Hymns of Dystopia | merapi stone, winong wood, metal, and sound system | 200 x 150 x 200 cm

Ini tentang sentimen manusia akan kehidupan yang berakhir menjadi terlalu utopis untuk realitas, atau terlalu dystopian bagi mereka yang cukup beruntung memiliki dunia. Tentang sebuah “naskah” yang menjelma sebagai hymne pesimis akan sebuah dunia dalam mencapai tahap kematangan teknologi yang hanya untuk menghancurkan dirinya sendiri. Karena kemajuan yang terjadi hanya dalam hal teknologi, tapi tidak pada kapasitas moral umat manusianya.

Adalah klise untuk mengatakan bahwa di antara masalah terbesar yang kita hadapi tentang kemajuan moral atau etis manusia belum sejalan dengan kemajuan teknologi dan pemikiran ilmiah. Karena kecemasan sejarah yang mendalam adalah bahwa pemisahan antara kapasitas teknologi dan moral merupakan bahaya terbesar yang didefinisikan sebagai masalah. Meskipun kecemasan tersebut hanyalah sebuah kecemasan berdasarkan pada masa depan yang diproyeksikan.

Semua budaya memiliki mitos keangkuhan atau peringatan tentang rasa ingin tahu yang tak terkendali. Dan itu adalah kecemasan kuno, yang meledak ke dalam kesadaran dengan semangat baru. Karena selama munculnya ilmu pengetahuan modern, suatu peristiwa yang terjadi pada saat yang sama merupakan kebangkitan. Sebuah kontradiksi yang banyak dialami  para pemikir dunia modern pada awal revolusi ilmiah.

 

Detail Karya

 

Jawa, adalah juga sebuah tradisi tulisnya (aksara dan bahasa) yang telah banyak memberikan nilai-nilai dengan falsafah tentang proyeksi masa depan yang optimis. Tentang seni, budaya, ritual, sikap, filosofi, juga teknologi. Setidaknya sejak abad ke-9 dan ke-10 masyarakatnya bisa mempertahankan dan terhubung dengan tradisi tersebut. Mengalami perkembangan dan perubahan yang membentuk satu makna bahwa perubahan itu bertaliaan erat dengan perubahan budaya masyarakat. Dalam perubahan-perubahan itu, tentu saja juga menunjukkan bagaimana tradisi menulis sesungguhnya lekat dengan orang-orang Jawa.  Tersirat dalam naskah-naskah yang terpahat dalam prasasti dan tertulis dalam manuskrip-manuskrip untuk diawetkan sebagai bagian regalia suci. Terkandung pesan moral untuk disampaikan pada dunia sebagai bagian penting dari aktivitas kreatif dan intelektual  pada saat itu (dan mungkin juga untuk saat ini).

Hari ini, naskah-naskah tersebut menjadi hymne yang bertranformasi dengan teknologi. Dilagukan sebagai syair oleh aikon sinden yang terpahat dari batu andesit Merapi, sebagai simbol suara dari kebesaran masa lalu. Dibentengi kayu bertuah Winong (menurut kepercayaan Jawa, kayu Winong tempat bersemayam ruh ghaib penolak bala, pemberi kebijaksanaan dan keselamatan) serta dipahatkan penggalan Serat Kalatidha karya R. Ng. Ronggowarsito, karya satra Jawa yang mencerminkan kearifan masyarakat orang Jawa dalam menghadapi perkembangan dan globalisasi, sebagai jaman edan atau jaman kalabendu, jaman yang penuh bebendu. Orang bisa berbuat apa saja semaunya karena aturan sudah tidak ada fungsinya, rurah pangrehing ukara, dan tidak ada keteladanan pemuka dan pimpinan masyarakat, karana tanpa palupi.

Karya ini juga hendak merayakan kembali era Majapahit (abad 13-14 Masehi) saat ketika perubahan dan kesepakatan baru muncul. Kakawin-kakawin yang bergeser menjadi kidung-kidung, dimana bahasa Kawi telah berganti dengan bahasa Jawa Tengahan, aksara Kawi juga perlahan-lahan bergerak ke arah Jawa Baru, selain berusaha membawa pesan moral akan dystopia teknologi itu sendiri, dalam Hymns of Dystopia. Kontradiksi antara cara pandang pengetahuan baru dan narasi budaya tradisional. Sebagai jawaban bahwa moral kemanusiaan harusnya menjadi penyangga kebangkitan pengetahuan yang digunakan untuk “the improvement of man’s estate”, dan sebagai alat berbudaya. Meskipun seperti yang pernah dikatakan Karl Marx, sejarah selalu berulang entah sebagai tragedi atau sebagai lelucon. Karena kadang sejarah seperti tak jauh berbeda dengan dongeng. Bedanya, dongeng menggambarkan kebesaran bangsa nusantara, sementara sejarah menggambarkan lebih pada kegagalan bangsa ini. Dongeng bercerita tentang keperkasaan. Sangkuriang menendang perahu menjadi gunung, Bandung Bandawasa murka menjadi Prambanan, Gajahmada bersumpah nusantara menjadi kuat.

Bayangkan dengan sejarah kerajaan yang berujung pada kehancuran akibat pertikaian, korupsi, skandal dan hilang tanpa jejak. Kemana bukti kebesarannya, menjadi tanda tanya besar. Seperti yang dikatakan Mahatma Gandhi, bahwa kebenaran dari kisah Mahabharata adalah potret kekuatan keserakahan dan kebencian manusia, bagaimana mereka menyamarkan diri mereka sebagai pembenaran diri dan menyebabkan perang yang merusak tanpa ada pemenang, dan yang selamat hanya mewarisi kehampaan.

Pertanyaannya kemudian, apa, jika ada, yang bisa kita lakukan? Tapi mungkin kita akan terkendala pada asumsi di balik klaim bahwa pengetahuan teknologi telah maju sementara sifat moral kita tetap intractable. Asumsi yang menyatakan bahwa proyek pencerahan reformasi sifat manusia telah gagal.

No comments yet.

Leave a Comment

All fields are required. Your email address will not be published.