Mornet sendiri percaya bahwa sang agen adalah Mata Hari. Diakhir kata, Monet kembali membuat retorika. Menyebut sang terdakwa bak “Messalina yang menyeret sekumpulan lelaki pengagumnya di belakang kereta kuda”. Kejahatannya sulit diterima dan terdengar ungkapan bahwa dia adalah seorang pendukung Jerman baik secara fisik maupun hatinya. Mata Hari terdiam tidak berdaya dan Clunet juga tidak diperbolehkan menghadirkan saksi warga sipil untuk meringankan Mata Hari. Beberapa saksi dari kalangan militer yang pernah dekat dengan Mata Hari juga tidak dihadirkan demi reputasi mereka. Dan beberapa saksi hanya memberi testimoni yang menyudutkan sang terdakwa. Di hari pertama, Mata Hari tidak mampu berbuat banyak dan sidang segera dihentikan.

Hari berikutnya, pagi jam 8.30 sidang kedua dimulai dengan membacakan surat pernyataan dari Masloff, kekasih Mata Hari. Betapa mengejutkan saat sang terdakwa mendengar pernyataan sang kekasih bahwa dia sudah tidak lagi memiliki ikatan dengan terdakwa dan menyangkal bahwa dia akan mengawininya. Bahkan Masloff membeberkan Mata Hari juga pernah menggali informasi darinya. Masloff semakin menguatkan anggapan bahwa cinta antara dua manusia tidak ada yang abadi, tidak ada ketulusan murni . Pernyataannya adalah untuk menghindari masalah. Dia tidak mau dilibatkan dalam kasus sang kekasih yang pernah dipujanya setengah mati. Mata Hari tidak percaya kekasih yang dicintainya itu justru tidak membelanya dan semakin membuatnya terpuruk di pengadilan. Mendengar pernyataan Masloff, Mata hari hanya bisa tertunduk lesu dan tidak mampu bicara apapun.

Sidang kedua tidak berbeda dengan sidang pertama. Semua menyudutkan Mata Hari. Tapi ada satu keajaiban saat seorang pejabat tinggi di kementerian luar negeri Perancis datang ke pengadilan. Henry de Marguerie bersaksi untuk Mata Hari yang telah dikenalnya selama 14 tahun dan pernah menjadi kekasihnya. Marguerie berkata bahwa terakhir berjumpa dengan terdakwa saat kembali ke Paris seusai pulang dari front pertempuran. Dia bertemu Mata Hari dan tidak bicara tentang perang sama sekali. Sang pejabat ini mencoba meringankan Mata Hari. Mornet sulit untuk percaya dan mencoba menekan Marguerie, “Apakah Anda meminta kami untuk percaya Pak, bahwa Anda menghabiskan tiga hari terus-menerus bersamanya dan tidak bicara tentang  perang sama sekali?”

Jawaban Marguerie begitu tegas, “Saya orang yang begitu sibuk, dan saya selalu dihantui dengan perang siang dan malam. Begitu sangat menyenangkan kala menghabiskan tiga hari berbicara filsafat, seni India, dan cinta. Ini mungkin tampaknya tidak mungkin untuk Anda, tetapi ini adalah kebenaran. Tidak ada yang bisa mengubah pandangan baik saya terhadap wanita ini”.  Marguerie selesai dan sebelum meninggalkan ruang sidang, dia membungkuk memberi hormat pada wanita yang dihargainya itu. Mata Hari tersenyum membalas salam Marguerie. Dia sedikit terhibur.

Tapi kesaksian Marguerie tidak mengubah apapun. Sidang telah berjalan sekira 45 menit dan keputusan final telah ditetapkan. Mata Hari dianggap bersalah, diberi label sebagai mata-mata terbesar sepanjang masa, berbahaya, dan harus dihukum mati di depan selusin penembak jitu Perancis. Satu lagi beban yang harus ditanggung Mata Hari: membayar semua biaya pengadilan.

