Pawukon, sebagai kalender Jawa yang perhitungannya didasarkan secara matematis, menjadi salah satu simtem penanggalan masa lalu yang masih digunakan hingga saat ini. Sebuah sistem penanggalan yang disepakati untuk menandai elemen waktu. Meskipun perhitungannya tidak semata didasarkan pada revolusi Bumi mengelilingi Matahari seperti kalender solar atau revolusi Bulan mengelilingi Bumi seperti kalender lunar, keabsahan kalender Jawa dianggap memiliki keistimewaan. Karena memadukan sistem penanggalan Islam, penanggalan Hindu, dan penanggalan Julian yang identik dengan Gregorian.

Sistem ini pada awalnya digunakan oleh Kesultanan Mataram sesuai dekrit Sultan Agung. Namun pada tahun 1855 Masehi masih dianggap tidak memadai sebagai kriteria sistem tanam pertanian, maka kalender yang berdasarkan konstelasi bintang di musim tanam yang disebut sebagai ‘Pranata Mangsa’, regulasi musim, pernah dimodifikasi dan disempurnakan oleh Sri Mangkunegara IV untuk digunakan secara resmi.

 

The Javanese Calendar Life Time | old teak wood, metal | 200 x 50 x 200 cm

 

Dalam pemaknaan Jawa, bahwa tidak ada hari-hari penting seperti kelahiran, perkawinan dan kematian terjadi secara kebetulan. Sebab-akibat atas hukum alam akan sangat mempengaruhinya. Kesimpulan tersebut didasarkan pada perhitungan dan pengamatan pada 35 kombinasi posisi Matahari dan Bulan, waktu 35 hari itu disebut “Selapan“. Kemudian dari intuisi dan pengamatan jangka panjang, prediksi tentang karakter potensi manusia berdasarkan hari lahir disebut “Weton”.

Selain peristiwa alam, mitologi juga dianggap mempengaruhi karakter sifat dan watak manusia. Seperti adanya kepercayaan bahwa karakter manusia berdasarkan ‘Weton‘ juga dapat dirubah hanya jika seseorang percaya dapat mengubahnya. Astronomi modern yang mengatakan bahwa ada fenomena alam yang disebut presesi ekuinoks, dalam mitologi Jawa, tokoh Bhisma (dalam wiracarita Mahabaratha) meninggal pada saat Matahari terbit, pada saat musim semi Equinox, di konstelasi Taurus. Bhisma sengaja menunggu momen dalam kematiannya. Makna dari peristiwa ini bahwa ada saat yang baik untuk mati dan sebagai akibatnya, namun ada juga saat yang baik untuk lahir. Hukum sebab-akibat, jika kita sadar, kita bahkan bisa merubahnya.

Pada aplikasinya, sejarah Penanggalan Jawa selalu  terkait dengan Aksara Jawa. Selain dari hasil pengamatan dan perhitungan matematis, juga berlandaskan pada falsafah hidup atas hubungan manusia dengan alam. Jika Penanggalan Jawa berdasarkan “Sangkan Dumadining Bawana” atau asal-muasal terciptanya alam semesta (makrokosmos dan mikrokosmos), sedangkan Aksara Jawa berdasarkan “Sangkan Paraning Dumadi” atau asal-muasal terjadinya hidup dan kehidupan.

Keberadaan falsafah hidup sebagai Spirit of Java telah mewariskan metode penyajian kasus yang menarik dalam berinteraksi dengan masyarakat, budaya, agama, tradisi dan sebagainya, seperti dicontohkan dalam sistem penanggalan yang pada akhirnya digunakan di seluruh wilayah nusantara. Hal ini menjadi bukti yang luar biasa untuk sebuah adaptasi. Penanggalan Jawa menjadi warisan tradisi intlektual dan sistem penanggalan seumur hidup yang sistematis, matematis serta diakui. Bahkan mengilhami pengembangan dan menjadi platform penciptaan software penanggalan teknologi digital di dunia maya.

Karya ini menyajikan bentuk manual instalasi interkatif sintem penanggalan Jawa seumur hidup. Terpahat dari recycle kayu jati tua sisa-sisa joglo dan furniture tempo dulu, sebagai perlambang kemewahan strata dan karakter serta menjadi monumen ingatan masa silam.

No comments yet.

Leave a Comment

All fields are required. Your email address will not be published.