The Journey of Panji | Art Installation | 500 x 200 x 300 cm (Singapore Art Museum collection)

Dalam kesusastraan pelbagai bahasa Nusantara—seperti catatan Zoetmulder—Kisah Panji menjadi sebuah tema yang sangat menarik sebagai model sastra “Jawa Tengahan” yang disampaikan dalam “bahasa” kidung, yang kemudian menyebar di beberapa wilayah Asia Tenggara. Panji—jika menggunakan terminologi linguistik—menjadi semacam “lingua franca”, sebuah perantara—seperti yang disebut Adrian Vickers—bagi “Peradaban  Pesisir “ Asia Tenggara. Cerita ini mempunyai banyak versi, dan telah menyebar di beberapa tempat di Nusantara (Jawa, Bali, Kalimantan, Malaysia, Thailand, Kamboja, Myanmar, dan Filipina). Dalam berbagai versi ini dimasukkan dalam satu kategori yang disebut “Lingkup Panji” (Panji cycle).

Cerita Panji bermula di Jawa sekitar akhir abad 14 hingga awal abad 15 Masehi. Kisah ini melahirkan banyak varian yang muncul di beberapa wilayah pada abad 17 hingga 18 Masehi. Panji memang lahir di Jawa, merepresentasikan setengah hasrat dan setengah realitas manusia Jawa, tetapi Bali yang mengawetkan kisah ini.

Dalam suatu telaah yang luas, W.H. Rassers (De Panji-roman) pernah meneliti, apakah tema Panji mempunyai latar belakang mitologis. C.C.Berg pernah mencoba menemukan tahun atau abad tema Panji pertama kali muncul di pulau Jawa dalam Bijdrage tot de kennis van de Panji-verhalen. Kemudian Poerbacaraka pernah menyusun ikhtisar-ikhtisar terperinci mengenai isi pelbagai kisah yaitu satu dari Malaya, satu dari Kampuchea (Kamboja), lima buah yang ditulis dalam bahasa Jawa Modern dan satu dalam bahasa Jawa Tengahan. Hingga akhirnya tahun 1971 kidung Panji yang pertama oleh S.O. Robson diterbitkan dalam sebuah edisi kritis mengenai Wanban Wideya. Kini kidung yang memuat cerita Panji berada perpustakaan di Leiden yang memiliki duabelas kisah yang masing-masing berbeda-beda dan termuat dalam pelbagai naskah.

Sebagai suatu bagian dari “Sejarah lama” pulau Jawa, cerita Panji telah lama dikenal oleh bangsa Eropa. Diantaranya dalam History of Java karangan Raffles dan dalam Algemeene Geschiedenis van Java oleh J Hageman. Juga dari sudut kesusastraan, Cohen Stuart dalam Jayalengkara. Sebagai suatu cerita yang berdiri sendiri, pengalaman-pengalaman Panji dimuat dalam teks yang diterbitkan oleh Roorda, bersama-sama dengan dua buah cerita wayang. Sejak itu cerita-cerita Panji mendapat perhatian dari para sarjana sebagai bahan kajian.

Berdasarkan relief tokoh Panji yang ditemukan di daerah Gambyok, Kediri, W.F.Stutterheim menyatakan bahwa relief tersebut dibuat sekitar tahun 1400 M. Bukan seperti pendapat Berg, bahwa cerita Panji merupakan suatu bentuk revolusi kesusastraan terhadap tradisi lama (India). Bahkan Poerbatjaraka menyimpulkan bahwa munculnya cerita Panji terjadi pada zaman keemasan Majapahit dan ditulis dalam Bahasa Jawa Tengahan. Penyebarannya ke luar Jawa terjadi di masa setelahnya dengan cara penuturan lisan.

Cerita Panji bukan semata roman picisan tentang percintaan, tetapi juga kisah kepahlawanan, pengorbanan, politik, dan pencarian jati diri untuk menjadi manusia yang lebih baik. Seperti riset arkeolog Jerman, Lydia Kieven, menemukan adanya artefak yang berkaitan dengan Cerita Panji ini di 20 (dua puluh) candi di Jawa Timur dan Jawa Tengah. Sebuah sastra klasik tingkat dunia yang asli berasal dari Indonesia yang memuat filosofi mengenai “mencari dan menemukan”. Dan kini menjadi bagian dari Memory of Nation and Memory of The World oleh UNESCO.

Detail Karya

 

Deskripsi Karya

Karya ini mencoba merepresentasikan Kisah Panji sebagai bagian dari sejarah peradaban Asia Tenggara. Kisah Panji yang secara terminologi linguistik menjadi semacam “lingua franca”, sebuah perantara bagi “Peradaban  Pesisir “ Asia Tenggara dalam paradigma oksidentalisme.

Secara bentuk, karya ini merupakan gradasi tranformasi bentuk. Dari susunan huruf menjadi gambar pada media dua dimensional (kanvas/lukisan Kisah Panji), kemudian menjadi media tiga dimensional (buku Wanban Wideya yang diterbitkan S.O. Robson). Gradasi ini menciptakan alur dinamis sibolisasi Panji cycle. Dari huruf-huruf kayu bergelombang bertranformasi menjadi bentuk image Kisah Panji di atas kanvas, dan dari kanvas dua dimensional menjadi bentuk buku kayu tiga dimensional.

Kanvas yang menjulang tergantung seperti layar perahu—simbol penjelajahan lautan—bernuansa klasik (warna acrylic kecoklatan) dilukis Kisah Panji dari relief asli yang ditemukan di daerah Gambyok Kediri. Bentuknya tersusun dari teks (ditulis tangan dengan drawing-pen) Kisah Panji dalam Wanban Wideya dengan aksara Jawa, Bali, Thailand, Kamboja, Myanmar, dan Filipina serta Latin mewakili Panji cycle. Kemudian ujung bagian bawah juntaian kanvas akan bertransformasi menjadi huruf-huruf—bahan kayu—yang tersusun secara acak dalam gradasi bentuk, berserakan ke arah instalasi buku Wanban Wideya karya S.O. Robson, yang berukuran besar (mix media). Seolah huruf-huruf dalam buku bergerak keluar menuju kanvas menyusun gambar Kisah Panji.

No comments yet.

Leave a Comment

All fields are required. Your email address will not be published.