Lingkungan yang alami, jiwa masyarakat yang ramah dan guyub secara tidak langsung menjadi komoditas naiknya harga tanah dan properti di desa. Kurun 10 tahun terakhir, di Jawa khususnya Yogyakarta, semakin banyak orang kota membeli tanah dan properti di desa, namun tidak ditinggali malah berinvestasi, apalagi hidup bermasyarakat di dalamnya.

Orang Jawa adalah masyarakat yang cukup eksistensialis. Artinya, meyakini sesuatu ada baru mencari makna atas keberadaannya itu. Persis seperti eksistensi mendahului esensi. Bukan sesuatu di dunia ini ada karena sudah ditentukan dari sananya. Masyarakat Jawa mampu membaca gejala-gejala alam untuk dijadikan suatu pertanda dan sikap mereka terhadap cara hidup di dunia. Menjadikannya pakem dan keniscayaan, suatu hal yang pasti, melalui tutur kata dari generasi ke generasi, dari yang tua kepada yang muda, lantas semuanya itu menjadikannya adat istiadat atau kebudayaan atau keyakinan.

 

 

Rentang 10 tahun bisa menjadi pertanda gejala-gejala alam bagi orang Jawa yang dititipkan oleh waktu. Angka dan bilangan biasanya digunakan sebagai bahasa untuk menyebutkan tentang jumlah ukuran dan yang lainnya. Salah satu penyebutan angka dan bilangan yang tergolong unik adalah yang dimiliki oleh masyarakat Jawa. Dalam falsafah Jawa, angka 10 ini adalah lambang dari segala kesempurnaan dan kehendak Tuhan.

Desa identik dengan kondisi lingkungan yang alami. Demikian halnya dengan kehidupan sosialnya yang masih terdapat sikap ramah tamah, saling menolong hingga gotong royong. Dengan kondisi yang demikian, kehidupan desa membuat penduduknya saling kenal dengan yang lain dan menumbuhkan rasa persaudaraan dan guyub dengan yang lain. Semuanya menyatu dalam pranata sosial, hukum adat, dan membentuk kebudayaannya sendiri.

Kebalikannya dengan kehidupan kota yang padat dan riuh. Demikian halnya dengan kehidupan sosialnya yang jauh lebih mengedepankan individualistis. Karakter penduduknya yang sibuk membuatnya susah untuk saling mengenal dengan tetangga apalagi dengan penduduk yang tinggal dalam satu wilayah tempat tinggalnya.

 

 

Dengan segala daya pikat yang dimiliki desa membuatnya memiliki sisi positif dan negatif. Namun dalam kondisi ekonomi Indonesia yang sedang membaik dalam satu dekade terakhir, dengan peningkatan jumlah kelas menengah dan bertambahnya jumlah orang kaya membuat tanah hingga properti di desa menjadi incaran. Tidak sulit menemukan hal ini di kota-kota kecil di Indonesia yang memiliki wilayah desa yang cukup luas.

Termasuk di Jawa. Hal ini ditandai dengan melonjaknya harga tanah di sejumlah desa di Yogyakarta, area wilayah Jawa Tengah dan sekitarnya. Lebih-lebih pemerintah desa, kecamatan, kabupaten, atau provinsi malah akan turut serta mendorongnya lebih jauh atas nama investasi daerah atau bahasa birokratis lainnya.

Semuanya sah. Semuanya legal. Meski jumlah pembeli tanah dan properti di Yogya semakin berlipat setiap tahunnya. Tentu Pemda diuntungkan dengan semua itu dengan adanya aliran pajak dan pendapatan tambahan lainnya untuk provinsi, kabupaten, kecamatan, hingga di desa setempat.

 

 

Keprihatinan atas gejala itu adalah, dalam 10 tahun terakhir kian berubahnya pola ramah tamah antar warga. Mereka yang hidup dalam lingkungan kampung saling mengenal satu sama lain yang tinggal di dalamnya. Bahkan “jarum jatuh” dalam satu rumah pun diketahui oleh seluruh warga. Saling menyapa, gotong royong, hingga pelaksaan adat adalah khas tinggal di desa.

Tinggal di desa bukan hanya sebatas fisik, bukan atas dasar kepemilikan tanah dan rumah, tempat berkumpulnya keluarga dan beranak pinak, juga ada jiwa segenap warga ikut bersemayam di dalamnya. Ada sekelompok jiwa yang hidup di dalamnya dalam menjaga budaya dan tradisi panjang nenek moyang mereka meski warisan budaya itu didapatkan tanpa surat warisan resmi sekalipun.

Kini kebalikannya terjadi, termasuk dalam masyarakat desa itu sendiri. Orang-orang kota yang membeli tanah dan rumah di desa seperti “mengadu domba” dengan uang dan harga. Melenyapkan sejarah kampung. Begitu rapuh dan mudahnya semua ajaran para kamitua itu luntur seketika di hadapan uang? Apa rasa saling mengenal dan menikmati alam desa yang ala kadarnya sudah dianggap lain?

 

 

Entah. Mungkin kondisi zaman berubah. Setiap generasi memiliki masalah dan cara penyelesaiannya sendiri. Demikian halnya dengan desa juga akan berubah mengikuti arah perkembangan zaman. Hal yang juga tidak bisa ditolak serta merta.

Hanya harapan yang bisa diutarakan, mereka para pendatang ikut serta dalam kehidupan desa. Karena jika mereka tidak hidup membaur dan bermasyarakat dan jiwanya ikut menyelami desa yang dibelinya, mereka tidak lebih hanya membeli sepetak rumah, membeli gembok pintu gerbang, pintu gulung garasi yang semuanya dalam satu ikatan kunci. Meski dengan pundi kekayaan yang berlimpah sekalipun mereka tidak akan bisa membeli warganya apalagi keramah tamahannya. Biarkan mereka menjadi penonton di dalamnya.

