The Book of Hours of Nagarakrtagama | acrylic on canvas, wood, mp3 player | 180 x 291 cm

The Book of Hours Series (2015)

Syair menjadi sebuah fenomena identitas diri, yang dikirim  melalui berbagai bentuk dan keberadaannya di berbagai media. Salah satu bentuk paling umum dalam penggunaan identitas untuk mengungkapkan apa yang mungkin dapat digambarkan sebagai sebuah perasaan pengalaman bersama, yang memungkinkan pemirsa untuk membayangkan pengalaman dan emosi narasi tanpa banyak kendala.

Bagai sebuah keajaiban, identitas syair yang digunakan untuk menentukan dirinya, juga menunjukkan kapasitasnya yang hampir merevolusi dalam setiap periode sejarah. Bahkan di Eropa barat munculnya budaya kontemplasi telah merevolusi selama lima belas abad. Kebudayaan ini tentang pengabdian pada kesedihan, untuk mendekatkan manusia dalam keilahian yang terkait dengan emosi dan dapat diakses melalui meditasi.

 

Detail karya: Book of Hours of Pararaton

 

Pada perkembangannya, diterbitkanlah kitab-kitab sebagai buku panduan perenungan (Book of Hours) yang digunakan individu secara pribadi untuk mengaktifkan emosi, dengan kata lain, memungkinkan pengalaman transendensi dalam menemukan pegangan subjektivitas mereka sebagai identitas manusia. Mungkin itu adalah refleksi yang mendalam dari subyektivitas modern pada saat itu.

Di era sekarang ini, identitas sekali lagi menjadi awal sebuah gagasan besar tentang teknologi digital. Sebuah teknologi yang sangat akrab dengan kehidupan kita, salah satunya Mp3 Player (pemutar lagu digital).

Mp3 Player dan Book of Hours abad pertengahan adalah dua teknologi yang seolah berkorelasi, memiliki dampak yang sama bagi setiap orang yang menggunakannya. Sebagai budaya yang lahir dari gagasan besar yang kemudian menjadi sangat populer dalam konteks sosial di mana teknologi ini berkembang. Sebagai teknologi yang sama-sama menggunakan kode-kode, tata aksara/bahasa dan sintaks untuk memungkinkan komunikasi informasi yang tanpa batas. Memiliki kekuatan skrip di sebuah zaman revolusioner yang potensial pada masanya serta diproduksi secara massive untuk dimiliki setiap individu.

 

Detail karya: Book of Hours of Arjunawiwaha

 

Book of Hours adalah perangkat teknologi, sebagai platform multi-media yang lahir pada abad ke-14. Teknologi komunikasi informasi yang juga menjadi sebuah literasi budaya.

Seperti halnya syair dan doa dalam Book of Hours, teknologi aksara-bahasa Jawa sebagai sebuah sistem tanda juga merupakan literasi budaya yang berkembang pada masanya. Karya ini seolah gambaran korelasi antara Books of Hours dan Mp3 Player di Eropa secara imajinatif juga terjadi di ranah sejarah nusantara khususnya Jawa. Dimana manuskrip-manuskrip jawa (babad, kakawin, kidung, serat, suluk) menjadi semacam kitab yang sakral sebagai panduan pembelajaran dan perenungan identitas. Dalam perkembangannya, disyairkan sebagai pengalaman emosi narasi.

Dalam catatan Mankind and Mother Earth Arnold Joseph Toynbee, seluruh Itali bukanlah satu-satunya tempat tumbuhnya budaya modern karena wilayah Flanders muncul dan menjadi magnet kedua dari bersinarnya kebudayaan barat (Eropa). Bahkan di antara laut Adriatik dan laut Utara, Nuremberg juga menjadi pusat budaya. Saat ini karya-karya besar tersebut (era renaisans) berkorelasi, diangkat kembali lalu ditafsirkan dalam sakralitas aksara, naskah (ARJUNAWIWAHA-Albrecth Durer “The Promenade”, ASMARADANA-Lambert Hopfer “The Conversion of St. Paul”, BARATHAYUDHA-Albrecth Durer “The Four Horsemen of the Apocalypse”, NAGARAKRTAGAMA-Christoph Weigel “Biblia Ectypa”, PARARATON-Albrecht Durer “Saint Anthony Reading”, RAMAYANA-Albrecth Durer “The Sea Monster”, CENTHINI-Albrecth Durer “Escape from Egypt”, JOYOBOYO- Albrecht Durer “Erasmus of Rotterdam”, KALATIDHA-Martin Schongauer “Five of the demons who tempted St. Anthony”, WEDHATAMA-“Figure de Levangeliste Sainct Matthieu” [This is an original 16th century], SUTASOMA-Albrecth Durer “St. Christopher Facing to The Right”, WANGBANG WIDEYA-Albrecth Durer “Dame with landsknecht”) dan pemahaman akan syair dalam lokalitas Jawa sehingga sakralitas Renaisans secara visual bermakna juga membuka pemahamaan makna sakralitas dalam kultur Jawa.

No comments yet.

Leave a Comment

All fields are required. Your email address will not be published.