Jika ada orang-orang yang peka akan keindahan alam, datanglah ke sini

Jawa

Mereka akan menjadi bisu karena terpesona

Comte de Beauvoir

1 Mei 1897, Margaretha begitu tidak sabar menanti di pelabuhan Amsterdam. Awalnya, pada September 1896, suaminya dianggap telah cukup sehat untuk bertugas. Tetapi dia tidak dapat segera kembali karena Margaretha hamil untuk pertama kali. Empat bulan setelahnya, 30 Januari 1897, Margaretha melahirkan seorang putra Norman John MacLeod. Dan akhirnya setelah Norman berusia lima bulan, Margaretha dapat berangkat.

Di awal paruh pertama abad 19 Masehi itu, dia bersama keluarga kecilnya mengarungi petualangan baru menuju negeri koloni di timur, tujuh tahun selepas terbitnya The Malay Archipelago terakhir gubahan Alfred Russel Wallace yang memberi garis ecozone imajiner antara Asia dan Australia. Koloni ini bernama resmi Nederlands Indie, pedagang-pedagang Arab mengenalnya sebagai Jaza’ir al-Jawi, atau pandangan Eduard Douwes Dekker yang menyebut istilah insulinde serta James Richardson Logan dan Adolf Bastian  yang menyebut-nyebut nama Indonesia, tapi  nama ini tidaklah popular di masa Margaretha datang. Sayup-sayup terdengar istilah lokal yang menyeruak dan mungkin pernah terdengar di telinga Margaretha: Nusantara.

Pulau-pulau di negeri ini, khususnya Jawa, merupakan Mooi Indie yang digandrungi pelancong luar. Orang-orang Eropa telah mengenalnya lewat pelbagai tulisan. Tahun 1786, buku panduan pariwisata tulisan Hofhout memuat topografi yang cermat mengenai kota serta sekitarnya dan diperuntukkan bagi ambtenaar Belanda yang baru tiba di Batavia. W. B. Worsfold juga menulis pengalaman di Jawa dalam A Visit to Java – With an Account of the Founding of Singapore yang terbit pada1893. Dia bertutur ihwal sejarah Jawa sejak masa Hindu Budha, termasuk menulis tentang Borobudur. Buku ini semakin melengkapi kajian tentang Jawa tulisan Rafles dalam The History of Java yang terbit pada 1817 dan bersampul sketsa reruntuhan candi Brambanan yang eksotik. Abad ke-19, di wilayah urban, hotel kolonial seperti des Indes  [Batavia], Savoy Homann [Bandung], hingga de Boer [Medan] dilengkapi dengan ruang dansa-dansi, alunan musik yang merdu, serta restoran mewah yang nyaman untuk santap malam. Dengan indahnya negeri tropis ini lalu siapa yang tidak tertarik datang ke Hindia Belanda? Banyak orang pasti ingin menikmatinya, termasuk Margaretha. Meskipun di belahan barat, negeri Aceh bergejolak dan penduduk desa-desa pelbagai wilayah Hindia Belanda masih miskin. Keindahan Hindia Belanda menjadi propaganda orientalisme yang sesungguhnya menipu meski juga memberi kesenangan bagi yang bisa menikmatinya.

