Detail Karya Java of Durer #2

Java of Durer #2 | Drawing pen, Acrylic on Canvas | 300x235cm | 2013

 

Malaikat
Malaikat menjadi karakter yang paling menonjol dalam Melencolia I. Malaikat dalam seni Renaissance yang paling umum dikenal sebagai sosok berjubah mistis dengan sayap yang besar dan memberikan nuansa surgawi nan kudus. Tetapi Durer menunjukkan makhluk suci ini dengan tampilan berbeda, ia mengenakan pakaian layaknya ibu rumah tangga—seolah seperti dewi Venus —dan kepalanya disandarkan di kepalan jari-jari tangan kirinya. Malaikat itu menatap dengan penuh perhatian, tapi tatapannya tak fokus pada sesuatu yang khusus. Ia nampaknya tidak melihat suasana sekelilingnya dengan intensif: langit yang cerah, benda-benda berserakan di lantai, maupun bentuk batu misterius (geometrik) di sebelah kanannya. Semuanya tak berhasil menarik perhatiannya.
Ia memegang satu kompas (jangka) di tangan kanannya, tapi nampaknya tidak digunakannya. Sang malaikat itu tampaknya pasif, frustrasi dan melamun. Dalam situasi yang penuh dan ramai semacam itu, apa yang akan dilakukannya sesungguhnya: nampaknya ia tak melakukan apa-apa. Wajahnya menampakkan ekspresi melankolis, mengingat posisinya duduknya yang pasif. Tetapi—layaknya lukisan melankolis—mata malaikat itu tidak melihat ke bawah tetapi menatap tajam ke depan. Mungkin sang malaikat lebih mencitrakan diri sebagai pemikir daripada melankolis. Senyum malaikat itu membingungkan, misterius, sama halnya senyum La Gioconda(Mona Lisa) Leonardo da Vinci .
Durer sengaja membuat lengan sang malaikat sedikit menutupi bagian bibirnya, sehingga sedikit sulit untuk menebak ekspresi wajah, perasaan atau pikirannya. Mungkin malaikat itu begitu melankolis, tetapi mungkin juga tidak. Sang malaikat seolah mengetahui terlalu sedikit hal atau mungkin justru ia memendam terlalu banyak hal? Dan ia sedikit tersenyum, seolah memikirkan pemecahan untuk masalahnya.
Yang pasti kehadiran malaikat dalam Melencolia I begitu dominan. Saat ia duduk dan merenung, salah satu sayap sucinya menyentuh jam pasir, timbangan dan angka persegi ajaib di atasnya. Hal ini menunjukkan bahwa Durer ingin mengekpresikan bahwa sang malaikat sedang memikirkan sesuatu yang “suci” , bahkan keberadaan malaikat itu sendiri sesungguhnya telah merepresentasikan “kesucian”. Tradisi Jawa dalam sengkalan memet, menyatakan bahwa sesuatu yang suci (dewa, malaikat, dll) melambangkan angka 7 serta sayap melambangkan angka 2. Kedua angka itu merepresentasikan—seperti catatan Annemarie Schimmel—tentang pilar-pilar kearifan, dualitas serta polaritas dalam kehidupan.

