La Liberté GiyantiThe Rhetoric of a Korean DreamOccultism In the beginning was the Word (2017)Kalatidha Towards Capitalism (2017)Madyapada Keabadian (2017)Mother “Candrarini of Durer” (2017)The Endless Knot (2017)The Journey of Panji (Singapore Biennale 2016)Centhini of Durer (2016)

Seperti sejumlah tema lain yang berhubungan dengan kehidupan Kristus dan Bunda Maria, karya-karya The Holy Family menjadi sangat populer pada akhir Abad Pertengahan sebagai inspirasi melalui perenungan aspek emosional dari kisah Bible. Bahkan paling sering digambarkan dalam karya lukis di era Renaissance. Salah satunya karya Albrecht Durer tahun 1495, The Holy Family With The Butterfly. Namun, Dürer memilih untuk tidak mengejar setiap adegan menjadi ambigu atau emosional. Meskipun nampak sederhana, karyanya sangat sempurna mengasumsikan kehadiran pola dasar humanisme. Bahwa pendekatannya untuk tema ini dikondisikan oleh pengalaman pribadi. Dürer tidak punya anak sendiri, tetapi kita tahu bahwa ia memiliki hubungan yang sangat dekat dengan ibunya, Barbara Dürer. Mother "Candrarini of Durer" | Acrylic on Canvas | 150 x 150 cm Pada abad ke-15, di Eropa angka kelahiran dan angka kematian bayi sangatlah tinggi. Keadaan tersebut meninggalkan kesan mendalam bagi Dürer hingga membentuk pemahamannya tentang hubungan khusus antara ibu dan anak. Karakter karya Durer tentang ...

Lihat Selengkapnya...

The Endless Knot | Brass Metal | 20 x 12 x 12 m The Endless Knot merupakan simbol kuno yang mewakili jalinan jalan spiritual, yang mengalir dari waktu dan gerakan Yang Abadi. Bahwa semua eksistensi, terikat oleh waktu dan perubahan, namun akhirnya terpusat ke dalam Yang Ilahiah dan Abadi. Simpul tak berujung ini melambangkan sifat alami dari segala sesuatu yang saling bergantung sebagai akibat dari hukum karma. Selain melambangkan kebijaksanaan dan welas asih Sang Buddha yang tak terbatas. Seperti halnya Dharma dalam ajaran Buddha, yang harus terus-menerus dan tak terhindarkan, sementara waktu hanyalah ilusi. The Endless Knot melambangkan kebenaran itu yang terpancar secara tenang dan enerjik. Pencarian pencerahan tidak perlu berarti menyerah pada tanggung jawab duniawi. Knot adalah representasi dari ajaran Sang Buddha bahwa pemikiran keagamaan dan kehidupan material saling terkait. Pada awalnya, simbol ini dikaitkan dengan Wisnu dan kecintaannya kepada Lakshmi istrinya, dewi kekayaan. Simpul ini juga merupakan salah satu dari delapan ...

Lihat Selengkapnya...

The Journey of Panji | Art Installation | 500 x 200 x 300 cm (Singapore Art Museum collection) Dalam kesusastraan pelbagai bahasa Nusantara—seperti catatan Zoetmulder—Kisah Panji menjadi sebuah tema yang sangat menarik sebagai model sastra “Jawa Tengahan” yang disampaikan dalam “bahasa” kidung, yang kemudian menyebar di beberapa wilayah Asia Tenggara. Panji—jika menggunakan terminologi linguistik—menjadi semacam “lingua franca”, sebuah perantara—seperti yang disebut Adrian Vickers—bagi “Peradaban  Pesisir “ Asia Tenggara. Cerita ini mempunyai banyak versi, dan telah menyebar di beberapa tempat di Nusantara (Jawa, Bali, Kalimantan, Malaysia, Thailand, Kamboja, Myanmar, dan Filipina). Dalam berbagai versi ini dimasukkan dalam satu kategori yang disebut "Lingkup Panji" (Panji cycle). Cerita Panji bermula di Jawa sekitar akhir abad 14 hingga awal abad 15 Masehi. Kisah ini melahirkan banyak varian yang muncul di beberapa wilayah pada abad 17 hingga 18 Masehi. Panji memang lahir di Jawa, merepresentasikan setengah hasrat dan setengah realitas manusia Jawa, tetapi Bali yang mengawetkan kisah ...

Lihat Selengkapnya...

The Ill-Assorted Couple atau The Offer of Love adalah salah satu karya Albrecth Durer yang bertema tentang “wanita” dibuat antara tahun 1495-1496. Karya ini mengisahkan betapa dunia perdagangan di akhir Abad Pertengahan juga merambah pada perdagangan seks (prostitusi). Di gambarkan oleh Durer adegan seoerang tentara bayaran tua tengah bernegosiasi dengan seorang wanita penghibur muda yang cantik. Seks sebagai komoditi seolah tengah ditawarkan kepada penawar tertinggi dalam transaksi kepada yang mampu membayar tanpa mengenal lagi apa yang tengah dijunjung tinggi masalah etika di masa renaissance. Centhini of Durer | 180 x 180 cm Penggambaran ini menjadi fakta realita apa yang terjadi pada dinamika masa yang kita kenal sebagai periode kebangkitan intelektual yang terjadi di Eropa, khususnya di Italia sepanjang abad ke 15 dan ke 16. Abad ketika alam pikiran di kungkung oleh Gereja. Pada zaman itu berbagai gerakan bersatu untuk menentang pola pemikiran abad pertengahan yang dogmatis, sehingga melahirkan suatu perubahan revolusioner ...

Lihat Selengkapnya...

Teosofi Arjuna, Jenderal Wolfe, dan Gandhi 180 x 266 cm – Acrylic, Drawing pen, Fluorescent ink on Canvas Karl Marx pernah mengatakan, bahwa sejarah akan selalu terulang entah sebagai lelucon atau tragedi. Karya ini mencoba mengkorelasi kepingan kebenaran dari sejarah yang kadang di anggap sebagai kesempurnaan dalam bentuk religiusitas. Korelasi dari kisah heroik Arjuna dalam syair Bhagawadgita, kisah Jenderal Wolfe dalam Perang Tujuh Tahun Britania Raya dan kisah Mahadma Gandhi memerdekakan India dengan melawan tanpa kekerasan. Bhagawad Gita yang artinya 'nyanyian Tuhan', mengajarkan pengetahuan kepada Arjuna tentang peperangan antara kemampuan baik melawan kemampuan jahat yang tiada putusnya. Wejangan suci itu disampaikan oleh Kresna karena Arjuna mengalami keragu-raguan untuk menunaikan kewajibannya sebagai seorang kesatria di medan perang. Kemudian pada masanya, Jenderal Wolf mengalami hal yang hampir sama atas dasar keyakinan patriotismenya di perang Britania Raya. Berlanjut di masa Mahadma Gandhi, dengan keyakinan patriotik yang sama pula namun lebih modern dalam konsep pemikiran religius bahwa manusia dari ...

Lihat Selengkapnya...