Kronik Soekarno | Acrylic on Canvas | 100x300cm (10 panels) | 2012

6 Juni 1901_Soekarno lahir pada hari Kamis Pon dengan nama Koesno Sosrodihardjo dari pasangan Ida Ayu Rai Srimben [Singaraja Bali] dengan Raden Soekemi Sosrodihardjo [Probolinggo Jawa Timur]. Ia lahir di daerah padat dan teratur yaitu gang Lawang Seketeng, Peneleh, kota Surabaya. Daerah ini terletak di timur kota, tepat di sebelah barat kuburan Eropa kerkhoflaan menghadap bagian timur kali Mas. Dua minggu sebelum Koesno lahir, gunung Kelud meletus dahsyat. Mitos Jawa mengabarkan bahwa gunung meletus selalu dihubungkan dengan hadirnya pemimpin besar. Seperti catatan Mpu Prapanca dalam kakawin Desa Warnnana [Nagarakrtagama] bahwa gunung Kampud—nama kuno gunung Kelud—juga meletus saat Hayam Wuruk lahir di kedaton Majapahit tahun 1334.

1907_Soekarno tinggal bersama kakeknya, Raden Hardjokromo di Tulung Agung. Ketika itu, Soekarno bersekolah di Sekolah Bumiputera, sekolah rendah untuk rakyat yang disebut juga Inlandische School.

Juni 1911_Soekarno dipindahkan ke Europeesche Lagere School (ELS) Mojokerto dan ditempatkan di kelas III. Sebelumnya Soekarno kecil sekolah di Eerste Inlandse School dimana ayahnya menjadi kepala sekolah. Soekarno merupaka murid yang cerdas hingga tanpa kesulitan lulus dari ELS meskipun awalnya ia kurang lancar berbahasa Belanda.

Juni 1916_soekarno masuk HBS [Hogere Burger School] Surabaya dan indekost di rumah Cokroaminoto di Gang Peneleh VII no 29/31. Karena sudah ada sekira 15 siswa yang mondok di rumah Cokro, Soekarno hanya mendapat sebuah kamar gelap tanpa jendela dan pintu. Sebagai penerangan, lampu pijar selalu menyala sepanjang hari. Tetapi Soekarno tak mengeluh. Kamarnya tak mengurangi semangat belajarnya. Di HBS, Soekarno sudah tertarik dengan politik. Ia sering dipanggil Cokroaminoto untuk berbincang-bincang. Kadang-kadang ia hadir pada pertemuan dengan tokoh politik masa itu, seperti Abdul Muis, Agus Salim, dan lain-lain. Kala itu, Soekarno juga telah menjadi pembantu harian Oetoesan Hindia.

1917_Soekarno ikut bergabung dalam organisasi Tri Koro Dharmo. Tri Koro Dharmo  [TKD] bertujuan untuk mempersatukan para pelajar pribumi, menyuburkan minat pada kesenian dan bahasa nasional serta memajukan pengetahuan umum untuk anggotanya. Hal ini dilakukan antara lain dengan menyelenggarakan berbagai pertemuan dan kursus, mendirikan lembaga yang memberi beasiswa, menyelenggarakan berbagai pertunjukan kesenian, serta menerbitkan majalah Tri Koro Dharmo. TKD berubah menjadi Jong Java pada 12 Juni 1918 dalam kongres pertama yang diadakan di Solo. Perubahan ini dimaksudkan untuk bisa merangkul para pemuda dari Sunda, Madura dan Bali.

29 September—6 Oktober 1918_Soekarno ikut menghadiri konggres nasional ketiga SI di Surabaya. Dalam konggres, SI telah bergeser ke kiri. Perjuangan melawan Kapitalisme yang penuh dosa, persamaan seperti yang dicanangkan oleh gerakan Djowo Dipo tentang penggunaan bahasa Jawa ngoko telah menjadi keputusan konggres.

April 1920_Soekarno menikahi Utari, anak perempuan Cokroaminoto. Saat itu Soekarno berumur 19 tahun dan Utari berumur 16 tahun.

17 Januari 1921_Soekarno ikut menghadiri rapat SI yang dihadiri sekira 100 peserta.

21 Januari 1921_Artikel Soekarno—ditulis bersama SP Soedarjo—pertama  kali terbit di halaman depan Koran Oetoesan Hindia milik Sarekat Islam yang berjudul “Nasibnya Soerabaya”. Artikel ini merupakan respon terhadap rapat SI pada 17 Januari 1921 yang dianggap sepi peminat. Soekarno mulai dikenal.

