Dunia, termasuk di dalamnya adalah masyarakat Jawa, pada saat ini ibarat berada di persimpangan jalan. Di satu sisi harus berhadapan dengan perkembangan dan kemajuan ilmu pengetahuan, teknologi, dan globalisasi, di sisi lain dihadapkan pada kondisi budaya yang menuntut tetap ditegakkannya jatidiri. Perkembangan jaman yang begitu cepat, mampu menyeret kehidupan manusia, merubah pola pikir dan pola hidup menjadi realistik berlebihan, pragmatik, materialistik, hedonik, dan liberal kapitalistik. Manusia menjadi tidak terkendali dan cenderung mengkhalalkan segala cara dalam meraih tujuan. Menjadi kaya lebih dari yang lain, popularitas melebihi popularitas lain. Kondisi seperti inilah yang digambarkan Ranggawarsita di dalam Serat Kalatidha yang dikenal sebagai jaman edan atau jaman kalabendu, jaman yang penuh bebendu. Orang bisa berbuat apa saja semaunya karena aturan sudah tidak ada fungsinya, rurah pangrehing ukara, dan tidak ada keteladanan pemuka dan pimpinan masyarakat, karana tanpa palupi.

Instalasi karya pada Artstage Singapore 2017

Tanda-tanda perkembangan dan globalisasi tersebut, tampaknya seperti adanya tanda-tanda yang menunjukkan tanda-tanda jaman edan dalam Serat Kalatidha. Manusia begitu mudah terbakar emosi, demi tercapai kepentingannya sendiri. Hingga kerap muncul konflik horizontal, pembunuhan, fitnah, perkosaan, korupsi, kolusi, dan sebagainya. Kita semacam hidup dalam budaya di mana kita lebih tersinggung dengan makian daripada bencana karena kemanusiaan. Mungkin kita tidak diajarkan untuk menjadi pemikir, tapi reflektor budaya.

Serat Kalatidha, karya Ranggawarsita tahun 1860, pujangga besar keraton Surakarta, mengajarkan filosofi, bagaimana menghadapi dan mengatasi kondisi yang berkembang, agar kita tidak ikut larut ke dalam jaman edan yang menjerumuskan. Ada beberapa sikap arif dan bijaksana yang ditunjukkan oleh Ranggawarsita di dalam serat Kalatidha yang dapat diteladani guna menghadapi keadaan yang kacau-balau dan bahkan mungkin mengancam jiwa. Kalatidha menjadi cermin kearifan. Karena kita harus sering pergi mengunjungi sejarah agar kita bisa pulang untuk berbenah.

Detail Karya

Karya secara keseluruhan merupakan bentuk instalasi seni 3 dimensi. Ada 3 (tiga) ekor babi dengan tubuh penuh Brand-name korporasi seluruh dunia sebagai simbol  peran kapitalisme. Babi sebagai icon hewan yang tak pernah kenyang walau perutnya telah penuh terisi dengan apa yang mereka makan hingga tak kenal batas. Seperti halnya nafsu kapitalis, selalu ingin lebih dan lebih. Bahkan 3 ekor babi di sini tengah melahap teks-teks aksara jawa (simbol nilai dan budaya), juga terkena imbas dilahap nafsu kapitalis. Aksara jawa tersebut juga sebagai gambaran Serat Kalatidha.

Pada dinding terdapat 3(tiga) buah jendela kayu khas Joglo Jawa ‘krepyak’ dalam posisi terbuka. Nampak dari balik jendela tiga figur wajah tokoh mata uang mengamati prilaku babi-babi kapitalime yang tanpa peduli. Wajah-wajah itu sangat familiar sebagai alat  transaksional perekonomian dunia. Dan menjadi tiga wajah yang mewakili nilai mata uang dengan frekuensi perputarannya di seluruh dunia yang paling tinggi. Benjamin Franklin dalam US Dollar, Queen Elizabeth dalam Poundsterling, dan Mao dalam Yuan. Wajah-wajah itu merupakan replika dari ilustrasi engraving yang tercetak di masing-masing mata uang yang terwakili.

Kemudian engraving wajah-wajah berkorelasi dengan teks asli Serat Kalatidha aksara jawa yang tersusun dalam tulisan tangan hingga membentuk image wajah tokoh yang digambarkan. Keberadaan wajah tokoh sebagai simbol mata uang, di balik jendela-jendela Joglo Jawa yang tengah mengamati prilaku babi-babi rakus, menjadi gambaran kontradiksi sejarah peradaban. Sekuat apapun nilai-nilai sebuah etika, jika harus berhadapan dengan kapitalisme, akan selalu menjadi “Perlawanan yang selalu gagal”.

No comments yet.

Leave a Comment

All fields are required. Your email address will not be published.