Anomali | Phosphor colour, Acrylic on Canvas | 200x200cm | 2012

Karya ini terdiri dari 3 Layer. Layer 1, bagian depan dengan cahaya normal tampak visualisasi logo-logo brandname lokal yang membentuk landscape salah satu sudut kota Jakarta. Layer 2, masih bagian depan, namun dalam ruang gelap dengan cahaya lampu UV akan tampak fosfor visualisasi landscape kota Batavia tahun 1780. Layer 3, bagian belakang dengan cahaya normal tampak kronik poster iklan-iklan tempo dulu yang pernah ada di Batavia.

Menjadi tafsir “Kehidupan yang sempurna” merujuk pada tempat dan waktu. Tempat di sini adalah Jakarta dengan segala kronik waktu sejarahnya, filosofinya, juga realitas kekiniannya. Jakarta, meski dipandang dunia sebagai kota yang seperti buah durian dengan aroma yang menyengat maka butuh perjuangan untuk bisa menikmatinya, tetaplah sebuah ‘dunia’ yang diimpikan oleh sebagian besar rakyat Indonesia sebagai tempat yang ideal untuk kehidupan sekarang.

Latar belakang penciptaan kayra merujuk pada masa reformasi melanda Eropa yang mendorong munculnya Kapitalisme dunia dalam pandangan Max Weber yang juga mempengaruhi Belanda sebagai penganut Calvinisme puritan menemukan dunia baru untuk sebuah idelisme kehidupan yang baru. Dan pada 1619 bangsa Batavi sebagai salah satu suku Germanik Batavia. Kota yang diproyeksikan menjadi kota modern penuh kemegahan. Perlahan ikon-ikon kapitalisme bermunculan. Hingga ratusan tahun berikutnya, kota ini berubah nama menjadi Jakarta, ribuan orang masih terjebak dalam kapitalisme kota yang berkembang semakin liar. Dan mereka meyakini bahwa kapitalisme—dan semakin kosmopolitannya Jakarta—adalah kesempurnaan. Tentu saja kesempurnaan jika ditafsirkan akan penuh bias dan sesungguhnya dunia ideal hanya ada dalam tataran pikiran. Hegel memberi ruang yang luas tentang hakekat idea ini sebagai kelanjutan pemikiran purba Plato. Bahwa yang sempurna itu hanya ada dalam tataran idea dan realitas hanya omong kosong belaka, ia hadir karena idea.

Lalu bagaimana menafsirkan idealisme Jakarta? Demikian halnya dialektika Jakarta. Tafsir imajiner Jakarta adalah proses dialektika Hegel. Proses berkembang dari fase thesis—antithesis—thesis. Pertama, kota ini berkembang dari imaji “tanah impian”, lalu muncul penguasaan dan pengendalian terhadap sistem di Batavia, munculnya zona Bangsa Pribumi dan Bangsa timur asing yang bergantung pada Bangsa Belanda sebagai patron. Penataan ini begitu detail yang tergambar jelas dalam landscape Batavia (layer 2). Sebuah perspektif tentang kota ideal dimasa lalu, Inilah fase thesis.

Kedua, perlahan-lahan muncul perubahan di Batavia. Saat ketuk palu pengesahan Agrarische wet 1870 selesai, swastanisasi ekonomi mewabah. Perdagangan semakin beragam hingga konstruksi sosial masyarakat digerakkan oleh produk dagang. Iklan-iklan bermunculan dan membentuk masyarakat baru. Iklan-iklan tempo dulu (layer ketiga) menyiratkan satu tanda bahwa Batavia—hingga menjadi Jakarta—adalah kota yang penuh dengan campuran komersialisasi luar (asing) maupun lokal (pribumi). Hal itu mampu menggoyang tatanan ekonomi lama Batavia, dimana kontrol ekonomi dipegang satu golongan. Inilah proses antithesis.

Ketiga, dalam tafsiran ideal, tentu pergerakan itu akan mengarah pada kekuatan kapitalis lokal keseluruhan yang menguasai ruang-ruang public dan konstruksi social masyarakat penghuninya. Ratusan logo (layer utama/pertama) menyiratkan Jakarta sebagai melting pot pelbagai kekuatan kapitalis lokal. Sebuah ruang yang menyerukan kemerdekaan seratus persen bagi lokalitas kapital. Pergerakan ini telah mencapai fase synthesis dan bisa jadi telah mencapai—seperti pandangan Hegel—puncak absolute, dimana gerak dialektika telah terhenti. Inilah tafsir Batavia/Jakarta yang telah mencapai tataran ideal dimana kehidupan masyarakatnya terwakili secara simbolis oleh penguasaan kapitalisme lokal.

No comments yet.

Leave a Comment

All fields are required. Your email address will not be published.