Mata Hari Kamasutra | Acrylic on Canvas | 154,5x250cm (2 panels) | 2012

Karya ini terdiri dari dua panel yang masing-masing berukuran 250×154,5cm yang saling berhadapan dengan media acrylic di atas kanvas. Ide dasar karya ini adalah mencoba mengkorelasikan antara pornografi pose-pose Mata Hari dengan teks Kamasutra (dalam bahasa Sanskrit) dari sisi kontroversinya. Karenanya secara visual karya menampilkan dua panel sebagai positif-negatif (balance) dengan lingkaran teks yang bersumbu pada titik simbolisasi sexual (V).

Kamasutra menjadi penanda penting keterbutuhan tubuh manusia atas seks dan teks kuno itu menyiratkan secara gamblang bahwa insting seksual manusia adalah bagian [meminjam istilah Pasi Falk dalam The Consuming Body] dari “corporeality of the body”. Bahwa seks merupakan aktivitas tubuh manusia secara kodrati layaknya rasa haus dan lapar yang perlu pemenuhan.

Itulah mengapa seks menjadi bagian penting dari kehidupan manusia dan kamasutra menjadi panduan paling nyata tentang aktivitas seksual manusia. Sutra ini memuat rangkaian ritual seksualitas yang vulgar. 1250 ayat yang digubah Vatsyayana di awal-awal Masehi itu lalu ditasbihkan sebagai pintu mencapai kenikmatan dunia dalam kosmologi timur [Hindu].

Lalu banyak yang kemudian menafsirkan secara sederhana bahwa kamasutra hanya sekedar panduan manual bercinta. Nyatanya tak demikian. Sang Begawan telah  membuka jalan, secara revolutif, kala memaktubkan risalah kama yang sesungguhnya mengandung kebijaksanaan manuskrip suci Veda. Kamasutra tak saja menjabarkan ilustrasi yang indah namun juga uraian filosofis yang substansial akan kondisi alamiah manusia, karena kama adalah bagian dari catur Purusarthas mendampingi dharma, artha, dan moksa.

Tapi karena kamasutra hanya tafsir [Smrti]  dan bukan wahyu [Sruti] maka banyak penjabaran yang tak koheren, bahkan budaya popular lebih cenderung menampilkan bagian-bagian erotis hubungan seksual manusia dan mengaburkan akan makna esensial catur purusarthas. Maka banyak yang memberi stigma bahwa kamasutra adalah teks pornografi. Lalu muncul kontroversi seiring kemunculan dua sisi pandangan atas sutra kama ini.

Sama halnya kemunculan tarian “suci” Mata Hari yang menampilkan sensualitas yang banyak mata memandangnya hanya sekadar erotisme vulgar. Mata Hari telah berlatih tari sekian lama di Nusantara, khususnya Jawa, menyelami kosmologi Hindu secara mendalam. Ia begitu total dalam memelajari tari dalam balutan filosofi Hindu yang sakral. Sang penari seolah ingin memperlihatkan ritual tantra dalam setiap gerak tubuh moleknya, tapi ini bukan tafsir final. Setidaknya ritual-ritual tantra kiri dalam tari-tari magis telah ada berabad-abad sebelumnya. Alih-alih mengindari keduniawian, tantra kiri justru menikmati keduniawian untuk mengontrolnya sebagai bagian pencapaian pragmatis. Dan Mata Hari berhasil membawa kontroversi itu ke permukaan. Tubuh nyaris telanjang Mata Hari layaknya teks Kamasutra yang mengandung misteri, menghasilkan mitos, serta melahirkan kontroversi. Keduanya sama-sama memperlihatkan dua sisi pandangan yang berbeda, sisi positif dan negative di setiap mata yang melihat dan di setiap pikiran yang menginterpretasikan. Tubuh Mata Hari yang berbalut teks kamasutra dan teks kamasutra yang berbalut tubuh Mata Hari merupakan cerminan dua sisi keduanya yang berbeda. Kontroversi sensualitas yang ditonjolkan yang mengandung dua kutub opini yang saling bertentangan: erotisme pornogratif yang negatif dan kearifan sensualitas yang positif.

No comments yet.

Leave a Comment

All fields are required. Your email address will not be published.