Seperti sejumlah tema lain yang berhubungan dengan kehidupan Kristus dan Bunda Maria, karya-karya The Holy Family menjadi sangat populer pada akhir Abad Pertengahan sebagai inspirasi melalui perenungan aspek emosional dari kisah Bible. Bahkan paling sering digambarkan dalam karya lukis di era Renaissance.

Salah satunya karya Albrecht Durer tahun 1495, The Holy Family With The Butterfly. Namun, Dürer memilih untuk tidak mengejar setiap adegan menjadi ambigu atau emosional. Meskipun nampak sederhana, karyanya sangat sempurna mengasumsikan kehadiran pola dasar humanisme. Bahwa pendekatannya untuk tema ini dikondisikan oleh pengalaman pribadi. Dürer tidak punya anak sendiri, tetapi kita tahu bahwa ia memiliki hubungan yang sangat dekat dengan ibunya, Barbara Dürer.

Mother “Candrarini of Durer” | Acrylic on Canvas | 150 x 150 cm

Pada abad ke-15, di Eropa angka kelahiran dan angka kematian bayi sangatlah tinggi. Keadaan tersebut meninggalkan kesan mendalam bagi Dürer hingga membentuk pemahamannya tentang hubungan khusus antara ibu dan anak.

Karakter karya Durer tentang The Holy Family lebih humanis karena dalam visualnya meninggalkan atribut agama dogmatis. Seperti tradisi utara yang populer di Nuremberg tempat asalnya, Maria duduk alamiah di bangku kayu sederhana di luar ruang dengan Kristus anaknya, berpakaian biasa seperti figur kaum ibu rumah tangga di Jerman,  tidak di atas tahta dengan jubah kontemporer. Bagi Durer, gambaran Maria menjadi monumen penghormatan aktivitas keibuan, figur ibu dan wanita baik yang melahirkan seorang pemimpin besar, namun rendah hati dan sederhana.

Tentang penggambaran perempuan paling utama, dalam budaya Jawa, ibu (wanita) menduduki posisi sentral. Meski perannya selalau di belakang layar dan tidak tampak, pengaruhnya sangat besar terhadap sekitarnya. Selain itu peran ibu mendapat pemujaan penuh dari orang-orang Jawa. Sosok ibu sangat dekat dengan anak-anak, ramah, cahaya kehangatan dan penghibur, hadir untuk anak-anaknya dan menjadi pusat kehidupan mereka.

Sebagai simbol moralitas, kebajikan, pengorbanan diri, kesabaran dan tanggung jawab, wanita yang posisinya sebagai ibu memikul beban idealisasi yang juga menjadi alasan mengapa dirinya dihormati lebih dari segalanya. Pengalaman emosional dan kedekatan serta petuah-petuah moral figur ibu, meneguhkan dirinya menjadi figur dominan dalam kesadaran dan hati nurani anak-anaknya, dan menjadikannya wakil utama dari suara hati mereka. Hal itu karena ibu adalah guru pertama bagi sang anak. Dekat dengan seorang ibu, setia padanya, menjadi sesuatu yang sangat penting dalam menjaga kehormatan diri. Kualitas hubungan anak pada ibu menjadi penanda utama identitas, harga diri, dan sikap moral dalam budaya Jawa. Seperti interpretasi dalam Serat Candrarini, karya sastra Jawa abad ke-19 oleh Raden Ngabehi Ranggawarsita tepatnya tahun 1860 yang merupakan sastra etik untuk perempuan Jawa. Serat Candrarini menjadi falsafah kewanitaan yang sarat nilai-nilai religius dan penggambaran citra perempuan Jawa pada masa itu.

Penggambaran Durer tentang Maria dalam karyanya The Holy Family With The Butterfly sebagai monumen penghormatan bagi sosok seorang “Ibu”, menjadi titik korelasi yang menarik dengan penggambaran sosok Ibu dalam budaya Jawa pada Serat Candrarini. Keduanya seolah berkelindan bahwa di Eropa pada masa itu, khususnya di Jerman, pengalaman pribadi seorang Albrecht Durer dengan sosok ibu yang sederhana, luhur, dan mulia tertuang dalam karya-karyanya seperti sosok ibu dalam falsafah Jawa yang tertuang dalam Serat Candrarini.

No comments yet.

Leave a Comment

All fields are required. Your email address will not be published.