Acrylic, Drawing-pen, Phosphor on Canvas | 100 cm x 150 cm

Painting viewed in two different lights (normal light and UV light)

Ide besar karya lukisan ini adalah penggambaran korelasi dua idols of culture, lokal dan global. Mengingat bahwa kebudayaan setiap bangsa cenderung bertujuan mencari eksistensi secara global sehingga menjadi peradaban dunia yang melibatkan sistem sosial secara menyeluruh. Karya ini secara teknis menggabungkan tiga layer visual antara gaya lukisan klasik Kamasan Bali (Indonesia) tentang cerita Panji yang tersusun menjadi bentuk dari teks asli cerita Panji dalam bahasa dan huruf Bali yang ditulis dengan drawing-pen pada background acrylic di atas kanvas. Kemudian layer ketiga tersembunyi dengan teknik fosfor karya Sandro Botticelli “The Birth of Venus”(1486) yang akan muncul pada ruang gelap menggunakan cahaya ultraviolet.

Penggambaran konsep lokal dimulai pada sebuah ritual yang sakral, tarian putri Galuh. Ia menjadi simbol, sebuah citra dari impian masyarakat yang menciptakan dan juga mengabadikannya. Ia juga representasi kesempurnaan perempuan dalam dunia klasik Jawa, yang menyebar hingga ke Asia Tenggara lewat epos Panji. Galuh layaknya dewi yang memunculkan keindahan dan cinta yang transenden, ilahiah. Sebuah kultus yang terus awet tentang kesempurnaan layaknya penggambaran Venus dalam budaya Renaisans Eropa.

Dalam konteks historis, pemujaan terhadap Galuh dikaitkan dengan keberadaan putri Indudewi (yang juga berarti “dewi rembulan”) di masa kejayaan Wilwatikta (Majapahit), Galuh juga perwujudan Sri Kirana, permaisuri prabu Kamesywara, penguasa Kadiri. Pemujaan terhadap Galuh lalu dipahatkan dalam relief Panji di beberapa candi di sekitar Gunung Penanggungan. Seperti halnya pemujaan Venus yang mengacu pada sosok Phyrene atau sosok Campaspe, pendamping Alexander Agung. Pemujaan Venus juga mewujud dalam relief di pelbagai kuil Venus Romawi.

Seperti puisi-puisi Ovid dalam Fasti, Venus Anadyomene (Venus Rising From the Sea) merupakan kultus yang ikonik. Hadirnya Venus merupakan representasi munculnya rasa cinta dan keindahan. Venus simbol akan kasih ilahiah. Disinilah letak interkoneksi budaya Timur dan Barat, masa Renaisans dan kebudayaan Wilwatikta di abad 15 Masehi, dimana kultus Venus dan Galuh menyatu dalam tubuh perempuan yang nampak begitu sakral.

 

***

The great idea of this painting is the correlation between two idols of culture, local and global. In view of the culture of each nation tends to aim for global existence to become the world civilization that involving social system as a whole. This work is technically combines of three visual layers between classical painting styles of Kamasan Bali [Indonesia] on the Panji stories which are arranged from the original Balinese letter and written with drawing pen on acrylic background on canvas. Then the third layer is hidden by phosphor technique of the work of Sandro BotticelliThe Birth of Venus” (1486) which will appear in a dark space using the ultraviolet light.

The depiction of the local concept started in a sacred ritual, the dance of princess Galuh. She became a symbol, an image that represents the dream of people who create and also eternize it. She is also representation of a perfect women in the classical world of Java, which spread to Southeast Asia through the epic of Panji. Galuh is like a goddess who brings out love and beauty, emergence of a divine love. An everlasting cult of perfection like a depiction of the goddess Venus in the European Renaissance .

Like the poems of Ovid, Fasti, Venus Anadyomene [Venus rising from the sea] is an iconic cult. The emergence of Venus has presented a sense of love and beauty. Venus symbolize a divine love. So, Therein lies of interconnection betwen the European Renaissance and Wilwatikta culture in the 15th century, where the cult of Venus and Galuh fused in the sacred body of woman.

No comments yet.

Leave a Comment

All fields are required. Your email address will not be published.