Kelelawar
Makhluk kelelawar—seperti dapat dilihat di sudut kiri atas Melencolia I—terbang tinggi ke angkasa. Kelelawar ini terbang membawa kata Melencolia I (diucapkan “Melencolia eins” dalam bahasa Jerman) yang menjadi judul ukiran itu. Meskipun tergambarkan kelelawar, tetapi makhluk itu memiliki ekor seperti kadal atau ular serta berkepala seperti tikus. Durer memiliki kemampuan menggambar hewan dengan fantastis, sehingga caranya menggambarkan makhluk ini tidak harus dilihat sebagai sebuah kesalahan. Makhluk ini—dalam pandangan Finkelstein—seperti makhluk mitologis Chimera dalam budaya Yunani klasik . Tetapi nampak jelas bahwa Durer ingin menggambarkan kelelawar yang terbang tinggi dengan bentuk grotesque.
Kelelawar—meski sering dikaitkan dengan sesuatu yang gelap (neraka)—dalam tradisi Cina dianggap sebagai simbol kebahagiaan dan panjang umur. Dalam konteks sengkalan memet, kelelawar—yang berarti bersayap dua—mengartikulasikan angka dua yang—seperti telah tercatat di atas—bermakna dualitas, layaknya pandangan barat lampau yang melihat kelelawar seperti makhluk naga, berkelamin ganda, atau hermaprodit. Kelelawar yang terbang tinggi bisa juga mengartikulasikan angka sepuluh, karena sesuatu yang tinggi—dalam tradisi sengkalan memet—berarti mewakili angka sepuluh. Angka sepuluh—seperti catatan Annemarie Schimmel—bermakna kelengkapan dan kesempurnaan.
Lonceng
Benda ini terlihat tergantung di sudut kanan atas ukiran. Sebuah lonceng menjadi hiasan yang melekat pada dinding dan menyentuh bagian paling atas dari bangunan rumah. Lonceng merupakan simbol konsekrasi. Dalam Catholic Encyclopedia, konsekrasi bermakna sesuatu yang digunakan untuk hal-hal suci. Lonceng dalam Melencolia I juga dapat ditafsirkan dalam pelbagai cara. Dering lonceng dapat berarti “suara” panggilan atau peringatan. Durer melukiskan lonceng dalam posisi menggantung di dinding, mungkin ingin menekankan pentingnya momen tertentu saat karya itu dibuat. Ketika menafsirkan rongga lonceng sebagai mulut pengkhotbah, maka bandul lonceng merupakan lidahnya. Di sini, bandul itu mengarah tepat pada kotak magis yang tertanam di dinding di bawahnya. Bandul itu ingin menunjukkan daya tarik kotak magis Durer. Lonceng yang diikat dengan tali yang mengarah ke kanan dan jika secara imajinatif tali itu ditarik maka lonceng itu akan bergerak kea rah kiri terlebih dahulu dan akan mengarah pada jam pasir yang berada di sisi kiri .
Lonceng yang menjadi simbol konsekrasi, sesuatu yang suci, sejalan dengan tafsir dalam sengkalan memet, dimana benda (lonceng) tunggal mengartikulasikan angka satu. Atau benda (lonceng) berlubang juga bisa bermakna angka Sembilan. Angka satu bermakna keesaan, absolute dan primordialitas, sesuatu yang suci sama seperti angka sembilan yang diartikan—seperti catatan Schimmel—sebagai tiga kuadrat suci, bermakna keindahan yang agung dan tinggi, beraura “surgawi” dan itu sama artinya dengan sesuatu yang suci.

Buku
Secara umum, buku melambangkan pengetahuan dan kebijaksanaan. Dalam Melencolia I, buku ini terlihat tertindih oleh tangan kanan sang malaikat di atas paha kanannya. Tetapi buku itu tertutup rapat karena terkunci dan ini seolah menunjukkan bahwa sang malaikat tak dapat “mendapatkan” pengetahuan dan kebijaksanaan atau mungkin sang malaikat tak mampu memahaminya. Dan mungkinkah ini yang menyebabkan ekspresi melankolisnya? Buku itu mungkin Alkitab atau beberapa tulisan suci lainnya, mengingat itu milik sang malaikat. Bisa juga muncul tafsir secara lebih dalam bahwa tertutup dan terkuncinyanya buku di bawah tangan sang malaikat menjadi semacam pernyataan kaum Humanis yang mempertanyakan agama. Tetapi buku ini juga bisa hanya menjadi tanda lain dari malaikat yang tidak memiliki kemauan atau alasan untuk datang ke dunia. Untuk itulah ia nampak murung. Tetapi dalam kasus apapun, buku yang tertutup memang bermakna bahwa sang malaikat tidak mampu menemukan kebijaksanaan .

Kompas (Jangka)
Di tangan kanannya, malaikat memegang kompas (jangka), alat khas geometri yang digunakan untuk menggambar lingkaran atau untuk melakukan pengukuran. Untuk menggunakan kompas seseorang harus mengontrol kedua titik sekaligus, baik dengan memegang puncaknya atau kedua lengan jangka. Tetapi dalam Melencolia I, sang malaikat hanya memegang satu lengan jangka dan dekat dengan satu titik pucuk runcingnya. Sang malaikat juga tidak membawa papan gambar di bawah jangka, jadi jelas bahwa dia tidak mungkin bisa menggunakan jangka itu. Di waktu Durer membuat ukiran kayu pada 1504, para Astronom (memang) mengukur sebuah bola bumi dengan kompas di bawah bulan purnama.
Malaikat yang memegang jangka ini—bagi Durer—mungkin refleksi seorang wanita Geometria, yang terlihat dengan kompas setiap kali quadrivia dilambangkan. Di Abad Pertengahan, Quadrivium bersama dengan trivium dinyatakan sebagai “tujuh seni liberal”, sebuah pendidikan klasik yang kemudian masih digunakan oleh beberapa filsuf Neo-Platonis dan sering digambarkan oleh para seniman. Quadrivium sendiri terdiri dari geometri, astronomi, aritmatika dan musik. “Tujuh seni liberal” ini ditunjukkan dengan jangka yang direntangkan oleh sang malaikat yang seolah membentuk angka tujuh. Dan angka tujuh ini tidak hanya menekankan quadrium dan trivium tetapi juga melambangkan angka suci. Jangka juga bisa menjadi lambang “kreasi” Tuhan .

