Detail Java of Durer #1

Semangat Renaisans telah mengubah pandangan budaya masyarakat Eropa. Saat itu, kebebasan individualistik telah mewabah di setiap alam pikir manusia di seantero benua biru hingga banyak orang berfikir bahwa manusia memiliki eksistensi yang lebih dari sekedar menanti akhirat. Satu pemikiran yang jauh berbeda dengan semangat jaman pertengahan, dimana nafas dunia barat dipengaruhi  semboyan memento mori. Semangat yang ditopang kaki-kaki kuat gereja Roma itu akhirnya runtuh.

Dalam pola perubahan saat Rene Descrates mengucap tegas  cogito ergo sum (saya berfikir maka saya ada) itulah, para pemikir telah membumikan kembali manusia sebagai pribadi yang utuh dan memiliki peran luar biasa atas diri mereka sendiri juga terhadap gerak hidup dunia di sekelilingnya. Manusia telah kembali menemukan jati dirinya.

Di masa awal Renaisans, budaya ikut memiliki peran signifikan dalam mempopulerkan perubahan. Albrecht Durer seniman bergaya Renaisans utara, dengan pola cukilan kayu, sebuah pola yang umum digunakan saat teks mulai disebarkan sebelum diruntuhkan oleh mesin cetak Gutenberg, memberikan satu refleksi kehidupan dengan semangat perubahan yang kental: manusia dan kehidupan.

Java of Durer #1 | Acrylic and Drawing pens on Canvas | 200x280cm | 2011

Man’s bath merefleksikan sebuah catatan keseharian manusia dalam suasana keakraban yang jauh dari hingar bingar kehidupan religi. Tak ada dogma agama yang tersirat didalamnya. Satu cerminan perubahan yang diberikan Durer atas perkembangan pemikiran Renaisans. Saat Islam datang masuk ke barat lewat pintu timur dengan runtuhnya Byzantium, pemikir dan seniman berlarian ke barat, lalu berkembanglah Renaisans. Sebegitu hebatnya hingga Durer, sang seniman katolik , ikut terpengaruh lalu merubah pandangannya. Man’s bath lalu menjadi salah satu prasasti nyata atas perubahan semboyan memento mori  menjadi carpe diem.

Memang terlalu sukar untuk memastikan kapan Renaisans menyeruak di Eropa seperti halnya terlalu sukar untuk memantapkan kapan perubahan (Hindu ke Islam) di tanah Jawa dwipa. Tetapi Jostein Gaarder menarik garis tahun tegas 1400 Masehi. Di angka yang sama, Babad Tanah Jawi menyimpulkan tegas runtuhnya Majapahit di  tahun Saka, “sirna ilang kertaning bumi”. 1400 Saka adalah garis tegas “renaisans” di tanah Jawa Dwipa. Sebuah arus balik yang memberi gambaran hidup baru bahwa manusia sama derajatnya di mata Sang Tunggal bukan lagi milik dewa-dewa.

Gambaran Durer atas manusia yang memiliki jiwa humanis sebagai perkembangan kebudayaan di kota-kota laut  yang ramai di benua biru telah mengubah tatanan sakral kehidupan rohani dari kapel-kapel suci Roma. Hal itu seolah mempertegas kembali perubahan yang nyaris sama di tanah Jawa. Arus Islam telah mengubah wajah pesisir Jawa. kota-kota laut di utara Jawa semarak, ramai, dan memberi perubahan nyata atas alam pikiran manusia-manusia Jawa yang sebelumnya dikuasai dewa-dewa. Seolah gerak hidup manusia Jawa dihisap penuh untuk upacara-upacara sakral kaum pendeta lalu berganti menjadi kerja-kerja produktif perdagangan dan memberi jalan lapang atas Islam di tanah Jawa.

Jiwa kebebasan yang diberikan Durer menjadi satu penegasan yang sama bahwa manusia Jawa tak lagi memikirkan dewa-dewa, manusia Jawa telah menemukan jati dirinya. Dan saat itu berlangsung, tak ada lagi ritual panca makara puja seperti yang dilakukan para kawula di bawah kaki prabu Kertanagara dan tak ada lagi pesta-pesta srada. Sama seperti Eropa di masa Durer yang tak peduli lagi dengan tegasnya semboyan memento mori.

No comments yet.

Leave a Comment

All fields are required. Your email address will not be published.