If your eyes in reader’s quest,

Seeking joy among these pages

Upon this sheet have come to rest,

Remember that the writer’s best

Wishes are yours throughout the ages

Mata Hari

Mata Hari muda suka menulis puisi. Dia memang gadis energik yang penuh bakat. Dia juga menggemari tari dan suka menari. Dan yang pasti, dia sosok gadis belia yang penuh ambisi. Dia merasa terlahir sebagai sosok perempuan hebat dan berkelas. Dia selalu merasa menjadi bagian dari kelas sosial tinggi, bukan gadis dari keluarga biasa. Dia mungkin terlihat sombong tapi begitulah gadis ini. Dia tumbuh menjadi luar biasa dan Mata Hari harus berterima kasih terhadap kota kelahirannya, Leeuwarden.

Wilayah di utara Belanda ini menjadi kota penting provinsi Friesland. Leeuwarden—berawal  kata Nijehove—merupakan gabungan tiga desa yang menyatu di awal abad 9 Masehi lalu didiami secara massif sejak  abad 10 Masehi, tetapi kehidupan Leeuwarden mungkin juga telah ada sejak abad 2 Masehi. Terletak di sepanjang Bordine—muara sungai Boorn—kota tua ini menjadi pusat niaga yang ramai hingga abad ke 15 Masehi sebelum kanal-kanal di wilayah itu tertimbun lumpur. Leeuwarden berlambang singa bermahkota emas. Entah apakah singa ini berkaitan dengan frasa Leeuw yang memang berarti singa atau tidak. Tapi singa bukan satu-satunya alasan untuk menjadi penanda penting atas nama kota ini, karena frasa Lee juga berarti sirkulasi air. Sebuah makna penting karena wilayah ini memiliki sejarah panjang dengan kanal-kanal air.

Sebelum Mata Hari, Leeuwarden telah melahirkan tokoh tenar seperti Hans Vredeman de Vries (1527 -. C 1607), seorang seniman Renaissance yang hidup pada abad 16 Masehi. Dia sosok arsitek yang terkenal dimasanya. Atau sosok Francois Haverschmidt, seorang pendeta serta sastrawan yang terkenal dengan nama pena Paaltjens Piet. Cerita pendeknya Familie en kennissen [Kerabat dan Kenalan] lahir ditahun yang sama dengan kehadiran bayi Mata Hari.

Di kota dengan bekas kanal-kanal air dan sosok-sosok tenar itulah Mata Hari dilahirkan pada 7 Agustus 1876, empat hari sebelum festival terkenal, Festival Bayreuth, yang dihadiri bangsawan-bangsawan Eropa serta filsuf Friedrich Nietzsche dan komposer seperti Anton Bruckner, Edvard Grieg, Pyotr Tchaikovsky, dan Franz Liszt dilaksanakan dengan meriah di Jerman. Mata Hari terlahir dengan nama Margaretha Geertruida Zelle. Dia adalah anak kedua dari Adam Zelle dan istrinya Antje van der Meulen dan satu-satunya gadis dalam keluarga dengan empat saudara laki-laki. Keluarga memanggil gadis kecil itu Margreet atau bahkan lebih pendek, Griet.

Diantara penduduk Leeuwarden bahkan negeri Belanda sendiri yang setia dengan gerakan reformasi Calvinis, sangat aneh jika muncul nama-nama orang suci Katolik Roma. Tapi Adam Zelle berkeras hati menamai anak perempuannya Margaretha. Seperti tradisi orang-orang suci Katolik yang mengenal nama sang perawan Margaret [Margaret dari Antiokhia] yang diakui oleh Paus Gelasius I pada tahun 494 Masehi atau Santa Margaret [Margaret dari Wessex Skotlandia], seorang wanita saleh serta telah dikanonisasi oleh Paus Innosensius IV, dan jenazahnya dimakamkan dalam Biara Dunfermline Skotlandia. Nama Margaretha mungkin diambil untuk menghormati diantara kedua orang suci itu. Dan nampaknya kedua orangtua Margaretha bahagia dengan kehadiran putri satu-satunya itu.

