Negara Nagarakrtagama | Acrylic on Canvas | 100x350cm (8 panels) | 2009

(Indonesian Presidential Museum Collections)

Di bawah naungan Ranamanggala, dalam kejayaan Wilwatikta dibawah kuasa prabu Rajasanagara yang telah senja, kawi Tantular menggubah kitab Purusadasanta (Sutasoma), dimana kali pertama kalimat bhineka tunggal ika tan hana dharma mangrwa didengungkan. Tantular mengabarkan secara tersirat bahwa segala kepercayaan di bawah naungan negeri Wilwatikta, saling hormat-menghormati dan hidup rukun. Segala macam ragam aliran yang ada kala itu hidup tenteram dalam lindungan sang prabu. Negeri yang berpusat di Majapahit itu menjadi mandala tumbuhnya peradaban agung.

Negeri yang masyur ini lalu semakin sakral dalam Pararaton lewat ucap amukti palapa mpu Mada, “Lamun huwus kalah nusantara isun amukti palapa…”. Sejak ini, ucap sang patih amangkubhumi menjadi penguat kesadaran untuk membayangkan sebuah negara besar di masa lalu. Bayangan yang agung tentang Wilwatikta, tentang sebuah bangsa dan tentu saja tentang negara. Dan bukankan hibrida antara keduanya (negara dan bangsa) lahir—meminjam pemikiran Benedict Anderson—karena kuatnya bayangan sebuah kelompok manusia yang padu satu meski memiliki latar berbeda. Negara bangsa adalah sebuah komunitas terbayang. Sama halnya saat Gajah Mada dibawah kaki rani Kahuripan, Tribhuwana Tunggadewi, membayangkan Wilwatikta yang agung, penyatuan pulau-pulau nusantara dengan Jawa dan menempatkan Majapahit sebagai pusatnya, sebagai patronnya, sebagai pelindung dan pengayomnya. Sebuah bayangan yang telah ada semenjak prabhu Kertanagara di Singhasari.

Dan kawi Prapanca dengan kesadarannya, dimasa kejayaan Wilwatikta, turut meresapi bayangan besar sebuah negara bangsa. Ia menorehkan syair-syair negara bangsa itu dalam kakawin Nagarakrtagama, terutama pada pupuh ketigabelas hingga keenambelas. Sang kawi menorehkan batas-batas yang jelas: dari tanah Melayu diujung barat hingga Wanin di ujung timur. Secara keseluruhan, Nagarakrtagama telah juga memberi bayangan entitas Wilwatikta yang agung. Tentang manusia-manusianya, tentang perangkat politiknya, tentang tata kotanya, dan yang paling utama tentang batas-batas wilayah sebuah negara besar, sebuah imperium yang hampir mencakup seluruh nusantara. Tentu batas-batas wilayah ini tak sama dengan nusantara sekarang, terlebih lagi berbeda dengan wilayah Indonesia modern.

Itulah kenapa delapan panel sepanjang 8 meter sebagai symbol Surya Majapahit karya Negara Nagarakrtagama mencoba memvisualkan berbedaan itu sekaligus mengajak untuk membayangkan kembali tentang sebuah komunitas terbayang di masa klasik, sebuah negara bangsa Wilwatikta yang besar, yang agung, yang seindah bait-bait syair kawi Prapanca dalam kakawin Nagarakrtagama.

No comments yet.

Leave a Comment

All fields are required. Your email address will not be published.