Margaretha singgah dititik pergantian abad dimana Hindia Belanda akan mengalami perubahan “wajah” kebijakan politiknya. Pemerintah koloni sedikit membuka diri, karena desakan juga karena globalisasi teknologi, munculah ethische politiek di awal abad 20 yang memberi “ruang” bagi inlander untuk lebih maju dan berpendidikan. Balas budi ini telah diperjuangkan sejak 1899 saat seorang pengacara liberal Belanda Conrad Theodor van Deventer menerbitkan sebuah esai di jurnal De Gids yang menyatakan bahwa Pemerintah Belanda memiliki tanggung jawab moral untuk mengembalikan kekayaan Belanda yang telah diterima dari negeri koloni Hindia Belanda. Inlander Hindia Belanda harus diperhatikan. Van Deventer meneruskan usaha Pieter Brooshooft yang pernah menyerukan hal yang sama saat dia mengadakan perjalanan mengelilingi Pulau Jawa pada 1887, lalu menuliskan laporan tentang keadaaan yang sangat menyedihkan di Hindia Belanda akibat kebijakan tanam paksa pemerintah. Dia menggambarkan masyarakat inlander sebagai “anak kecil” yang membutuhkan bantuan bukan penindasan. Gerakan sosial politik ini semakin kuat dan memaksa Ratu Wilhelmina mendeklarasikan kebijakan politik etis pada 1901. Dalam hangat-hangatnya kebijakan politik inilah Margaretha tinggal sesaat di Hindia Belanda yang dia kagumi itu. Margaretha mungkin tidak terlalu peduli dengan politik Hindia Belanda, mungkin dia hanya mengagumi eksotisnya alam Hindia Belanda serta budaya yang semakin menampilkan “wajah” kreol, percampuran kultur lokal dengan kehidupan modern Eropa.

Margaretha tiba terlebih dahulu di Batavia, sekira pertengahan atau akhir bulan Juni 1897, selepas mengarungi lautan dengan kapal uap Prinses Amalia berkecepatan 11, 5 knot milik Stoomvaart Maatschappij Nederland buatan tahun 1874. Perjalanan yang cukup melelahkan melewati laut Mediterania, menembus terusan Suez hingga masuk perairan Hindia. Di Batavia, Margaretha mengikuti suaminya untuk terlebih dahulu mengurus surat-surat dinasnya ke pedalaman Jawa, tepatnya Ambarawa. Mereka tidak terlalu lama tinggal di Batavia.

Waktu akhirnya tiba. Margaretha datang ke Ambarawa via Semarang. Dia melewati Semarang setahun selepas Van Lith tiba untuk pertama kalinya di kota pelabuhan itu, belajar budaya dan adat Jawa hingga setahun kemudian dia tinggal di Semampir Muntilan. Perjalanan Semarang-Ambarawa tidak perlu memakan waktu lama, Margaretha beserta keluarganya bisa naik kereta api dengan segera. Dia akhirnya menginjakkan kaki di Ambarawa, kota militer berhawa sejuk yang indah di timur gunung Ungaran. Di masa Amangkurat II dari Mataram, kota ini berjuluk Limbarawa. Keluarga Margaretha mungkin tinggal di pusat kota, di antara stasiun kereta api Wilhem I yang dibangun pada 21 Mei 1873 di atas tanah seluas 127.500 m² serta fort Wilhem I, bekas gudang logistik militer dari bambu semasa perang Diponegoro yang dipugar menjadi benteng kokoh empat tahun selepas rampungnya perang Jawa itu. Margaretha mungkin tidak tahu banyak tentang benteng ini, tapi MacLeod suaminya yang seorang tentara pasti pernah mengetahui bahwa benteng ini pernah diabadikan dalam buku De Indische Archipel yang terbit di Den Haag tahun 1865-1876. Wajah benteng ini muncul di halaman enam, sebuah tampilan litografi yang elok karya tekenaar F.C. Wilsen.

Di Ambarawa, Margaretha belajar menyesuaikan diri. Dia belajar tentang seluk beluk kaum inlander beserta lingkungannya. Margaretha menemukan bahwa pulau Jawa begitu mempesona. Dia mengagumi vegetasi yang subur di Ambarawa dan kehidupan orang-orang inlander yang dipandangnya begitu khas. Perlahan-lahan tanpa disadari, dia mengikuti tradisi lokal. Tidak seperti kebanyakan istri dari perwira militer Belanda lainnya, di Ambarawa dia sering mengenakan kain sarung seperti kaum inlander. Dia semakin tertarik dengan budaya lokal meski dia tetap memperlihatkan identitasnya sebagai nyonya Belanda.

Di kota pegunungan ini, Margaretha pasti juga mengetahui folklor tentang Rawa Pening di selatan Ambarawa. Kisah eksotis yang menyimpan legenda naga Baru Klinting yang menjelma seorang anak kecil penuh koreng serta sosok Randha Dadhapan yang tua renta. Kisah tentang sapu lidi yang ditancapkan dan munculnya mata air hukuman yang menenggelamkan desa hingga terbentuk rawa. Margaretha pasti mendengar ini.

