The Endless Knot | Brass Metal | 20 x 12 x 12 m

The Endless Knot merupakan simbol kuno yang mewakili jalinan jalan spiritual, yang mengalir dari waktu dan gerakan Yang Abadi. Bahwa semua eksistensi, terikat oleh waktu dan perubahan, namun akhirnya terpusat ke dalam Yang Ilahiah dan Abadi.

Simpul tak berujung ini melambangkan sifat alami dari segala sesuatu yang saling bergantung sebagai akibat dari hukum karma. Selain melambangkan kebijaksanaan dan welas asih Sang Buddha yang tak terbatas. Seperti halnya Dharma dalam ajaran Buddha, yang harus terus-menerus dan tak terhindarkan, sementara waktu hanyalah ilusi. The Endless Knot melambangkan kebenaran itu yang terpancar secara tenang dan enerjik. Pencarian pencerahan tidak perlu berarti menyerah pada tanggung jawab duniawi. Knot adalah representasi dari ajaran Sang Buddha bahwa pemikiran keagamaan dan kehidupan material saling terkait.

Pada awalnya, simbol ini dikaitkan dengan Wisnu dan kecintaannya kepada Lakshmi istrinya, dewi kekayaan. Simpul ini juga merupakan salah satu dari delapan simbol keberuntungan yang masih digunakan pada ajaran Buddha di Tibet, Ashtamangala. Beberapa interpretasi secara umum diberikan bersamaan dengan masing-masing simbol meskipun kadang guru yang berbeda dapat memberikan interpretasi yang berbeda.

Up View karya instalasi

Jalinan tali-tali tersebut mengingatkan kita tentang bagaimana semua gejala/fenomena berkaitan dan bergantung pada kondisi-kondisi dan sebab-sebab. Secara keseluruhan terdiri dari suatu pola yang tertutup tanpa celah, yang sekaligus menyatakan gerakan dan ketenangan, semuanya dalam bentuk representasi tentang kesederhanaan yang tinggi dan keselarasan yang seimbang sepenuhnya.

Itulah sebabnya mengapa simpul tak berujung adalah salah satu simbol favorit dalam budaya Tibet. Digunakan tidak hanya dalam hubungannya dengan Delapan Simbol, tapi juga sering digunakan tanpa berkaitan dengan hal lain. Oleh sebab itu dipahami sebagai hal yang paling menguntungkan dalam derajat tertinggi sebuah hubungan. Karena simpul ini tidak berawal dan berakhir, simpul ini juga menandakan pengetahuan Buddha yang tanpa batas.

Pada karya ini, The Endless Knot mengalami stilasi ke bentuk yang lebih kontemporer serta berkorelasi dengan teks Sang Hyang Kamahayanikan dalam aksara Bali Simbar.

Sang Hyang Kamahayanikan merupakan sebuah literatur agama Buddha yang sangat erat hubungannya dengan agama Buddha mazhab Tantrayana di Indonesia. Bagi sebagian besar umat Buddha, isi dari kitab tersebut dianggap masih merupakan suatu kendala untuk dimengerti dan berada di luar kemampuan pikiran. Mungkin karena ditulis dalam bahasa sastra (penuh metafora) sehingga diperlukan kemampuan lebih serta bimbingan guru supaya tidak salah dalam mempelajarinya. Sebagai kitab beraliran Mahayana-Tantrayana, Sang Hyang Kamahayanikan menempatkan mantra-mantra dan diagram serta mudra dalam posisi sentral sebagai bentuk formula rahasia yang bersifat mistis.

Dalam disertasi Dr. Noehardi Magetsari (2000) disebutkan bahwa Borobudur sesungguhnya adalah sebuah candi yang strukturnya menampilkan tahap-tahap perkembangan pengalaman seorang yogi untuk mencapai titik Kebudhaan dimana perasaan dan pikiran berhenti. Sebutan Kamadhatu, Rupadhatu, Arupadhatu yang populer di Borobudur juga terdapat dalam kitab Sang Hyang Kamahayanikan.

Kitab Sang Hyang Kamahayanikan juga menjelaskan waktu dalam tiga jenis, yaitu waktu lampau (atita), waktu kini (wartamana), dan waktu yang akan datang (anagata). Masing-masing waktu selalu terdapat Buddha: masa lalu terdapat Bhatara Wipaçye, Wiçwabhu, Krakucchanda, Kanakamuni, dan Kaçyapa; masa sekarang adalah Sakyamuni; sedangkan Buddha yang akan lahir pada masa datang adalah Maitreya atau Samantabhadra. Sang Hyang Kamahayanikan juga menyebutkan bahwa pokok ajaran Buddha adalah kebenaran yang digambarkan seperti lingkaran atau roda, yaitu dharmacakra: roda kebenaran dari sebab akibat, sebab yang satu akan muncul dari akibat yang lain. Gambaran tersebut sangat erat dengan wujud dasar candi Borobudur.

Dari paparan antara makna The Endless Knot dan isi dari Kitab Sang Hyang Kamahayanikan, karya ini menarik garis korelasi antara penanda simbol pengetahuan Buddha yang tanpa batas serta representasi dari ajaranNya. Bahwa pemikiran keagamaan dan kehidupan material saling terkait. Gambaran dalam Sang Hyang Kamahayanikan yang menyebutkan bahwa pokok ajaran Buddha adalah kebenaran, juga menempatkan mantra-mantra dan diagram serta mudra dalam posisi sentral seperti bentuk Endless Knot yang menjelaskan bahwa semua eksistensi, terikat oleh waktu dan perubahan, namun akhirnya terpusat ke dalam Keilahian dan Abadi.

No comments yet.

Leave a Comment

All fields are required. Your email address will not be published.