Emas Abad Enambelas

            Karya peti kayu ini menjadi salah satu penanda untuk merayakan kembali makna rempah. Rempah telah menjadi sebuah magi yang mengubah peta dunia dan membuat selera lalu lintas dagang dunia klasik begitu mewah, sakral, semarak dan bertahan lama. Rempah memberi nuansa romantis juga dramatis yang menghubungkan peradaban Barat dan Timur.

Awalnya dunia rempah Timur begitu surealis dimata Barat. Tapi perlahan berubah kala kapal-kapal Barat mulai melayari Samudra. Berbekal pengetahuan Warisan Marco Polo, Vasco da Gama berhasil tiba di pantai Malabar dan Kalikut, lalu berlutut di depan patung Devaki yang merawat Krishna seraya mengucap syukur karena telah menemukan rempah. Sejak itu, Magellan [yang diteruskan oleh Cano] melayari bumi di awal abad 16 lalu dikuti di abad berikutnya oleh Francis Drake, Abel Tasman, dan James Cook karena terpikat aroma rempah-rempah.

 

 

Rempah memang aroma surgawi seperti indahnya surah Al-Insaan ayat 17-18 yang menyatakan para penghuni surga disuguhi secangkir air bercampur jahe yang diambil dari mata air Salsabil. Rempah juga pembangkit gairah manusia seperti tertera dalam kitab Amsal 7: 17-18, dimana perempuan lacur menyiapkan diri untuk kekasih gelapnya, “Pembaringanku telah kutaburi dengan mur, gaharu, dan kayumanis. Marilah kita memuaskan birahi hingga pagi hari dan bersama-sama menikmati asmara”.

 

 

Dari titik magis inilah mengapa Barat begitu memujanya. Rempah memang bercita rasa tinggi dan mengeluarkan nuansa eksklusif di meja makan kaum Barat. Menjadi selera kaum aristokrat layaknya syair Martial awal abad pertama Masehi di Roma yang menggambarkan aroma lada seperti harumnya anggur Falernia, minuman mewah dan mahal seantero Romawi. Itulah mengapa diparuh kedua abad 16 Masehi [21 Agustus 1522] Enrique Leme, atas nama Jorge de Albuquerque yang telah melayari setengah dunia dan menaklukkan Malaka, datang bersungguh-sungguh ke mulut kali Ciliwung dan bersedia membangun benteng untuk menjagai negeri Sunda di bawah prabu Surawisesa, demi janji yang fantastis: seribu karung lada.

Rempah juga begitu seksi dan erotis ditangan para peramu obat, menjadi setengah mistis ditangan kaum “alkemis” seperti  Konstantinus Afrikanus, yang disebut “rahib terkutuk” oleh Chaucer, yang mencipta ramuan manis rempah-rempah [electuary] dari jahe, lada, kayumanis, hingga cengkih demi seksualitas dan maskulinitas orang Barat.

 

 

Lalu siapa yang tak sepakat betapa berharganya rempah-rempah. Rempah menjadi “emas” sesungguhnya yang aroma keagungannya mencapai titik kulminasi di abad enambelas Masehi. Karena “emas” ini pula lebih dari tigaratus tahun lalu Belanda rela melepas New York [awalnya bernama New Amsterdam] yang luasnya 400 kali lipat ke tangan Inggris demi setitik pulau Rhun di Maluku. Rhun penghasil “emas” rempah berharga—Pala—yang nama latinnya begitu magis, Myristica fragrans.

Itulah mengapa mengenang rempah menjadi perayaan paling sakral dalam peradaban manusia. Rempahlah yang membuktikan bumi begitu bulat sempurna. Rempahlah yang membelokkan silk route [jalur sutra] yang pendek menjadi spice route [jalur rempah]  yang luas di samudra. Rempah menjadi pengubah peradaban sekaligus menjadi “lingua franca” bagi kehidupan maritim dunia.

No comments yet.

Leave a Comment

All fields are required. Your email address will not be published.