Mata Hari begitu tergegau luar biasa mendengar keputusan itu. Dia terpaku menatap lurus ke depan. Matanya nanap dan keringat membasahi tubuhnya. Dia tidak percaya, berkali-kali dia bertutur bahwa itu tidak mungkin, tidak mungkin sama sekali. Sekian detik kemudian dia hanya bisa terakuk lesu. Sementara sang pengacara, Clunet, hanya bisa menangis di sampingnya. Dia serasa bersilih nasib dengan Madame Henriette Caillaux, sang pembunuh berdarah dingin yang akhirnya dibebaskan dalam sidang di ruang yang sama, tiga tahun sebelumnya. Mata Hari tidak terima. Dia merasa tidak bersalah. Tapi alih-alih sandiwara telah selesai dan Mata Hari menunggu mati.

Dia segera dikirim kembali ke Saint Lazare dan lekas menulis surat untuk Pemerintah Belanda lewat konsulatnya di Paris, meminta pertolongan supaya bisa mendapat keringanan hukuman. Dia bersama Clunet juga meminta grasi pada presiden Perancis Raymond Poincare, selepas pengajuan bandingnya ditolak pengadilan pada 17 Agustus 1917. Tapi waktu terus berjalan dan tidak ada kepastian jawaban atas apa yang diminta oleh Mata Hari. Dia menjadi semakin frustasi dan putus asa. Berat badannya bertambah dan mukanya semakin meredup layu, semakin lunyai. Tidak ada satu orangpun yang sanggup menolongnya. Hari-harinya dipenuhi dengan perasaan gundah menunggu pertolongan atau kematian. Dia hanya ditemani Souer Leonide dalam sepinya Saint Lazare.

Senin 15 Oktober 1917,  masa menunggu telah habis dan keputusan pengadilan segera dilaksanakan. Di musim gugur serta saat umat Katolik sibuk mendaraskan 150 Mazmur  selama perayaan bulan Rosario, waktu hidup Mata Hari telah selesai. Dia telah menjalani sepinya penjara selama sekira 3 bulan. Hari itu, sang terpidana mati harus segera menjemput ajalnya. Mata Hari tidak pernah tahu dan memang tidak pernah diberi tahu kapan waktu eksekusi.

Jam 04.00 Kapten Bouchardon yang bertugas memimpin penjemputan segera bergegas menuju sel terpidana mati. Mata Hari masih tertidur pulas karena pemberian obat penenang malam sebelumnya. Dia segera dibangunkan dan Bouchardon tegas berucap, “kumpulkan keberanian Anda! Permohonan grasi Anda telah ditolak oleh Presiden Republik. Waktu penebusan telah datang”. Mata Hari segera menangis. Dia terpaku tidak berdaya akan akhir hidupnya yang tragis. Dia diberi waktu 20 menit untuk mempersiapkan diri. Tapi dia hanya bisa duduk di ranjang sembari memegang erat tangan soeur Leonide yang juga ikut menangis. Penjaga segera memilihkan pakaian yang akan dikenakan Mata Hari.

Perlahan-lahan Mata Hari mulai menguasai dirinya dan berujar lirih pada soeur Leonide bahwa dia telah siap. Dia akan segera tahu bagaimana rasanya mati. Dia bergegas mengenakan gaun abu-abu, topi dan kerudung, mantel biru, serta sarung tangan hitam yang telah dipilihkan oleh petugas sebelumnya. Dan itu masih kurang. Mata Hari bertanya pada dokter Bizard, dokter penjara Saint lazare, apakah dia diperbolehkan memakai korset. Sang dokter mengangguk dan Mata Hari telah siap. Pastor Aboux datang dan membabtisnya dengan air dari mangkuk penjara. 20 menit telah berlalu, tapi Mata Hari meminta tambahan 10 menit lagi. Dia ingin menulis beberapa surat. Persetujuan diberikan langsung oleh Kapten Bouchardon dan pena, tinta, kertas, serta amplop segera diberikan kepadanya. Sekian detik kemudian, pengacaranya Edouard Clunet membuat kejutan dengan berkata bahwa Mata Hari tengah mengandung anaknya. Petugas terkejut karena jika itu benar, Mata Hari tidak akan dieksekusi sebelum melahirkan anaknya. Dan Mata Hari sama terkejutnya dengan pernyataan Clunet. Dia buru-buru membantah dengan sekilas rasa terima kasih kepada pengacaranya itu. klaim Clunet telah gagal. Mata Hari segera duduk sendiri di tepi tempat tidur dan menulis surat dengan tergesa-gesa. Surat itu untuk anaknya Non, mantan kekasihnya Masloff, serta untuk Henri de Marguerie. Dia menyerahkan semua surat itu pada pengacaranya. Saat semua telah selesai, dia telah benar-benar siap.