Wadah Cor
Sebuah wadah kecil dapat terlihat di tepi kiri atas Melencolia I. Wadah yang digunakan sebagai cerek cor pandai besi. Meskipun ditempatkan lebih tinggi dari alat-alat pertukangan lainnya, tetapi wadah ini masih berada di atas tanah, menjadikannya salah satu instrumen “rendah”. Durer masih mengguratkan api yang menyala-nyala di bawah wadah itu.
Api mungkin bermakna Saturnus, yang dianggap sebagai bentuk temperamental (berapi-api)—layaknya para penguasa politik—dalam kosmologi Eropa pertengahan. Seniman, penulis dan filsuf selalu tunduk pada pengaruh Saturnus ini, yang (terkadang) dapat menyebabkan “kemuraman” yang akut. Tetapi api juga bisa berarti positif, dalam tradisi sengkalan memet, api melambangkan angka tiga, yang bermakna kebaikan. Angka ini merefleksikan sintesis dan dalam makna religius, tiga berarti trinitas, tiga aspek suci dalam diri Yesus.
Secara psikologis, wadah cor ini melambangkan kenangan akan keluarga Durer. Ibu Durer meninggal dunia di tahun yang sama ketika ia mulai membuat karya Melencolia I. Ayahnya telah meninggal pada 1502 (dua belas tahun sebelumnya). Durer muda mendapat pelatihan keterampilan dari ayahnya, seorang tukang emas yang dihormati. Maka wadah ini kemungkinan besar juga merefleksikan kenang-kenangan dari ayahnya atau kedua orang tuanya, sebagai tanda berkabung atas kematian mereka .

Anjing
Anjing ditempatkan di kiri bawah, di antara tiga benda batu (geometric, roda dan bola). Binatang itu nampaknya akan tidur. Dalam tradisi kontemporer, anjing merupakan lambang cinta dan kesetiaan. Tetapi jelas bahwa di masa Durer, anjing bermakna lain. Sekira abad ke-5 M, Horapollo Niliaci dari Mesir, seorang ahli tata bahasa, menggubah 189 huruf hieroglif kedalam tulisan Mesir sederhana. Sebuah terjemahan Yunani dari karya ini kemudian ditemukan di abad kelima belas. Pada 1512, Willibald Pirckhimer, seorang humanis dan politisi serta sahabat Durer, menerjemahkan tulisan Hieroglyphica Horapollo dari bahasa Yunani kedalam bahasa Latin. Durer membuat ilustrasi untuk buku sahabtanya itu dan juga menampilkan seekor anjing yang mirip dengan anjing dalam Melencolia I.
Buku itu menyatakan bahwa orang-orang Mesir memaknai anjing sebagai wakil dari beberapa hal tergantung pada konteksnya. Tetapi dalam kasus ini, dimana muncul bentuk anjing “telanjang” ( karena memiliki bulu yang tipis), maka hewan ini melambangkan seorang nabi. Hal ini kemungkinan besar benar karena Durer pernah menggunakan simbol Hieroglyphica semacam itu sebelumnya. Setahun sebelum ia membuat karya Melencolia I, Durer membuat disain seperti itu untuk salah satu karya besarnya yang lain, The Triumphal Arch( salah satu karya cetakan ukiran kayu terbesar yang pernah dibuat). Dalam karya itu, Durer menggambarkan Kaisar Romawi Suci Maximilian I sebagai anjing dengan selendang, yang dalam tulisan Hieroglyphica berarti “raja”. Jika anjing dalam Melencolia I melambangkan seorang nabi, maka benda-benda di sekitarnya memiliki makna yang lebih.

Benda Geometris
Durer’s Solid menjadi istilah yang biasa digunakan untuk menamai bentuk batu geometris di sisi kiri Melencolia I. Bentuk aneh polyhedron semacam ini telah diperdebatkan selama berabad-abad. Sisi-sisinya terlihat menunjukkan segi lima dan segitiga. Bentuk geometri misterius ini ditempatkan Durer bersama dua bentuk benda batu lainnya di Melencolia I: roda batu di tengah dan bola batu di kiri bawah. Ketiganya bersama-sama mengelilingi anjing. Karena anjing melambangkan nabi, tiga bentuk batu itu memang memiliki makna yang lebih khusus. Sifat matematis dari benda geometris memberikan gagasan tentang kehadiran intelektualitas. Posisi benda geometris yang lebih tinggi—dan justru paling tinggi—dari roda batu dan bola batu, juga menunjukkan posisi tertinggi dunia intelektual dalam kosmologi Neo-Platonis yang didasarkan pada tiga alam konsentris (dua lainnya adalah dunia Elemental dan Celestial) .
Dengan memberikan pemahaman matematika dalam dunia seni, Durer berharap untuk menguduskan seni grafis. Hal itu juga merujuk akan keyakinan tentang seni matematis yang merupakan satu aspek dari keyakinan akan kebijaksanaan matematika umum: pengetahuan mathesis (“astrology, liberal arts, science”). Sekali lagi, benda geometris ini tidak hanya sekedar menunjukkan pengetahuan matematika Durer, tetapi sifat matematis yang mewujud dalam benda itu, mewakili dunia intelektual kaum seniman.

