Hikayat Genji & Panji | Drawing pen, Acrylic on Canvas | 100 x 150 cm ( 4 panels)

Adalah Murasaki Shikibu, seorang perempuan Jepang, penulis novel pertama di dunia yang dikenal dengan judul The Tale of Genji. Dalam buku The Pleasures of Japanese Literature, Keene mengklaim bahwa Murasaki menulis “adikarya fiksi Jepang” dengan mengambil unsur-unsur tradisi waka buku harian istana, dan Monogatari asal zaman sebelumnya, ditulisnya dalam campuran aksara Tionghoa dan aksara Jepang seperti dalam Putri Kaguya atau Hikayat Ise. Ia mengambil unsur-unsur serta mencampurkan gaya penulisan sejarah Cina, puisi naratif, dan prosa Jepang kontemporer.

Cerita Hikayat Genji berlatar pada akhir abad ke-9 hingga awal abad ke-10, dan Murasaki menghilangkan unsur-unsur dongeng dan fantasi seperti sering ditemukan pada monogatari sebelumnya. Murasaki sukses mengemas tema utamanya yakni kerapuhan hidup.

Menurut Helen McCullough karya Murasaki memiliki daya tarik universal dan berpendapat bahwa Hikayat Genji melampaui baik genre maupun zaman. Tema dasar dan latar, cinta di istana Heian, dan asumsi-asumsi budaya berasal dari pertengahan zaman Heian. Namun kegeniusan Murasaki Shikibu yang unik telah membuat karyanya berarti bagi banyak orang sebagai pernyataan kuat dari hubungan antar manusia, kemustahilan kebahagiaan abadi dalam cinta, dan yang terpenting, dalam dunia penuh kesengsaraan, kepekaan terhadap perasaan orang lain. Pangeran Genji mengakui bahwa dalam diri setiap kekasihnya terdapat kecantikan dari dalam seorang wanita dan kerapuhan hidup. Selain dicatat sebagai novel pertama di dunia, The Tale of Genji juga dikenal sebagai novel bergenre roman pertama.

Display on Art Tokyo 2017

Sebagai bangsa serumpun yang jumlahnya tidak kecil dan memainkan peranan menonjol dalam sejarah politik dan intelektual di Asia Tenggara selama masa yang panjang, Jawa mewarisi hampir semua peradaban besar dunia. Warisan peradaban sastra tulis yang pertama kita peroleh berkat berkembangnya agama Hindu dan  Buddha pada abad ke-7 – 14 M. Pada masa berikutnya muncul bentuk penyampaian lain yang disebut ‘kidung’, yaitu karangan naratif yang disampaikan juga dalam bentuk puisi. Bedanya puisi dalam kidung didasarkan bukan pada puitika Sanskerta, tetapi ciptaan local genius pada abad ke-14 M (Zoetmulder 1983:277-395). Sumber cerita bukan lagi epos-epos India, melainkan peristiwa-peristiwa sejarah lokal dengan tokoh-tokoh lokal.

Pada masa akhir kekuasaan Majapahit, setelah munculnya genre kidung yang biasanya mengisahkan para kestaria yang gugur di medan peperangan secara tragis, muncul siklus Cerita Hikayat Panji, campuran epos, kisah petualangan dan percintaan. Tokoh-tokoh dalam Cerita Panji bukan lagi tokoh dalam mitos atau sejarah lokal, melainkan hasil rekaan atau imaginasi pengarang, namun tetap merujuk pada tokoh dalam sejarah. Meskipun sudah digubah menjadi karya imaginatif, namun tampak latar sejarah di belakangnya yaitu situasi krisis yang meliputi kerajaan Majapahit menjelang keruntuhannya.

Karya ini mencoba mengkorelasi antara Hikayat Genji di Jepang dan Hikayat Panji di Jawa. Keduanya merupakan karya sastra besar di jamanya yang menjadi tonggak sejarah sastra di Asia.

No comments yet.

Leave a Comment

All fields are required. Your email address will not be published.