FROM WANDERING PRINCE TO THE WANDERING OF CULTURES

Jean Couteau

 

We must qualify these works, so let us call them paintings, and we must also give them a title, so let us call them by their most visible theme: Wandering. But the works of Eddy Susanto, exhibited atRumahWayangdanTopengSetiadarma in Mas are indeed much more than that.

You can “watch” and enjoy them day and night, and what you see is a different “painting”.  During the  day time you can watch a narrative –that of the “Wandering Prince of the Javanese Majapahit lore—but you can also read its story, as the “lines” that make up the characters drawn in accordance with Balinese classical iconography, consisting of minute Javanese letters that reproduce the classical Middle-Javanese text of WangbangWideya.

 

Panji #5 and The Story of Romeo and Juliet | Drawing pen, Acrylic, Phosphor on Canvas | 250x180cm | 2013

 

But the surprise does not end there; under the darkness of light, the story you see showing up on the canvas has nothing to do anymore with Java or Indonesia; it takes you “elsewhere”, across the great cultures that have shaped the history of the world: Europe, China, the Islamic World, India. The result, thus, is for the 20 works presented, a unity that rest in contradictions: of past (in themes and iconography) and present (the technique); of day and night; of national (Indonesian), local (Balinese and Javanese) and cosmopolitan (the cultural range covered); and of written and visual expression. A juggling of forms (and words) that compels us to question our usual categorization of art works.

 

Panji #5 and The Story of Romeo and Juliet (Glow in the dark view with UV light)

 

Yet, to fully understand this work one must go back into history, to the days when the Javanese created a culture, and, thereof, a literature that was to flower in numerous variants, both through the Nusantaran archipelago and on the shores of continental South-East Asia. This culture was trade driven, inserting itself on small cultural pockets that popped up in the region and its isles as trade in spices and rare woods weaved it in an international networksoon to be taken over by Moslem men of faith before being forcibly seizedby European predators—Portuguese, English, Dutch and others.

The language of this trade culture was often Malay –the language of the Straits,but its cultural features and its literary language were predominantly Javanese, Java being the demographic and economic core of the whole system. Thus it was by essence a poly-linguistic, poly-ethnic and poly-religious culture, its unity, if any, given by the cultural “suppleness” of its Javanese core.

This suppleness is best expressed in its most achieved literary product: the Story of the Wandering Prince Panji. Told in multiple ethnic versions from Burma to Eastern Indonesia, it tells the adventures of the prince Ino as he wanders on foot, by boat or palanquin from one kingdom to the other on the search for his beloved, princess CandraKirana. The two lovers continuously meet and miss each separation  beingthe starting point of new adventures and a new wandering. The plays of love and politics thus weave themselves into the discreet background of the trade network.

The most interesting aspect of this exhibition is that it proposes a contemporary interpretation of the Panji story. Not only in its day-light version, is it hooked onto the story of Panji, but in its night light appearance it takes us to aninternational cultural wandering. On the one side it focuses on Indonesia –through Balinese iconography and Javanese literature—but on the other it opens us to all the great cultures of the world.

The artist is Javanese. He shows us in his stunning works the continuity of the Javanese cultural tradition: if in its 12th-15th centuries heydays this tradition “wandered” from shore to shore to blend, through Panji and others into the multiple ethnic cultures of the archipelago. Todayas shown in Eddy Susanto’s worksit accepts to coexist with and smoothly blend, in its own Javanese way,not only into the national culture of Indonesia, whose language is Malay-derived Indonesian, but also into all the main cultures of the world.

This also tells us much about Indonesia and the multi-layered identity most Indonesians pride themselves of.  It is a country in which one can be at once a proud islander, deeply feel Indonesian and dream oneself as citizen of the world.

 

The Tale of Panji Series 

The Tale of Panji Series (2013)

PANJI #1

Panji, putra mahkota Kahuripan yang terkenal dengan nama raden Ino (Raden Makaradwaja) kehilangan kekasih hatinya, putri Galuh, putri cantik dari negeri Daha. Demikianlah kisah pembuka kidung Bali Wangbang Wideya yang paling awal muncul sekira 1610 Masehi. Rasa kehilangan raden Inu atas hilangnya Galuh telah membuatnya menjadi “gila”. Panji pergi mengembara mencari sang putri dari negeri ke negeri, dari pantai hingga gunung demi cinta. Kisah ini mengingatkan lagi untaian syair indah penyair sufi Persia, Nizami Ganjavi, pada 1192 Masehi. Kisah tentang seorang pemuda yang “bersinar seperti rembulan di hari keempat belas”, Qays, yang kehilangan kekasihnya—gadis bermata hitam—Layla. Qays menjadi “gila”, mengembara, dan masyur berjuluk Majnun karena cinta. Demikianlah syair Layla Majnun, menjadi penanda kisah cinta sejati anak manusia.

