Delilah Pambayun | Acrylic on Canvas | 180x180cm | 2012

Konsep penciptaan karya ini mengacu pada korelasi dua kisah besar di waktu lampau (Samson and Delilah – Babad Mangir), di dua ruang dan masa yang berbeda, kemudian dihadirkan pada kekinian dalam konteks arus balik kontemporer.  Visualisasi karya di ambil dari repro lukisan karya Peter Paul Rubens yang berjudul “Samson and Delilah” bergaya Barok yang diaplikasikan di atas teks babad Mangir versi jawa dengan huruf hanacaraka yang tersusun secara spiral (melingkar) sebagai simbolisasi dimensi waktu.

Kisah itu bergulir di tanah Zora dan Esytaol, diseberang Askalon milik Daud, tentang sosok lelaki luar biasa seperti legenda Herakles, ia sendiri menjadi legenda karena kekuatan dan masyur bernama Samson. Lalu Alkitab mencatatkan sosoknya seperti termaktub juga dalam kitab Qashash al-Anbiya dan Muqasyafat al-Qulub kala Nabi Muhammad menyebut si pembawa pedang, Sam’un. Sang “lelaki matahari” itu mampu menangkap tigaratus serigala, melumpuhkan seekor singa dengan tangan kosong atau membunuh ribuan musuhnya, mematahkan pinggul dan paha hanya dengan tulang rahang seekor keledai. Siapa yang tak bergetar bahkan menyangsikan kekuatannya. Tapi seperti sebuah petuah, “di balik kekuatan tersimpan kelembutan” hingga harus terakui, bahkan untuk Samson sendiri, bahwa ia juga manusia rapuh.

Detail Karya

Epos Samson begitu masyur sampai tanah biru Eropa hingga seniman Peter Paul Rubens, diawal abad 17 Masehi, menafsir-ulang kisah Samson dengan gaya Barok. Ia membawa Samson yang tak berdaya dengan begitu dramatis kala jatuh dalam pelukan sang penggoda, Delilah. Sebuah karya yang mewakili Rubens sebagai maestro Barok, yang berpusat di Roma.  Ia menyambangi “jantung trinitas” itu pada tahun 1601, mengembangkan gaya Barok yang masyur kala itu, tepat di kala “jantung nusantara” [Jawa] kehilangan Panembahan Senopati yang sebelumnya punya kuasa untuk menghilangkan nyawa Ki Ageng Mangir.  Sembilan tahun setelahnya [1610], Rubens mengabadikan kisah dramatis takluknya Samson pada Delilah dan seolah mengingatkan kembali tragedi di belahan timur bumi tentang takluknya Mangir pada moleknya Raden Ajeng Pembayun.

Dan Babad Mangir menjadi penanda paling jelas tentang takdir Mangir yang harus takluk ditangan Pembayun, saat Adipati Mandaraka hingga Panembahan [para petinggi Mataram] meminta Pembayun untuk menaklukkan Mangir Wonoboyo sama halnya kala Raja-raja Filistin meminta Delilah untuk menaklukkan Samson dalam kitab Hakim-Hakim. Para lelaki perkasa itu takluk tak berdaya oleh moleknya gadis pujaannya, hingga akhirnya harus meregang nyawa di hadapan musuh-musuhnya, Mangir di depan penguasa Mataram dan Samson di depan penguasa Filistin. Hilangnya kedua lelaki perkasa itu telah menggenapi riwayatullah, bahwa bangsa Israel  akan selalu berada di tangan orang Filistin selama 40 tahun lamanya seperti yang termaktub dalam Kitab Hakim-Hakim dan trah Mangir yang harus tunduk pada Mataram untuk menggenapi jongko Sunan Giri tentang kuasa masyur tanah Mataram. Kala semua telah takluk tak ada yang meragukan bahwa Pembayun adalah Delilah dan Delilah adalah Pembayun. Di tangan mereka, dengan segala keistimewaannya sosok seorang wanita, lelaki paling perkasa sekalipun akan takluk tak berdaya.

No comments yet.

Leave a Comment

All fields are required. Your email address will not be published.