City of God | Acrylic on canvas | 300x200cm | 2009

Peradaban modern menyiratkan bahwa sebuah kota adalah melting pot pelbagai kekuatan kapital. Sebuah ruang yang menyerukan kemerdekaan bagi penghuninya untuk mewujudkan keinginannya. Dalam tafsiran ideal, tentu pergerakan itu akan mengarah pada kekuatan kapitalis yang menguasai ruang-ruang publik dan konstruksi sosial masyarakat penghuninya. Dan perabadan maju ini, seperti ungkapan Nietzche, menisbikan moralitas. Toh kekuatan kapital telah memiliki ruang bebas untuk saling bersaing, saling menguasai demi kepentingan mereka untuk merekonstruksi sebuah peradaban modern, seliar apapun persaingan itu.

Karya dalam cahaya UV

Kapital global-lah yang merubah wajah peradaban, merubah tata ruang dan sosial sebuah kota, dimana kota menjadi simbol sebuah peradaban maju. Seolah dunia memiliki semangat yang tanpa letih terus bergerak dinamis. Sebuah semangat kapitalisme Max Weber yang mencerminkan gagasan dan kebiasaan yang menunjang pengejaran keuntungan ekonomi secara rasional. Proses ini mau tak mau akan melahirkan tatanan baru yang lagi-lagi memperlihatkan sebuah keserakahan, yang bisa jadi begitu kejam. Tetapi sekali lagi, modernitas dalam segala persaingannya yang terjadi telah mengesampingkan nilai-nilai moral.

Karena itu, peradaban dalam gerak laju sejarah selalu memunculkan dikotomi, pertentangan, negasi, hingga tercipta sintesis baru sekalipun akhirnya akan menjadi using. Sebuah gerak dialektika berulang-ulang demi satu tujuan: menjadi bagian dari “survival of the fittest”.

Jadilah perjuangan itu seperti gerak antara hidup dan mati. Kota sebagai manifestasi peradaban maju itu seolah menjadi lautan persaingan hidup mati yang seolah telah digariskan tuhan secara demikian dramatisnya. Sedemikian dramatisnya layaknya karya pelukis romantis Theodore Gericault dalam Raft of Medusa. Sebuah lukisan yang memperlihatkan perjuangan hidup dan mati orang-orang untuk terselamatkan.

Maka ruang-ruang kota yang diperebutkan oleh kaum kapital menjadi layaknya sebuah rakit yang terhembas bebas di lautan peradaban, bergerak menuju akhir tujuan, dan dengan mengesampingkan moral, bergerak untuk saling bertahan dengan segala apapun, berjuang untuk hidup daripada mati. Di dalam “rakit” yang terbatas itulah ego tak mampu lagi mengontrol dan id, sebagai sifat asli manusia, menunjukkan wujudnya. Inilah gejolak dramatis yang selalu dianggap sebagai takdir ilahi, sebagai kehendak tuhan.

No comments yet.

Leave a Comment

All fields are required. Your email address will not be published.