Sekali waktu, Margaretha mungkin juga pernah mengunjungi reruntuhan candi di lereng Ungaran atau setidaknya mengetahui dan mendengar—mungkin dari penduduk inlander atau orang-orang Eropa di Ambarawa—tentang candi-candi ini sebagai bagian kekayaan arkeologis yang begitu eksotis dari pedalaman Jawa, Selain Borobudur dan Prambanan. Candi ini ditemukan oleh seorang arkeolog Belanda, Loten, pada 1740 dan Raffles menyebut-nyebut nama “Gedong Pitoe” untuk reruntuhan candi ini pada 1804. Publikasi tentang candi ini muncul pada 1825 oleh  Van Braan dan dilanjutkan dengan catatan inventaris dua peneliti Belanda, R.H.T. Friederich dan N.W. Hoepermans, pada 1865. Candi ini peninggalan kerajaan Medang di abad delapan hingga sembilan Masehi kala pusat kerajaan berada di sekitaran dataran Kedu. Dari reruntuhan candi di kaki Ungaran ini mungkin Margaretha mengenal pertama kali tentang Siwa dan Durga. Mitologi Hindu menarik perhatiannya di tengah budaya pribumi beragama Islam yang selalu mengumandangkan adzan di surau-surau kampung.

Di Ambarawa yang sejuk, kehidupan rumah tangga Margaretha bukan tanpa masalah. Pertengkaran sejak di Belanda mengikuti hingga ke rumah baru mereka di Ambarawa. MacLeod sering cemburu saat lelaki lain, yang tentu saja sesama orang Belanda, mencoba untuk menggoda istrinya yang masih muda dan manis itu. Margaretha mengenang MacLeod dengan putus asa. Di Ambarawa, Suaminya tidak pernah mengijinkannya mengenakan gaun karena takut bahwa Margaretha akan nampak terlalu indah. Keadaan itu semakin bertambah parah saat seorang letnan muda jatuh cinta dan mengejarnya. Tidak bisa dipungkiri bahwa di pedalaman Jawa dengan penduduk Eropa, terutama Belanda, yang tidak terlalu banyak, wanita seperti Margaretha yang memiliki wajah dan kulit eksotis tentu akan menarik minat banyak pria, tidak peduli dia sudah berkeluarga atau tidak. Nampaknya dogma Kristen Calvinis yang memayungi moral orang-orang Belanda telah terkikis. Kala itu sulit bagi Margertha untuk berperilaku sesuai dengan harapan suaminya MacLeod.

Margaretha semakin terpukul saat tabiat jelek MacLeod memburuk. Sang suami bermaksud memelihara seorang gundik. Dia secara terbuka mengambil perempuan pribumi sebagai Nyai dan memberi tahu Margaretha bahwa praktek semacam itu telah jamak di Hindia Belanda. Kala itu gundik inlander memang telah banyak dan prakter pergundikan ini menjadi semacam gaya hidup tuan-tuan Eropa di Hindia Belanda. Margaretha hanya bisa pasrah dan dipaksa untuk menyesuaikan budaya baru ini. Ditambah lagi, ibu muda ini sering menjumpai suaminya mabuk berat dan sering melakukan kekerasan pada dirinya.