7 April 1921_Soekarno menulis artikel bertajuk “intellectueelen”di Koran Oetoesan Hindia . Ia mempertanyakan federasi yang direncanakan antara Jong Java dan Jong Sumatranen. Apa manfaatnya federasi itu bagi wong cilik dari dua pulau itu.  Soekarno menulis tajam, “para intelektual muda, untuk mendapat solusi yang tepat bukannya dengan membentuk federasi yang tidak berguna, kita harus mengabdikan diri kita semata-mata untuk kepentingan rakyat banyak dan membantu mereka untuk mengatasi nasib buruk mereka dewasa ini.”

21 April  1921_Soekarno menulis artikel di Oetoesan Hindia merespon rencana bupati Bandung Wiranatakoesoema yang akan menggusur tempat pelacuran dalam kota untuk relokasi di tempat lain. Menurut Soekarno, tindakan itu tak menyelesaikan masalah. Ia menelaah bahwa pelacuran muncul akibat kapitalisme barat yang menyebabkan kemiskinan dramatis bagi kaum buruh yang dipekerjakan oleh sistem. Dalam akhir artikelnya Soekarno menyerukan, “maka SI dan para pengikut perempuan haruslah melanjutkan perjuangan menghapus kapitalisme colonial, karena sistem inilah yang menjadi akar utama kejahatan seperti pelacuran”.

22 April 1921_Soekarno menulis artikel dalam Koran Oetoesan Hindia perihal pemerintahan sendiri. Ia mengatakan tujuan SI adalah pemerintahan sendiri. meski kenyataannya SI sendiri masih cukup jauh dalam merealisasikan bagi rakyat. Menurutnya lagi, semua badan seperti dewan kota, daerah, kabupaten bahkan Volksraad tidak mewakili rakyat umum yang sebenarnya. Dengan begitu, semua dewan harus diubah terus menerus agar benar-benar mewakili rakyat banyak kaum miskin.

Akhir April 1921_Soekarno menempuh ujian akhir tertulis HBS.

1 Mei 1921_Soekarno mendampingi Cokroaminoto dalam acara pawai akbar hari buruh. Koran-koran melaporkan, “seorang pemimpin muda yang popular, Soekarno, berjalan menembus massa bersama Cokro ke atas podium”.

6 Mei 1921_Soekarno menulis artikel tentang hak pilih di Oetoesan Hindia. Ia menulis, “pemilihan langsung itu yang baik bagi rakyat kita…tentulah ketika itu rakyat tidak lagi bodoh sebagai sekarang…”. Lalu ia menutup uraiannya, “jika wakil wakil yang duduk di majelis itu wakil rakyat yang sejati yang dengan betul betul bekerja dengan sekuat-kuatnya akan meneguhkan demokrasi dan Islamisme di Hindia ini, akan menolong rakyat yang menderita dan menghancurkan kapitalisme yang menindas, sebab apakah perlunya zelfbestuur [pemerintahan sendiri] jika tiada dengan haluan yang demokratis? Apakah artinya zelfbestuur jika yang menjalankan zelfbestuur ini semua dari pihak kapitalisme dan imperalisme?”.

Akhir Mei 1921_Soekarno sibuk belajar keras untuk mempersiapkan dirinya menempuh ujian lisan HBS.

10 Juni 1921_Soekarno lulus dari HBS Surabaya dengan hasil yang memuaskan. Sesungguhnya Soekarno ingin melanjutkan studi ke negeri Belanda tetapi tak terlaksana. Ia segera mempersiapkan diri untuk melanjutkan studinya di Dago Bandung, di THS [Technische Hoogeschool]  yang baru dibuka sejak 3 Juli 1920 atas prakarsa badan swasta Koninklijk Instituut voor Hooger Technisch Onderwijs in Nederlandsch-Indie.

11 Juni 1921_ibunda Soekarno menjelaskan kenapa tidak setuju jika anaknya sekolah di Belanda, “pertama kita harus mengingat kenyataan pokok yang mengendalikan sesuatu dalam hidup kita. Uang. Pergi ke luar negeri memerlukan biaya yang sangat besar…aku ingin supaya engkau tinggal di sini di antara bangsa sendiri. jangan lupa sekali-kali nak, bahwa tempatmu, nasibmu, pusakamu adalah di kepulauan ini”.