Roda Batu
Bentuk batu kedua dalam Melencolia I adalah roda batu di tengah gambar di mana anak kecil (Putto) duduk. Roda batu ini mirip dengan batu asah (gerinda) tetapi bisa juga seperti sebuah batu kilangan (penggilingan). Tetapi batu ini terlalu besar untuk menjadi alat asah, maka lebih tepat jika batu ini menjadi alat kilangan. Batu ini—seperti catatan Finkelstein atas tafsir kitab Kejadian 28: 10-18—menjadi satu-satunya batu yang bisa digunakan Yakub untuk menjadi alas tidurnya dan bisa digunakan sebagai pilar jika ia mampu menegakkannya .
Jika benda goemetris melambangakn dunia intelektual, sementara bola batu (globe) mewakili dunia Elemental, maka batu penggilingan yang berdiri dan berada di antara benda geometris dan bola batu, melambangkan dunia Celestial, dunia akal dan filsafat. Representasi ini hadir secara jelas di era Durer. Berabad-abad sebelum Durer, peradaban yang beragam seperti Babilonia, Yunani, Arab, Skandinavia dan Roma juga menganggap dunia Celestial diwakili oleh sebuah batu kilangan. Selepas Durer-pun, Galileo Galilei—dalam Dialogue on the Great World Systems—pernah berujar, “Next, applying this reflection about the millstone to the stellar sphere, …”.
Batu penggilingan tetaplah bermakna penting. Putto yang duduk di atas batu penggilingan—bagi Durer—mungkin bermakna hubungan dunia Celestial dan dunia Intelektual karena Putto benar-benar berada di atas batu penggilingan itu . Dalam pemaknaan lain, tradisi sengkalan memet menyatakan bahwa roda mengartikulasikan angka 5. Jika dikembalikan dalam konteks budaya dunia—terutama Eropa—maka angka lima bermakna kehidupan dan cinta.

Globe/Bola
Bentuk bola batu (globe) berada di sudut kiri bawah, terletak di tanah di samping alat-alat tukang kayu dan anjing. Bola dunia juga (pernah) ditampilkan dalam karya Durer lainnya. Pada 1502, Durer telah menggambar bola dunia dalam tekstur yang sama dalam karya Nemesis, ia menggambarkan dewi Fortuna berdiri di atas bola. Bola melambangkan alam Terestrial, dunia manusia (bumi) dan itu bermakna kehidupan duniawi, yang tunduk pada hukum-hukum fisika: dimana ketidakseimbangan sedikit saja akan dapat membuatnya bergerak tak terduga. Karena anjing melambangkan nabi, sementara benda geometris melambangkan dunia intelektual—puncak tertinggi dalam dunia konsentris Neo-Platonis—maka dunia manusia (bumi) adalah yang terendah, menjadi Elemental World.
Globe dipelajari oleh para astrolog dan jangka (kompas) menjadi salah satu alat untuk mempelajarinya. Dalam Melencolia I, sang malaikat mungkin (telah) mengukur bola dunia denga jangka yang dipegangnya. Tetapi tak seperti layaknya astronom yang mempelajari bola dunia itu dengan sungguh-sungguh, sang malaikat justru terlihat tak lagi tertarik dengan bola dunia itu, meski ia masih memegang jangka. Sang malaikat—dalam perspektif Neo-Platonis—nampaknya ingin melepaskan diri dri dunia “bawah” menuju dunia yang lebih tinggi. Itulah mengapa Durer mendudukkan sang malaikat lebih tinggi dari posisi bola dunia—Dunia Elemental—yang berada di tanah .