Kehidupan di Ambarawa begitu singkat saat MacLeod dipindahtugaskan ke Malang. Di Gemente Malang ini, Margaretha akan semakin terpesona dengan budaya kuno yang masih terawat. Malang merupakan wilayah kuno sejak era negeri Kanjuruhan, menjadi bagian penting kala wangsa Rajasa berkuasa dan pernah menjadi bagian dari basis perlawanan Untung Suropati melawan koalisi Mataram-VOC dan berkembang menjadi wilayah modern saat mulai dioperasikannya jalur kereta api tahun 1879. Setelahnya, tahun 1882, perumahan orang-orang Belanda serta alun-alun kota dibangun secara besar-besaran. Margaretha memang tidak tinggal di kota tetapi bersama suaminya tinggal di Tumpang, sebuah desa pedalaman yang semakin menggugah kekaguman Margaretha atas kebudayaan lokal. Tumpang merupakan salah satu jalur menuju gunung Bromo. Gunung purba yang begitu dihormati masyarakat kuno. Margaretha tentu mendengar cerita soal masyarakat Tengger yang masih murni menganut tradisi Hindu warisan Majapahit. Kaum yang mengaku keturunan Roro Anteng dan Joko Seger ini setia melakukan ritual Yadnya Kasada di puncak Bromo dipertengahan bulan Kasada. Margaretha tentu akrab dengan suku ini melalui publikasi pemerintah Kolonial Belanda.

Terdengar kabar bahwa Margaretha juga sering mampir ke candi Kidal dan candi Jajaghu [Jago]. Dua candi warisan negeri Tumapel yang memang terletak di Tumpang. Candi Jago tersusun atas bahan batu andesit dengan atap yang telah hilang serta bertaburan relief-relief Kunjarakarna dan Pancatantra pada tubuh candi. Candi ini didirikan atas perintah prabu Kertanagara untuk menghormati ayahandanya, prabu Wisnuwardhana, yang telah mangkat. Di masa Empu Mada [Majapahit], bangsawan keraton Adityawarman memugar dengan memberi candi tambahan serta menempatkan Arca Manjusri. Sedang Candi Kidal dibangun pada 1248 M, bertepatan dengan berakhirnya rangkaian upacara Srada untuk menghormat prabu Anusapati, penguasa kedua Tumapel, yang memerintah selama 20 tahun [1227 – 1248] yang telah mangkat. Candi Kidal secara arsitektur, kental dengan budaya Jawa Timuran serta memuat cerita Garudeya, cerita mitologi Hindu, yang berisi pesan moral pembebasan dari perbudakan. Hal menonjol dari candi ini adalah kepala kala yang dipahatkan di atas pintu masuk dan bilik-bilik candi. Kala, salah satu aspek Dewa Siwa dan umumnya dikenal sebagai penjaga bangunan suci. Hiasan kepala kala Candi Kidal nampak menyeramkan dengan matanya melotot, mulutnya terbuka dan nampak dua taringnya yang besar dan bengkok memberi kesan dominan. Di sudut kiri dan kanannya terdapat jari tangan dengan mudra (sikap) mengancam.

Margaretha segera mengetahui bahwa dia berada di jantung kebudayaan Hindu Budha yang telah tenggelam meski masih menunjukkan eksistensinya. Di Tumpang, Margaretha semakin mengetahui seluk beluk budaya Hindu Budha yang masih lestari. Tengger, candi Kidal, serta candi Jago membuka mata Margaretha bahwa kebudayaan masa lalu di tanah Jawa begitu mempesona. Dia pasti berlama-lama datang ke candi-candi itu untuk memperhatikan bentuknya, relief-reliefnya, serta berusaha memahami filosofinya. Dari sana, mungkin Margaretha semakin mendalami sosok Siwa. Dari tempat-tempat sakral itu mungkin Margaretha mulai mengenal sejarah Jawa, khususnya sejarah negeri Tumapel yang memuat mitos kutukan keris empu Gandring. Cerita-cerita yang dilisankan secara turun-temurun ini pasti menarik minat Margaretha. Dia tentu juga mengetahui sosok Arok hingga Kertanegara, para prabu yang memerintah Tumapel. Dia tentu mendengar penduduk inlander Tumpang menyebut-nyebut arca SiwaBudha. Satu hal yang semakin mendekatkan dirinya dengan sosok Siwa.

Sekali waktu, disamping sekedar mengagumi relief-relief serta mitologi, Margaretha sering menikmati pentas tari tradisional yang sering dipentaskan di pelataran candi-candi itu. pentas seni rakyat pedalaman dimana banyak penduduknya beragama Islam abangan. Mungkin sekali pentas tari yang dikagumi Margaretha adalah Tayub yang begitu populer bagi penduduk inlader pedalaman. Entah sejak kapan tari ini muncul, tapi Tayub dikatakan telah ada sejak masa Tumapel abad 13 Masehi dan berkembang terus hingga masa Wilwatikta abad 14-15 Masehi. Meski sempat tenggelam di masa Demak, tari ini digali kembali di masa Pajang dan Mataram [Islam] di abad 17 Masehi. Tayub masih terus digemari hingga Margaretha sering melihatnya di Tumpang.