1 Juli 1921_ Masa perkuliahan tahun akademik ke-2 THS Bandung telah dimulai. Jumlah total mahasiswa yang terdaftar sebanyak 59 orang. Di antara mahasiswa baru tersebut terdapat 6 mahasiswa pribumi, di mana salah satu dari mereka adalah Soekarno. THS memiliki 12 staf pengajar dimana jabatan rektor dipegang oleh Prof. Ir. Jan Klopper sedang sekretaris dijabat oleh Prof. Dr. Jacob Clay. Tidak ada ujian seleksi masuk TH Bandung untuk menjadi mahasiswa baru tingkat pertama, cukup dengan menunjukkan ijazah lulusan HBS program 5 tahun bagian B [Ilmu Pasti dan Ilmu Alam] atau AMS bagian B [Ilmu Pasti dan Ilmu Alam]. Saat berada di Bandung, Soekarno mengajak serta istrinya—Utari—dan tinggal indekos di rumah anggota Sarekat Islam, Sanusi dan istrinya Inggit Garnasih di jalan Javaveem.

30 Agustus 1921_ Belanda menggedor rumah Cokroaminoto di tengah malam buta dan menggiringnya dengan ujung bayonet ke dalam tahanan. Dia tidak mendapat kesempatan untuk mengatur keluarga yang dicintainya. Dan dalam keadaan yang begitu susah di rumahnya. Berita penangkapan ini segera menyebar hingga ke telinga Soekarno di Bandung.

2 September 1921_baru dua bulan studi, Soekarno segera memutuskan cuti kuliah dan segera kembali ke Surabaya sendirian tanpa ditemani Utari untuk menopang keluarga Cokro yang kesusahan. Di rumah mertuanya, ia segera menjadi pengganti Cokro. Ia mulai bekerja sebagai Klerk [juru tulis redaktur] kantor kelas satu golongan satu pada Staatts Spoor-en tramwegen [perusahaan kereta api dan trem negara]. Kala itu ia bergaji lumayan, 165 gulden. Dengan uang ini, ia menopang keluarga Cokro.

9 Maret 1922_artikel Soekarno dimuat Koran Sama Tengah Bandung. Tulisannya diedit oleh AH Wignjadisastra dan berbicara soal politik yang netral.

5 April 1922_ Cokroaminoto kembali menghirup kebebasan.  Pengadilan membatalkaan semua tuduhan terhadap Cokro. Soekarno mempersiapkan diri untuk kembali ke Bandung.

3 Juli 1922_Tahun akademik ke-3 THS baru dimulai. Soekarno hadir di ruang kelas. Ia juga kembali muncul di rumah besar Javaveem miliki Sanusi Inggit untuk indekost lagi.

Desember 1922_Soekarno mengembalikan Utari ke Surabaya dan meminta kerelaan Cokroaminoto untuk menceraikan putri sulungnya itu.

20 Januari 1923_di alun-alun Bandung diadakan rapat umum oleh Radicale Concentratie. Soekarno tak dapat menahan diri. Ia menerobos naik ke mimbar  dan dengan lantang menyampaikan kecaman terhadap sistem kolonial, sesuatu yang berada di luar acara. Ia segera dipaksa turun dari podium dan rapat segera dibubarkan atas perintah kepala polisi Bandung.

4 Maret 1923_Soekarno menghadiri rapat yang diadakan oleh PKI dan SI Merah di sekolah SI Merah di gang sekolah. rapat dihadiri sekira 2000 orang. Di sana Soekarno membela mati-matian bekas mertuanya, Cokroaminoto, yang dikecam oleh Misbach. Persoalannya terkait dengan Cokro yang menegakkan disiplin partai, dimana seorang anggota SI tak boleh menjadi anggota organisasi lainnya, bagi lawan-lawannya tindakan ini sekedar untuk menghalang-halangi seseorang dari organisasi lain untuk masuk ke SI. Misbach akhirnya meminta maaf pada Soekarno.

8 Maret 1923_Soekarno menghadiri pertemuan dan perdebatan antara Stokvis dengan Douwes Dekker di dalam pertemuan TAO, organisasi mahasiswa di THS Bandung.

