Drawing Pen, Acrylic on Canvas | 150 x 150 cm | 2017

Sebelum Semenanjung Korea dianeksasi oleh Jepang pada tahun 1910, wilayah tersebut dikuasai oleh serangkaian kerajaan yang didirikan pendatang yang kebanyakan berasal dari Cina. Konflik antara Korea Utara dan Selatan memiliki jejak sejarah yang panjang. Seperti yang terjadi pada banyak negara lainnya, termasuk Indonesia, akhir Perang Dunia II menggoreskan berbagai perbatasan baru. Di Korea, Uni Soviet dan Amerika Serikat membelah Korea menjadi dua, yang kemudian secara resmi membentuk Rakyat Demokratik Republik Korea Utara dan Republik Korea, dua sisi Korea yang kini terbelah di 38 derajat lintang utara –dan ini kenapa perbatasan antara kedua negara sering disebut sebagai ‘38th parallel’.

Dalam dua tahun berikutnya, ketegangan antara kedua Korea ini terus meningkat. Pada tanggal 25 Juni 1950, militer Korea Utara menyeberangi perbatasan dan melakukan invasi atas Korea Selatan. Tindakan ini memulai Perang Korea yang berlangsung selama tiga tahun dan memakan korban sekitar dua juta nyawa. Gencatan senjata terjadi pada tahun 1953.

Yang menarik, karena perjanjian perdamaian tidak pernah ditanda tangani, sampai sekarang kedua negara tersebut secara ‘resmi’ masih dalam kondisi perang. Tapi yang lebih menjadi perhatian, adalah peran aktif Amerika Serikat (AS) dalam ketegangan yang terjadi di Semenanjung Korea saat ini menjadi pertanyaan besar dunia tentang ‘politik kepentingan’ sebagai negara adidaya.

Kepentingan AS ini berhubungan juga dengan keberadaan pasukan militer AS di Korsel dan Jepang yang berpengaruh dengan dinamika politik dan keamanan di Asia Timur terutama pada masa Pemerintahan Presiden Barack Obama.

Hal ini seolah menegaskan bahwa upaya dalam menuju kearah reunifikasi Korea, kegagalan secara umum disebabkan oleh campurtangan aktor eksternal, terutama dari negara-negara besar, salah satunya adalah AS. Adanya Campur tangan AS di Semenanjung Korea merupakan upaya mewujudkan kepentingan nasional mereka, terutama yang berkaitan dengan soal mempertahankan pengaruh dan keamanan serta kekuatan AS di regional Asia Timur. Bagi AS, Korut dan pembangunan program nuklirnya tidak hanya mengancam Korsel sebagai aliansinya, tetapi ia juga mengancam AS sendiri. Tercapainya reunfikasi juga akan memberi pengaruh dalam peran dan keterlibatan AS di Korea dan Asia Timur pada umumnya. Hal ini membuat AS menjadi salah satu dari beberapa great powers yang hingga saat ini masih terlibat intensif dalam dinamika di Semenanjung Korea, terutama yang berkaitan dengan masalah reunifikasi.

Melihat ambisi AS mengingatkan pada American Dream yang menjadi etos nasional Amerika Serikat, sekumpulan ide bahwa kebebasan meliputi kesempatan untuk makmur dan sukses, dan mobilitas sosial ke atas melalui kerja keras. Dalam definisi American Dream oleh James Truslow Adams tahun 1931, “kehidupan semua orang harus lebih baik dan kaya dan penuh dengan kesempatan menurut kemampuan atau prestasinya” tanpa mengenal kelas sosial atau kondisi lahir.

Ide American Dream berakar dari Deklarasi Kemerdekaan Amerika Serikat yang menyatkaan bahwa “semua manusia diciptakan setara” dan mereka “dikaruniai hak-hak mutlak tertentu oleh Penciptanya”, termasuk “hidup, bebas, dan mengejar kebahagiaan.”

Konsep gagasan American Dream seolah menjadi retorik di antara konflik semenanjung Korea yang tengah memanas. Dimana Amerika berperan aktif dengan segala kepentingannya seolah menjadi ironi tentang Korean Dream.

Karya ini mencoba menggambarkan Korean Dream ala American Dream. Ironisme paradigma Barat terhadap Asia yang sarat akan segala kepentingan-kepentingannya. Ilustrastrasi imajinatif wefie Donald Trump, Moon Jae-in, dan Kim Jong Un yang tersusun dari teks The Korean War Armistice Agreement sebagai penggambaran The Rhetoric of a Korean Dream.

Eddysu_2017

 

Detail Artwork

The American Dream,  is a term coined by the writer and historian James Truslow Adams in his book The Epic of America (1931). Rooted in the US Declaration of Independence which proclaims that all men are created equal with the right to life, liberty and the pursuit of happiness, it has become a national ethos of the United States, hailed and promoted as lofty example to other countries.

In the case of Korea, with many American political interventions, would it be possible to nurture a Korean Dream , or would that be too hyperbolic?

At the end of World War II, the Allied victory in 1945 split the Korean peninsula into North and South Korea with The United States and the Soviet Union occupying the country with the boundary between their zones of control along the 38th parallel. Then the  Republic of Korea was established in South Korea, supported by the United States, followed by the Russia supported Democratic People’s Republic in North Korea..

The subsequent Korean War which lasted from 1950 to 1953, ended with a stalemate, an armistice which was only to end hostilities, but leaves the two Koreas in a state of war as there has never been a signed peace treaty.

So what about the American interventions in the name of protection? Would the American Dream with its lofty principles be viable to support a Korean ‘Dream’? many see American interventions in Korea as purely self-serving and the idea of a Korean dream as mere irony.

It is such irony that I wanted to express in my work featuring an imaginative wefie of Donal Trump Donald Trump, Moon Jae-in, and Kim Jong Un, whose figures are made with the text of the Korean War Armistice Agreement which is just an agreement to stop hostilities, but not the war.

 

Sketch of Artwork (drawing on paper)

No comments yet.

Leave a Comment

All fields are required. Your email address will not be published.