Tari Tayub yang dipentaskan begitu eksotis memikat mata Margaretha. Dia sendiri sesungguhnya suka tari. Tapi mungkin baru di Tumpang, dia menyaksikan tari tradisional milik penduduk inlander yang begitu menggoda. Tayub adalah tari interaktif  yang mengedepankan gerak gemulai sang penari wanita hingga dalam pandangan mata lelaki, gerakan itu begitu erotik. Sisi erotik ini yang mungkin menarik minat Margaretha. Sebuah pentas yang sakral di penghujung abad 19 Masehi, dimana dalam temaramnya malam di musim kemarau, dengan cahaya rembulan yang indah serta cahaya obor yang dipasang di sudut-sudut tempat pentas di pelataran reruntuhan candi, lalu terdengar alunan gending-gending Jawa serta dihanyutkan dengan gerak gemulai penari yang erotik membuat Margaretha begitu terkesima. Dia mungkin menontonnya berkali-kali dan hal itu menjadi pengalaman berharga yang tidak pernah terlupakan.

Musim kemarau telah berganti. Hujan lama-lama semakin sering turun dan kandungan Margaretha semakin membesar. Dia telah mengandung anak keduanya. Margaretha terjebak dalam musim basah yang ditakuti di Jawa kala hujan lebat tanpa henti terus menerus turun sepanjang hari hingga transportasi begitu sulit dan hampir mustahil menjelajahi jalan-jalan tanah yang begitu becek. Dia begitu frustrasi, bosan, depresi, dan sering menghabiskan waktu di masa kehamilannya terjebak di rumah sementara suaminya tidak banyak membantu meringankan kegelisahannya. Dia ingin lebih bisa bersosialisasi dengan banyak orang termasuk dengan kaum inlander tapi suaminya melarang, bahkan dia juga tidak diperbolehkan belajar bahasa lokal, bahasa orang Jawa. Namun, diam-diam dia sempat belajar karena menurutnya tutur bahasa orang inlander begitu menawan.

Kehidupan di Tumpang tidak jauh berbeda dengan di Ambarawa. Pertengkaran masih sering terjadi. Dia mengalami mengalami kesulitan untuk bisa menyesuaikan diri dengan kehidupan tentara. Empat bulan selepas tahun berganti, Margaretha melahirkan anak keduanya pada 2 Mei 1898. Margaretha berharap kehadiran anak keduanya ini akan memperbaiki hubungan rumah tangganya dengan MacLeod.tapi harapannya keliru, dia begitu sedih saat suaminya tidak mengharapkan anak perempuan. Bagaimanapun anak itu telah lahir dan sang bayi ini diberi nama Louise Jeanne MacLeod dan kemudian sering dipanggil dengan nama Melayu, Non. Pertengkaran kembali terjadi dan Margaretha melarikan diri dengan mengikuti pelbagai kegiatan seni tari tradisional. Bahkan dia sempat dekat dengan Van Rheedes yang bekerja sebagai kepala akuntan. Macleod akhirnya marah besar karena menyangka istrinya itu telah berselingkuh.

Pada bulan Desember 1898, MacLeod dipromosikan menjadi komandan garnisun di Medan. Tetapi MacLeod berangkat sendiri ke Sumatra. Sementara Margaretha dan kedua anaknya ditinggalkan sementara di Tumpang beberapa bulan. Mereka justru kemudian dititipkan pada Van Rheedes untuk diurus sementara. Margaretha merasakan dirinya seperti orang asing di rumah dimana dia tinggal. Suaminya lambat mengirim uang seperti yang telah dijanjikannya. Dia semakin meratapi nasibnya yang sendirian tanpa uang yang cukup untuk mengurusi kedua anaknya.