24 Maret 1923_Soekarno menikahi Inggit Garnasih yang telah menjanda. Di hari penting pernikahan keduanya itu, Soekarno mengenakan pakaian putih-putih serta peci beludru hitam seperti biasanya. Sedang Inggit memakai kebaya bunga-bunga serta kain bercorak lereng warna putih.

30 Juni 1923_Dies Natalis ke-3 THS Bandung diadakan di Aula [Barakgebouw] A yang dimulai jam 10.00 dengan diiringi lagu Io vivat di mana telah hadir Dewan Kurator, Direktur Pendidikan dan Agama, Residen, Bupati, para pejabat instansi pemerintahan sipil dan militer, kalangan swasta, dan undangan lainnya. Rektor THS Prof. Ir. Jan Klopper menyampaikan gambaran tentang keseluruhan Tahun Ajaran 1922-1923 dan membeberkan perkembangan  signifikan THS Bandung. Kala itu, Soekarno berhasil naik ke tingkat dua dengan tanpa hambatan.

4 Juli 1924_Soekarno beserta beberapa rekan pribuminya berhasil naik ke tingkat tiga THS.

4 Juli 1925_Soekarno berhasil naik ke tingkat empat THS, tingkat terakhir sebelum lulus menjadi insinyur.

29 November 1925_Soekarno mendirikan Algemeene Studieclub di Bandung meniru Indonesische Studiclub bentukan dokter Soetomo di Surabaya tahun 1924.

3 Juli 1926_Soekarno mendapat gelar insinyur dari THS bersama tiga pribumi lainnya, M. Soetedjo, M. Anwari, dan J. A. H. Ondang .

26 Juli 1926_Soekarno mendirikan biro arsitek bersama Anwari. Tetapi tak banyak yang dikerjakan karena mereka berdua sibuk dengan dunia politik.

26 agustus 1926_sebuah pertemuan tertutup diadakan. Lalu dibentuk Comite Persatuan Perjuangan dengan ketua Sartono, wakil ketua Soeprodjo, dan Soekarno sebagai sekretaris.

1 Oktober 1926_Soekarno memimpin surat kabar berkala Indonesia Moeda. di dalamnya, Soekarno menekankan tentang telah munculnya fajar bagi pemuda Indoensia. Ia menulis “Nasionalisme, Islamisme, dan Marxisme” yang terbit dalam tiga nomor berturut-turut.

Desember 1926_Soekarno bersama Sartono mengatur diadakannya seksi nasionalis pada jurnal Bandera Islam milik Cokro. Pada halaman depan jurnal, disamping simbol bulan bintang juga terdapat gambar kepala banteng sebagai simbol nasionalisme.

20 Februari 1927_Soekarno mendirikan Jong Indonesia di Bandung.

4 Juni 1927_Soekarno ikut mendirikan Perserikatan Nasional Indonesia[PNI] di sebuah rumah di jalan Regentstraat no 22 Bandung. Dewan pengurus terbentuk dengan Soekarno sebagai ketua, Ishaq menjadi sekretaris merangkap bendahara, sedangkan anggotanya antara lain, Anwari, Samsi, Sartono, dan Soenarjo.

4 Desember 1927_Soekarno berpidato dalam sebuah rapat cabang PNI.

14 Agustus 1927_rapat dilakukan oleh PNI dan Soekarno mengutuk keras tindakan pemerintah Belanda menangkap tokoh-tokoh PI di Belanda.

25 September 1927_PNI menggelar rapat dan mengumpulkan dana untuk dikirim ke Belanda membantu tokoh-tokoh PI yang tertangkap.

28 September-2 Oktober 1927_dalam konggres PSI di Pekalongan, Soekarno menyerukan agar PSI dan PNI bahkan organisasi lain untuk membetuk front persatuan bersama. Soekarno mengedarkan rancangannya kepada para hadirin konggres. Ia menyerukan dibentuk suatu front sawo matang berdasar federasi longgar di antara partai-partai.

1 Desember 1927_Soekarno dan Soetomo menerbitkan Soeloeh Indonesia Moeda dan memuat tulisan Soekarno dalm bahasa Belanda bertajuk “Naar Het Bruine Front” [Menuju Pembentukan Front Sawo Matang].

