CARLA BIANPOEN - THE JAKARTA POST The phenomenon of the Javanese script on the canvases of Eddy Susanto has been a tool for unifying cultures from the farthest corners of the eastern and western hemispheres. Such is again reinforced in his work for the Tokyo Art Fair, which was held from March 17-19. Infusing the Japanese story of Genji with that of the Javanese saga of Panji, Eddy Susanto fused the identical characters into one by using the narrative of Panji in Javanese script to shape the Genji figures on canvas. A history and literature freak, Eddy found that the Panji story from his native Java has features similar to the Japanese Genji story. Although he found it intriguing that both sagas narrate identical lives of pleasure, love, life and adventure, he insisted the tales go beyond love stories — they involve heroic incidents and elements of ethical value. Panji was a legendary prince ...

Lihat Selengkapnya...

Jakarta, CNN Indonesia -- Eddy Susanto (42), salah satu dari sekian seniman rupa Indonesia yang kerap tampil memamerkan karyanya di ajang pameran tingkat internasional. Baru-baru ini, ia menjadi salah satu dari tujuh seniman yang turut mengusung karyanya di ajang Singapore Biennale 2016. Bicara akan perhelatan pameran seni dua tahunan atau biennale, Indonesia pun juga memiliki ajang serupa, yang bedanya digelar di beberapa kota, seperti di Jakarta (yang tertua sejak tahun 1970-an), lalu Yogyakarta, Makassar, Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Sumatera. Meski telah digelar di beberapa kota, Eddy menilai biennale yang digelar itu belumlah setara dengan ajang biennale tingkat internasional, atau masih berupa pameran seni biasa. "Jakarta biennale diadakan, Surabaya biennale diadakan, seolah-olah jadi latah. Biennale di Indonesia, walau pun di Jakarta, itu biasa saja, tidak seperti di Singapura," ujar Eddy saat berbincang dengan CNNIndonesia.com melalui sambungan telepon, beberapa waktu lalu. Padahal, kata seniman yang juga kurator seni itu, yang dipertaruhkan dalam biennale kontemporer adalah potensi hubungan internasional atau ...

Lihat Selengkapnya...

Singapura, CNN Indonesia -- Sebanyak 63 seniman memamerkan karyanya dalam perhelatan Singapore Biennale 2016, satu dari sekian pameran seni visual kontemporer termeriah di Asia. Tahun ini, acara yang bertajuk 'Atlas of Mirror' ini menawarkan sembilan konsep besar, yakni Ruang (An Everywhere of Mirrorings), Waktu (An Endless of Beginnings), Memori (A Presence of Pasts), Alam (A Culture of Nature), Batasan (A Shade of Borders), dan Agen (A Breath of Wills). Puluhan seniman yang berpartisipasi datang dari berbagai negara di Asia. Meski demikian, Indonesia bisa berbangga, karena tujuh seniman Tanah Air berhasil masuk dalam jajaran itu. Jumlah tersebut menjadikan Indonesia, bersama China dan India, sebagai negara yang mengirimkan perwakilan terbanyak setelah tuan rumah. Dari 63 hasil seni yang memanjakan mata dan menambah wawasan itu, CNNIndonesia.com menyimpulkan lima karya yang paling spektakuler. 1. The Journey of Panji (Eddy Susanto, Indonesia) The Journey of Panji terdiri dari sebuah gambar yang dibuat di kanvas berukuran besar. Selain gambar, kanvas itu juga ditempeli berbagai jenis huruf ...

Lihat Selengkapnya...

Fact and fiction are common traits in the arts, and contemporary art is no exception. But to uncover hitherto unknown facts in a way that both reveals and fascinates is an art form in itself that only few artists command; one such artist is Eddy Susanto (b. 1975), who may be considered emerging but is in fact a seasoned artist. At a time when many of his peers were trying to mimic popular trends in the international world of art, Susanto instead delved into historical readings to create and innovate with artworks that should come as eye-openers towards the place of Java in the global constellation of art and culture. Entering the art world as an illustrator of hundreds of book covers locally and internationally, Susanto’s genius was further highlighted in 2011 when his version of the Renaissance artist Albrecht Dürer’s ‘The Men’s Bath’ accorded him a prize in the prestigious Bandung Contemporary Art ...

Lihat Selengkapnya...

Soft Opening Pameran Tunggal Eddy Susanto “JavaScript” ditandai dengan digelarnya Press Conferencedan Art Tour pada Jum’at siang, 4 September 2015, di Galeri Nasional Indonesia. Hadir sebagai narasumber, Zamrud Setya Negara (Kepala Seksi Pameran dan Kemitraan Galeri Nasional Indonesia), Andonowati (Direktur ArtSociates–induk dari Lawangwangi Creative Space), Asmudjo J. Irianto dan Soewarno Wisetrotomo (Kurator), serta Eddy Susanto sebagai satu-satunya perupa pameran ini. Zamrud mewakili Kepala Galeri Nasional Indonesia—Tubagus ‘Andre’ Sukmana—, menyambut baik kesempatan kerjasama antara Galeri Nasional Indonesia dengan Lawangwangi Creative Space dalam menggelar pameran JavaScript. Ini adalah momen penting bagi Galeri Nasional Indonesia dalam memberikan ruang apresiasi bagi perupa yang karya seninya layak diperhitungkan. Terlebih, karya-karya Eddy kental dengan unsur historis terutama budaya Jawa, yang dibumbui unsur kekinian dan pencampuran teknologi, yang secara keseluruhan mengandung unsur edukasi dan pelestarian budaya. Ditambahkan Andonowati, kelebihan lain dari karya Eddy adalah disajikannya berbagai korelasi budaya seni. “Karya Eddy punya korelasi budaya seni yang tidak hanya mengorelasikan tempat yang berbeda, tapi juga ...

Lihat Selengkapnya...