The Ill-Assorted Couple atau The Offer of Love adalah salah satu karya Albrecth Durer yang bertema tentang “wanita” dibuat antara tahun 1495-1496. Karya ini mengisahkan betapa dunia perdagangan di akhir Abad Pertengahan juga merambah pada perdagangan seks (prostitusi). Di gambarkan oleh Durer adegan seoerang tentara bayaran tua tengah bernegosiasi dengan seorang wanita penghibur muda yang cantik. Seks sebagai komoditi seolah tengah ditawarkan kepada penawar tertinggi dalam transaksi kepada yang mampu membayar tanpa mengenal lagi apa yang tengah dijunjung tinggi masalah etika di masa renaissance.

Centhini of Durer | 180 x 180 cm

Penggambaran ini menjadi fakta realita apa yang terjadi pada dinamika masa yang kita kenal sebagai periode kebangkitan intelektual yang terjadi di Eropa, khususnya di Italia sepanjang abad ke 15 dan ke 16. Abad ketika alam pikiran di kungkung oleh Gereja. Pada zaman itu berbagai gerakan bersatu untuk menentang pola pemikiran abad pertengahan yang dogmatis, sehingga melahirkan suatu perubahan revolusioner dalam pemikiran manusia dan membentuk suatu pola pemikiran baru termasuk etika.

Apa yang terjadi di Eropa, tentunya juga pernah terjadi di Jawa khususnya mengenai dunia “seks”. Pengertian seks jika dibatasi pada alat kelamin semata, tentu terlalu dangkal, karena akan menafikan kenyataan-kenyataan fisiologis. Arti seks harus menyangkut semua hal tersebut, bahkan mencakup tentang asal usul kehidupan dan ketuhanan. Inilah antara lain pandangan Serat Centhini tentang seks. Manuskrip Jawa Kuno yang secara gamblang menguraikan tentang berbagai aspek dan dimensi seks dalam jilid V sampai jilid IX. Ini menjadi paradoksal dengan etika sosial Jawa yang dikenal puritan dan ortodoks. Masalah seks dibicarakan menyangkut pengertian, sifat, kedudukan, fungsi, etika dan tata cara. Seks juga dibicarakan dalam hubungan seks dengan perkawinan, seks dengan kesetiaan suami-istri, seks dengan pengobatan, seks dengan pemerkosaan, seks dengan pelampiasan hasrat-hasrat hedonis, seks dengan asal usul kehidupan dan ilmu kasunyatan.

Seks sebagai ekspresi pelampiasan hasrat-hasrat hedonis, dalam pandangan Jawa, berlaku agregrasi atau bentuk hubungan antara kecantikan perempuan dengan kewibawaan lelaki yang bersifat politis. Kecantikan dipandang sebagai lelangen, dan berlaku asumsi, jika raja semakin banyak memiliki istri yang cantik, maka semakin meningkatlah derajat kewibawaannya.

Dalam kitab klasik Jawa, unsur laki-laki dipandang sebagai upaya atau alat mencapai kebenaran yang agung. Sedang wanita merupakan prajna atau kemahiran yang membebaskan. Puncak ajaran serta penghayatan seks dalam tradisi Jawa, sebagaimana tersebut dalam Serat Centhini pupuh asmaradana, untuk mengetahui asal usul kamanusiaan dan tujuan kesempurnaan hidup manusia.

Karya ini mengkorelasi antara gambaran Durer secara visual tentang dunia seks akhir Abad Pertengahan dengan gambaran seks dalam tradisi Jawa secara tekstual di awal abad ke 17 khususnya figur wanita dalam kesetaraan. Pada masyarakat Jawa Kuno, kesetaraan kedudukan dan peranan perempuan hampir mencakup di dalam pelbagai aspek kehidupan. Sedangkan di Eropa, baru diperjuangkan pada tahun 1960-an dengan gerakan-gerakan feminisnya.

Dengan teknik Drawing pen yang menuliskan aksara Jawa dari Serat Centhini yang membentuk karya engraving Albrecth Durer The Ill-Assorted Couple, karya ini mencoba mengkorelasi sekaligus mengkomparasi realita dan semangat dinamika akhir Abad Pertengahan tentang kesetaraan figur wanita dalam simbol “seks” di Eropa dan Jawa.

No comments yet.

Leave a Comment

All fields are required. Your email address will not be published.