17 Desember 1927_terbentuk Permufakatan Perhimpunan perhimpunan politik kebangsaan Indonesia, yang menjadi seruan Soekarno sebelumnya. Perhimpunan ini terdiri 7 organisasi politik terkemuka yang meliputi kelompok non kooperasi dan kooperasi. Mereka terdiri PNI, PSI, BO, Pasundan, Sarekat Sumatra, Kaum Betawi, dan Indonesische Studiclub. Tiga organisasi yang kemudian bergabung adalah Sarekat Madura, perserikatan Celebes, dan Tirtajasa banten.

28 Desember  1927_dalam sebuah Konggres, Soekarno menjadi pembicara utama. Gerakan pemuda yang dipimpinnya segera diikuti oleh barisan banteng perempuan dan juga gerakan boikot nasionalis yang membuat khawatir sejumlah pegawai pemerintah.

27-30 Mei 1928_konggres PNI digelardi Surabaya. Nama Perserikatan Nasional Indonesia akhirnya diubah menjadi Partai Nasional Indonesia. Partai segera mengumumkan program kerja baru, meningkatkan kemajuan ekonomi dan social kaum pribumi.

Mei 1928_Soekarno dan Soenarjo menerbitkan berkala Persatoean Indonesia.

15 juli 1928_rapat PNI digelar di Batavia dan Soekarno hadir di sana. Rapat ini dihadiri sekira 1500 orang.

30 Agustus 1928_rapat propaganda PNI di gelar di Gresik. Soekarno berbicara dengan tajam terkait dengan kemerdekaan Indonesia.

14 Oktober 1928_rapat PNI di Semarang yang dihadiri Soekarno dihentikan oleh polisi. Soekarno berpidato dan sering menyebut-nyebut kata merdeka.

15 Oktober 1928_Soekarno hadir dalam rapat peresmian PNI cabang Solo. Lagi-lagi, Soekarno dilarang untuk berpidato dengan kata-kata kemerdekaan oleh polisi kolonial.

6 November 1928_Cipto Mangunkusumo—yang sedang dibuang di Bandanaira—menulis  surat kepada Soekarno, mengungkapkan kekawatirannya akan penangkapan yang bisa terjadi pada Soekarno akibat gerakan radikal yang dilakukannya.

4 Februari 1929_Muhammad Hatta menulis surat dari den Haag untuk Soekarno, meminta sahabatnya itu untuk sedikit mengurangi aksi radikalnya dan memintanya untuk sementara undur dari kegiatan politik dan sejenak pergi keluar negeri untuk menghindari kecurigaan pemerintah kolonial. Soekarno tak bergeming. Ia tetap radikal.

7 Juli 1929_PNI merayakan ulang tahun kedua secara besar-besaran di Batavia dan di Bandung.

29 Desember 1929_Soekarno ditangkap di Yogyakarta dan bersama tokoh PNI lainnya segera dijebloskan ke Penjara Banceuy Bandung dengan tuduhan: merencanakan pemberontakan kepada pemerintah kolonial Belanda.

26 Juli 1930_para pemimpin PNI termasuk Soekarno dikenai pasal 171 [tentang laporan yang dengan sengaja mengganggu ketenangan dan ketertiban umum], pasal 110 oud [tentang persekongkolan revolusi dan tindak illegal menjatuhkan pemerintah kolonial Hindia Belanda], pasal 108 dan 109 oud [tentang revolusi dan kegiatan kriminal], serta pasal 163 bis [tentang mneghasut orang lain untuk melakukan hal-hal yang dikehendaki].

4 Agustus 1930_para pengacara pemimpin PNI yang dijebloskan ke penjara, akhirnya dapat menemui klien mereka, termasuk Soekarno, di Banceuy.

18 Agustus 1930_Pengadilan pertama Soekarno digelar. Inggit bersama anak angkat mereka, Omi, hadir dalam sidang ditemani MH Thamrin, Cokroaminoto, A Hassan, Soewarsih dan Soegondo.

1-2 Desember 1930_Soekarno membacakan pledoi terkenalnya “Indonesia menggugat” dalam bahasa Melayu [Indonesia] setebal 170 halaman.

22 Desember 1930_para pemimpin PNI divonis kurungan. Soekarno dijatuhi hukuman kurungan 4 tahun, Gatot dihukum 2 tahun penjara, Maskoen 20 bulan penjara, dan Soepriadinata 15 bulan penjara. Soekarno, Gatot dan Maskoen langsung dijebloskan ke penjara Sukamiskin.

