Teosofi Arjuna, Jenderal Wolfe, dan Gandhi

180 x 266 cm – Acrylic, Drawing pen, Fluorescent ink on Canvas

Karl Marx pernah mengatakan, bahwa sejarah akan selalu terulang entah sebagai lelucon atau tragedi. Karya ini mencoba mengkorelasi kepingan kebenaran dari sejarah yang kadang di anggap sebagai kesempurnaan dalam bentuk religiusitas.

Korelasi dari kisah heroik Arjuna dalam syair Bhagawadgita, kisah Jenderal Wolfe dalam Perang Tujuh Tahun Britania Raya dan kisah Mahadma Gandhi memerdekakan India dengan melawan tanpa kekerasan.

Bhagawad Gita yang artinya ‘nyanyian Tuhan’, mengajarkan pengetahuan kepada Arjuna tentang peperangan antara kemampuan baik melawan kemampuan jahat yang tiada putusnya. Wejangan suci itu disampaikan oleh Kresna karena Arjuna mengalami keragu-raguan untuk menunaikan kewajibannya sebagai seorang kesatria di medan perang.

Kemudian pada masanya, Jenderal Wolf mengalami hal yang hampir sama atas dasar keyakinan patriotismenya di perang Britania Raya. Berlanjut di masa Mahadma Gandhi, dengan keyakinan patriotik yang sama pula namun lebih modern dalam konsep pemikiran religius bahwa manusia dari segala agama harus mempunyai hak yang sama dan hidup bersama secara damai di dalam satu negara.

Pengulangan sejararah tersebut terbingkai dalam gaya Mondrian yang mendekatkan pada pencarian spiritual dengan memadukan seni dan teosofi ke dalam sebuah teori yang mengisyaratkan perpisahan terakhirnya dengan karya representasi dalam teori  neoplastisismenya. “Aku ingin sedekat mungkin dengan kebenaran dan mengabstraksi segala sesuatu darinya”.

Teosofi Galuh, Venus, dan Monroe

180 x 280 cm – Acrylic, Drawing pen, Fluorescent ink on Canvas

Cerita Panji bermula di Jawa sekurang-kurangnya pada akhir abad 14 hingga awal abad 15 Masehi. Kisah ini melahirkan banyak varian yang muncul di beberapa wilayah pada abad 17 hingga 18 Masehi. Panji memang lahir di Jawa, merepresentasikan setengah hasrat dan setengah realitas manusia Jawa, tetapi Bali yang mengawetkan kisah ini. Sosok perempuan dengan segala keistimewaanya ditokohkan oleh Galuh. Pernikahan antara putera mahkota Kuripan dengan puteri Daha, Panji dan Galuh, merupakan tema pokok bagi semua cerita Panji.

Keistimewaan Galuh dalam Wangbang Wideya, berkorelasi dengan sosok perempuan istimewa karya Sandro Botticelli “The Birth of Venus” di tahun 1480-an. Merupakan karya dengan gaya mitologis (non-religius) yang pertama di Florence yang menyajikan ketelanjangan sejak zaman klasik. Karya ini menandai puncak dari kebangkitan mitos kuno, dalam konteks humanistik karya-karya Renaissance.

Antara Galuh dan Venus, ada kisah Marilyn Monroe di dunia modern yang tersembunyi dalam kegelapan. Simbol figur perempuan yang dengan segala keistimewaannya harus berakhir tragis seperti yang menjadi headline surat kabar Los Angeles Times Agustus 1962.

Dalam balutan gaya teosofi seni Mondrian, stilasi engraving The Birth of Venus tersusun dari aksara jawa Wangbang Wideya menafsirkan bahwa era Renaissance pernah goyah oleh teknologi cetak Johannes Gutenberg. Terlepas dari dari itu, kedua sosok perempuan tersebut berkorelasi dalam simbol ‘keistimewanya’.  Kemudian Monroe dengan glow in the dark, seolah menjadi sisi ironis dari simbol ‘istimewa’ perempuan.

Teosofi Giyanti, Liberty, dan Zola

180 x 227 cm – Acrylic, Drawing pen, Fluorescent ink on Canvas

Babad Giyanti adalah sebuah syair dalam bentuk tembang macapat yang dikarang oleh Yasadipura tentang sejarah pembagian Jawa pada 13 Februari 1755. Sesudah keraton dipindahkan ke Surakartadari

 

Kartasura karena dibakar oleh orang Tionghoa, maka Pangeran Mangkubumi pun keluar dari keraton dan memberontak. Pada akhirnya beliau harus berperang juga dengan Pangeran Samber Nyawa yang natabene sebagai Panglima Perangnya. Karena kedua nya sama-sama ingin mendapatkan supremasi tunggal kedaulatan yang tidak terbagi di bumi Mataram.

Liberty Leading the People karya Eugene Delacroix adalah salah satu lukisan yang paling terkenal dan radikal pada masanya. Subjek karya ini berasal dari Revolusi Perancis dimulai rakyat dan kaum borjuis menuntut hak-hak mereka. Lukisan ini adalah konotasi langkah pemberontakan yang fokus pada tekad komitmen dan kekuatan intelektual yang memaksa kelas menengah mengubah nasib mereka.

