After Baba(t)d Diponegoro | Acrylic, Phosphor on Canvas | 300x190cm | 2013

Karya ini memiliki tiga layer visual yang merupakan korelasi antara lukisan karya Raden Saleh Penangkapan Diponegoro, teks huruf jawa Babad Diponegoro versi Surakarta, dan karya Fransisco Goya El Tres de Mayo. Khusus untuk memunculkan visual lukisan Fransisco Goya El Tres de Mayo karya ini harus berada dalam ruang gelap dengan cahaya lampu ultraviolet.

Sebagai yang melatarbelakangi konsep penciptaan karya, lukisan Penangkapan Diponegoro menjadi penanda paling monumental tentang dahsyatnya sebuah gejolak kaum pribumi Jawa, mulai dari revivalisme kaum ulama, nativisme kaum pribumi, hingga eskatologi yang manunggal dalam diri Diponegoro sendiri sebagai Sang Erucokro [sang Ratu Adil]. Raden Saleh memahami ini  dan melihat sisi primordialisme seorang Diponegoro, seorang Jawa sejati yang adiluhung. Itulah mengapa ia melukiskan wajah tegas Diponegoro menatap de Kock, sementara sang jenderal seolah tak berani menatap balik sang Pangeran. Inilah tafsir ulang Raden Saleh yang ingin menegaskan serealistis mungkin kisah akhir Diponegoro. Tak seperti Nicolaas Pieneman—yang tak pernah sekalipun datang ke Jawa—melukiskan Diponegoro begitu pasrah.

Pieneman tak memiliki kedekatan emosional dengan objeknya secara menyeluruh, yang dirasakannya hanya sisi kepahlawanan sosok de Kock, yang dianggap berjasa bagi negeri Belanda. Tetapi Raden Saleh jelas punya kedekatan emosional dengan perang Jawa karena ia orang Jawa dan lebih-lebih ayahnya, Adipati Suradimanggala, terlibat paling mula dalam mendukung Diponegoro di pesisir utara Jawa. Raden Saleh merespon kisah itu sebagai sebuah tragedi “penangkapan” bukan “penyerahan diri” Diponegoro.

Diponegoro, menurutnya adalah seorang pemberani, seperti yang tertuang dalam Babad Dipanagara dalam pupuh-pupuh akhir. Babad ini tepat kiranya untuk memahami kisah awal perang Jawa dan memahami bagaimana sosok Diponegoro. Babad versi Surakarta ini—seperti catatan Peter Carey—ditulis seorang carik dibawah patron Adipati Sasradiningrat II, pengasuh sunan Pakubuwana VI yang merupakan sekutu “dalam selimut” Diponegoro. Maka tepatlah kiranya mempertemukan lukisan penangkapan Diponegoro dengan Babad Dipanagara. Sebuah respon visual tekstual untuk menguatkan kembali citra epos Diponegoro. Tentang misteri dan kekuatan tersembunyi dibalik perang Jawa.

Dan tidaklah kebetulan jika tafsiran raden Saleh atas Penangkapan Diponegoro memiliki jiwa yang sama dengan citra Fransisco Goya dalam El Tres de Mayo. Betapa dramatis wajah-wajah kaum pejuang menghadapi akhir pertarungan. Di masa yang sama—awal abad 19—dunia barat dan timur mementaskan tragedi yang sama: kaum pribumi melawan kaum kolonial di tanah mereka sendiri. Kaum Dipanegaran Jawa melawan serdadu Belanda dan kaum resistan Spanyol melawan tentara Napolen Perancis. Mereka—dalam tafsiran Raden Saleh dan Fransesco Goya—merupakan sosok yang melakonkan karakter yang sama: kaum pejuang, simbol heroisme dan patriotisme.

Karya El Tres de Mayo menjadi patron untuk mengisahkan dramatisnya sebuah peristiwa kecamuk perang seperti saat Picasso membuat  Massacre in Korea atau Edouard Manet melukiskan The Execution of Emperor Maximilian. Picasso dan Manet telah merespon karya Goya dan karya After Baba(t)d Diponegoro ini menjadi semacam tafsir ketiga atas Goya. Bukan dalam satu tampilan tunggal tetapi dalam tiga layer yang saling terhubung, penangkapan Diponegoro berbalut teks Babad Dipanagara dengan  El Tres de Mayo yang tersembunyi. Menandakan karakter pribumi yang sama (Diponegoro dan kaum resisten), diposisi kiri yang sama-sama menunjukkan kekalahan, kegetiran, tetapi juga menyiratkan perjuangan yang gagah berani.

No comments yet.

Leave a Comment

All fields are required. Your email address will not be published.