1 Mei 1931_Sartono membubarkan PNI dan mendirikan Partai Indonesia [Partindo] guna mengisi kekosongan kepemimpinan di kalangan front sawo matang [pribumi].

28 Oktober 1931_Soekarno menulis surat pada Jozef  Emanuel Stokvis, seorang sosialis demokrat Belanda. Dalam suratnya, ia menyebut dirinya plonco sebagai pengagum ideologi marxis dan memberikan uraian interpretasi ekonomi marxis pada saat terjadi krisis ekonomi di Hindia Belanda.

3 September 1931_gubernur jenderal de Graeff memberi grasi dan menandatangi surat pembebasan Soekarno.

31 Desember 1931_Soekarno dibebaskan dari penjara Sukamiskin dan langsung terlibat dengan orang-orang Partindo.

2 Januari 1932_di Surabaya, Soekarno kembali naik podium dalam rapat PPPKI dan menghimbau tentang persatuan semua organisasi dalam front sawo matang.

4 Januari 1932_Soekarno menghubungi Sutan Sjahrir dan memintanya untuk bergabung dengan Partindo atau dengan PNI baru bentukan Hatta.

23-26 Juni 1932_Soekarno diundang dalam konggres pertama PNI baru di Bandung, dimana akhirnya Sjahrir diangkat menjadi ketua PNI baru.

1 Agustus 1932_Soekarno resmi bergabung menjadi anggota Partindo dan ia berusaha untuk mengusahakan fusi antara Partindo dengan PNI baru.

25 September 1932_Muhammad Hatta menemui Soekarno di Bandung untuk mengusahakan fusi Partindo dengan PNI baru.

Agustus-September 1932_Soekarno yang telah diangkat menjadi propagandis Partindo pusat berkeliling Jawa [tengah dan timur] serta telah berpidato di depan 3000 massa.

14-19 April 1933_Soekarno terpilih sebagai ketua Partindo dalam konggres kedua partai ini di Surabaya. Di bulan April itu juga Soekarno menerbitkan brosur berjudul Mencapai Indonesia Merdeka yang berbicara tentang busuknya politik pintu terbuka imperialisme dan mengutuk seluruh sistem kolonialisme.

31 Juli/1 Agustus 1933_Soekarno kembali ditangkap untuk kedua kalinya. Ia ditangkap di lapangan rumput depan rumah MH Thamrin di daerah sawah besar Batavia. saat itu semua pengurus eksekutif Partindo sedang mengadakan rapat.

17, 18, 28, 29 Agustus-8, 9, 13, 14 September 1933_Soekarno diinterogasi secara intensif.

21 November 1933_Soekarno menyatakan diri keluar dari Partindo.

23 November 1933_Soekarno dibawa ke hadapan residen Bandung MF Tydeman. Soekarno harus mengisi 34 pertanyaan  yang merupakan prosedur baku colonial dalam menghadapi tertuduh politik sebelum pembuangan.

28 November 1933_pemerintah kolonial mengeluarkan dekrit no 2z dengan menunjuk Ende Flores sebagai tempat pembuangan Soekarno.

17 Februari1934_Soekarno dibuang ke Ende Flores beserta Inggit, Omi dan mertuanya ibu Amsi. Mereka berangkat menggunakan kapal Jan van Riebeeck milik KPM. Soekarno beserta keluarganya tinggal di kampung Ambugaga yang tak jauh dari kota pemerintahan Ende.

Selama masa pembuangan di Ende, Soekarno dekat dengan para pastor paroki Imaculata, seperti pastor G Huytink dan pastor J Bouman. Soekarno juga dekat dengan kepala sekolah Schakel School di Nado yaitu pastor G van Velsen. Soekarno juga mendirikan grup sandiwara bernama Kelimutu yang hidup di lingkungan paroki Imaculata. Mereka sering pentas drama dan Soekarno telah  menghasilkan 13 judul naskah  tonil, antara lain Rahasia Kelimutu (dua seri), Tahun 1945, Nggera Ende, Amuk, Rendo, Kutkutbi, Maha Iblis, Anak Jadah, Dokter Setan, Aero Dinamik, Jula Gubi, dan Siang Hai Rumbai.

1 Desember 1934_Soekarno menulis surat pertamanya pada Ahmad Hassan—pemimpin Persis yang berpusat di Bandung. Soekarno meminta kiriman pelbagai karya tulis para ahli Islam.

