Labadiou | Drawing-pen, Acrylic on Canvas | 200 x 200 cm | 2012

Karya ini terkonsep dari korelasi peta Batavia Karl Baedeker di Leipzig pada 1914 yg dibentuk dari teks Bujangga Manik dalam bahasa dan huruf sunda kuno yang ditulis dengan drawing-pen di atas background acrylic di atas kanvas.

Latar belakang penciptaan karya mengacu pada sejarah awal abad kedua Masehi, seorang ahli bumi Yunani Purba—Claudius Ptolemaeus—menorehkan catatan kartografi dunia purba dalam buku Geographike Hyphegesis. Disebutkan sebuah pulau bernama Labadiou di ujung timur dunia dan sebuah kota berjuluk Argyre di ujung kulon pulau itu. Banyak tafsir yang menyebut bahwa Labadiou merujuk nama Sanskrit Yawadwipa (Jawa).

Detail Karya

Yang menarik, pelbagai aktivitas manusia di Labadiou menjadi sebuah siklus perputaran akan pencarian tempat ideal untuk kehidupan. Sebuah siklus dari barat kembali ke barat yang seolah menjadi laku lelana seorang pangeran Pakuan Pajajaran saat menjelajahi Labadiou dari barat kembali ke barat di awal abad 16 Masehi hingga ke timur Labadiou dan mendapati bahwa tempat paling ideal adalah barat Labadiou. Ia lalu meninggalkan syair-syair sunda kuno yang indah, termaktub dalam daun nipah, dan terkenal dengan sebutan Bujangga Manik. Sebuah catatan spiritual tentang pencarian tanah ideal untuk “moksa”. Bujangga Manik meyakini bahwa tempat ideal itu ada di barat pulau Labadiou. Sejarah membuka ruang pembuktiannya tentang itu kala barat Labadiou selalu sibuk dalam rentan waktu ratusan tahun hingga masa modern di satu titik penting: Batavia. Kota bandar itu menjadi tanah impian bagi banyak bangsa, setidaknya sejak abad ke 4 Masehi kala orang-orang mengenalnya sebagai Sundapura.

Kota itu ramai dan semakin penting di awal abad 20 Masehi dan peta Batavia Karl Baedeker di Leipzig pada 1914 menaburkan banyak data visual tentang ruang impian kaum pribumi termasuk juga kaum Eropa (Belanda) dan kaum indie yang saling membaur di jantung  tanah Labadiou (Jawa), dimana politik etis menemukan semangatnya dan kota pantai itu menjadi impian akan kemakmuran dan munculnya desentralisasi dari Den Haag ke Batavia di tengah-tengah kecamuk perang dunia pertama.

Kota itu lalu ingin membuktikan diri bahwa kemandirian telah ada dalam genggaman para penghuninya yang memimpikan tentang kebahagiaan hidup di tanah “surga”, tanah berpijak paling ideal seperti keinginan para petarung Belanda yang mati-matian mempertahankan Batavia dari ancaman apapun, kota romantik yang mengingatkan tanah leluhur mereka, Batawjo, “negeri air yang indah” dan memberi semangat baru seperti semboyan kota yang diberikan Jan Pieterszoon Coen: “Dispereert niet”. Coen memberi gambaran bahwa Batavia akan menjadi kota yang “tak pernah putus asa”. Kota yang hidup dan gemerlap seperti pandangan Bujangga Manik empat abad sebelumnya, kala ia menyaksikan betapa gemerlapnya Kalapa yang menjadi cikal bakal Batavia.

Bujangga Manik memberi catatan berharga topografi tanah Labadiou termasuk bandar laut paling ramai, Kalapa, di ujung kulon Jawa di awal abad 16 Masehi. Tepat dimasa Prabu Siliwangi (Jayadewata) bertahta dan menjadikan Kalapa sebagai pusat dari “segitiga perdagangan” Malaka—Jawadwipa—Jazirat al Muluk (Maluku). Maka negeri Demak yang bersekutu dengan Cirebon tak terima saat Enrique Leme dan Tome Pires berkunjung ke Kalapa dan mempersembahkan perjanjian bagi Rei Samian (Sanghyang Surawisesa). Kongsi Sunda—Portugis pun terbentuk meski tak menghasilkan apa-apa.

Tentu bandar Kalapa begitu berharga bagi banyak bangsa. Kalapa adalah tanah impian di jantung Labadiou. Tanah untuk diperebutkan dan dipertahankan mati-matian. Lalu bukan negeri Sunda, para Sultan Demak, atau penjelajah Portugis yang merengkuh tanah berharga itu, tapi Suku Batavi yang akhirnya memiliki seutuhnya. Bermula dari sepetak tanah dan bangunan kayu sebagai loji di mulut Ciliwung, kaum Batavi mampu menguasai seluruh Kalapa. JP Coen lalu mengubah namanya menjadi Batavia untuk menghormati moyangnya. Dan Etika Protestan Calvinis—seperti yang dinyatakan Max Weber—serta fantasi akan “negeri air yang indah” menjadi modal paling berharga dalam pencapaian luar biasa itu.

Tanah sungai Ciliwung itu lalu dipertahankan dengan darah dan air mata. Coen tentu tahu kata-kata Tome Pires bahwa tanah ini adalah kota bandar paling megah juga strategis di seantero utara Jawadwipa, bahkan Nusantara, mungkin juga Asia. Benteng dibangun, kota diperluas, meriam dan senapan disiagakan demi Batavia. Setiap serbuan pasukan manapun terpatahkan, bahkan sultan Agung dari Mataram pun tak sanggup meruntuhkan Batavia. Para petinggi Batavia mewarisi semangat bertarung leluhur mereka dahulu—Julius Civilis—kala sanggup menantang hegemoni  Imperium Romanum di awal Masehi. Semangat itu tetap membara dan Batavia sanggup terjaga.

Sejauh masa itu, Batavia tetap tanah impian bagi banyak bangsa. Semua berdatangan dan menginginkannya. Lalu para petinggi kaum Batavi memusatkan segala-galanya di Batavia. Tanah itu adalah pusat dunia dagang yang membentang dari Tanjung Harapan Afrika hingga Hirado Jepang. Samudra telah terarungi dan pelbagai pulau telah didatangi, dan para pelaut suku Batavi telah memantapkan hati bahwa Batavia adalah tanah ideal bagi kehidupan mereka.

Terakui atau tidak, hingga sekarang Batavia tetap saja tanah impian. Tanah ideal untuk menabur rajutan kehidupan bagi manusia-manusia penghuninya. Batavia adalah tempat seribu mimpi. Layaknya seribu lembu yang dipersembahkan Purnawarman bagi kaum brahmana dan janji seribu karung lada negeri Sunda bagi Portugis di Kalapa. Batavia menawarkan harapan, persis seperti doa yang terpahat pada padrao di Prinsenstraat yang menyiratkan  “Espera do Mundo”, harapan dunia.

No comments yet.

Leave a Comment

All fields are required. Your email address will not be published.