PANJI #2

Saat Panji mengembara, epos tentang kepahlawanan muncul. Ia masyur sebagai penakluk negeri-negeri. Ia membawa bala pasukannya mendatangi setiap tempat, menghancurkan, merebut setiap negeri yang tak mau tunduk, lalu memboyong setiap puteri keraton taklukan, termasuk Dyah Kesawati yang wajahnya seperti pancaran sinar rembulan di bulan Kartika. Panji masyur sebagai pahlawan, ksatria tampan yang gagah perkasa. Tapi Panji tidak sanggup menepikan putri Galuh dalam kalbunya, sekalipun dikelilingi putri-putri cantik. Kisah Panji seperti halnya kisah masyur Markus Antonius, panglima Romawi, seorang pahlawan yang meninggalkan pendamping-pendamping cantiknya, termasuk Octavia adik kaisar Augustus. Antonius tak sanggup melupakan wajah Cleopatra kala melihatnya di Tarsus dengan pakaian indah layaknya dewi Venus. Antonius segera menuju Alexandria demi Cleopatra.

PANJI #3

Setelah terlupakan sekian waktu, Galuh berada di hutan terlarang negeri Kembang Kuning. Sang putri segera kembali ke Daha diiringi oleh pangeran Singhamatra. Panji yang mendengar kedatangan sang putri, segera menuju Daha bersama para kadeyan (pengiring utama). Ia harus berjuang merebut hati Galuh yang telah dimiliki pangeran Singhamatra. Catatan yang mirip seperti yang dihimpun oleh  Alexander Nikolayevich Afanasyev tentang sosok pahlawan utama foklor Rusia—Ivan Tsarevich. Dalam kisah The Fire Bird and the Gray Wolf, Ivan seperti halnya Panji harus berjuang membebaskan Helen dari pangeran tertua, untuk kemudian menikahinya. Atau kisah heroik Ivan dalam  The Death of Koschei the Deathless, dimana ia harus berjuang menghabisi raja kuat Koschei demi menyelamatkan Marya Morevna, seperti Panji yang harus menghadapi dan menaklukkan prabu Lasem yang kuat demi keselamatan Daha dan putri Galuh.

PANJI #4

Kisah putri suku Powhatan—setelah sekian abad berlalu—menjadi mitos. Romantisasi kisah cintanya menjadi pertunjukan populer dalam teater-teater musikal abad 19. Sang putri itu—Pocahontas—sesungguhnya bersanding bersama John Rofle tetapi kisah heroiknya menyelamatkan John Smith melebihi kisah aslinya dan lebih melegenda. Lepas dari itu, Pocahontas sosok putri kaum pribumi Amerika yang ikonik. Ia menjadi “pemersatu”, yang membentuk citra betapa cairnya hubungan kaum pribumi dengan kaum putih pendatang. Demikian halnya dengan putri Sri Kirana yang menjadi simbol “penyatu” Janggala-Panjalu, dua wilayah yang selalu berseteru. Secara simbolik, kakawin Smaradahana mengawetkan kisah Sri Kirana dan sekian abad kemudian, mitos tentangnya begitu kuat pada diri raden Galuh dalam sastra popular, kidung-kidung Panji.

PANJI #5

Pertemuan Panji dengan Galuh (yang tak langsung juga mewakili keluarga masing-masing) dan lika-liku kehidupan mereka, sesungguhnya memberikan gambaran tentang bentuk sosial masyarakat Jawa lampau. Dunia Panji adalah dunia aristokrasi, terkadang despotik (dalam Wangbang Wideya seperti misalnya prabu Lasem yang sewenang-wenang). Dunia Panji bertumpu pada Kahuripan serta Daha sebagai sentrum, sebagai patronnya. Dua negeri, dua kerajaan atau dua keluarga itu yang memberikan tumpuan cerita Panji (Raden Inu) dengan putri Galuh. Sama halnya dengan dunia aristokrasi Verona dalam kisah tragis Romeo Juliet. Kisah pujangga William Shakespeare itu juga bertumpu pada keluarga Capulet dan Montague, dimana muncul ketegangan, konflik terbuka hingga kisah cinta dua anak muda dari dua keluarga yang saling bertentangan itu. Romeo Juliet bersatu dalam maut dan memendarkan perseteruan dua penguasa (Capulet dan Montague) seperti halnya rujuknya Kahuripan dan Daha karena bersatunya Panji dan Galuh. Keduanya (Panji dan Galuh) meluruhkan ketegangan kedua keluarga kerajaan itu.