17 Desember 1934_Cokroaminoto meninggal dunia dan Soekarno segera mengirim surat bela sungkawa kepada Utari.

25 Januari 1935_Soekarno menulis surat untuk A Hassan dan menyebut tentang buku-buku yang telah diterimanya. Tapi ia masih belum memiliki buku hadist Buchari.

26 Maret 1935_Soekarno menulis surat kepada A Hassan dan menyatakan bahwa hadist yang lemah dalam Islam membuat kekolotan dan konservatisme menguasai Islam.

17 Juli 1935_Soekarno menulis surat kepada A Hassan dan menjelaskan keadaannya. Pekerjaan rutinnya adalah berkebun, membersihkan rumput, mengobrol dengan anak istri, lalu membaca buku.

15 September 1935_Soekarno menulis surat lagi kepada A Hassan mengabarkan bahwa ia telah menerima kiriman brosur dan cerita tentang pekerjaan para pastor yang ada di Ende. Soekarno sering bertukar pikiran dengan para pastor itu.

12 Oktober 1935_Setelah lima hari dalam keadaan koma, ibu Amsi—mertua Soekarno—meninggal dengan tenang dan Soekarno yang mengurus penguburannya di Ende.

4 Desember 1935_Soekarno kembali menulis surat pada A Hassan dan menyatakan pandangannya terhadap ritual tahlilan dalam Islam.

22 Februari 1936_Soekarno menulis surat lagi kepada A Hassan dan bercerita tentang pertemuannya dengan dua orang santri Jawa dari Batavia dan Banyuwangi. Mereka datang berdagang dan menemui Soekarno beberapa malam berturut-turut. Mereka berdebat seru dan meminta Soekarno menjadi penengah.

22 April 1936_Soekarno menulis surat kepada A Hassan setelah mendengar gurunya itu membuka pesaantren baru dan menyarankan agar Hassan mengajarkan juga ilmu-ilmu pengetahuan barat dalam pesantrennya itu. menurut Soekarno, selama ini guru guru Islam atau ulama sangat kurang pengetahuan ilmu sains modern.

12 Juni 1936_Soekarno mengabarkan dalam suratnya pada A Hassan tentang pekerjaannya menerjemahkan buku HC Armstrong, Lord of Arabia: Ibn Saud. Soekarno meminta supaya Hassan dapat menerbitkannya di Bandung.

18 Agustus 1936_Soekarno menulis surat ucapan terima kasih pada Hassan karena bersedia mencarikan penerbit untuk naskah terjemahan Soekarno setebal 400 halaman yang telah dikerjakannya.

17 Oktober 1936_Soekarno menulis surat terakhir pada A Hassan yang mengabarkan tentang dua surat Hassan terdahulu yang diterimanya dan tentang surat Soekarno yang lama untuk diterbitkan oleh Persis.

28 Maret 1938_Soekarno dipindahkan dari Ende ke Bengkulu. Soekarno menginap di Hotel Centrum karena rumah di jalan Anggut Atas yang akan ditempatinya sedang diperbaiki.

September 1939_Soekarno diangkat menjadi ketua dewan pengajaran Muhamadiyah cabang Bengkulu dan aktif  dalam komite pembangunan mesjid Jamik. Ia juga mengajar murid perempuan taman siswa di rumahnya pada akhir minggu.

Oktober 1939_Soekarno menjadi anggota redaksi mingguan Penaboer.

26 Oktober 1939_Soekarno menulis artikel biografi “Her Adolf Hitler” dengan sub judul agak aneh “Kuasanya Kerongkongan” yang menyebut bahwa kegiatan diktaktor Jerman itu semata-mata digerakkan oleh keadaan rendah diri.

24 Desember 1939_Soekarno ikut dalam tabligh akbar Muhamadiyah Bengkulu dan ia berbicara agar orang-orang tidak memprovokasi penguasa setempat. Soekarno menyampaikan rencana baru dalam bidang pendidikan.

9-10 Februari 1940_Soekarno kembali ikut serta dalam tabligh akbar Muhamadiyah Bengkulu yang membicarakan perkembangan Eropa serta isu kooperasi.

14 Juli 1941_Soekarno menjadi pembantu tetap Koran nasionalis Pemandangan, harian terbesar saat itu. ia sering memberi ulasan tentang fasisme yang tumbuh kuat di Eropa.

