Genesis Of Durer | Acrylic and Drawing pen on Canvas | 154,5 x 200 cm | 2013

Pameran bertajuk Visual of Java: Albercht Durer and the Sacred Script, Texts and Numbers ini mengkorelasikan karya-karya Albrecht Durer dengan aksara bahasa Jawa yang dipertemukan dalam titik sacred script, texts and numbers. Aksara jawa carakan memiliki sakralitas karena aksara ini diejawantahkan dan diingat dalam kultur jawa sebagai sebuah hukum kodrat “sangkan paraning dumadi”, sebuah ungkapan transedental tentang asal muasal. Carakan menjadi sebuah episteme saat digubah dalam sebuah seloka yang indah;

              hananing cipta rasa karsa(Ha-na-ca-ra-ka)

            datan salah wahyuning lampah(Da-ta-sa-wa-la) 

            padhang jagade yen nyumurupana(Pa-dha-ja-ya-nya)

            marang gambaring bathara ngaton(Ma-ga-ba-tha-nga)

Bagi orang Jawa, carakan dari ha sampai nga (berikut pasangan dan sandhangannya), selain disebut sebagai aksara juga disebut sastra dan sastra ini mengungkapkan isi kandungan batin manusia mulai dari yang sederhana hingga kawruh pangawikan kajaten (filsafat) yang lahir dari pikiran, perasaan dan kemauan yang melahirkan perbuatan—hananing cipta rasa karsa—manusia, tidak menyalahi laku kehidupan karena semua telah ditakdirkan—datan salah wahyuning lampah. Lampah berarti lampahing agesang yang bermakna  sebuah perjalanan hidup. Meskipun demikian, manusia akan selamat manakala mampu melihat atau menyadari—padhang jagade yen nyumurupana—alam kehidupan semesta milik Tuhan—gambaring bathara ngaton. Alam semesta menjadi yang paling akhir dan paling puncak. Semesta ini menjadi makrokosmos, sebuah manifestasi kehadiran atau pengejawantahan sang pencipta alam.

Detail Karya

Dua seloka  terakhir dalam carakan itu “padhang jagade yen nyumurupana marang gambaring bathara ngaton” bermakna mengakui  kemahakuasaan sang pencipta dan menjadi sumber segala penerangan atas kehidupan. Carakan telah menjadi untain aksara yang adiluhung, jika dirangkaikan dalam wujud teks, maka teks itu juga menjadi adiluhung, menjadi teks yang suci (sacred text). Para pujangga keraton di Jawa menuliskan serat dan babad dalam aksara-bahasa Jawa. Karya-karya tekstual itu menjadi karya adiluhung, menjadi sakral karena ditulis dalam aksara (dan bahasa) yang suci.

Lalu mengapa carakan menjadi suci? Aksara carakan bermula dari transformasi tata aksara arkais yang—dalam   catatan de Casparis—tumbuh sejak sebelum masa 700 Masehi bernama Pallawa. Pallawa merupakan aksara abudiga yang berpangkal dalam rumpun aksara Brahmin milik kaum Brahmana yang sakral dan suci. Karakter Brahmin selatan—dalam aksara Pallawa—kemudian telah melahirkan aksara Kawi  (Jawa Kuno) yang mewujud sejak abad 8 Masehi hingga abad 13 Masehi , lalu berubah menuju aksara Jawa Tengahan di masa negeri Wilwatikta hingga paruh pertama abad 15 Masehi. Selepas itu Casparis menyebutnya sebagai masa cul de sac, dimana transformasi aksara yang berkelanjutan “berhenti” atau aksara yang berkembang hanya sekedar  penyederhanan dari aksara Majapahitan. Tetapi van der Molen menyebutnya sebagai masa perkembangan menuju arah aksara baru, menuju aksara carakan paling awal.