Dari Babad Giyanti, yang dalam aksara jawa menyusun stilasi engraving Liberty Leading the People karya Eugene Delacroix, dibingkai gaya teosofi seninya Piet Mondrian. Yang juga menjadi layer ke empat dari karya ini adalah headline L’ Aurore 13 Januari 1898 tentang tulisan Emile Zola menggugat kepada Presiden Félix François Faure atas sejumlah kesalahan peradilan yang menggemparkan Perancis dan dunia. Pernyataa Zola dalam karya ini tersembunyi dalam glow in the dark teknik.

Secara kontekstual dengan tetap melihat elemen dan bentuk historis, alasan psikologis dan sosial, ke empat layer berkorelasi.

Teosofi Lombok, Gericault, dan Titanic

180 x 260 cm – Acrylic, Drawing pen, Fluorescent ink on Canvas

Babad Lombok mengisahkan kengerian letusan Gunung Samalas di kompleks Gunung Rinjani, Pulau Lombok. Dampak dari letusan Gunung Samalas yang terjadi pada tahun 1257 itu melampui imajinasi penulis babad itu sendiri. Letusan Samalas berdampak global dan diduga memicu kelaparan dan kematian massal di Eropa setahun setelah letusan. Bencana yang maha dahsyat yang juga menyebabkan banjir bandang, dimana ribuan orang berjuang antara hidup dan mati menyelamatkan diri.

Terobsesi dengan kisah tragis pula, Theodore Gericault antara tahun 1818-1819, membuat sketsa karya The Raft of the Medusa sebagai peristiwa mengerikan. Sebuah adegan yang menyayat sekelompok orang tak berdaya dalam cengkeraman laut antara hidup dan mati. Sebuah kapal angkatan laut Perancis yang tenggelam dalam Perang Napoleon pada awal abad ke-19 karena kecelakaan. Karya ini dianggap sebagai salah satu karya paling berpengaruh dari era Romantisisme di Perancis.

Dari tragedi banjir bandang dalam Babad Lombok, tragedi tenggelamnya kapal perang era Napoleon, sejarah terulang kembali. Karl Marx pernah mengatakan, bahwa sejarah akan selalu terulang entah sebagai lelucon atau tragedi.

Tragedi Titanic seperti menjadi pembenaran ungkapan Marx. Karenanya, Teosofi Piet Mondrian mencoba membingkai antara stilasi engraving The Ralp of the Medusa yang tersusun dari aksara jawa Babad Lombok dengan layer tersembunyi, glow in the dark, headline Oakland Tribune 15 April 1912 yang memberitakan tragedi tenggelamnya kapal Titanic. Semua berkorelasi dari elemen sejarah dan tragedi.

Teosofi Prapanca, Homer, dan Hawai

180 x 235 cm – Acrylic, Drawing pen, Fluorescent ink on Canvas

Nagarakretagama kakawin yang menguraikan keadaan Majapahit dalam masa pemerintahan Prabu Hayam Wuruk tahun 1350 sampai 1389 Masehi, pada masa keemasannya. Bagian terpentingnya menguraikan wilayah-wilayah kerajaan lain di bawah Majapahit yang harus menghaturkan upeti.

Kakawin ini bersifat pujasastra, yang menyanjung dan mengagung-agungkan Raja serta kewibawaan Majapahit. Namun karya ini bukan disusun atas perintah Hayam Wuruk sendiri sebagai pencitraan diri ataupun legitimasi kekuasaan. Melainkan murni kehendak sang pujangga Mpu Prapanca yang ingin menghaturkan bhakti kepada raja.

Seperti halnya Nagarakretagama, karya Jean Auguste Dominique Ingres “The Apotheosis of Homer”, juga tentang pengagungan Raja oleh para seniman dan penyair Yunani. Keyakinan Ingres pada hirarki nilai-nilai abadi yang didasarkan pada preseden klasik. Grand karyanya terstilasi dalam engraving yang terbentuk dari aksara jawa Kakawin Nagarakretagama berkelindan merujuk pada korelasi esensi keduanya.

Teosofi gaya Piet Mondrian mengikatnya pada komposisi lain yang berbeda dari ide 100 sketsa komposisi Ingres untuk penggarapan The Apotheosis of Homer-nya. Serta di layer ke empat, glow in the dark headline surat kabar Honolulu Star-Bulletin 1 Februari 1969, seperti memberikan anti-tesis tentang ‘keagungan’ Raja dan kerajaanya yang di era modern hanya menjadi sebuah wilayah jajahan untuk diperebutkan dan dieksploitasi. Semua terungkap dalam arsip  Wraps off 1898 Senate Transcript: Secret Debate on U.S. Seizure of Hawaii Revealed.

See in lay for detail

Teosofi Old Master Series (2016)

 

No comments yet.

Leave a Comment

All fields are required. Your email address will not be published.