17 Maret 1942_Soekarno, yang telah berada di Padang, pergi menuju Bukittinggi dengan kawalan kapten Sakaguchi yang dapat berbahasa Perancis untuk menemui komandan tentara Jepang kolonel Fujiyama.

9 Juni 1942_Jenderal Imamura sebagai komandan tertinggi wilayah Jawa dan Madura meminta Soekarno kembali ke Jakarta. Perjalanan Soekarno dari Bukittinggi melalui Bengkulu, Palembang, hingga akhirnya tiba di Jakarta. Segera setelah tiba, Soekarno bertemu dengan Muhammad Hatta dan Sutan Sjahrir.

10 Juli 1942_Soekarno bertemu dengan Imamura di Jatinegara dalam kunjungan ke san A Seinen Korenska tempat pelatihan pemuda tiga A yang mengundangnya untuk bicara di kantor pusat mereka.

11 Juli 1942_Kerumunan massa memadati jalan depan bangunan Gambir Kulon no 7. Mereka memnyambut kedatangan keluarga Soekarno yang telah dibuang di luar Jawa selama 10 tahun.

16-28 Juli 1942_Soekarno berkeliling Jawa, mengunjungi kota Bandung, Soekabumi, Yogyakarta, Surakarta, Semarang, Surabaya, Kediri, dan Blitar.

5-9 September 1942_Soekarno dan Imamura hadir dalam acara pertandingan olahraga di lapangan Gambir yang diikuti 5000 peserta dari Jawa. Soekarno berpidato dan membacakan pidato Imamura.

7 Oktober 1942_dibentuk badan Pusat Kesenian Indonesia arahan Soekarno.

16 April 1943_Soekarno membentuk badan Pusat Tenaga Rakyat [Putera] yang dipakai Jepang untuk kerja paksa [Romusha] serta menjadi propagandis Jepang.

1 Juni 1943_Soekarno menikahi Fatmawati setelah sebelumnya menceraikan Inggit dan mengembalikannya ke Bandung bersama kedua anak angkatnya, Omi dan Kartika.

7 September 1943_Jepang menjanjikan kemerdekaan untuk rakyat Indonesia .

29 April 1945_Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan [BPUPKI] didirikan terdiri dari 59 orang, dimana Soekarno dan Muhammad Hatta tercatat sebagai anggotanya. Badan ini diketuai oleh Radjiman Wedyodiningrat.

1 Juni 1945_Soekarno melahirkan istilah Pancasila yang menjadi dasar negara dalam rapat Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia  [BPUPKI]. Dalam rapat itu juga disepakati Undang-undang Dasar 1945 sebagai konstitusi negara Indonesia.

7 Agustus 1945_ Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia [PPKI] dibentuk beranggotakan 27 orang dan diketuai oleh Soekarno.

9 Agustus 1945_sebagai pimpinan PPKI yang baru, Soekarno yang didampingi Hatta dan Radjiman Wedyodiningrat diundang ke Dalat Vietnam untuk bertemu Marsekal Terauchi. Setelah pertemuan tersebut, PPKI tidak dapat bertugas karena para pemuda mendesak agar proklamasi kemerdekaan tidak dilakukan atas nama PPKI, yang dianggap merupakan alat buatan Jepang.

16 Agustus 1945_rapat PPKI dibatalkan akibat tuntutan para pemuda yang digerakkan oleh. Soekarni, Wikana dan Chaerul Saleh dari perkumpulan “Menteng 31”. Para pemuda mendesak proklamasi secepatnya. Soekarno menolak tuntutan pemuda untuk memproklamasikan Indonesia dengan alasan belum mendapat kepastian meyerahnya Jepang dalam perang. Para pemuda segera menculik Soekarno dan Hatta dan membawanya ke Rengasdengklok. Tengah malam itu juga Soekarno Hatta dijemput pulang ke Jakarta oleh Achmad Soebardjo.

17 Agustus 1945_Proklamasi kemerdekaan Indonesia dibacakan oleh Soekarno yang didampingi Muhammad Hatta di rumah  Soekarno di Jalan Pegangsaan Timur no 56.

18 Agustus 1945_Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia [PPKI] bersidang dan –atas  usulan Otto Iskandardinata—menetapkan Soekarno dan Muhammad Hatta sebagai presiden dan wakil presiden republik Indonesia.

No comments yet.

Leave a Comment

All fields are required. Your email address will not be published.