Rumah
Di balik sosok malaikat, sebuah bangunan rumah menutupi sebagian besar sisi kanan Melencolia I. Bahkan, garis vertical yang membentuk dinding paling kiri, membagi seluruh gambar Melencolia I tepat di tengah-tengahnya. Hal ini menarik karena nama Durer memiliki lafal yang mirip dengan kata thurer, yang bisa berarti “pembuat pintu” atau “pintu”. Ketika “pembuat pintu” menggambarkan sebuah rumah tanpa pintu, maka ia cenderung ingin menyampaikan pernyataan.
Dinding depan lebih luas dibanding dinding sisi samping kirinya. Di dinding samping itu tergantung timbangan di atas Putto. Sementara di dinding depan tergantung jam pasir, lonceng dan kota magis. Setiap benda mampu menciptakan ilusi optik, misalnya buah-buahan yang membentuk wajah atau dari buah-buahan atau kutu yang membentuk setan. Ilusi optik sering dilakukan oleh seniman kala itu.
Jika diamati lonceng dan kotak magis seolah menciptakan ilusi jendela. Ilusi jendela ini satu-satunya “jalan” menuju ruang dalamnya, karena jelas bangunan rumah itu seolah benar-benar tertutup atau tersegel. Sayap malaikat terlihat menyentuk kotak magis (dan juga jam pasir). Di sini terlihat ilusi kiasan, instrumen ilmiah (kotak magis)—secara metafora—berfungsi sebagai jendela. Rumah ini diibaratkan rumah Allah, maka jendela metafora itu bermakna ilmu ukur dan aritmatika berusaha untuk masuk dalam “rumah” Allah. Leonardo menulis bahwa pengetahuan datang dari pengalaman dan Durer menggambarkan bahwa pengalaman ilmiah mengarah kepada Allah .

Jam Pasir
Jam pasir banyak digunakan dalam seni Renaissance sebagai simbol waktu, biasanya untuk mengingatkan bahwa hidup itu singkat. Sebelumnya, Durer juga telah membuat dua karya dengan elemen jam pasir, Knight, Death and the Devil (1513) dan Saint Jerome (1514). Tetapi dalam Melencolia I, gambar jam pasir lebih jelas dan detail. Nampaknya simbolisme kefanaan dan keterbutuhan mampu mempesona Durer, seolah-olah ia ingin memastikan bahwa karyanya dimaksudkan untuk melihat waktu, dimana begitu banyak orang mengembangkan cara-cara baru dalam berpikir dan mengamati dunia.
Jam pasir ini juga bisa menceritakan tentang perjalanan dari satu dunia ke dunia lain. Keberadaan jam pasir dalam Melencolia I mungkin juga berfungsinya sebagai unsur pengukuran, jika dilekatkan dengan dua elemen lain: timbangan dan kotak persegi ajaib yang tergantung di dinding rumah. Tetapi pertanyaan apakah aspek waktu dalam hal ini menjadi pertanda baik atau buruk, belumlah terungkap. Tetapi secara umum, jam pasir menekankan perbedaan yang kontras antara masa lalu dan masa depan .

Dupa
Dupa menjadi elemen penting dalam pelbagai ritual. Penggunaan dupa (ukupan) di masa lampau merupakan hal biasa, teristimewa dalam ritus-ritus keagamaan dimana dupa dipercayai dapat menghalau roh-roh jahat. Herodotus—sejarahwan Yunani—mencatat bahwa dupa umum dipergunakan di kalangan masyarakat Assyria, Babilonia dan Mesir. Di kalangan Yahudi, dupa termasuk dalam persembahan syukur minyak, biji-bijian, buah-buahan dan anggur (Bil 7:13-17). Tuhan memerintahkan Musa untuk membangun sebuah mezbah emas tempat pembakaran ukupan (Kel 30:1-10), yang ditempatkan di depan tabir penutup tabut. Pada masa Gereja perdana, kaum Yahudi terus mempergunakan dupa dalam ritual Bait Suci mereka. Maka dari sanalah umat Kristiani menerapkan penggunaan dupa dalam ritual mereka.
Dupa dan nilai simbolik dari asap adalah pemurnian dan pengudusan. Asap melambangkan doa-doa umat beriman yang membubung ke surga. Pemazmur bermadah, “Biarlah doaku adalah bagi-Mu seperti persembahan ukupan, dan tanganku yang terangkat seperti persembahan korban pada waktu petang” (Mazmur 141:2). Dupa juga menciptakan suasana surgawi. Kitab Wahyu 8:3-4 menggambarkan sembah sujud surgawi itu, “Datanglah seorang malaikat lain, dan ia pergi berdiri dekat mezbah dengan sebuah pedupaan emas. Dan kepadanya diberikan banyak kemenyan untuk dipersembahkannya bersama-sama dengan doa semua orang kudus di atas mezbah emas di hadapan takhta itu. Maka naiklah asap kemenyan bersama-sama dengan doa orang-orang kudus itu dari tangan malaikat itu ke hadapan Allah” .

Kunci
Sebuah bundel beberapa kunci dapat dilihat menjuntai dari pinggang malaikat dalam Melencolia I. Kunci berarti kekuasaan. Meskipun penjelasan ini bisa diperluas lagi karena mungkin berarti hal yang lebih dari sekedar itu. Kunci (juga) menjadi simbol umum atas misteri atau enigma (teka-teki), atau tugas yang harus dilakukan dan cara melaksanakannya. Kadang-kadang kunci juga mengacu pada ambang ketidaksadaran. Tetapi kunci juga bisa menunjukkan pembebasan dan pengetahuan. Tetapi—da;am Melencolia I—kunci nampaknya tidak berguna karena bangunan rumah tak berpintu dan buku yang berada di bawah siku tangan kanan malaikat rapat tersegel. Nampaknya kunci—yang mewakili makna kekuasaan atau pengetahuan—tak mampu dimanfaatkan dan digunakan oleh sang malaikat. Ketika malaikat memegang bundel kunci suci itu, rasa frustrasi karena tidak mampu menggunakannya, tumbuh semakin besar .