 PANJI #6

Kisah Panji dalam kidung Wangbang Wideya menggambarkan satu tantangan: betapa beratnya mendapatkan raden Galuh. Putri Daha itu yang menghilang beserta jatuhnya sang putri ke tangan Raden Singhamatra yang direstui oleh prabu dan prameswari Daha membuat jalan raden Inu untuk memiliki sang putri semakin berat. Tapi inilah yang telah disampaikan cerita Panji, bahwa lelaki, jika telah terbenam dalam rasa cinta yang berlebih, akan melakukan apa saja. Ia tak akan berhenti begitu saja. Raden Inu menyaru sebagai seorang pengalasan bernama Apanji Wireswara di negeri Daha demi dekat dengan raden Galuh. Ia sanggup merayu dan menaklukkan sang putri. Dalam magnum opus-nya  Publius Ovidius Naso, Metamorphosen, sang elang—Jupiter—juga melakukan hal yang sama. Ia menyaru sebagai Artemis (Diana) demi dekat dengan Callisto. Sang dewa mampu menaklukkan dewi paling cantik itu.

PANJI #7

Dalam Metamorphosen Liber Qvartvs (buku keempat) bait ke 55-145, Ovidius dengan puitis mengisahkan roman Pyramus-Thisbe. Di negeri Babylon, sang pemuda tampan Pyramus, jatuh cinta pada putri cantik Thisbe. Hambatan muncul, kedua keluarga tak merestui hingga berdua mereka sepakat melarikan diri, apapun resikonya. Mereka bertemu di luar benteng kota, ditengah-tengah kebun Mulberry (Murbei), mereka bersatu meski harus mati bersama. Kota Babylon menjadi gempar. Kenekatan melarikan diri ini layaknya satu babak dramatis dalam Wangbang Wideya, kala di tengah sakralnya perayaan patotoyan (perayaan penyucian diri) di Daha, Panji melarikan putri Galuh yang telah takluk hatinya. Ia membawa sang putri ke luar benteng kota, hingga kegemparan melanda negeri Daha.

PANJI #8

Putri Shokuja adalah dewi penenun yang tinggal di tepi timur sungai kahyangan. Ia lalu dijodohkan oleh ayahnya dengan Kengyu yang berkuasa atas tepi barat sungai kahyangan. Tapi kebahagiaan pasangan ini pupus kala para penghuni kahyangan marah lalu memisahkan kebersamaan mereka. Keduanya hanya diijinkan bertemu satu malam dalam satu tahun. Kemalangan ini layaknya kisah Panji. Putri Galuh sejak awal sesungguhnya telah dijodohkan dengan pangeran Inu (Panji) tapi—dalam salah satu versi Panji—Bhatara Kala marah karena mereka lupa terhadap para dewata hingga terucap kutuk bahwa putri Daha dan putra kahuripan itu tak akan mudah menyatu. Itulah yang menyebabkan jalinan kisah Panji penuh liku, penuh kemalangan. Dalam Wangbang Wideya, ia harus berjuang, menyamar ke Daha untuk merebut hati Galuh, berperang melawan prabu Lasem, lalu melarikan sang putri, sebelum akhirnya benar-benar bisa mendapatkan Galuh.

 PANJI #9

Samson, sang “lelaki matahari” itu, memiliki kisah cinta beruntun. Ia pertama kali memilih seorang gadis Filistin saat bertandang ke Timna. Dalam pengembaraannya dari satu negeri ke negeri lain, raden Inu (Panji) juga pertama kali memilih putri Kesawati saat datang ke negeri Singhasari. Tapi cinta tak berhenti pada satu hati. Panji lebih mencintai putri Galuh dari Daha seperti halnya Samson yang begitu mencintai gadis dari Gaza—Delilah—hingga hakim ke-13 bangsa Israel itu takluk terpedaya di tangan Delilah dan diserahkan pada bangsa Filistin.