Ketika Mata Hari lahir, pelukis besar Vincent van Gogh baru berumur 23 tahun dengan kedua telinganya masih utuh dan saat itu raja negeri Belanda adalah William III. Negeri Belanda, khususnya kota kediaman keluarga Margaretha, memberikan nuansa kehidupan yang nyaman bagi gadis kecil Margaretha. Dia bahagia layaknya gadis-gadis kecil Belanda lainnya. Tetapi ada sedikit perbedaan, dalam keluarga dan masyarakat Belanda yang berkulit putih, berambut pirang, dan bermata biru, Margaretha justru memiliki ciri fisik berbeda. Dia berambut hitam tebal, juga bermata hitam dan berkulit kecokelatan. Itulah mengapa ayahnya menyebut putrinya itu bagai bunga Anggrek diantara bunga-bunga Buttercup. Meski begitu, sang gadis cilik tetaplah cantik dan menarik .Para tetangga mengira dia memiliki darah Yahudi atau mungkin paling tepat Jawa. Tetapi itu hanya asumsi karena moyang Margaretha paling jauh berasal dari kota Rheda Jerman.

Ayah Margaretha adalah seorang pedagang. Dia memiliki bisnis topi yang sukses di jaman hampir tidak ada seorangpun terlihat di depan umum tanpa topi. sang ayah begitu bertanggung jawab terhadap keluarga. Dia terus membuat keluarganya nyaman dan memanjakan keluarganya dengan kesuksesan bisnisnya. Karena bisnis topinya yang laris, keluarga Zelle masuk dalam lingkaran kelas sosial yang cukup tinggi di Leeuwarden. Saat Raja Willem III melakukan kunjungan resmi ke kota Margaretha, ayahnya terpilih sebagai pembawa bendera kehormatan kerajaan. Bangga karena tugas ini, dia meminta seorang seniman, A. Martin, untuk membuat potret dirinya dalam pose naik kuda lengkap dengan seragam dan bendera yang dipegangnya.

Kehidupan keluarga Zelle makin bahagia kala awal Januari 1883, seluruh keluarga pindah ke salah satu rumah tinggal terbesar dan tertua di kota Leeuwarden. Tepatnya sebuah rumah di jalan Kerkstraat Groote no 28. Di rumah barunya ini, Margaretha semakin dimanja. Sekali waktu, sang ayah pernah memberi hadiah paling istimewa: kereta kecil dengan empat tempat duduk untuk penumpang yang ditarik oleh dua ekor kambing. Margaretha kecil elah terampil mengendarai kereta ini. Dia tahu cara mengemudi karena sering mengambil tali kendali dari ayahnya saat mengendarai kereta. Margaretha senang dengan hadiah ini dan dia juga senang memamerkan hadiahnya kepada orang-orang dan sering mengajak teman-temannya untuk naik ke keretanya. Margaretha menggegerkan warga kota. Dia membuat sensasi kala naik kereta kambingnya, mengendalikannya sendiri layaknya orang dewasa dan berjalan pelan mengelilingi kota.

Dalam banyak hal, Margaretha menunjukkan sosok gadis kecil yang penuh gairah. Dia mencintai fashion, dia sering mengenakan pakaian flamboyan ke sekolah dan membuat takjub teman-temannya dengan cerita-cerita asal-usul keluarganya. Dia selalu mengaku lahir dari nenek moyang bangsawan terkenal. Dia mengklaim memiliki rumah indah Caminghastate, sebuah rumah di Leeuwarden di mana sebuah keluarga bangsawan tinggal. Margaretha juga terkadang mengatakan kepada teman-temannya bahwa dia juga memiliki kastil. Meskipun teman-temannya menduga cerita Margaretha hanyalah fantasi, tetapi dia masih dianggap gadis yang popular di antara teman-temannya. Bahkan guru-guru sekolahnya juga menyukainya karena Margaretha gadis cerdas terutama penguasaan bahasa.

Setelah bertahun-tahun hidup makmur, Adam Zelle mengalami masa-masa sulit. Tidak banyak lagi orang datang membeli topinya. Pada Januari 1889, dia bahkan telah bangkrut total. Adam Zelle bangkrut akibat serangkaian spekulasi sesat di pasar saham. Kala itu Margaretha baru berumur tiga belas tahun. Setelah menjual perabot bagus mereka, keluarga Margaretha pindah dari rumah yang luas di Kerkstraat Groote ke sebuah rumah yang kecil dan lusuh. Dalam kesengsaraan, Adam pergi ke Amsterdam untuk mencoba peruntungannya dan meninggalkan Antje untuk merawat empat anaknya sendirian. Sang ibu tidak sanggup menjalankan tugasnya. Dia sangat tertekan hingga sering jatuh sakit. Keluarga ini semakin berantakan kala 4 September 1890, Adam menceraikan Antje. Perkawinan ini akhirnya bubar dan delapan bulan kemudian, Antje van der Meulen meninggal. Keluarga yang dulu terlihat ideal dan bahagia sekarang benar-benar hancur. Sang ibu meninggal saat Margaretha berusia lima belas tahun. Meskipun dia seorang anak gadis yang kuat, kematian ibunya telah mengguncang jiwa Margaretha.

