Dunia, termasuk di dalamnya adalah masyarakat Jawa, pada saat ini ibarat berada di persimpangan jalan. Di satu sisi harus berhadapan dengan perkembangan dan kemajuan ilmu pengetahuan, teknologi, dan globalisasi, di sisi lain dihadapkan pada kondisi budaya yang menuntut tetap ditegakkannya jatidiri. Perkembangan jaman yang begitu cepat, mampu menyeret kehidupan manusia, merubah pola pikir dan pola hidup menjadi realistik berlebihan, pragmatik, materialistik, hedonik, dan liberal kapitalistik. Manusia menjadi tidak terkendali dan cenderung mengkhalalkan segala cara dalam meraih tujuan. Menjadi kaya lebih dari yang lain, popularitas melebihi popularitas lain. Kondisi seperti inilah yang digambarkan Ranggawarsita di dalam Serat Kalatidha yang dikenal sebagai jaman edan atau jaman kalabendu, jaman yang penuh bebendu. Orang bisa berbuat apa saja semaunya karena aturan sudah tidak ada fungsinya, rurah pangrehing ukara, dan tidak ada keteladanan pemuka dan pimpinan masyarakat, karana tanpa palupi. Instalasi karya pada Artstage Singapore 2017 Tanda-tanda perkembangan dan globalisasi tersebut, tampaknya seperti adanya tanda-tanda yang ...

Lihat Selengkapnya...

Bayangkan, dunia tanpa pintu. Tak akan ada pengetahuan yang datang dan tak ada yang akan pergi. Segala hal tentang hidup dan kehidupan akan gelap. Dalam falsafah jawa, pintu adalah gerbang tujuan hidup manusia – sangkan paraning dumadi — keharmonisan, kesejahteraan dan kedamaian. Sebagai simbol keseimbangan dan keberlanjutan hidup. Kala makaranya sebagai simbol cinta antara ibu dan anak. Selain itu juga tanda tentang jalan ke sorga, naik turunnya roh nenek moyang dalam keabadian. Madyapada Keabadian | Mix Media | 200 x 210 x 40 cm Mitologi keabadian di Jawa tertuang dalam naskah Jawa Kuno Adiparwa tahun 998 Masehi sebagai naskah tertua di Tanah Air tentang mitologi gerhana. Dalam Bab VI Adiparwa disebutkan, seorang raksasa (Betara Kala) yang merupakan anak Sang Wipracitti dan Sang Singhika berubah wujud menjadi dewa dengan meminum Tirta Amerta. Sang Hyang Aditya (Dewa Matahari) dan Sang Hyang Candra (Dewa Bulan) yang mendahului ulah raksasa pun mengadukannya kepada Dewa Wisnu. ...

Lihat Selengkapnya...

Seperti sejumlah tema lain yang berhubungan dengan kehidupan Kristus dan Bunda Maria, karya-karya The Holy Family menjadi sangat populer pada akhir Abad Pertengahan sebagai inspirasi melalui perenungan aspek emosional dari kisah Bible. Bahkan paling sering digambarkan dalam karya lukis di era Renaissance. Salah satunya karya Albrecht Durer tahun 1495, The Holy Family With The Butterfly. Namun, Dürer memilih untuk tidak mengejar setiap adegan menjadi ambigu atau emosional. Meskipun nampak sederhana, karyanya sangat sempurna mengasumsikan kehadiran pola dasar humanisme. Bahwa pendekatannya untuk tema ini dikondisikan oleh pengalaman pribadi. Dürer tidak punya anak sendiri, tetapi kita tahu bahwa ia memiliki hubungan yang sangat dekat dengan ibunya, Barbara Dürer. Mother "Candrarini of Durer" | Acrylic on Canvas | 150 x 150 cm Pada abad ke-15, di Eropa angka kelahiran dan angka kematian bayi sangatlah tinggi. Keadaan tersebut meninggalkan kesan mendalam bagi Dürer hingga membentuk pemahamannya tentang hubungan khusus antara ibu dan anak. Karakter karya Durer tentang ...

Lihat Selengkapnya...

The Endless Knot | Brass Metal | 20 x 12 x 12 m The Endless Knot merupakan simbol kuno yang mewakili jalinan jalan spiritual, yang mengalir dari waktu dan gerakan Yang Abadi. Bahwa semua eksistensi, terikat oleh waktu dan perubahan, namun akhirnya terpusat ke dalam Yang Ilahiah dan Abadi. Simpul tak berujung ini melambangkan sifat alami dari segala sesuatu yang saling bergantung sebagai akibat dari hukum karma. Selain melambangkan kebijaksanaan dan welas asih Sang Buddha yang tak terbatas. Seperti halnya Dharma dalam ajaran Buddha, yang harus terus-menerus dan tak terhindarkan, sementara waktu hanyalah ilusi. The Endless Knot melambangkan kebenaran itu yang terpancar secara tenang dan enerjik. Pencarian pencerahan tidak perlu berarti menyerah pada tanggung jawab duniawi. Knot adalah representasi dari ajaran Sang Buddha bahwa pemikiran keagamaan dan kehidupan material saling terkait. Pada awalnya, simbol ini dikaitkan dengan Wisnu dan kecintaannya kepada Lakshmi istrinya, dewi kekayaan. Simpul ini juga merupakan salah satu dari delapan ...

Lihat Selengkapnya...

The Journey of Panji | Art Installation | 500 x 200 x 300 cm (Singapore Art Museum collection) Dalam kesusastraan pelbagai bahasa Nusantara—seperti catatan Zoetmulder—Kisah Panji menjadi sebuah tema yang sangat menarik sebagai model sastra “Jawa Tengahan” yang disampaikan dalam “bahasa” kidung, yang kemudian menyebar di beberapa wilayah Asia Tenggara. Panji—jika menggunakan terminologi linguistik—menjadi semacam “lingua franca”, sebuah perantara—seperti yang disebut Adrian Vickers—bagi “Peradaban  Pesisir “ Asia Tenggara. Cerita ini mempunyai banyak versi, dan telah menyebar di beberapa tempat di Nusantara (Jawa, Bali, Kalimantan, Malaysia, Thailand, Kamboja, Myanmar, dan Filipina). Dalam berbagai versi ini dimasukkan dalam satu kategori yang disebut "Lingkup Panji" (Panji cycle). Cerita Panji bermula di Jawa sekitar akhir abad 14 hingga awal abad 15 Masehi. Kisah ini melahirkan banyak varian yang muncul di beberapa wilayah pada abad 17 hingga 18 Masehi. Panji memang lahir di Jawa, merepresentasikan setengah hasrat dan setengah realitas manusia Jawa, tetapi Bali yang mengawetkan kisah ...

Lihat Selengkapnya...