Margaretha hampir frustrasi dan merasa telah ditinggalkan begitu saja. Tapi tiba-tiba dia mendapat surat resmi yang dikirim oleh suaminya, memintanya untuk datang bersama anak-anak ke rumah dinas baru suaminya di Medan. Tanpa pikir panjang Margaretha segera berkemas. Bersama-sama dengan kedua anaknya segera berangkat menuju pelabuhan Surabaya untuk menumpang kapal menuju pelabuhan Belawan Medan, pelabuhan yang dibangun secara modern sejak 1890 oleh pemerintah Kolonial Belanda.

Margaretha akhirnya tiba di kota Medan di awal tahun 1899. Daerah warisan orang-orang Karo ini telah menjadi kota pelabuhan yang ramai semenjak berubah menjadi kota pada 1886 dan semakin ramai kala residen Pesisir Timur serta Sultan Deli pindah ke Medan. Kota ini seperti melting pot bagi banyak orang dari pelbagai wilayah. Mereka menyatu dan menyemerakkan nadi kehidupan kota Medan. Margaretha senang berada di Medan, apalagi tinggal di rumah dinas suaminya yang begitu luas dan indah. Sangat wajar jika rumah dinas MacLeod begitu luas karena dia kala itu adalah seorang komandan garnisun.

Sebagai istri seorang komandan, adalah tugas Margaretha untuk menjamu teman-teman suaminya dengan pesta mewah dan dia melakukannya dengan penuh percaya diri. Di lingkungan barunya itu, Margaretha menemukan sedikit kenikmatan hidup. Dia bisa memerintah seperti ratu. Mengenakan pakaian mode terbaru yang didatangkan dari Amsterdam, lalu menjadi contoh bagaimana menjadi wanita yang penuh keindahan dan keanggunan. Dia berbincang dengan tamu-tamu suaminya menggunakan bahasa ibu mereka, entah bahasa Belanda, Jerman, Inggris, atau Perancis. Dia juga memberikan instruksi kepada para pelayan dalam bahasa Melayu yang lumayan lancar. Margaretha menjadi wanita yang mengagumkan dan Macleod akhirnya bangga pada istrinya itu. Dia mengucap terima kasih atas apa yang telah dikerjakan Margaretha dalam pergaulan sosial di Medan yang membuat MacLeod semakin terpandang.

Pertemuan-pertemuan penting sering diadakan di hotel de Boer yang masih baru. Hotel milik Aeint Herman De Boer ini terletak di dekat Lapangan Esplanade, beberapa meter dari Witte Society dan kantor pos besar Medan. Tempat ini memang disediakan untuk tamu-tamu istimewa. Margaretha sering menghibur para tamu di hotel ini. Dia sering menari dengan begitu semangat  dan membuat para tamu mengagumi tariannya. Tapi dari sinilah muncul kebencian dari MacLeod. Dia tidak begitu suka kala perwira-perwira juniornya memperhatikan Margaretha. Dia begitu cemburu melihat tatapan pria kepada istrinya yang dianggapnya seperti “kerumunan lebah yang berdengung di sarang madu”. MacLeod kembali marah.

Baru menikmati kehidupan yang sedikit menggembirakan, kemudian dunia seakan runtuh dalam satu malam. Saat itu, 27 Juni 1899, Margaretha telah tertidur pulas di kamarnya. Tiba-tiba dia mendengar jeritan mengerikan dari kamar anak-anaknya. Margaretha segera beranjak dari tempat tidurnya, berlari menaiki tangga menuju kamar anak-anaknya. Margaretha membuka pintu kamar dan mendapati kedua anaknya muntah-muntah. Muntahan itu sedikit berwarna hitam. Dia juga mendapati kedua anaknya kejang-kejang kesakitan, mereka menangis dan menjerit keras sekali. Dengan menangis dan ketakutan, Maragaretha segera memeluk kedua anak kecil itu. Dia tidak tahu apa yang terjadi dan tidak tahu harus bagaimana. Pikirannya kalut. Sementara MacLeod yang datang dengan panik segera berlari keluar rumah untuk mencari seorang dokter Belanda. Saat dokter datang, anak pertama mereka Norman telah meninggal. Sang dokter segera menarik Non yang masih sakit dari genggaman Margaretha lalu membawanya ke rumah sakit. Akhirnya putrinya berhasil diselamatkan dan dapat sembuh total.

