9 Mata Hari Centhini | Acrylic on Canvas | 100x250cm (9 panels) | 2012

Mata Hari dan Centhini layaknya dua elemen yang menyatu. Keduanya sama-sama memberi pandangan tentang makna perempuan serta ragam gerak tubuh tari Jawa. Gerak gemulai Mata Hari memberi gambaran sembilan watak manusia dan sembilan ragam tari Centhini.

Detail Karya

Angka sembilan diingat sebagai manifestasi tiga kuadrat suci yang memancarkan keindahan yang agung dan tinggi. Sembilan juga menjadi penanda watak angka yang nyaris sempurna dan memberi jalan bagi manusia untuk memahami karakter jiwa. Eneagram of personality mencoba memilah karakter manusia paling alami dalam sembilan bagian. Dari watak perfeksionis, penolong, ambisius, romantis, pemerhati, pencemas, petualang, pejuang, hingga watak pendamai. Semua manusia memiliki salah satu watak dalam eneagram of personality, bahkan dimungkinkah memiliki semuanya.

Watak ini yang memberi petunjuk tentang esensi manusia di kehidupannya, tentang bagaimana manusia berinteraksi dalam ruang sosialnya, bagaimana seseorang menempatkan dirinya, sampai menyelami misteri hidup manusia. Hingga sastra klasik Jawa masa Islam paling fenomenal, Centhini, mengumbar watak sosok makhluk paling misterius dalam dunia maskulin bernama perempuan.

Tentang jalan mencari tahu sisi sensualitas perempuan dari penampilan.  Dari situlah terungkap watak-watak perempuan yang masuk dalam eneagram of personality. Dalam ratusan bait-bait tembang Jawa itu tersirat pencarian sosok perempuan yang memiliki tubuh paling ideal serta sensual termasuk dalam mencari watak paling mulia.

Sembilan pose tari sensual Mata Hari adalah misteri sensualitas atas tafsir dunia feminim Jawa dalam Centhini. Sembilan katuranggan yang termanifestasikan dalam gerak lembut sang penari. Nama Mata Hari seolah mengingatkan tipe perempuan Jawa “surya sumurup” dalam Centhini, sosok perempuan paling sensual yang sangat digandrungi kaum Adam.

Perempuan yang begitu istimewa karena memiliki pancaran watak yang kuat, seperti berabad-abad silam di tanah Jawa, saat Arok begitu takjub luar biasa atas pancaran watak Dedes, sang nareswari tanah Jawa. Dedes menjadi sosok paling sensual dalam dunia Jawa klasik dan perempuan seperti inilah yang selalu menjadi idaman setidaknya hingga masa Islam dimana serat Centhini mengawetkan karakter perempuan Jawa yang paling sempurna.

Pancaran watak yang kuat itulah yang menjadi penanda dan Mata Hari menjadi perempuan “Jawa” yang penuh “pancaran sinar”, dia ingin mengabarkan pada dunia barat tentang sensualitas perempuan Jawa yang paling mulia, memiliki watak yang luar biasa yang digandrungi banyak lelaki dan menjadi sosok misterius dalam dunia maskulin.

Saat menghaturkan beksa [tarian], Mata Hari menunjukkan bahwa perempuan Jawa tidaklah bersikap lugu, pasrah, dan lemah di hadapan lawan jenisnya. Gerak-gerak tubuh sensualnya menyiratkan kuatnya watak petualangnya dan semua terekam dalam sembilan pose sensual Mata Hari yang menunjukkan watak-watak perempuan Jawa lampau yang terendap dalam bait-bait indah suluk Tambanglaras (Centhini).

Sembilan gerak tari Mata Hari juga bermakna sembilan tari Jawa yang hidup dalam kultur bawah [masyarakat luas] dan atas [kalangan istana]. Tari Jawa yang profan dan sakral membaur dalam satu rentetan perjalanan budaya Jawa dalam Centhini. Gerak tubuh Mata Hari yang dipertontonkan di pelbagai teater dan museum Eropa—dalam setiap pertunjukannya—mencoba memancarkan sembilan tari Jawa dalam Centhini. Sembilan pose tari Mata Hari menggugah kembali sembilan tari dalam parwa [jilid] kedua Centhini. Bait-bait pupuh Sinom 15 hingga 21 yang memaparkan tujuh beksa profan dan dua beksa sakral milik keraton.

Centhini mengabarkan bahwa sejak masa dinasti Airlangga, prabu yang tinggal di Jenggala telah mempersembahkan beksa bagi para kawula, tari-tarian tentang kebahagiaan juga tentang cinta dalam kisah Panji. Itulah kenapa tercipta tujuh beksa Wireng yang profan bernama beksa Wireng Panji Sepuh, Panji Mudha, Panji Wreda, Dhadap Kanoman, wireng Jemparing Ageng, wireng Lawung Ageng, serta Wireng Dhadap Kreta. Ketujuh beksa profan ini menjadi bagian budaya bawah yang menjelajahi desa-desa Jawa [tengah maupun timur] seperti Gambyong atau Tarub yang pernah dilihat Mata Hari saat masih berada di Jawa dan menyaksikan tari-tari profan ini di pelataran candi Jajaghu [Jago] atau candi Kidal. Tempat-tempat ritual kuno ini  terekam juga dalam Centhini kala Jayengsari ditemani Niken Rangkapti berkelana dan singgah di Tumpang.  Tujuh beksa ini terlengkapi dengan dua beksa sakral yang selalu dibawakan empat hingga sembilan perawan cantik keraton, beksa Srimpi dan Bedhaya. Tari mistis yang selalu dibawakan di kedaton para sultan Jawa.   Itulah sembilan beksa dalam Centhini yang ditafsir-tampilkan kembali dalam sembilan pose Mata Hari.

No comments yet.

Leave a Comment

All fields are required. Your email address will not be published.