Between prophecy and reality #1 | Acrylic on Camvas | 300 x 150 x 15 cm

Dalam tradisi yang dilakukannya, Raden Saleh selalu melukiskan “nuansa” Jawa dalam beberapa lukisan saat ia berada di Eropa dan memberikan lukisan itu pada sahabat-sahabatnya disana. Ia ingin mengabarkan tentang Jawa di Eropa,citra lokal dalam dunia global, dunia Eropa. Tetapi mungkin tidak sekedar citra, raden Saleh ingin menunjukkan Jawa sebagai identitasnya. Maka untuk mengawetkan tradisi itu, karya ini juga akan menampilkan identitas Jawa, sebagai identitas lokal yang kuat. Tetapi karya ini tidak sekedar menggambarkan Jawa dalam realitas semata, namun juga menafsirkan dunia mentalitas Jawa.

Karya ini terutama ingin memaknai ramalan dalam identitas serta mentalitas orang-orang Jawa. Dan memperlihatkan  bagaimana realitas selepas ramalan yang tidak pernah mewujud itu. Ramalan menjadi sebuah utopia tetapi bagi orang-orang Jawa, ramalan akan selalu menjadi living memory.

 

Between prophecy and reality #2 | Acrylic on Canvas | 300 x 150 x 15 cm

 

“Jongko” (ramalan) dalam tradisi positivistik barat dianggap sebagai hal yang irasional, tetapi ramalan dimata orang Jawa—seperti catatan Denys Lombard—meski pembuktian kebenaran suatu ramalan yang selalu terjadi “sesudahnya” atau bersifat post vactum, sama sekali tidak mengurangi nilainya. Itulah ramalan dunia Jawa, dimana konsep waktu linier orang Barat tidak akan mampu menjangkau maknanya.  Tetapi yang pasti, ramalan punya daya gugah luar biasa atas orang-orang Jawa. Dalam kata-kata Peter Carey, ramalan memiliki kuasa, memiliki kekuatan.

Dalam kuasa ramalan (power of prophecy) itulah, dunia orang-orang Jawa—yang dipahami sebagai dunia yang damai layaknya “moi Indie” dalam konstruksi khayalan orang Barat—berubah sedemikian drastisnya, terkadang menjadi  begitu radikal. Buku Peter Carey tentang pangeran Diponegoro telah menerangkan dengan jelas bagaimana orang-orang Jawa memiliki keyakinan yang dalam tentang ramalan. Jawa—setidaknya di abab 19 Masehi—menjadi ajang pembuktian ramalan yang menggerakkan orang-orang pribumi untuk melakukan perubahan, sebuah gerakan perlawanan dari wilayah barat hingga timur pulau Jawa.

 

Between prophecy and reality #3 | Acrylic on Canvas | 300 x 150 x 15 cm

 

Dan Jongko  Joyoboyo menjadi  ramalan yang paling mengendap dalam benak orang Jawa.  Sebuah ramalan yang masyur tentang pembebasan tanah Jawa dari kesengsaraan dan penderitaan, menuju masa “gemah ripah loh jinawi” (kemakmuran) yang sesungguhnya.  Jongko Joyoboyo—meminjam ungkapan Pierre Nora—menjadi semacam lieux de memoire, sebuah site of memory. Tetapi ramalan ini bukanlah menjadi penanda atas masa lalu, sebaliknya ramalan ini menjadi penanda atas “kenangan” tentang masa depan. Orang-orang Jawa akan selalu mengingat bahwa selepas apa yang disebut dalam Jongko Joyoboyo sebagai jaman Kala Bendu (dimana kehidupan dipenuhi dengan suasana chaos), akan muncul  jaman kemuliaan serta muncul sosok pemimpin mulia—seperti konsep utopis Plato tentang “Philosopher King”—yang orang Jawa menyebutnya sebagai (H)erucokro, seorang Raja Pandita.

Jaman kemuliaan inilah yang dipahami orang-orang Jawa, terutama orang-orang di pedesaan yang miskin,sebagai jaman tercukupinya sandang, pangan, dan papan. Sebuah kredo atas “trinitas” kebutuhan primer orang-orang Jawa akan pakaian, bahan makanan, dan tempat tinggal yang layak. Jaman kemuliaan selepas jaman Kala Bendu masih dinanti, meski realitasnya, banyak orang-orang Jawa masih melarat, berada dalam posisi subordinat atau menjadi kelompok-kelompok subaltern  dimana kebutuhan akan sandang, pangan, dan papan mereka tak pernah terpenuhi dengan layak. Tetapi orang-orang Jawa tak peduli apakah Jongko Joyoboyo sebuah utopia atau bukan. Bagi mereka, ramalan merupakan harapan. Ramalan akan terus hidup dari generasi ke generasi karena ramalan—sebagai bagian dari makro kosmos Jawa—berfungsi  sebagai sandaran bagi “jiwa-jiwa” orang Jawa yang gelisah untuk menggapai kemuliaan, dimana “trinitas” kebutuhan itu (sandang, pangan, papan) terpenuhi dengan layak. Mungkin seumur hidup mereka tak akan menjumpainya, tetapi orang-orang Jawa tetap meyakini ramalan, bahwa satu saat nanti ramalan itu akan mewujud, entah kapan.

No comments yet.

Leave a Comment

All fields are required. Your email address will not be published.