Apa yang terjadi sesungguhnya terhadap kedua anak Margaretha, tidak ada yang tahu pasti. Tetapi rumor yang berkembang, kedua anaknya telah diracuni. Dan tidak ada seorangpun pernah membuktikan siapa yang telah melakukan perbuatan mengerikan itu, namun secara luas dikabarkan bahwa itu adalah perbuatan sesat seseorang babu MacLeod. Mungkin pembantu inlander yang mereka sertakan dari Jawa yang selalu merawat anak-anak dan menurut kabar burung telah ditiduri oleh Macleod tapi ada juga kabar yang menyebutkan sang babu balas dendam karena anak perempuannya telah diperkosa oleh MacLeod. Apapun kabar burung yang berkembang nampaknya itu mengarah pada masalah pergundikan yang telah dijalankan oleh MacLeod jauh-jauh hari yang akhirnya membawa petaka.

Norman, anak pertama mereka, akhirnya dikuburkan di Medan. Dan keluarga ini terpuruk dalam rasa bersalah yang begitu dalam. Mereka trauma, tapi tidak ada upaya untuk saling menguatkan. Masing-masing dari mereka tenggelam dalam depresi yang terpisah. margaretha menghabiskan berjam-jam waktunya hanya untuk merenung dalam diam, dengan tatapan mata yang kosong. Sementara MacLeod semakin terpuruk dengan alkohol. Margaretha masih bertahan bersama MacLeod selama hampir 15 bulan di Medan, tanpa ada upaya saling menguatkan hati akibat kehilangan anak, justru yang terjadi adalah munculnya letupan pertengkaran dengan saling menyalahkan satu sama lain.

MacLeod kembali didera sakit dan pada 2 Oktober 1900 dia mengajukan pensiun dari dinas ketentaraaan dan mendapat uang pensiun 2.800 gulden. Dia akhirnya kembali ke Jawa. Mereka menetap di Sindanglaya Cianjur, diantara Bandung dan Buitenzorg. MacLeod semakin kecanduan alkohol dan sering keluar rumah tanpa tujuan pasti, seolah-olah dia ingin mencari anaknya yang telah pergi. Sekali waktu dia mengirim surat pada saudaranya di Amsterdam tentang rasa kehilangan yang besar akibat kepergian anak lelakinya itu. Dia semakin merana dan hancur kala mengingat anak lelakinya yang begitu menyukai musik March Monte Carlo. Dan setiap dia mendengar musik itu—atau setidaknya mengingat musik itu—dia akan terkenang kembali pada anak lelakinya dan merasakan sakit didadanya juga panas dimatanya.

Sekali waktu dia masih meluapkan amarahnya pada Margaretha, menyalahkan istrinya itu atas kematian anak laki-lakinya. Hal ini yang membuat Margaretha semakin tidak tahan berada disamping MacLeod. Dia sesungguhnya ingin kembali ke Eropa karena rasa cintanya pada MacLeod telah luntur. Dia menulis surat pada ayah serta kakak  iparnya, memohon mereka untuk mengirim sejumlah uang agar dia bisa kembali ke Belanda. Tapi surat itu sia-sia belaka. Surat balasan yang dia terima justru berisi penolakan dan nasihat agar Margaretha menjadi istri yang lebih baik, lebih patuh dan tunduk pada suaminya. Margaretha semakin terpuruk.