Kala itu, waktu menunjukkan pukul setengah 5 pagi dan Mata Hari meninggalkan Saint Lazare ditemani Clunet, soeur Leonide serta pastur Arboux. Di luar, udara begitu dingin. Suhu berada dibawah 2 derajat Celcius dan pemandangan dikaburkan oleh kabut sungai. Mobil militer yang membawa Mata Hari bergegas keluar Paris menuju ke arah timur di kala sinar matahari belum sepenuhnya terlihat.

Sepanjang perjalanan, Pastur Arboux tidak henti-hentinya membacakan ayat demi ayat dalam Alkitab. Entah Mata Hari menjadi lebih tenang atau justru dia semakin cemas. Sekira 30 menit kemudian, rombongan itu telah sampai di Chateau de Vincennes, sebuah kastil yang dibangun Luis VII di awal abad 12 Masehi dan serdadu Jerman pernah menyerbunya pada 1870. Mata Hari tidak dibawa ke lapangan atau diturunkan di dekat parit benteng seperti kisah tragis Louis Antoine de Bourbon, penguasa Enghien, yang mati ditembak di sana pada masa Napoleon Bonaparte. Mata Hari jelas tidak dieksekusi mati di dekat kastil. Dia dibawa sejauh lebih dari 3 kilometer arah selatan lapangan kastil. Sebuah tempat yang dikenal sebagai lokasi latihan militer kavaleri. Tanahnya tidak begitu rata, ditumbuhi banyak rumput berduri serta dikelilingi dengan banyak pohon Beech dan Poplar yang saat itu sedang meranggas.

Iringan mobil segera berhenti. Kabut tidak lagi begitu tebal meski hari masih pagi. Mata Hari pasti melihat sekumpulan tentara yang telah menunggu di antara pohon-pohon yang menjulang tinggi. Mereka adalah serdadu dari resimen Zouaves yang memiliki kisah legendaris saat bertempur dengan serdadu Jerman di Verdun. Duabelas serdadu itu terdiri empat prajurit biasa, empat kopral, dan empat sersan dengan usia yang masih muda. Semua serdadu telah siap dengan senapan masing-masing. Mereka menunggu dalam dua baris yang rapi.

Mata Hari turun dari mobil dan melangkah menuju titik tembak. Dia didampingi oleh soeur Leonide. Sepanjang langkah, Mata Hari berbicara pada soeur, memohon agar sang suster selalu melafalkan doa-doa pendek untuk dirinya setiap hari. Betapa trenyuh hati sang suster hingga berjanji pada Mata Hari bahwa dia akan selalu membacakan doa untuknya. Mata Hari telah tiba ditempatnya. Pastur Arboux datang menghampiri untuk membacakan ayat-ayat Alkitab. Lalu seorang perwira mendekat membawa kain putih. “Haruskah saya pakai itu?”, tanya Mata Hari saat matanya sekilas melirik penutup mata itu. Clunet yang juga datang mendampingi, mempertegas pertanyaan Mata Hari. “Jika Madame memilih untuk tidak memakainya, tidak ada bedanya”, jawab sang perwira yang buru-buru berpaling. Mata Hari segera memeluk soeur Leonide dan mengucapkan selamat tinggal sembari setelahnya menerima segelas rum untuk terakhir kalinya. Dia juga memohon agar tidak diikat pada tiang, dia ingin berdiri sendiri dan hal itu terkabulkan. Tidak ada penutup mata dan tidak juga terikat di tiang. Mata Hari siap menghadapi kematiaannya dengan penuh keberanian.