PANJI #10    

Kisah ratu Sheba (Queen of Sheeba) termaktub dalam kitab 2 Tawarikh 9 ayat 1-12 serta dalam kitab 1 Raja-raja 10 ayat 1-13. Islam mengenalnya sebagai ratu Balqis dalam Alquran surah Al Naml ayat 22-44. Semua sepakat bahwa sang ratu bersimpuh takluk di hadapan Solomon (Sulaiman) yang bijak karena kehendak Allah. Mereka lalu menjadi pasangan yang dimuliakan segenap keturunannya seperti dalam kitab Kebra Nagast yang ditulis dalam bahasa Koptik dan disadur dalam bahasa Arab sekira 1225 Masehi. Pertemuan pertama mereka dalam Kebra Nagast (bab 25) begitu indah. Kala Sheeba melihat Solomon di dalam istana, ia takjub luar biasa, kata-katanya bijaksana, suaranya begitu halus dan Sheba seketika itu juga mengaguminya. Betapa sempurnanya Solomon di mata Sheba. Kisah yang syahdu seperti juga catatan dalam Wangbang Wideya kala menceritakan pertemuan Panji dengan raden Galuh di istana Daha. Kagum karena tutur bicara yang halus dan bijak, seketika Galuh jatuh takluk terhadap Panji.

 PANJI #11

Brunnhilde muncul dalam puisi kuno orang-orang Nordik, Edda serta dalam epos Nibelungenlied. Ia dewi cantik yang dikutuk oleh Odin. Ia terpenjara dalam sebuah puri, dibalik dinding yang terlindung, dan terkurung dalam cincin api. Ia tertidur dalam mantra Odin. Ia akan terbebas jika datang seorang ksatria yang mampu membebaskannya. Lalu datanglah Siegfried untuk membebaskannya. Sayangnya Siegfried harus mati ditangan seorang penyihir. Tapi pembebasan Brunnhilde yang terkungkung dan terkurung, menandakan munculnya rasa cinta. Kekuatan ini juga yang menggerakkan Siegfried. Dalam keadaan yang nyaris sama, putri Galuh—semenjak ia berlindung di hutan Kembang Kuning—sesungguhnya juga merasakan keterkungkungan yang nyata. Juga saat ia harus kembali ke Daha lalu terkurung di kaputren supaya hatinya luluh untuk Singhamtra. Ia seolah menjadi putri yang “dikutuk” hingga datanglah Panji membebaskannya keluar kaputren, keluar Daha karena cinta yang dalam untuk Panji.

PANJI #12

Legenda Ranginui dan Papatuanuku memberikan mitos tentang penciptaan dan menjelaskan asal usul dunia yang ada dalam folklore orang-orang Maori. Rangi adalah langit, ayah dari segala sesuatu dan Papa adalah bumi, ibu dari segala sesuatu. Bersatunya mereka adalah puncak dari segalanya. Dan kebersamaan mereka akan selalu abadi. Bahwa bumi akan selalu bersanding dengan langit. Rangi akan selalu memeluk Papa dengan erat. Sebuah akhir yang pasti: kebersamaan cinta mereka yang tak akan terpisah. Maka tak berlebihan jika melihat epos Panji sesungguhnya menyuguhkan satu puncak cerita yang sama, di akhir cerita: bahwa Panji dan Galuh akan bersatu, apapun jalan yang mesti mereka tempuh. Mereka menjadi simbol kebersamaan yang akhirnya tak akan terpisah lagi. kebersamaan mereka adalah keabadian.

PANJI #13

Kisah tentang Paolo Malatesta bersama Francesca terjadi di Italia abad 13 Masehi. Paolo merupakan anak ketiga dari penguasa Rimini, sementara Francesca adalah putri cantik dari Guido Polenta, penguasa Ravenna. Paolo seorang pria yang romantis dan banyak yang mengakui, ia pria tampan yang digilai banyak perempuan. Seperti halnya kisah raden Inu (Panji) putra penguasa Kahuripan, ksatria tampan juga romantik yang bersanding dengan putri Galuh, anak penguasa Daha. Cinta mereka penuh tantangan. Fransesca telah dimiliki oleh Giovanni sementara putri Galuh juga telah diberikan untuk pangeran Singhamatra. Panji harus diam-diam datang ke Daha dan diam-diam pula bertemu sang putri di taman bunga seperti halnya Paolo yang secara diam-diam harus selalu menemui Fransesca di kamar pengantinnya meski pedang Giovanni akhirnya membunuh mereka berdua. Akhir cinta yang tragis seperti diabadikan dalam syair Dante Alighieri Divine Comedy.