Saat pemakaman Antje, Adam Zelle datang tidak hanya sekedar melayat tetapi juga untuk menitipkan anak-anaknya pada keluarga atau orang-orang dekat yang mau merawat anak-anaknya. Margaretha akhirnya diasuh oleh tuan Visser, wali babtisnya yang tinggal di kota kecil Sneek, sebelah barat daya Leeuwarden. Pada saat itu, Margaretha telah tumbuh dewasa dan tubuhnya telah melebihi wanita-wanita seusianya. Lalu tuan Visser menyarankan agar Margaretha masuk ke sekolah keguruan, untuk mendapatkan pelatihan menjadi guru taman kanak-kanak. Dia pun menuruti keinginan wali babtisnya itu. dia tidak ingin hanya tinggal dirumah dan tidak melakukan apapun yang berguna bagi Visser. Margaretha segera bergegas pergi ke Leiden untuk belajar di sekolah bagi calon guru yang dikepalai oleh Wybrandus Haanstra.

Margaretha menjalani rutinitas barunya di sekolah guru yang menekankan kedisiplinan. Menjadi guru TK sesungguhnya bukanlah cita-cita Margaretha tetapi dia tetap semangat belajar. Semua berjalan wajar, hingga satu kali dia membuat satu masalah besar dan itu berhubungan dengan Wybrandus Haanstra. Sang kepal sekolah ini tergila-gila dengan Margaretha dan gadis kesepian ini juga membalas rasa cinta Haanstra. Percintaan mereka menyebabkan kekhawatiran publik hingga akhirnya meledak menjadi sebuah skandal. Ironisnya skandal ini berakhir pahit. Bukan Haastra yang harus keluar dari sekolah tetapi Margaretha harus meninggalkan sekolah guru itu tanpa pernah bisa menuntaskan studinya dan mendapat ijasah. Margaretha terpaksa harus meninggalkan Leiden dalam kehinaan dan telah membuat malu wali babtisnya, tuan Visser.

Pergi dari Leiden, Margaretha yang bingung akhirnya mencari perlindungan kepada pamannya, Taconis, di Den Haag. Di rumah pamannya ini, dia rajin melakukan pekerjaan rumah tangga. Dia mencoba membuat dirinya berguna bagi keluarga yang sudah cukup baik untuk merawatnya. Saat berada di Den Haag ini, Margaretha telah berusia delapan belas tahun dan dia telah memikirkan perkawinan. Margaretha ingin segera menikah.

Pernikahan bukan persoalan gampang karena Margaretha belum memiliki pasangan. Disamping itu ada dua hal yang menjadi kekurangannya. Dalam persepsi umum, ia memiliki dua kelemahan utama dalam menarik pria. Pertama, Margaretha terlalu tinggi untuk ukuran gadis kala itu. Kedua, dia memiliki payudara yang sangat kecil. Dia selalu menutupi kekurang kedua ini dengan mengganjal payudaranya menggunakan gulungan stoking. Meski begitu, kekurangan dalm diri Margaretah ini tidak menutup pancaran wajahnya yang cantik dan tampilan eksotis yang anggun yang akan menarik begitu banyak laki-laki.

Margaretha ingin segera bertemu jodoh. Kala itu diakhir abad XIX, Den Haag merupakan kota di mana banyak perwira angkatan darat kolonial menghabiskan liburan mereka. Di dekat kota terdapat pantai yang indah untuk berjemur, Scheveningen. Di sinilah banyak kesempatan untuk bertemu pria-pria muda, terutama pria berseragam tentara. Margaretha tidak lupa ke pantai ini untuk mencari pasangan, seorang pria berseragam. Tapi gadis ini tidak juga segera menemukan kekasih.

Sekali waktu, seorang perwira angkatan laut yang mengambil cuti di Belanda selama dua tahun juga mencari jodoh. Nama sang perwira adalah Rudolph MacLeod. Secara resmi, dia sering menyingkat namanya MacLeod. Seorang perwira 38 tahun penerima medali penghargaan militer. Tinggi tubuhnya sekira 180 cm, dia kuat, dengan wajah bulat, memiliki hidung besar dan kumis panjang. Dia hampir botak. Rambutnya perlahan-lahan rontok kala dia bertugas selama enam belas tahun di negeri koloni Hindia Belanda. Dia juga seorang peminum berat hingga terkadang tubuhnya terganggu oleh diabetes dan rematik. Karena masalah kesehatan itu pula yang membawanya pulang ke Belanda.

