the javanese cabinets of curiosities | bamboo, teak wood, animal bones | 50 x 50 x 100 cm

Cabinets of curiosities, yang juga dikenal sebagai ‘wonder rooms’, berisi koleksi kecil benda-benda yang luar biasa, layaknya sebagai museum, berusaha untuk mengkategorikan dan menceritakan kembali tentang keajaiban dan keunikan kehidupan yang pernah ada di alam ini. Tersusun seolah bercerita tentang masa lalu yang pernah hidup, mewakili tema atau ide tertentu, sebagai gambaran bahwa kehidupan ini suatu saat akan berakhir. Cabinets of curiosities menjadi monumen untuk mengawetkan gairah kekaguman manusia akan kehidupan selama ribuan tahun.

 

Detail Karya

 

Dalam hal ini tubuh menjadi metafora (atau simbol) untuk menceritakan kembali dan merangkumnya dalam sebuah ide tertentu. Objek yang seolah bernyawa menjadi sesuatu yang sangat bernilai. Kematian adalah re-animasi yang seolah menjadi bagian dari sebuah cerita drama yang dipentaskan. Sementara sekarang ini kita melihatnya sebagai suatu bentuk hiburan yang mengerikan, karenanya penting untuk merefleksikan cara pandang yang berbeda bahwa di budaya dan era sebelumnya, mereka telah melihat kematian.

Pada akhir tahun 1600-an, di dataran Inggris, berkat kemajuan dalam teknik pengawetan kimiawi, mulai marak kecenderungan mengoleksi dan memamerkan spesimen bagian tubuh. Baik pengawetan dengan alkohol, resin atau lilin dalam bentuk yang dikeringkan. Kehidupan dan kematian tampak dalam proses reanimated yang artistik.

Masa inilah sebagai periode berkembangnya ide Cabinets of Curiosities yang kemudian menjadi benda koleksi berharga bagi para kolektor-kolektor seni sebagai museum kecil pribadi dirumah. Pameran kecil yang menampilkan koleksi-koleksi dari masa silam tentang benda-benda langka, indah dan unik. Kerang eksotis, perhiasan, boneka, binatang, tubuh yang diawetkan, jam dan instrumen ilmiah lain yang disertai dengan mitologi-mitologi dongeng.

 

Detail Karya

 

Cabinets of Curiosities seolah menjadi jembatan antara mitos atavistik dan kenyataan ilmiah, antara ilmu pengetahuan dan seni. Bahkan, dalam dunia senirupa kontemporer mencoba untuk meniru daya tarik eksotisnya seperti apa yang terjadi di benua Eropa, di mana para kurator memiliki beberapa karya paling terkenal tentang tema ini. Kemudian tiga ratus tahun setelahnya, pameran monumental oleh seniman kontemporer kelahiran Madrid – Spanyol, Miguel Angel Blanco, yang berusaha memprovokasi “proses alkemis” dalam karya-karyanya sebagai tren modern untuk tema tersebut.

Dunia literasi juga memberikan peran penting terhadap perkembangan ide Cabinets of Curiosities. Gambar-gambar ilustrasi hewan, tumbuhan dan konstelasi, pada buku Caspar Henderson, sebuah buku ringkasan ilmiah yang fantastis, A 21st Century bestiary. Menjadi gambaran relevansi kontemporer dari tema-tema tersebut.

Dalam mitologi Jawa, semua hal yang berhubungan dengan kehidupan manusia digambarkan dalam satu simbol filosofi kehidupan. Bahkan sejak beberapa abad lampau menjadi warisan budaya leluhur. Salah satunya mengenai ‘Klangenan’  (bahasa jawa asal kata kangen). Klangenan dapat diartikan dengan sesuatu yang bisa menjadikan seseorang merasa kangen (rindu) kepada sesuatu. Klangenan dapat berupa benda apa saja, bahkan benda yang dianggap keramat atau bersejarah, tetapi lumrahnya objek klangenan adalah sesuatu yang memiliki nilai atau sekedar untuk kepuasan.

 

Detail Karya

 

Sebagaimana sebutannya, klangenan selalu saja menumbuhkan rasa rindu pemiliknya. Entah itu rindu pada nilai gunanya atau rindu pada keindahannya, bahkan pada masa lalunya. Lelaki Jawa jaman dulu umumnya memiliki klangenan yang dijadikan simbol status sosial seseorang. Orang yang memiliki klangenan biasanya rela melakukan apapun atau menghabiskan biaya berapapun untuk mengoleksinya. Hal ini menggambarkan gairah masyarakat Jawa akan sebuah pemikiran, ide-ide, gagasan ataupun nilai-nilai yang berkembang pada masa lalu sebagai salah satu wujud kebudayaan. Pola pikir yang terus berkembang dan mendorong munculnya berbagai tindakan masyarakat dalam mengawetkan warisan leluhur.

Benda-benda klangenan yang tersimpan dari masa lalu, yang oleh para Ksatria – julukan lelaki jawa yang telah memiliki lima tolak ukur keberhasilan hidup: wisma (rumah), curiga (senjata), turangga (kuda), kukila (burung) dan wanita (perempuan), tersimpan sebagai koleksi kebanggaan simbol status sosial, sesuatu yang bisa dipamerkan, seperti halnya ide Cabinets of Curiosities di Eropa. Bahkan lebih dari itu, benda-benda koleksi tersebut mengandung nilai dan dimaknai keberadaannya. Seperti pada karya instalasi The Javanese Cabinets of Curiosities, pemaknaan pada sebuah benda sebagai metafora diawetkan, diceritakan kembali sebagai re-animasi kearifan lokal masa lalu. Rekonstruksi imajinatif dengan menyusun kembali tulang belulang binatang imajiner, sebagai simbol kukila, di dalam 20 sangkar wonder room yang mewakili jumlah aksara Jawa, berbentuk puncak joglo, dalam pahatan filosofinya yang sarat akan nilai-nilai falsafah hidup hubungan antar manusia dengan manusia, manusia dengan alam, dan manusia dengan Tuhannya.

No comments yet.

Leave a Comment

All fields are required. Your email address will not be published.