Sesekali Margaretha berkunjung ke Batavia. Kesedihannya sedikit terobati kala dia mencari kesenangan dengan membaca teks-teks suci Hindu. Mungkin sekali Margaretha mengunjungi kantor Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen untuk melihat-lihat koleksi artefak serta buku-buku tentang Hindu serta sejarah masa Hindu Budha di Nusantara. Dari sana, Margaretha banyak melihat koleksi arca-arca peninggalan Hindu Budha, khususnya Siwa yang pernah populer di Nusantara. Mungkin juga membacai pelbagai laporan penelitian atau jurnal-jurnal berbahasa Belanda tulisan para sarjana-sarjana Belanda, baik arkeolog, sejarawan, maupun ahli filologi yang memberi pengetahuan tentang budaya Hindu Budha Nusantara. Dia semakin mengetahui sosok batara Siwa yang dikaguminya. Mengetahui bahwa sang batara adalah pencipta seni dan menjadi dewa penari. Margaretha tentu sedikit membayangkan tentang pentas tari di reruntuhan candi di Tumpang dulu, lalu membayangkan Siwa menari. Margaretha mungkin mengetahui tentang Siwa Nataraja, sang penari kosmis. Siwa memutar dunia dengan suatu gerakan mistis yang disebut mudra, yang memiliki kekuatan gaib.Tarian Siwa ini mengandung banyak makna simbolis dan filosofis. Margaretha semakin tergoda dengan filosofi Hindu, Batara Siwa, dan tari.

Sekali waktu Margaretha jatuh sakit terkena tifoid. Dalam demam yang tinggi, dia kadang-kadang berhalusinasi. Dia merasa melihat dewa-dewi Hindu. Terkadang dia seperti sedang menari di depan para dewa, dia merasa seolah menjadi Apsara yang mendapat kebahagiaan kala menari di depan para Dewa. Ketika perlahan dia mulai sembuh meski tubuhnya masih lemah, MacLeod justru semakin membuatnya tidak tahan untuk segera pergi. Suaminya mengeluh bahwa Margaretha telah menghabiskan banyak uang untuk kesembuhannya. Dia harus membeli lima botol susu tiap hari dengan harga 5 gulden demi pemulihannya. Margaretha semakin sakit hati.

Selang beberapa waktu, Margaretha akhirnya pulih dari sakit tipus.Tetapi dia sudah tidak sanggup lagi bertahan dengan sikap dingin dan kasar MacLeod suaminya. Dia ingin bercerai dan kembali ke Eropa sesegera mungkin. Sekali waktu, dokter Rulfsema yang merawat Margaretha di Sindanglaya datang menjenguknya dan Margaretha, sekali lagi, berujar bahwa dia ingin segera meninggalkan Jawa untuk pergi ke Eropa terutama Paris. MacLeod yang mendengar pembicaraan ini tidak mampu mengendalikan kemarahannya. Dia langsung memaki istrinya dan pertengkaran tidak bisa dihindari. Margaretha semakin membenci suaminya dan kota Paris semakin nampak jelas dalam benaknya.

Margaretha memang tidak ingin terlampau melewatkan sesuatu. Saat itu abad sembilan belas telah berlalu berganti abad keduapuluh. Angka 20 adalah angka keramat bagi orang-orang kuno yang selalu mengaitkannya dengan matahari. Sebuah hitungan simbolik seperti kepercayaan purba Indian Hopi yang memberi nama jabang bayi di hari keduapuluh, penanda sang anak menjadi manusia seutuh-utuhnya dan sebenar-benarnya. Begitu banyak perubahan yang terjadi di abad baru, abad keduapuluh, di Eropa dan Margaretha takut semua akan berlalu begitu saja. Kelak dikemudian hari, abad keduapuluh memang menjadi penanda lahirnya Margaretha yang baru, yang sebenar-benarnya di Eropa. Tapi saat itu, dia menunggu untuk segera berlayar dari Batavia menuju Amsterdam melewati jalan yang sama saat dia datang ke Hindia Belanda. Dan saat dia telah terbebas dari negeri koloni ini, Margaretha tidak pernah melupakan  budaya lokal yang dia senangi di Jawa. Dia juga tidak akan pernah lupa Batara Siwa yang kelak akan selalu menyertainya. Dia memiliki kemampuan tari orientalis yang nantinya akan dikagumi banyak orang. Dan itu semua berkat Nusantara beserta inlandernya.

No comments yet.

Leave a Comment

All fields are required. Your email address will not be published.