McLeod berasal dari sebuah keluarga Skotlandia. Pada awal abad kedelapan belas, nenek moyangnya pindah ke Belanda tetapi sempat melarikan diri ke Inggris selama pendudukan Napolen di Belanda. Mereka kembali lagi ke Belanda untuk selamanya selepas hilangnya kekaisaran Napoleon Perancis. Di Belanda, hampir semua pendahulu Rudolph adalah tentara. Pamannya adalah seorang jenderal dan ajudan Raja William III. Pamannya itu sudah tua, tapi masih hidup saat MacLeod kembali dari Hindia Belanda. Anak pamannya itu juga seorang tentara. Termasuk juga anggota keluarga MacLeod lainnya, seperti Angus MacLeod yang juga seorang perwira berpangkat laksamana. McLeod memiliki karir militer yang bagus. Pada usia enam belas dia telah bergabung dengan tentara. Awalnya, selepas pendidikan, dia menjadi sersan. Karirnya semakin naik setelah dia diangkat menjadi seorang letnan. Segera setelah itu, pada usia dua puluh satu, dia dikirim ke Hindia Belanda. Dan enambelas tahun setelahnya dia kembali ke Belanda untuk liburan.

Sementara MacLeod menikmati liburannya di Amsterdam, jauh di Hindia Belanda, peperangan sedang terjadi antara tentara kolonial dengan rakyat Pulau Lombok, di timur Bali. Laporan dari pertempuran ini begitu samar dan mendapat sensor dari pemerintah Belanda. Pers Belanda ingin segera mungkin untuk mendapat informasi Hindia Belanda. Seorang wartawan, J. TZ De Balbian Foerster, yang menulis di surat kabar harian Amsterdam Nius van den Dag meminta editornya untuk mendapatkan nama-nama semua pejabat yang telah kembali dari koloni. Foerster melihat orang-orang ini akan menjadi sumber informasi yang berguna tentang Hindia Belanda. Dan Rudolph MacLeod adalah salah satu petugas yang masuk dalam daftar. Kedua pria ini akhirnya bertemu dan dengan cepat menjadi teman.

Mereka sering bertemu untuk membicarakan negeri koloni. Tapi ada satu yang menarik, sambil minum kopi di kedai “American Cafe” Amsterdam , Forster pernah menanyakan kehidupan pribadi McLeod. Sebagai perwira yang telah berumur di atas kepala tiga mengapa Rudolph masih bujangan. Mestinya dia telah memiliki seorang pendamping, seorang istri yang cantik.  MacLeod hanya terdiam.

Setelah obrolan di kedai kopi Amsterdam, Foerster diam-diam atas inisiatifnya sendiri memasang iklan di surat kabar Nius: “seorang petugas dari Hindia Belanda, yang saat ini sedang cuti di Belanda, mencari gadis yang baik untuk selanjutnya menikah”. Awalnya MacLeod terkejut dengan iklan ini, tapi dua minggu kemudian dia menikmati saat beberapa surat dari gadis-gadis yang menyukainya berdatangan. Salah satunya surat dari Margaretha. Surat Margaretha membuat kesan tersendiri bagi MacLeod. Sang gadis menuliskan riwayat singkatnya dan menyertakan selembar foto yang menarik hati MacLeod. Mereka lalu sering berkirim surat hingga akhirnya sepakat untuk bertemu. Tapi tidak mudah untuk segera bertemu karena MacLeod berada di Amsterdam sedangkan Margaretha berada di Den Haag.

Foerster menawarkan tempat pertemuan yang nyaman yaitu Rijksmuseum [Museum Nasional Amsterdam]. Sekali waktu, hari pertemuan telah ditentukan tapi di hari pertama ini MacLeod justru terkena serangan rematik. Pertemuan yang telah disepakati harus dibatalkan karena MacLeod masuk rumah sakit. Mereka masih berkirim surat dan beberapa waktu berikutnya, 7 Mei 1895, McLeod dan Margaret akhirnya bertemu di Rijksmuseum. Di dalam ruangan museum, mereka tidak peduli lagi dengan koleksi museum yang mestinya mereka lihat. MacLeod dan Margaretha justru saling berpandangan satu sama lain. Mereka saling membuat kesan yang baik. McLeod tampak bagus, terutama dengan seragam militernya. Margaretha –yang dipanggil Grit—seorang gadis muda yang menyenangkan dan ceria dengan rambut hitam tebal dan mata gelap. Hasil dari pertemuan ini adalah cinta atau ketertarikan fisik, atau kombinasi keduanya. Dan hanya dalam enam hari setelah pertemuan pertama, 13 Mei 1895, mereka bertunangan.

