Bayangkan, dunia tanpa pintu. Tak akan ada pengetahuan yang datang dan tak ada yang akan pergi. Segala hal tentang hidup dan kehidupan akan gelap. Dalam falsafah jawa, pintu adalah gerbang tujuan hidup manusia – sangkan paraning dumadi — keharmonisan, kesejahteraan dan kedamaian. Sebagai simbol keseimbangan dan keberlanjutan hidup. Kala makaranya sebagai simbol cinta antara ibu dan anak. Selain itu juga tanda tentang jalan ke sorga, naik turunnya roh nenek moyang dalam keabadian.

Madyapada Keabadian | Mix Media | 200 x 210 x 40 cm

Mitologi keabadian di Jawa tertuang dalam naskah Jawa Kuno Adiparwa tahun 998 Masehi sebagai naskah tertua di Tanah Air tentang mitologi gerhana. Dalam Bab VI Adiparwa disebutkan, seorang raksasa (Betara Kala) yang merupakan anak Sang Wipracitti dan Sang Singhika berubah wujud menjadi dewa dengan meminum Tirta Amerta. Sang Hyang Aditya (Dewa Matahari) dan Sang Hyang Candra (Dewa Bulan) yang mendahului ulah raksasa pun mengadukannya kepada Dewa Wisnu.

Karya dalam cahaya UV

Dihukumlah raksasa oleh Dewa Wisnu dengan memenggal lehernya. Badan raksasa yang belum terkena air amerta mati namun kepala raksasa tersebut abadi dan melayang-layang di angkasa karena tersentuh kesucian air amerta. Dalam keabadiannya, kepala raksasa menaruh dendam kepada Dewa Matahari dan Dewa Bulan sehingga selalu berusaha memakannya. Peristiwa itulah yang sekarang ini kita sebut Gerhana.

Di Eropa 29 Februari 1504, kisah gerhana pernah terjadi dalam sejarah Christoper Columbus saat pelayaran terakhirnya dari Cadiz menuju Amerika karena musibah dan terpaksa merapat di pantai utara Jamaika. Pada awalnya diterima oleh penduduk pribumi serta mendapatkan pertolongan. Namun setelah terjadi perselisihan penduduk pribumi memutuskan untuk berhenti memberikan orang Eropa makanan dan persediaan.

Detail Karya

Kemudian Columbus berpikir dengan keahlian astronominya menggunakan almanak Ephemeris astronom Jerman, Johannes Müller von Königsberg, yang memprediksi gerhana bulan pada 29 Februari 1504 serta perkiraan waktu dan durasinya.

Disampaikanlah kepada para kepala suku bahwa pada hari itu Tuhan mereka akan marah karena tidak lagi memberikan pertolongan kepada kaum yang membutuhkan. Dikatakan bahwa bulan akan meradang karena murka sebagai tandanya. Tentu para kepala suku menolak percaya klaim tersebut.

Namun prediksi Columbus benar terjadi. Gerhana bulan total membuat penduduk pribumi ketakutan atas keyakinannya pada mitologi. Mereka memohon agar Columbus bernegosiasi dengan Tuhan dan mereka berjanji akan memberikan bantuan padanya dan seluruh krunya.

Columbus yang mengetahui bahwa gerhana akan berlangsung selama 48 menit, bersandiwara masuk ke dalam kabin untuk berdoa. Kemudian muncul kembali dan mengklaim bahwa Tuhan telah mengampuni mereka seiring bulan kembali normal. Peristiwa ini membuat Columbus dan krunya mampu bertahan hingga diselamatkan oleh kapal dari Hisponiola (wilayah antara Haiti dan Republik Dominika).

Apa yang dimiliki Jawa sebagai mitologi dan apa yang dipikirkan Eropa sebagai studi astronomi berkelindan. Mitologi yang merupakan  interpretasi dalam beberapa budaya bahkan dapat mencakup kisah penciptaan dunia sampai asal mula suatu bangsa. Sedangkan sejarah sebagai studi tentang masa lalu, khususnya bagaimana kaitannya dengan manusia.

Korelasi kisah gerhana, falsafah hidup dan keabadian, seolah mengurai masa lalu untuk merangkai masa depan di antara pintu Madyapada, tempat di antara gaib sebelum kelahiran dan gaib setelah kematian. Seperti yang terlantun dalam Serat Wedhatama. Sebuah kitab jawa kuno tentang pengetahuan utama bagi manusia yang berisi ajaran budi pekerti dan olah spiritual raja-raja Mataram. Bahwa ilmu pengetahuan buta tanpa olah spiritual, begitu juga sebaliknya.

 

ART WORK

Karya ini adalah instalasi pintu jati khas Jawa dengan 2 daun pintu dan gawangan yang berbentuk bundar. Di atas pintu terpasang ukiran kayu Kala Makara versi Jawa. Seluruh gawangan pintu akan dibalut huruf-huruf kayu aksara Hanacaraka.

Kemudian di kedua daun pintu terdapat ilustrasi engraving Theodor de Bry, 1594 “Christopher Columbus arrives in America” yang tersusun dari aksara Jawa Kitab Adiparwa tahun 998 Masehi.

Saat pintu dibuka secara otomatis lampu di sekitar karya akan padam untuk mendapatkan efek gelap. Cahaya digantikan lampu UV yang terdapat di balik gawangan pintu untuk memberi efek munculnya lukisan kisah mitologi gerhana dari Kitab Adiparwa dalam nuansa phosphor. Serta diiringi sayup-sayup suara tembang sinden melantunkan syair Serat Wedhatama dari balik pintu. Lalu jika pintu kembali tertutup, lampu di sekitar karya akan menyala kembali normal.

 

MAKNA

Pintu, sebagai Madyapada pembuka jalan menuju pengetahuan, tentang falsafah hidup, spiritual Jawa dan hubungannya dengan dunia. Bentuk bundar berbalut aksara Jawa, adalah simbol keharmonisan, kesejahteraan, kedamaian, keseimbangan dan keberlanjutan hidup, serta keabadian. Selain mengandung makna sumber dari segala sumber, lingkaran juga bermakna kebijaksanaan dan pengetahuan yang mengalir tak pernah putus seperti Yin dan Yang dalam falsafah Jawa.

Bahan kayu Jati, memberikan kesan elegan, magis, dan kokoh namun tetap membumi seperti yang banyak diajarkan dalam kawruh Jawa.

Ukiran Kala Makara, seperti kekhasan pada setiap pintu-pintu jawa kuno, simbol kasih sayang antara ibu dan anak-anaknya yang selalu mengawasi, mengayomi, dan memberi rasa nyaman.

Kemudian ilustrasi engraving Theodor de Bry, 1594 “Christopher Columbus arrives in America” di daun pintu, gambaran korelasi budaya agung Jawa di Kitab Adiparwa dengan kisah penjelajah besar seorang intelektual Eropa saat itu yang di masa berbeda mengalami dan menceritakan peristiwa yang berkaitan dengan gerhana. Satu dari sisi mitologi, yang lain dari sisi science yang berhadapan pada realita akan dampak mitologi.

Lukisan phosphor kisah gerhana dari Kitab Adiparwa dan efek gelap cahaya UV, sebagai gambaran tranformasi terang menuju gelap saat gerhana. Tersembunyi di balik pintu agar kita berusaha membukanya untuk mengambil hikmah dari segala pengetahuan dan kisahnya. Seraya diiringi alunan tembang jawa Serat Wedhatama, daya magisnya mengajak kita merenungi jalan menjadi seorang manusia dalam ajaran Jawa.

No comments yet.

Leave a Comment

All fields are required. Your email address will not be published.