Semua yang mendekat perlahan-lahan menjauhi Mata Hari. Eksekusi akan segera dilaksanakan. Saat itu sinar matahari telah muncul jam 06.11 dan Mata Hari bersiap, berdiri sendirian dengan sepatu bootnya yang sedikit kotor akibat lumpur. Dia menghadap regu tembak tanpa berkedip. Dubelas serdadu berseragam khaki dan fezzes merah itu telah mengangkat senapan dan menempelkan pangkalnya di bahu mereka. Sementara seorang serdadu berdiri di belakang mereka dengan pedang terhunus ke atas. Dia segera menghitung dan ketika pedang itu diayunkan ke bawah dengan kilatan sinar matahari yang menyertai, seketika itu juga keduabelas penembak segera menyalakkan senapan dengan arah yang jelas: dada Mata Hari. Saat itu waktu menunjukkan jam 06.15.

Dalam standar eksekusi tembak tentu hanya satu peluru tajam yang digunakan tapi tidak untuk Mata Hari. Keduabelas senapan itu semua terisi peluru tajam. Dalam rumor yang berkembang Mata Hari bahkan juga melakukan hal gila. Ada kisah dia meniup ciuman ke regu penembak serta melepas mantel bulu hingga pakaiannya, lalu memamerkan ketelanjangan agar semua tembakan meleset. Tapi itu cerita dusta karena Mata Hari tidak sedikitpun bergerak saat tembakan menggelegar. Satu peluru mungkin meleset tapi sebelas lainnya tepat menemui sasarannya.

Mata Hari tidak langsung mati. Dia tampak terhuyung-huyung lalu rubuh berlutut menahan kesakitan. Dan tanpa perubahan ekspresi sedikitpun di wajahnya, dia menatap langsung pada mereka yang telah mengambil hidupnya. Lalu ia jatuh ke belakang dengan wajah menatap ke arah langit. Sakaratul maut telah datang. Seorang serdadu yang didampingi seorang serdadu lainnya menarik pistol dari sarung hitam yang diikatkan sekitar pinggangnya. Dia lalu membungkuk serta menempatkan moncong revolver ke pelipis kiri Mata Hari. Dia lalu menarik pelatuk hingga sebuah peluru merobek kepala Mata Hari. Coup de grace. Drama telah selesai dan Mata Hari telah mati pagi itu juga.

Sehari setelah pelaksanaan eksekusi, tepat di kala negeri koloni Hindia Belanda melaksanakan pemilihan umum Volksraad yang dimenangkan kaum liberal, pelbagai media massa internasional membicarakan Mata Hari. The Time memberitakan “penari Mata Hari telah dihukum tembak”. Daily Express juga melangsir berita “Spion cantik Mata Hari dihukum mati”. New York Times menulis, “penari dan petualang Mata Hari dijatuhi hukuman mati. Dia diambil dari penjara Saint Lazare dan dibawa ke Vincennes untuk dihadapkan regu tembak”. Le Figoro menurunkan kabar, “spion Mata Hari dihukum mati dan mayatnya dikubur di Vincennes”.

Sesungguhnya tidak ada makam Mata Hari. Karena tidak ada satupun keluarga yang mengklaimnya, maka tubuh Mata Hari berakhir di meja bedah rumah sakit di Paris untuk praktik dokter-dokter muda. Kepergian Mata Hari semakin “sempurna” saat dua tahun selepas kematiannya, Non [Jeanne-Louise] yang menginjak usia 21 mati menyusulnya. Sang anak berencana berlayar ke Hindia Belanda untuk jadi guru. Di malam sebelum menumpang kapal uap yang akan membawanya menggapai masa depan, dia tidur dan meninggal akibat pendarahan otak.

Lenyap sudah garis kehidupan Mata Hari. Kematian adalah takdir sejarah dan Mata Hari tidak sanggup mengulang kata“sometimes I lose, sometimes I win”. Sejak berdiri sendirian di dekat kastil Vincennes, dia telah sepenuh-penuhnya kalah. Dia tidak seperti Batari Durga, pendamping Siwa yang dikaguminya, yang mampu meruntuhkan maskulinitas kaum batara. Mata Hari telah “moksa” dan jiwanya—seperti keinginannya sendiri—terbang bebas seperti kupu-kupu di bawah sinar matahari yang hangat di kala pagi hari.

No comments yet.

Leave a Comment

All fields are required. Your email address will not be published.