Margaretha masih tinggal di Den Haag di rumah pamannya, sedang MacLeod juga masih berada di Amsterdam di rumah saudaranya. Dari waktu ke waktu, Margaretha secara berkala mengunjungi MacLeod di Amsterdam. Tetapi sekali waktu, MacLeod terserang rematik kembali hingga membatalkan pertemuannya dengan Margaretha. Mendengar ini, Margaretha segera mengirim surat dari Den Haag, surat cinta yang ditulis gadis delapan belas tahun:

“Oh sayang, saya sangat sedih saat rencana pertemuan kita kembali batal…[tapi] jangan khawatir Sayang. Saya berharap kamu akan melupakan semua penyakitmu setelah saya datang dan melihatmu pada hari Minggu… Beri aku ciumanmu dan bayangkan bahwa aku ada disampingmu.”.

11 Juli 1895, tiga bulan setelah pertemuan pertama mereka, Margaretha dan MacLeod akhirnya memutuskan menikah. Saat itu, MacLeod berusia tiga puluh sembilan tahun dan  Margaretha belum genap sembilan belas tahun. Pernikahan ini bukan tanpa halangan. Sesuai hukum di Belanda, perempuan bisa menikah pada usia enam belas tahun dengan persetujuan orang tua tetapi jika tidak ada orangtua, dia harus menunggu sampai umur 30 tahun. Margaretha sebelumnya mengatakan kepada MacLeod bahwa kedua orangtuanya sudah meninggal. Tetapi akhirnya dia jujur bahwa ayahnya masih hidup karena dia memang tidak memiliki surat keterangan kematian ayahnya. Mereka akhirnya mencari Adam Zelle dan menemukannya tinggal bersama istri keduanya di pemukiman kumuh pinggiran kota Amsterdam. Adam Zelle memberikan persetujuannya untuk pernikahan ini.

Pernikahan digelar di balai kota dan pesta digelar di kedai “American cafe”. Bulan madu mereka dihabiskan di kota Wiesbaden. Di kota ini, MacLeod pertama kali merasakan apa yang menantinya selalu menjadi masalah dalam pernikahannya: kecemburuan. Wiesbaden memang penuh dengan perwira muda. Satu kali, beberapa perwira muda mendekati Margaretha dan MacLeod dengan marah berujar, “Tuan-tuan, wanita ini adalah istri saya!” sambil menggenggam tangan Margaretha dan mengajaknya pergi.

Mereka akhirnya kembali ke Amsterdam dan tinggal sementara dengan kerabat MacLeod. Keluarga berharap Margaretha akan segera memberi bayi MacLeod dalam beberapa bulan selepas pernikahan. Namun harapan ini tidak segera menjadi kenyataan. Margaretha melahirkan anak pertama mereka, Norman John MacLeod, lebih dari setahun kemudian pada 30 Januari 1897.  Sayangnya, kehadiran anak pertama ini tidak seamkin merekatkan cinta ayah ibunya, meski mereka bahagia tapi MacLeod terjebak dalam kebiasaan lama: pergi ke rumah pelacuran dan pulang larut dalam keadaan mabuk. MacLeod juga begitu cemburu kala ada pria yang mendekati Margaretha apapun alasannya. Dia bahkan sering menampar istrinya saat amarah melanda hatinya. MacLeod tidak lagi seperti harapan Margaretha seperti sebelum mereka menikah dulu.

Awal tahun 1897 segalanya perlahan berubah. MacLeod memberitahu Margaretha bahwa keluarga harus pindah karena ia akan ditempatkan kembali di Hindia Belanda, di Jawa.Margaretha senang mendengar kabar ini. Margaretha berharap menemukan hidup baru di negeri timur. Perjalanan ke negeri koloni akan menjadi petualangan yang nyata baginya. Dia akan mempelajari negeri baru dan bertemu dengan orang baru. Saat itu, Margaretha berusia dua puluh tahun dan suaminya empat puluh satu tahun. Perbedaan usia yang cukup mencolok untuk pasangan yang akan singgah di tempat tropis di mana hanya ada sedikit perempuan kulit putih. Margaretha telah siap menemani MacLeod yang kasar untuk tinggal di negeri yang jauh di ujung timur dunia, Hindia Belanda.

No comments yet.

Leave a Comment

All fields are required. Your email address will not be published.