Tangga
Sebuah tangga kayu dengan tujuh pijakan dapat dilihat pada bagian belakang gambar. Durer menggambarkan tangga diantara batu (penggilingan dan geometris) dan bangunan rumah bahkan dekat dengn malaikat, jelas untuk menunjukkan kisah Yakub dalam kitab Kejadian 28. Ayat-ayat yang relevan adalah “Ia sampai di suatu tempat, dan bermalam di situ, karena matahari telah terbenam. Ia mengambil sebuah batu yang terletak di tempat itu dan dipakainya sebagai alas kepala, lalu membaringkan dirinya di tempat itu. Maka bermimpilah ia, di bumi ada didirikan sebuah tangga yang ujungnya sampai di langit, dan tampaklah malaikat-malaikat Allah turun naik di tangga itu (Kej 28:11-12). Lalu “Ia takut dan berkata, ‘Alangkah dahsyatnya tempat ini. Ini tidak lain dari rumah Allah, ini pintu gerbang surga’” (Kej 28:17). Maka dalam konteks ini, tangga bermakna pintu gerbang ke surga. Tangga yang dimanifestasikan sebagai gerbang surga, merupakan hal yang lumrah dalam dunia seni rupa, termasuk dalam karya Durer Melencolia I .

Lampu
Lampu merujuk pada simbolisme terang. Di kalangan Yahudi, suatu lampu dinyalakan terus-menerus di Bait Suci dan rumah-rumah ibadat, bukan hanya untuk menjamin lampu-lampu minyak lainnya dapat dinyalakan pada sore hari, melainkan juga untuk menunjukkan kehadiran Tuhan (Kel 27:20-21 dan Im 24:2-4). Di kemudian hari, Talmud menetapkan suatu lampu menyala di Tabut, di mana Taurat dan tulisan-tulisan Kitab Suci lainnya disimpan, guna menunjukkan penghormatan kepada Sabda Allah.
Umat Kristiani mengadaptasi penggunaan lampu-lampu minyak untuk misa, prosesi liturgis, ibadat sore, prosesi pemakaman dan untuk menyatakan penghormatan kepada Sakramen Mahakudus. Di samping itu, didapati bukti bahwa lampu-lampu minyak dinyalakan di makam-makam para kudus, terutama para martir, sekira tahun 200-an dan di depan gambar-gambar kudus dan relik sekira tahun 300-an.
Dalam tradisi Kristiani, terang—yang salah satunya berasal dari lampu—mempunyai makna istimewa, yaitu Kristus. Yesus bersabda, “Akulah terang dunia; barangsiapa mengikut Aku, ia tidak akan berjalan dalam kegelapan, melainkan ia akan mempunyai terang hidup” (Yoh 8:12) dan “Aku telah datang ke dalam dunia sebagai terang, supaya setiap orang yang percaya kepada-Ku, jangan tinggal di dalam kegelapan” (Yoh 12:46). Lagipula, prolog Injil Yohanes menghubungkan Kristus dan hidup sejati dengan gambaran akan terang, “Dalam Dia ada hidup dan hidup itu adalah terang manusia” dan “Terang yang sesungguhnya, yang menerangi setiap orang, sedang datang ke dalam dunia” (Yoh 1:4,9). Maka terang (dari lampu) merupakan lambang iman, kebenaran, kebijaksanaan, keutamaan, rahmat, kehidupan ilahi, belas kasih, semangat doa dan kehadiran sang kudus .

Tas
Tas ini dipakai oleh malaikat dan dapat terlihat di bawah lutut kirinya, tepat di atas pisau gergaji. Tas bermakna kekayaan, sesuatu yang profan. Yang menarik, dalam karya-karya lain, Durer menggambarkan Madonna dan Venus dengan tas di pinggang, sementara dalam Melencolia I, tas itu terserak di bawah, di atas tanah dekat kaki sang malaikat. Hal itu menunjukkan elemen lain dalam Melencolia I, tentang sesuatu yang tak lagi berguna: bahwa kekayaan tak memiliki peran penting—tak membantu—dalam kemurungan (kehidupan manusia) .

