See in lay for detail

7 Java of Durer Series (2016)

Pengantar

Dalam catatan Mankind and Mother Earth Toynbee, seluruh Itali bukanlah satu-satunya loka tumbuhnya budaya modern karena wilayah Flanders muncul dan menjadi magnet kedua dari bersinarnya kebudayaan barat (Eropa). Salah satunya, di antara laut Adriatik dan laut Utara, Nuremberg menjadi pusat budaya. Di sanalah, Albrecht Durer berkarya sejaman dengan Michelangelo dan Raphael. Ia memang menjadi seniman besar yang menjadi tandingan seniman-seniman Itali . Durer menjadi seniman Renaisans Utara yang (juga) memberikan nuansa religius serta misterius dalam karya-karyanya layaknya Leonardo da Vinci. Tujuh karya-karya (Durer) ini diangkat kembali lalu ditafsirkan dalam sakralitas aksara, naskah (babad tanah Jawi) dan pemahaman akan angka 7 dalam lokalitas Jawa sehingga tampilan sakralitas Durer secara visual bermakna juga membuka pemahamaan makna sakralitas dalam kultur Jawa.

 

Artstage Jakarta 2016

7 Java of Durer ini mengkorelasikan karya-karya Albrecht Durer dengan aksara bahasa Jawa yang dipertemukan dalam titik sacred script, texts and numbers. Aksara jawa carakan memiliki sakralitas karena aksara ini diejawantahkan dan diingat dalam kultur jawa sebagai sebuah hukum kodrat “sangkan paraning dumadi”, sebuah ungkapan transedental tentang asal muasal. Carakan menjadi sebuah episteme saat digubah dalam sebuah seloka yang indah;

hananing cipta rasa karsa(Ha-na-ca-ra-ka)

datan salah wahyuning lampah(Da-ta-sa-wa-la)

padhang jagade yen nyumurupana(Pa-dha-ja-ya-nya)

marang gambaring bathara ngaton(Ma-ga-ba-tha-nga)

Bagi orang Jawa, carakan dari ha sampai nga (berikut pasangan dan sandhangannya), selain disebut sebagai aksara juga disebut sastra dan sastra ini mengungkapkan isi kandungan batin manusia mulai dari yang sederhana hingga kawruh pangawikan kajaten (filsafat) yang lahir dari pikiran, perasaan dan kemauan yang melahirkan perbuatan—hananing cipta rasa karsa—manusia, tidak menyalahi laku kehidupan karena semua telah ditakdirkan—datan salah wahyuning lampah. Lampah berarti lampahing agesang yang bermakna  sebuah perjalanan hidup. Meskipun demikian, manusia akan selamat manakala mampu melihat atau menyadari—padhang jagade yen nyumurupana—alam kehidupan semesta milik Tuhan—gambaring bathara ngaton. Alam semesta menjadi yang paling akhir dan paling puncak. Semesta ini menjadi makrokosmos, sebuah manifestasi kehadiran atau pengejawantahan sang pencipta alam.

 

Detail Karya

Dua seloka  terakhir dalam carakan itu “padhang jagade yen nyumurupana marang gambaring bathara ngaton” bermakna mengakui  kemahakuasaan sang pencipta dan menjadi sumber segala penerangan atas kehidupan . Carakan telah menjadi untain aksara yang adiluhung, jika dirangkaikan dalam wujud teks, maka teks itu juga menjadi adiluhung, menjadi teks yang suci (sacred text). Para pujangga keraton di Jawa menuliskan serat dan babad dalam aksara-bahasa Jawa. Karya-karya tekstual itu menjadi karya adiluhung, menjadi sakral karena ditulis dalam aksara (dan bahasa) yang suci.