PANJI #14

Kisah cinta seorang guru dengan muridnya ini bergulir di Paris Perancis abad 12 Masehi. Peter Abelard, seorang filsuf serta teolog berusia 37 tahun, jatuh hati dengan seorang gadis 19 tahun, Heloise, muridnya. Keabadian cinta mereka terekam dalam surat menyurat mereka yang indah, puitis dan menggetarkan. Banyak yang percaya surat-surat cinta mereka masih menjadi inspirasi bagi sebagian penulis kisah cinta. Heloise bergetar setiap membaca surat Abelard seperti halnya tangis putri Galuh saat membaca surat puitis Panji dalam Wangbang Wideya pupuh 103-105, “oh dewiku, kau seperti Ratih yang begitu anggun, yang sanggup membuat hatiku terpanah asmara. Aku begitu menderita kala tak melihatmu. Tatap matamu begitu mempesona dan semakin menenggelamkanku dalam lautan rindu yang dalam. ..Sungguh aku menderita karena rindu ini…”. Dan rasa itu pula yang membelenggu Abelard dalam suratnya,“…aku tak henti-hentinya mencarimu dalam pikiranku, aku selalu ingat wajahmu dalam setiap ingatanku… dan bagaimana menderitanya hatiku…”

PANJI #15

Kisah Niu Lang sang penuntun kerbau yang begitu mencintai sang gadis penenun Zhi Nu memberikan gambaran layaknya kisah Jaka Tarub. Zhi Nu yang merupakan putri kahyangan turun ke bumi untuk menyucikan diri di sungai hingga ditemukan oleh Niu Lang. mereka menikah hingga akhirnya penghuni kahyangan gempar. Niu Lang dan Zhi Nu harus terpisah. Penguasa kahyangan membawa kembali dan menempatkan Zhi Nu di langit menjadi rasi bintang Lyra dan Niu Lang yang mencoba menyusulnya juga berada di langit menjadi rasi bintangVega. Mereka terpisah selamanya hingga melahirkan perayaan Qi Xi Jie (hari kasih sayang) di bulan Agustus. Kisah Panji yang mencintai putri Galuh—dalam catatan W. H. Rassers De Pandji Roman—menjadi refleksi perayaan bulan. Mungkin Panji dirayakan di hari dan malam terang di bulan Bhadapada, juga sekira bulan Agustus.

 PANJI #16

Tristan menyadari betapa sulitnya mendapatkan putri Iseult (Isolde), putri negeri Irlandia. Demikianlah kisah Tristan Isolde dalam legenda Celtic di abad 12 Masehi. Tristan, putra ksatria Inggris, Erigan, yang juga telah menjadi ksatria muda Cornwall, tahu bahwa Isolde telah menjadi milik lord Mark. Dalam kisah Wangbang Wideya, keadaan serupa terjadi pada diri raden Inu (Panji) yang menyadari betapa sulitnya mendapatkan putri Galuh karena sang putri telah menjadi milik pangeran Singhamatra, pangeran Kembang Kuning. Mereka juga menjadi kerabat dekat. Tristan menjadi anak angkat Mark dan Panji menjadi saudara angkat Singhamatra. Panji selalu berperang disamping Singhamatra demikian halnya Tristan berperang disamping Mark. Pujian dan persenbahan diberikan untuk mereka tetapi keinginan untuk memiliki Galuh dan juga Isolde sulit untuk diucapkan. Hingga akhirnya Panji harus melarikan Galuh sementara Tristan harus lama menunggu Isolde, sebelum akhirnya mereka menyatu dalam kematian.

 PANJI #17

Legenda Popocatepetl, seorang pejuang yang jatuh hati pada “gadis putih” Iztaccihuatl berawal pada kaum Aztec di lembah Meksiko, saat peradaban agung itu berpusat di kota Tenochtitlan. Kisah dramatis mereka bermula saat Popoca harus bertempur demi Aztec, sang raja menjanjikan putrinya—yang juga jatuh cinta padanya—untuk dipersunting. Tapi ditengah pertempuran, kabar buruk dihembuskan. Bahwa Popoca telah mati di medan laga. Dalam catatan kidung Wangbang Wideya kisah ini mengingatkan Panji saat harus bertempur demi Daha menghancurkan pasukan Lasem. Tapi kabar buruk dihembuskan, bahwa Panji telah mati di medan tempur. Hati Galuh hancur kala mendengar berita ini, begitu juga hati Iztac saat mendengar kematian Popoca. Tapi kabar itu salah besar. Panji juga Popoca tak mati dalam pertempuran, mereka pahlawan yang mampu menghancurleburkan musuh. Tapi nasib telah begitu buruk, Iztac memilih mati sebelum kedatangan Popoca hingga akhirnya sang pahlawan itu membawa tubuh Iztac ke atas gunung. Hingga akhirnya muncul legenda tentang gunung Popocatepelt, sang gunung berasap, yang selalu menunggui tubuh Iztaccihualt.

