The Illumination of Google | acrylic on canvas, hemp rope, mini monitor | 180 x 291 cm

The Illuminations Series (2015)

Aksara-bahasa menjadi salah satu media penyampai gagasan manusia, dibentuk oleh konstruksi sosial budaya, diawetkan dan langgeng oleh manusia beserta kebudayaan yang menopangnya. Aksara-bahasa mengalami perubahan berdasarkan kesepakatan serta pergantiannya bisa terjadi secara cepat dan singkat atau lama.  Dan yang pasti memiliki fungsi sosio-kulturalnya. Menjadi kode dinamis, berkembang dan dikembangkan oleh sebuah komunitas.

Aksara-bahasa Jawa menjadi contohnya. Dua hal itu (aksara dan bahasa Jawa) saling berkelindan, menyatu, meski tak selalu berjalan beriringan. Bermula dari Palawa dan Sanskerta yang sering termaktub dalam prasasti kuno. Tetapi penanda (signifier) tekstual lisan brahmin ini mulai dirubah di Jawadwipa. Fase arkais paling mula hilangnya aksara Palawa (di Jawa)—seperti catatan de Casparis dalam Indonesian Paleography—ditandai dengan adanya prasasti Plumpungan di Salatiga milik baginda raja Bhanu. Bongkahan batu andesit itu bertarik 750 Masehi dan telah menggunakan aksara Kawi (Jawa kuno). Sementara bahasa Kawi muncul paling mula dengan anggun—seperti catatan Zoetmulder dalam Kalangwan—pada nukilan sejarah sederhana tentang upacara yang dipimpin Ki Dhari dari Calanggi yang berhubungan dengan sebuah bendungan di sungai Harinjing. Catatan ini dikenal dalam inskripsi Sukabumi bertarik 804 Masehi dan ditemukan di Pare Kediri. Semua masih dalam bentuk prasasti batu atau juga pelat logam.

 

Detail Karya

 

 

Aksara dan bahasa Kawi mungkin menyatu dalam kalangon (sastra yang memperlihatkan keindahan) pada masa Dharmawangsa Teguh di Kadiri di akhir abad 10 Masehi. Kolofon dalam Wirataparwa Kawi mengabarkannya bahwa Duli baginda Dharmawangsa Teguh Anantawikramotunggadewa pada tahun 918 penanggalan Saka (996 Masehi) menitahkan untuk menyalin epos Mahabharata ke dalam Jawa kuno. Kala itu, pujangga dan prabu Dharmawangsa memang bersepakat untuk menerjemahkan parwa-parwa Mahabharata dalam aksara dan bahasa Kawi. Peristiwa ini menjadi penanda penting bahwa aksara-bahasa Jawi dipakai secara sistematis, penanda lisan tulisan itu diupacarai dan disepakati bersama. Catatan parwa itu juga telah tertulis dalam lontar-lontar pujangga keraton.

Aksara dan bahasa terus berkembang, perubahan dan kesepakatan baru muncul. Kakawin-kakawin telah bergeser menjadi kidung-kidung, dimana bahasa Kawi telah berganti dengan bahasa Jawa Tengahan, aksara Kawi juga perlahan-lahan bergerak ke arah Jawa Baru. Negara-kerajaan Majapahit (abad 13-14 Masehi) menjadi lokus penting berkembangnya bahasa Jawa Tengahan. Tetapi kesepakatan aksara-bahasa secara kultural kembali berubah kala serat, babad dan primbon, yang mencapai titik kulminasi masa Mataram Islam (abad 17-18 Masehi), telah mewujud dalam aksara-bahasa Jawa baru. Aksara-bahasa baru ini lalu dikenal dengan aksara bahasa carakan (Hanacaraka).

Aksara-bahasa Jawa yang mengalami perkembangan dan perubahan ini telah membentuk satu makna: bahwa perubahan itu bertaliaan erat dengan perubahan budaya masyarakat. Dalam perubahan-perubahan itu, tentu saja juga menunjukkan bagaimana tradisi menulis sesungguhnya lekat dengan orang-orang Jawa.

Aksara-bahasa Jawa sebagai sebuah sistem tanda, layaknya aksara-bahasa lainnya, memiliki—apa yang disebut Saussure sebagai—“langue” dan “parole”. Tentang kaidah dan praktik bertutur dalam bahasa. Dalam paradigma ini maka karya Illumitaions of Java Script menampilkan korelasi kontemporer atas pelbagai portal website terkenal di dunia (amazon.com, baidu.com, facebook.com, google.com, linkedin.com, live.com, qq.com, taobao.com, tmall.com, twitter.com, wikipedia.com, yahoo.com, youtube.com).

Satu sisi berbentuk teks “siklus aksara-bahasa Jawa” ( berkembang dari Palawa-Sansekerta, aksara-bahasa Jawi, hingga aksara-bahasa carakan) dan dituliskan dalam bentuk prasasti (media batu hingga plat logam), kakawin dan kidung (dalam media lontar) hingga serat babad atau primbon (dalam media kertas), di sisi lain dalam teks aksara-bahasa JavaScript dalam bahasa program digital yang ditempelkan pada kode HTML, bahasa ini digunakan untuk mengubah halaman website statis menjadi halaman dinamis dan interaktif. Meskipun satu sisi berkembang teraplikasi dalam dunia nyata dan satu sisi dalam dunia maya (internet), namun keduanya memiliki siklus pola pikir yang hampir sama dalam proses keberadaannya.

Pada awal mulanya lahir dan dimanfaatkannya internet, terkenal suatu istilah semacam virtual world atau cyber world untuk menggambarkannya. Dunia maya ini dianggap sebagai sebuah arena interaksi antara mereka yang memiliki “hak eksklusif” penggunaan sistem komputer yang terhubung dalam sebuah jejaring raksasa (seperti halnya sakralitas naskah-naskah Jawa kuno). Peristiwa historis tersebut secara tidak langsung mewarnai pola pikir manusia di masa-masa awal perkembangan internet, yang mendikotomikan antara dunia nyata dengan dunia maya.

Dalam konteks dikotomi inilah kemudian terbentuk suatu opini bahwa tidak adanya hubungan yang jelas dan tegas antara dua dunia ini. Masing-masing berdiri sendiri dan tidak saling mempengaruhi.

Fenomena tersebut mengandung arti bahwa apa yang terjadi di dunia maya, tidak dapat dilepaskan begitu saja dengan kenyataan di dunia nyata, mengingat terjadinya kecenderungan keberhimpitan kedua dunia tersebut yang menampakkan irisan semakin lama semakin bertambah besar.

JavaScript, layaknya aksara-bahasa Jawa, memiliki “langgage” (langue dan parole). Korelasi aksara-bahasa Jawa dan JavaScript menjadi sebuah sistem yang memiliki penanda atas petanda, yang lahir dari analogi pola pikir yang sama, satu sisi berkembang dalam dunia nyata dan satu sisi berkembang dalam dunia maya, tetapi keduanya (Javanese script dan JavaScript) menyatu dalam ikatan kata yang sama “JAVA” dan “aksara-bahasa”.

No comments yet.

Leave a Comment

All fields are required. Your email address will not be published.