Putto
Putto adalah sosok khas seorang anak kecil—hampir selalu laki-laki—yang sering telanjang dan memiliki sayap. Karakter ini ditemukan terutama dalam seni Renaissance dan Baroque. Dalam Melencolia I, putto ini duduk di atas karpet yang menutupi batu penggilingan di tengah gambar. Putto ini jelas tokoh sentral, bukan hanya sang malaikat yang begitu mencolok ukuran. Dalam kosmologi Neo-Platonis, seniman yang memiliki keterampilan imajinatif berada dalam dunia elemental, dunia paling bawah. Namun, putto—yang melambangkan seniman—berada dalam lingkup Celestial karena ia berada di atas batu penggilingan. Putto yang aktif “menggambar” nampaknya menjadi elemen tunggal di Melencolia I menunjukkan aktivitas positif. Ia nampak sibuk berfikir dan mengukir sesuatu dengan papan kayu dan serutan. Putto dengan segala aktivitasnya sesungguhnya merefleksikan diri Durer sendiri .

Pelangi
Pelangi di langit malam hari dalam Melencolia I terlihat aneh. Tetapi pelangi ini berhubungan dengan cahaya yang nampak dari kejauhan. Cahaya bersinar terang kemungkinan besar mewakili penciptaan ilahi dari cerita Alkitab, dan hanya “busur langit” itu—seperti yang terkatub dalam Alkitab—yang dilihat oleh nabi Nuh selepas banjir bandang. Kitab Kejadian tidak mengatakan apakah Noah melihat pelangi itu siang atau malam, sehingga Durer tidak punya kepastian dan ia memilih membuatnya dalam gelapnya malam. Secara teknis, pelangi yang muncul pada malam hari disebut moonbow atau pelangi bulan. Kejadian ini bisa muncul ketika cahaya (yang banyak) dipantulkan dari permukaan bulan. Karena cahaya biasanya terlalu lemah, moonbow sering tampak berwarna putih. Dalam kitab Kejadian, cahaya di langit dan pelangi di awan mewakili dua hadiah besar dari Allah .

Timbangan
Pada dinding samping rumah menggantung sebuah timbangan, tepat di atas kepala putto. Satu wadah timbangan menyentuh kepala putto, yang lainnya menyentuh sayap malaikat. Posisi timbangan sampak seimbang. Di sana nampak, malaikat duduk pasif di “dunia” Celestial sementara Putto yang aktif berada dalam “dunia” Intelektual, tetapi keduanya terlihat seimbang dan (seolah) timbangan itulah yang menyeimbangkan. Durer nampaknya ingin menjelaskan tentang bentuk keseimbangan visual antara Filsafat Alam dan Filsafat Teologi dalam wujud timbangan yang menggatung itu .

Kota
Di kejauhan—dibelakang tangga—terlihat sebuah kota di tepi laut. Detail kota itu tak begitu kentara karena gambarnya begitu kecil. Garis bergelombang paralel yang sangat halus mengalir dari sebelah kiri bangunan menjadi gelombang besar yang membayangi kota itu. Seolah kota itu akan hancur karena gelombang air laut. Maka ilustrasi kota yang hancur karena gelombang air laut bisa ditemukan dalam kitab suci. Satu ayat yang dahsyat, “Dan seorang malaikat yang kuat, mengangkat sebuah batu sebesar batu kilangan, lalu melemparkannya ke dalam laut, katanya: ‘Demikianlah Babel, kota besar itu, akan dilemparkan dengan keras ke bawah, dan ia tidak akan ditemukan lagi’”(Wahyu 18:21). Empat elemen ukiran yang termaktud dalam kitab suci: malaikat, batu penggilingan, laut, dan kota (Babel) menambah nuansa melankolis dalam Melencolia I .

Mahkota Bunga
Malaikat dalam Melencolia I dimahkotai dengan karangan bunga dari anyaman tanaman ranunculus dan watercress. Sifat berair dari tanaman itu bermakna penangkal perangai Saturnine (melankolis), yang didefinisikan dalam dunia medis Neo-Platonis sebagai campuran dari empat cairan tubuh (darah, cairan empedu kuning, lendir dan cairan empedu hitam). Melankolia akut sering mempengaruhi seniman, penulis dan filsuf. Dalam Melencolia I, baik mahkota bunga dan magic square melindungi sang seniman dari pengaruh Saturnus .

Papan Kayu dan Serutan
Alat-alat yang dimiliki oleh putto di tengah gambar diidentifikasi sebagai alat ukiran. Putto tidak sedang memegang sepotong kapur tulis tetapi sebuah serutan dan sang anak itu sedang menggurat sesuatu di atas papan kayu yang dibawanya. Durer membuat sang putto nampak kreatif membuat ukiran—satu-satunya elemen yang aktif dalam Melencolia I. serutan umumnya dikenal sebagai alat perajin semata dan misi hidup Durer adalah untuk menyucikan (mendudukkan) seniman di atas para pengrajin. Untuk memahami mengapa Durer menyatakan bakat terbesarnya—ukiran—bisa dilacak dari judul karyanya ini. Kata latin untuk serutan adalah caelum. Dalam konteks lain caelum juga bisa berarti “langit” atau “surga”. Caelum sepada dengan kata inggris “Celestial”. Kata Caelo bisa berarti surga atau mengukir. Durer nampaknya ingin memperlihatkan aspek-aspek keseniannya melalui simbol papan kayu dan serutan yang dipegang oleh putto. Durer berusaha untuk menguduskan seni grafis yang dikuasainya, tetapi menyamarkan niatnya itu dalam sosok seorang anak kecil yang memegang papan kayu dan serutan .

