Drawing Pen, Acrylic on Canvas | 400 x 125 cm

“Pada mulanya adalah Kata”. Ini frasa sederhana yang selalu digunakan oleh Sutardji Khalzoum Bachry sebagai pembuka kredo puisinya. Meskipun sesungguhnya “pada mulanya adalah Kata” sudah terucap lebih kurang dua ribu tahun yang lampau. Kalimat pendek itu ditulis pertama kali di dalam Alkitab.

Display Karya

Pada Abad ke-15, “The Last Supper”, salah satu karya Leonardo da Vinci dispekulasikan mengandung pesan tersembunyi yang menyiratkan keinginan da Vinci mempelajari pengetahuan tersembunyi dari alam semesta untuk mengetahui masa depan. Da Vinci memulainya dengan “Kata”, sebuah ramalan yang dia ciptakan lewat simbol-simbol visual dalam karyanya dan tulisan-tulisan huruf terbaliknya.

Slavisa Pesci, seorang ahli teknologi informasi, menciptakan efek visual yang menarik dengan menumpangkan versi cermin The Last Supper di atas yang asli. Hasilnya, dua figur mirip ksatria Templar terlihat di kedua ujung meja. Sementara seseorang yang diduga membawa bayi, berdiri di sisi Yesus.

Elemen Karya

Sementara Giovanni Maria Pala, seorang musisi Italia, mengindikasikan posisi tangan dan roti bisa diinterpretasikan sebagai not dan tanda musik, jika dibaca dari kanan ke kiri — seperti karakteristik tulisan da Vinci — ia akan membentuk komposisi musikal.

Lebih jauh lagi, The Last Supper Leonardo da Vinci bahkan diyakini meramalkan akhir dunia. Menurut da Vinci, pada 21 Maret 4006, bumi akan dilanda banjir besar. Bencana mahadahsyat itu akan berujung pada kiamat 1 November 4006. Prediksi ini ditemukan oleh peneliti Vatikan, Sabrina Sforza Galitzia yang bekerja di bagian arsip Vatikan. Galitzia menduga, sang jenius asal Italia itu menyisipkan prediksinya dalam bentuk kode.

Galitzia yang pernah meneliti manuskrip da Vinci di Universitas California mengatakan, bentuk setengah lingkaran di atas lukisan Yesus dan para muridnya saat perjamuan terakhir sebelum peristiwa penyaliban, mengandung kode-kode tersembunyi. “Di sana ada ‘Da Vinci code’, kode Da Vinci — bukan hanya kode yang dipecahkan Dan Brown,” kata Galitzia seperti dimuat laman New Kerala. Kode Da Vinci tentang kiamat memakai simbol zodiak dan menggunakan 24 huruf latin — pengganti simbol 24 jam dalam waktu satu hari.

Tentang okultisme dalam tradisi Jawa, dikenal adanya Jangka Jayabaya dari Kitab Musasar tahun 1749 gubahan Pangeran Wijil I. Dituliskan lewat “Kata”, tentang Zaman Kalasengoro artinya zaman air yang lamanya kurang lebih 700 tahun suryo mulai periode Pakubuwono IV hingga kiamat kubro. Zaman Kalangsengoro ini dibagi menjadi Sapto Maloko atau tujuh zaman yang periodesasinya masing-masing 100 tahun.

Datail Karya

Yang pertama adalah Zaman Kolodjonggo yang berarti zaman kembang gadung, dalam zaman ini orang hanya mementingkan dirinya sendiri, egois. Yakni dimulai dari Raja Hadiwijaya (Jaka Tingkiri) hingga Penembahan Senopati dari tahun surya 1401-1500.

Kedua, Zaman Kalasekti, atau zaman kuasa, di zaman ini orang berebut kekuasaan. Mulai dari Sinuhun Sedo Krapyak hingga Amangkurat III yaitu di tahun suryo 1501-1600.

Ketiga, Zaman Kalijodo yang berarti zaman unggul, di mana di tanah Jawa banyak orang unggul di antara yang lainnya dan banyak orang gila hormat. Mulai Raja Amangkurat IV di Kartosuro hingga Sultan Pakubuwono ke IV di Surakarta yaitu tahun surya 1601-1700.

Keempat, Zaman Kalabendu atau zaman sengsara dan angkara murka, di mana banyak orang Jawa lupa akan Jawa-nya dan banyak orang menderita. Periodesasi ini dimulai dari Pakubuwono ke IV yakni tahun surya 1701-1800.

Kelima, Zaman Kalasubo, zaman sukariya, di mana di tanah Jawa banyak orang bersuka cita dan hidup berbahagia, mulai dari Raja Herucokro ke-1 sampai ke-III yaitu mulai tahun 1801-1900.

Skech Drawing

Keenam, Zaman Kalasumbaga, yang artinya zaman tersohor, di mana banyak orang Jawa yang mengejar ilmu pengetahuan, memperluas pelajaran dan mengutamakan kepandaian. Banyak tokoh-tokoh pergerakan yang lahir dan membuktikan diri di awal abad ke-19. Periodesasi ini dimulai dari tahun surya 1901-2000.

Ketujuh, Zaman Kalasuroto, yang berarti zaman halus, di mana di tanah Jawa banyak orang yang manis budi, dan lemah lembut yang dimulai pada tahun surya 2001-2100. Dan sehabis itu ganti zaman yang dalam ramalan Jangka Jayabaya bakal disebut akan menemui ‘Kiamat Kubro’, akhir dunia.

 

Artwork

Karya ini mencoba merepresentasikan dua ide besar tentang ramalan akhir dunia. Korelasi antara dua gagasan yang sama di abad lampau yang terjadi di Eropa dan Jawa. Bahwa di periode waktu tertentu dalam peradaban, selalu akan lahir ide-ide tentang akhir dunia sebagai usaha untuk memperoleh pengetahuan atas pertanyaan.

Gambaran kiamat oleh Da Vinci, divisualkan pada replika meja dan 13 kursi kayu dalam The Last Supper yang sebagian hangus terbakar. Di permukaannya tertulis Jangka Jayabaya dalam aksara Jawa sebagai “Kata”, membentuk engraving suasana perjamuan terakhir dalam versi cermin — seperti karakteristik tulisan da Vinci. Di atas meja, tergantung neon-box dengan cahaya bara api yang menampilkan siluet engraving suasana kondisi perjamuan terakhir dalam versi asli. Sebagai latar belakang, tergantung karya kanvas engraving The Last Supper (versi penuh) yang tersusun dari teks Jangka Jayabaya dalam aksara Jawa.

No comments yet.

Leave a Comment

All fields are required. Your email address will not be published.