PANJI #18

Kisah cinta Paris Helen merupakan kehendak para dewa-dewi Olympus. Afrodit, sang dewi kecantikan, menyuruh Eros, sang dewa asmara, melepaskan panah api cinta pada Helen untuk pangeran Paris. Sementara saat putri Galuh di Daha menyepi di hari Anggara Kasih bulan Wesaka, ia bertemu dewa Siwa di atas singgasana bunga Lotus. Siwa memberi pesan padanya bahwa pemuda tampan, Panji, akan menjadi kekasih sejatinya. Dewa Smara melepas panah asmara di hati Galuh untuk Panji. Akhirnya Panji datang ke Daha untuk membawa lari Galuh ke Kahuripan seperti halnya pangeran Paris datang ke Sparta untuk merebut Paris dan membawanya ke Troya hingga menyebabkan perang akbar, perang Troya, seperti dituliskan Homer dalam Illiad dan Odyssey.

PANJI #19

Dalam karya Walmiki—seperti catatan C. Rajagopalachari—Rama dipuja sebagai pribadi yang agung dan unik. Ia bukanlah titisan dewa meski dalam beberapa kisah, ia disebut laksana dewa. Dalam keseluruhan kisah Ramayana, Begawan Walmiki tak mendaraskan Rama sebagai dewa sendiri, tetapi seorang pangeran besar Ayodya yang memiliki sifat-sifat dewata. Tetapi tradisi terus menggulirkan kisah bahwa Rama adalah Wisnu itu sendiri dan Sita manifestasi dari Laksmi, pendamping Wisnu. Lalu tak bisa dipungkiri lagi bahwa kisah Rama Sita menjadi kisah cinta yang agung. Disinilah titik temu dengan kisah Panji. Dalam “siklus” Panji, termasuk dalam Wangbang Wideya, pangeran Inu bukanlah titisan dewa tapi pangeran agung Kahuripan yang juga memiliki sifat-sifat dewata. Ia harus mengalami pengembaraan seperti Rama, juga mengalami peperangan seperti Rama, hingga melahirkan epos kepahlawanan. Dalam satu perjumpaan, kala raden Inu menatap mata putri Galuh, gambaran dewa Smara dan dewi Ratih dimunculkan sama halnya gambaran Wisnu dan Laksmi dimunculkan kala Rama dan Sita bersatu. Itulah keagungan cinta yang mampu menembus batas ruang waktu, “selama gunung-gemunung tetap tegak berdiri dan sungai-sungai tetap mengalir, maka kisah-kisah cinta ini akan terus didaraskan…”

 PANJI #20

Cinderella menjadi dongeng tradisional dengan pelbagai versi yang ditemui di banyak negara, terutama Eropa. Kisah pertama terkumpul dalam Histoires ou contes du temps passe (Fairy Tales from Past Times with Morals) Charles Perrault di Paris pada 1697 Masehi. Versi lain yang juga terkenal adalah karya Jacob and Wilhelm Grimm di Jerman bertajuk Aschenputtel di abad 19 Masehi. Beragam versi ini seperti munculnya beragam kisah Panji yang menyebar di beberapa negeri Asia Tenggara. Dari kisah Panji dalam Wangbang Wideya pada 1610 di Bali, Panji dalam Ineungzat di Burma pada 1780, hingga kisah Panji dalam Inao Rama di Thailand sekira awal abad 19 Masehi. Keduanya adalah roman cinta. Pangeran muda yang terpesona pada Cinderella dalam sebuah pesta dansa di istana dan Panji yang terpesona pada putri Galuh dalam sebuah pertunjukan raket (wayang orang) di istana Daha. Dua kisah yang sama-sama berakhir bahagia.

No comments yet.

Leave a Comment

All fields are required. Your email address will not be published.