Komet
Komet merupakan aspek Tuhan. Benda ini juga bisa dianggap sebagai pesan atau utusan dari angkasa. Komet besar 1471Y1 pertama kali terlihat pada hari Natal di tahun kelahiran Durer dan Durer menulis pernah melihat komet pada 1503. Sifat-sifat fisik meteor dan komet masih belum diketahui pada 1514. Bahkan Galileo masih akan percaya bahwa komet terbentuk dari uap atmosfer yang terlepas keluar Bumi. Karena Alkitab telah menjelaskan banyak unsur gambar magis, maka jawaban atas komet bisa dirujuk ke sana. Satu-satunya cahaya menyilaukan di langit—sesuai Alkitab—adalah cahaya asli, Fiat lux, yang merepresentasikan penciptaan ilahiah. Cahanya terang dan bintang-bintang mewakili aspek ilahiah itu tetapi—dalam keyakinan yang sama—komet juga bisa mewakili aspek yang sama: penciptaan dan wahyu ilahiah.
Alat-alat Pertukangan [Palu, Catut/Tang, Paku, Pisau Gergaji dan Pasah] Terlihat di bagian bawah gambar beberapa jenis tukang dan alat-alat tukang kayu, berserakan di tanah. Mereka mungkin telah digunakan oleh malaikat, meskipun kemudian tak digunakan lagi dan dibiarkan berserakan begitu saja. Alat-alat yang berserakan ini—sebagai sekedar alat kerajinan/pertukangan—dianggap mewakili lingkup duniawi. Durer menguasai banyak keterampilan dalam ukiran dibawah asuhan ayahnya, seorang pandai emas. Dan mungkin penempatan peralatan di tanah yang berserakan itu menjadi simbol rasa frustasi atau keraguan atas apresiasi kemampuan artistiknya atau jika merujuk pada sesuatu yang lebih dalam—berkaitan dengan kisah kitab suci—maka alat-alat itu bisa jadi merujuk pada sosok Kristus. Bukankah Yesus seorang keturunan tukang kayu? Maka penampatan ala-alat pertukangan yang berserakan merupakan tanda pengingat untuk mengingatkan kembali sosok Kristus .

Caelo Limine
Yang paling menarik atas karya Melencolia I adalah bagaimana memaknai judul karya ini. Judul itu secara gematria sederhana berkaitan dengan sosok Michelangelo, seniman Italia. Melencolia I = (13 +5 +12 +5 +14 +3 +15 +12 +9 +1) + (1) = 89 +1 = 90, MICHAEL ANGEL = (13 +9 +3 +8 +1 +5 +12) + (1 +14 +5 +7 +12) = 90 atau Melencolia = 13 +5 +12 +5 +14 +3 +15 +12 +9 +1 = 89, Michelangel = 13 +9 +3 +8 +5 +12 +1 +14 +7 +5 +12 = 89. Michelangelo memang dikenal sebagai orang yang sangat melankolis, merasa menderita lebih berat daripada orang lain. Sekali waktu Michelangelo menulis dalam salah satu puisinya, La mia allegrez ‘è la maninconia, yang berarti “sukacita saya adalah melankolia” .
Tetapi kata Melencolia I juga bisa merupakan sebuah anagram dari kata latin caelo limine, yang berarti “aku mengukir di dinding” atau “aku mengukir di tepi” tetapi juga bisa berarti “di pintu gerbang surga”. Dan nampaknya makna yng ketiga itulah yang ingin disampaikan Durer. Dengan cara menafsir anagram semacam ini, terlihat kedalaman kontemplasi Durer atas dunia profan dan dunia ilahiah. Ia nampaknya—melalui kemurungan-kemurungan dalam Melencolia I—berusaha untuk kembali merenungkan nasib manusia, yang mungkin terasa menyedihkan bagi Durer. Akankan manusia akan melewati “gerbang surga” itu? Atau secara personal: Durer mengingat ibunya yang telah meninggal, akankah ia akan ke “gerbang surga” itu?

 

Analogy Magic Square of Durer | Intallation | Resin | 200x200x200cm | 2013

No comments yet.

Leave a Comment

All fields are required. Your email address will not be published.