Lalu mengapa carakan menjadi suci? Aksara carakan bermula dari transformasi tata aksara arkais yang—dalam   catatan de Casparis—tumbuh sejak sebelum masa 700 Masehi bernama Pallawa . Pallawa merupakan aksara abudiga yang berpangkal dalam rumpun aksara Brahmin milik kaum Brahmana yang sakral dan suci. Karakter Brahmin selatan—dalam aksara Pallawa—kemudian telah melahirkan aksara Kawi  (Jawa Kuno) yang mewujud sejak abad 8 Masehi hingga abad 13 Masehi , lalu berubah menuju aksara Jawa Tengahan di masa negeri Wilwatikta hingga paruh pertama abad 15 Masehi. Selepas itu Casparis menyebutnya sebagai masa cul de sac, dimana transformasi aksara yang berkelanjutan “berhenti” atau aksara yang berkembang hanya sekedar  penyederhanan dari aksara Majapahitan . Tetapi van der Molen menyebutnya sebagai masa perkembangan menuju arah aksara baru , menuju aksara carakan paling awal.

Transformasi aksara ini tetap meletakkan nilai-nilai sakralitas aksara itu sendiri. Itulah mengapa aksara-aksara itu berikut makna tekstual yang ingin disampaikan dalam prasasti yang terpahat di batu dan logam hingga ditorehkan pada lontar dan kertas, dimulai dengan doa-doa yang sakral, baik oleh kaum poruhita hingga kaum pujangga keraton. Mereka berharap teks yang termaktub menjadi sakral dan aksara yang dituliskan disucikan.

Dalam konteks sacred script and text inilah, 7 karya Durer mencoba menautkan makna sakralitas karya-karya engraving dan woodcut Albrecht Durer dengan Babad Tanah Jawi. Catatan arkais babad itu ditulis kembali dalam aksara-bahasa Hanacaraka secara utuh disematkan dalam 7 karya Durer tentang kehidupan. 7 Karya Durer diambil dan dipilih dari tahun 1400an hingga 1500an. Rentan waktu selepas Durer kembali ke Nuremberg dari perjalanannya ke Italia  pertama kali hingga masa kembali ke Nuremberg untuk yang kedua kali dan selamanya selepas melakukan perjalanan ke Belanda. Karya-karya gravir dan cukilan kayu Durer secara visual menggambarkan nafas renaisans. Meski Renaisans mengubah pemikiran manusia Eropa dimana  manusia berada di pusat alam yang bebas menentukan takdirnya sendiri, citra manusia layaknya dalam Hamlet Shakespeare, “betapa manusia adalah sepotong karya! Betapa agung dalam penalaran!…di dalam tindakan betapa ia laksana seorang malaikat!…betapa ia seperti seorang dewa!”. Tetapi  sekalipun  ide kebebasan menyeruak kuat, dalam budaya renaisans, agama tetap fundamental bagi kehidupan orang karena—seperti catatan Alison Brown—“tradisi religius telah mendarah daging, meresap ke dalam tulang-tulang pria dan wanita…sejak dari buaian hingga kuburan” .

Sekali lagi, karya 7 Java of Durer mencoba menampilkan secara visual tentang nilai adiluhung (suci) dari aksara bahasa Hanacaraka yang mulai muncul dititik awal abad 15 Masehi di Jawa coba yang dimaknai sama dengan sakralitas karya-karya Durer, dimasa yang sama, yang terjadi Eropa.

Memang terlalu sukar untuk memastikan kapan Renaisans menyeruak di Eropa seperti halnya terlalu sukar untuk memantapkan kapan perubahan (Hindu ke Islam) di tanah Jawa. Tetapi Jostein Gaarder menarik garis tahun tegas 1400 Masehi. Di angka yang sama, Babad Tanah Jawi menyimpulkan runtuhnya Majapahit di  tahun  1400 Saka, “sirna ilang kertaning bumi” garis tegas “renaisans” di tanah Jawa.

Dalam karya ini, Babad Tanah Jawi berkorelasi dengan angka sakral 7 secara imajinatif. Merangkum kisah-kisah di dalamnya dalam 7 peristiwa. Seperti 7 karya Durer yang sekiranya mampu mewakili dari sisi gambaran, gagasan dan semangatnya. Rhinoceros dan Kisah dari Negeri Ujungkulon, Knight, Death and the Devil dan Ksatria Jawa, The Landscape with the Cannon dan Pangeran Sabrang Lor, Four Naked Women dan Mitologi Perempuan Jawa, Erasmus of Rotterdam dan Wali Jawa, Rest on the Flight into Egypt dan Kisah Tumenggung Mayang, dan Samson Rending the Lion dan Suksesi Kuasa Jawa.