Transformasi aksara ini tetap meletakkan nilai-nilai sakralitas aksara itu sendiri. Itulah mengapa aksara-aksara itu berikut makna tekstual yang ingin disampaikan dalam prasasti yang terpahat di batu dan logam hingga ditorehkan pada lontar dan kertas, dimulai dengan doa-doa yang sakral, baik oleh kaum poruhita hingga kaum pujangga keraton. Mereka berharap teks yang termaktub menjadi sakral dan aksara yang dituliskan disucikan.

Dalam konteks sacred script and text inilah, 22 karya dari genesis of Durer hingga Malachi of Durer mencoba menautkan makna sakralitas karya-karya engraving dan woodcut Albrecht Durer dengan kitab Perjanjian Lama. Tetapi sakralitas Perjanjian Lama—yang berkaitan erat dengan 22 aksara Ibrani karena aksara bahasa Ibrani memang menjadi aksara penyampai kitab Perjanjian Lama—disampaikan dalam aksara-bahasa Jawa baru, Hanacaraka. Catatan arkais 39 kitab itu ditulis kembali dalam aksara-bahasa Hanacaraka secara utuh—menjadi sebuah kodeks Perjanjian Lama—disematkan dalam 22 karya religius Durer. 22 Karya Durer diambil dan dipilih dari tahun 1497 hingga 1523. Rentan waktu selepas Durer kembali ke Nuremberg dari perjalanannya ke Italia  pertama kali hingga masa kembali ke Nuremberg untuk yang kedua kali dan selamanya selepas melakukan perjalanan ke Belanda. Karya-karya gravir dan cukilan kayu Durer secara visual menggambarkan nafas kristianitas yang suci, seperti umumnya karya-karya seniman renaisans. Meski Renaisans mengubah pemikiran manusia Eropa dimana  manusia berada di pusat alam yang bebas menentukan takdirnya sendiri, citra manusia layaknya dalam Hamlet Shakespeare, “betapa manusia adalah sepotong karya! Betapa agung dalam penalaran!…di dalam tindakan betapa ia laksana seorang malaikat!…betapa ia seperti seorang dewa!”. Tetapi  sekalipun  ide kebebasan menyeruak kuat, dalam budaya renaisans, kristianitas tetap fundamental bagi kehidupan orang karena—seperti catatan Alison Brown—“tradisi religius telah mendarah daging, meresap ke dalam tulang-tulang pria dan wanita…sejak dari buaian hingga kuburan”.

Secara historis, 22 karya ini  juga ingin memperlihatkan korelasi temporal yang menarik. Kemunculan karya-karya religius Durer di akhir abad 15 hingga awal abad 16 Masehi sejalan dengan kemunculan awal aksara Hanacaraka yang mulai selepas paruh kedua abad 15 Masehi, selepas apa yang disebut de Casparis sebagai masa cul de sac. Bahwa aksara Hanacaraka berkembang pesat di abad 17 memang tak bisa dibantah, tetapi permulaannya tak bisa dilepaskan dari masa abad 15 dan 16 Masehi. Aksara Hanacaraka telah baku, langgeng dan tidak lagi mengalami transformasi. Aksara ini tidak pernah kehilangan nilai adiluhungnya, hingga di Jawa, alkitab diterjemahkan dalam aksara-bahasa Jawa baru. Selepas 24 tahun perang Jawa, atas ketekunannya, Johann Friedrich Carl Gericke selesai menuliskan Perjanjian Lama dalam aksara bahasa Jawa krama (halus). Seperti catatan Kilgour, “(kala itu) Bahasa Jawa dipakai oleh kurang lebih dua per tiga penduduk Jawa. Bahasa jawa ini memiliki hurufnya sendiri…(maka) kebanyakan Kitab Suci dipublikasikan dalam bentuk huruf ini…”.

Sekali lagi, karya Genesis of Durer hingga Malachi of Durer mencoba menampilkan secara visual tentang nilai adiluhung (suci) dari aksara bahasa Hanacaraka yang mulai muncul dititik awal abad 15 Masehi di Jawa coba yang dimaknai sama dengan sakralitas karya-karya Durer, dimasa yang sama, yang terjadi Eropa.

 

No comments yet.

Leave a Comment

All fields are required. Your email address will not be published.