Acrylic on Canvas, 200 x 200 cm

Maraknya Transhumanisme di kalangan kaum intelektual Eropa saat ini sebenarnya telah ada antitesisnya sejak tahun 1300-an saat puisi epik Dante Alighieri muncul menjadi salah satu karya sastra terbesar dunia dalam literatur Italia. Bahkan konsep imajinatif akhirat Dante mempengaruhi pandangan gereja pada abad 14 kemudian.

Inferno, bagian pertama dari puisi epik Divine Comedy Dante Alighieri abad ke-14 yang mengisahkan perjalanan Dante melalui neraka, dipandu oleh penyair Virgil Romawi kuno. Neraka digambarkan sebagai sembilan lingkaran penderitaan yang terletak di dalam bumi; itu adalah “alam … orang-orang yang telah menolak nilai-nilai spiritual dengan menyerah kepada kerakusan, kekerasan, atau dengan menyesatkan akal manusia untuk penipuan dan kejahatan terhadap sesamanya.” Sebagai kiasan, Divine Comedy merupakan perjalanan jiwa menuju Tuhan,  Inferno menggambarkan pengakuan dan penolakan terhadap dosa. Sekaligus menasbihkan, bahwa keabadian hidup di dunia yang selalu menjadi impian manusia sebagai bagian dari sifat keserakahan, adalah hal yang fana.

Pada tahun 1506, seorang ilustrator Itali, Antonio Manetti, bahkan mengilustrasikan dalam enam Series of Woodcuts: Everything Reduced to One Plan, The Chamber of Hell, Overview of Hell,  Circles Six and Seven,  The Lair of Geryon, dan The Tomb of Lucifer.

Pandangan Transhumanisme yang memperkirakan tahun 2025-2050 mendatang akan berhasil melahirkan manusia super dan abadi seolah hanyalah siklus pemikiran-pemikiran peradaban yang selalu terulang seperti halnya di era Dante. Perbedaannya pada masa, teknologi, dan pola pikir saja sebagai bagian dari perkembangan ilmu pengetahuan. Padahal modern science mulai mengkonfirmasi apa itu spiritualitas, filosofi, kebijaksanaan, dan ajaran-ajaran kuno selama ribuan tahun. Bahwa seluruh alam semesta adalah “Satu”, dan apa yang kita anggap sebagai “Realitas” hanyalah ilusi. Satu-satunya hal yang nyata di alam semesta adalah “Kesadaran”.

Ini seolah menjadi paradoks, tranhumanisme menolak pandangan religius tetapi di sisi lain juga mengingkari konfirmasinya tentang Kesadaran. Seolah penegasan bahwa manusia memang tidak memiliki jiwa secara pribadi, karena kepribadian atau ego adalah ilusi belaka dan dogma sebagai filsafat moral dan etis, yang dibungkus dalam penyangkalan terhadap diri sendiri seumur hidup. Karena realita bukan bersifat pribadi dan bukanlah berdasarkan hubungan.

Dalam dunia bisnis kapitalisme saat ini seperti memanfaatkan momen konsumerisme kontemporer dengan penciptaan produk-produk anti aging penuaan dini dan pusat-pusat treatment kecantikan sebagai propaganda menolak penuwaan yang menjadi masalah ketakutan terbesar manusia modern.

 

Artwork:

Enam halaman ilustrasi engraving karya Antonio Manetti dalam buku Dante’s Devine Comedy dilukis pada kanvas yang dibentuk dari teks puisi “Inferno” Dante (versi bahasa Italia dengan huruf Latin). Background karya terdapat ilustrasi “All seeing Eye” pada lembar uang One Dollar US sebagai simbol pemeran utama di balik layar Kapitalisme.

No comments yet.

Leave a Comment

All fields are required. Your email address will not be published.