 

Kuratorial

Aminudin Siregar “Bang Ucok”

Karya-karya engraving Duhrer memiliki pengaruh besar dijaman-nya. Duhrer menunjukkan kesalehan yang mendalam dalam karya-karya-nya tentang kemanusiaan. Dunia menjadikan Duhrer seorang tokoh yang mempelopori demokrasi seni dan teologi. Salah satu karya Duhrer yang merupakan karya engraving Badak bahkan menjadi referensi penting dari berbagai ensiklopedia tentang hewan [1]. Padahal karya ini tidak seutuhnya merupakan “fotografi” dari hewan yang sebenarnya. Beberapa referensi seperti [2] menyebutkan Badak yang menginspirasi karya engraving Dürer diperoleh dari tulisan dan skesta seorang seniman tak dikenal mengenai Badak yang tiba di Lisboa di tahun 1515. Badak ini diberikan oleh seorang Sultan India untuk Raja Manuel dari Portugal di tahun 1515. Pada saat itu angkatan laut Portugal mendominasi Samudera Hindia serta mengendalikan perdagangan rempah-rempah dunia. Badak yang pertama tiba di Eropa mengakibatkan sensansi publik. Dalam rangka mencari persetujuan untuk kerajaan Timur, Raja Manuel mengirim badak sebagai hadiah kepada Paus. Namun, kapal yang mengangkut badak tenggelam dalam badai dan badak malang itu tenggelam [3].

Pada saat ini Rhinoceros sondaicus sondaicus, Badak, merupakan species yang hampir punah keberadaannya. Populasi tersisa hanya ada di Semenanjung Ujung Kulon [Hoogerwerf, 1970, 4]. Eddy Susanto menvisualisasikan kembali Engraving Badak Duhrer dengan membalutkan teks bahasa-aksara jawa Kisah Negri Ujung Kulon dari Babad Tanah Jawi. Karya ini dilengkapi dengan dua buah instalasi Badak yang terbuat dari resin. Karya resin ini-pun terbalut kisah perjalanan Badak dari Asia ke Eropa. Karya Badak Duhrer adalah satu dari 7 yang dipilih Eddy Susanto dalam pameran yang berjudul 7 Java of Duhrer.

Pada pameran ini Eddy Susanto memilih 7 karya engraving Albretch Durer serta korelasinya dengan Babad Tanah Jawi. Eddy mengambil 7 sekuel imaginer dalam Babad Tanah Jawi yang mewakili nuansa ilustratifnya 7 karya Duhrer. Ketujuh sekuel ini adalah “Suksesi kuasa jawa”, “Kisah Tumenggung Mayang”, “Mitologi perempuan jawa”, “Kisah Wali Sanga”, “Kisah Ksatria Jawa”, “Kisah Pangeran Sabrang Lor”, dan “Kisah dari Negeri Ujung Kulon”.

Angka tujuh memiliki makna esoteris purba yang berhubungan dengan keilahian. Dalam kosmologi Jawa, angka tujuh juga memiliki makna sakral. Dunia Jawa terdiri dari 7 lapisan: 3 lapis teratas  bersemayamnya para dewa; lapisan tengah tempat manusia;  3 lapisan terbawah bersemayan kekuatan-kekuatan jahat.

Terlepas bahwa kisah Badak sebagai hadiah kepada Paus merupakan kisah nyata atau fiktif, esensinya adalah dunia eropa-pun sangat dipengaruhi oleh nilai-2 esoteris melalui keberadaan berbagai tulisan mengenai keinginan Raja Manuel mencari persetujuan untuk kerajaan Timur, dengan mengirimkan badak sebagai hadiah kepada Paus.

 

[1] http://riowang.blogspot.co.id/2008/11/rhinocerology-3-first-litter.html

[2]  (French) Joëlle Kuntz, “1515, l’année du rhinocéros”Le Temps, Friday 18 December 2015 (page visited on 21 December 2015).

[3] https://en.wikipedia.org/wiki/D%C3%BCrer%27s_Rhinoceros

[4] http://www.iucnredlist.org/details/19495/0

No comments yet.

Leave a Comment

All fields are required. Your email address will not be published.