Padahal kecerdasan sebuah tempat dan orang-orang yang tinggal di dalamnya ditentukan oleh keintiman warga di dalamnya. Dengan saling mengenal satu sama lain akan mungkin saling terbuka untuk bicara banyak hal tentang kehidupan, dari yang bersifat kehidupan publik, pribadi hingga ilmu pengetahuan, dan pemecahan berbagai persoalan secara bersama-sama. Mungkin semua kegembiraan kecil itu sudah tidak banyak diminati banyak orang modern saat ini.

Bisa jadi definisi kebahagiaan dan kegembiraan saat ini sudah dimonopoli sejumlah indeks pengukuran global dan kini sudah dipercaya banyak kalangan. Termasuk pemerintah turut serta mendukungnya, bahwa kebahagiaan modern hari ini ditentukan dari jumlah nominal pendapatan dan pengeluaran, bukan semata aspek kebahagiaan yang muncul dari pikiran dan jiwa yang apa adanya tanpa beban.

Dalam hal ini tidak ingin menyalahkan siapa pun. Tidak juga untuk menyalahkan pemerintah setempat, apalagi mereka yang membeli aset yang tinggal di kota besar. Mungkin kita yang salah, yang tidak siap dengan roda perkembangan sistem ekonomi yang serba sulit dicerna secara rasional.

Biarlah itu menjadi tugas para antropolog, sosiolog, atau mungkin para sejarawan yang kelak suatu saat menelisik perkembangan dan perubahan kehidupan desa dari masa ke masa. Bisa jadi mereka akan menyebut fenomena ini sebagai ruralisme. Isme baru yang sedang naik daun dan digandrungi oleh orang-orang kota untuk beternak aset dalam lingkungan desa meski dalam kondisi dikosongkan. Faham yang menaikkan kembali pamor desa sebagai muara keteladanan hidup yang apa adanya, dengan suasana hidup yang dipenuh rasa syukur atas Yang Maha Kuasa dan saling mengasihi sesama warga di dalamnya.

Namun tak lama lagi, dengan aliran uang ke desa dan perpindahan kepemilikan aset dan kepemilikan properti itu akan menenggelamkan semuanya. Semoga kelak kisah itu menjadi catatan sejarah yang bisa dipelajari generasi di belakang hari sebagai ironi.

 

REVIVING A TRADITIONAL  JAVANESE DWELLING BASED ON FACTS AND FICTION

: Carla Bianpoen

Eddy Susanto, an artist with deep attachment to his Javanese culture, started 10 years ago on a voyage into the history of the traditional Javanese house as a medium to reveal the origins of the Javanese people and the socio economic impact on the realms of rural Java.

Eddy Susanto’s Java house in this work is based on his research and enriched with his imaginative spirit as a contemporary artist. Far from being scientific, it is rather a work that while it finds its raison d’etre between speculation and artistic imagination, encompasses many revealing truths.

Contrary to what used to be taken for granted in such chronicles like Babad Jawa that refers to the age of Mojopahit to inform on the origins of the Javanese, Eddy found in texst of 1931 written in the Javanese language that migration from the Chinese occurred long before that, even before anno domini. They came as traders to Kalimantan and traveled further to the northern coasal region of Central Java. Further research took the artist to explore the roofs of traditional Javanese houses which he found showed elements of Chinese cultureand imagining the process of acculturation that has taken place in the past.

Juxtaposing images from a large drawing on 9 canvases of traditional Javenesse houses and the found text, the artist rebuilt the ambiance of the old traditional rural dwelling in a box of the size 5m x 5m x 3m. Such traditional houses were communal in character and part of the village which where people used to live in the spirit of a harmonious family, with mutual cooperation and gotong royong at its core.

However, the past decades saw a new stream of migration now coming from the urban city acquiring the old traditional houses for purposes that dissected from the original spirit. Either they transported their purchase to the city to be transformed into urban houses with a rural touch, or they are kept as artefacts from a time long past.While their forms may remain the same, the spirit of yonder drastically disappeared altogether.

To mark such transformation, a strong metal gate separates the house and its inner realms from the outside world and instead of living the ambiance of tradition, one can only peep into it from between the bars of the gate, with a touch of melancholy at the loss of a rural ambiance.

The box is bordered by a strong metal gate where from outside people can peep the house inside the gate

The work was started with a study about traditional Javenesse houses. Curious with the finding on simmilarities between roofs of old traditional Javanesse houses and traditional Chinesse, the artist was also seeking a story on the origin of the Javanesse people. A text that was supposed to be written in 1931 entitled “Sejarah-kawitane-wong-jawa-lan-wong-kanung” was found during the search from https://alangalangkumitir.wordpress.com/.

Since this artwork is not a scientific study, it is not the aim of the artist to prove the truth of the text but rather a speculation to relate the study of the traditional Javanesse artchitect and the text found. The text tells that the migration to Java happened long before Christ where people from China traveled to Kalimantan and was staying there known as Dhayak Sampit. Later some of this tribe travelled by sea to reach an area of the northern coastal region part of central Java.

In the past, these Javanesse houses were communal houses in villages. A village was identical to a harmonious environment where its residents were living with a friendly attitude, helping each other in mutual cooperation. Everything was integrated into social institutions and rules. Yet, changes have happened in past decades with new migration of city people into villages. Those city people were buying properties and investing in the villages including acquiring these traditional houses. As part of investment those houses became artefacts or monuments locked inside gates seperating it from neighboors. It is irony that in one hand the this investment contributes in preserving physical heritages while destroying the the spirit of community.

No comments yet.

Leave a Comment

All fields are required. Your email address will not be published.