Drawing Pen, Acrylic on Canvas | 260 x 325 cm Carla Bianpoen The painting is a juxtaposition of the revolutionary spirit that surged in France and spread to other parts of the world, including the island of Java. Similar to the power struggle between the monarchy and the bourgeois in France, the struggle for the sole power over the Sultanate of Mataram on Java eventually brought about a breakage: in France Charles X was toppled, while the struggle on Java resulted in two separate entities namely Yogjakarta and Surakarta. The painter Eugene Delacroix was deeply moved by the revolution in his country, and his emotion deepened with literature accentuating the drama even further. Infused with such emotion Delacroix created his famous painting La Liberté guidant le people, with Marianne, as the French symbol held the tricolor flag high above her head as a sign that the country was ruled by freedom. The revolution ...

Lihat Selengkapnya...

Drawing Pen, Acrylic on Canvas | 150 x 150 cm | 2017 Sebelum Semenanjung Korea dianeksasi oleh Jepang pada tahun 1910, wilayah tersebut dikuasai oleh serangkaian kerajaan yang didirikan pendatang yang kebanyakan berasal dari Cina. Konflik antara Korea Utara dan Selatan memiliki jejak sejarah yang panjang. Seperti yang terjadi pada banyak negara lainnya, termasuk Indonesia, akhir Perang Dunia II menggoreskan berbagai perbatasan baru. Di Korea, Uni Soviet dan Amerika Serikat membelah Korea menjadi dua, yang kemudian secara resmi membentuk Rakyat Demokratik Republik Korea Utara dan Republik Korea, dua sisi Korea yang kini terbelah di 38 derajat lintang utara –dan ini kenapa perbatasan antara kedua negara sering disebut sebagai ‘38th parallel’. Dalam dua tahun berikutnya, ketegangan antara kedua Korea ini terus meningkat. Pada tanggal 25 Juni 1950, militer Korea Utara menyeberangi perbatasan dan melakukan invasi atas Korea Selatan. Tindakan ini memulai Perang Korea yang berlangsung selama tiga tahun dan memakan korban sekitar dua ...

Lihat Selengkapnya...

Drawing Pen, Acrylic on Canvas | 400 x 125 cm "Pada mulanya adalah Kata". Ini frasa sederhana yang selalu digunakan oleh Sutardji Khalzoum Bachry sebagai pembuka kredo puisinya. Meskipun sesungguhnya "pada mulanya adalah Kata" sudah terucap lebih kurang dua ribu tahun yang lampau. Kalimat pendek itu ditulis pertama kali di dalam Alkitab. Display Karya Pada Abad ke-15, "The Last Supper", salah satu karya Leonardo da Vinci dispekulasikan mengandung pesan tersembunyi yang menyiratkan keinginan da Vinci mempelajari pengetahuan tersembunyi dari alam semesta untuk mengetahui masa depan. Da Vinci memulainya dengan “Kata”, sebuah ramalan yang dia ciptakan lewat simbol-simbol visual dalam karyanya dan tulisan-tulisan huruf terbaliknya. Slavisa Pesci, seorang ahli teknologi informasi, menciptakan efek visual yang menarik dengan menumpangkan versi cermin The Last Supper di atas yang asli. Hasilnya, dua figur mirip ksatria Templar terlihat di kedua ujung meja. Sementara seseorang yang diduga membawa bayi, berdiri di sisi Yesus. Elemen Karya Sementara Giovanni Maria Pala, seorang ...

Lihat Selengkapnya...

Hikayat Genji & Panji | Drawing pen, Acrylic on Canvas | 100 x 150 cm ( 4 panels) Adalah Murasaki Shikibu, seorang perempuan Jepang, penulis novel pertama di dunia yang dikenal dengan judul The Tale of Genji. Dalam buku The Pleasures of Japanese Literature, Keene mengklaim bahwa Murasaki menulis "adikarya fiksi Jepang" dengan mengambil unsur-unsur tradisi waka buku harian istana, dan Monogatari asal zaman sebelumnya, ditulisnya dalam campuran aksara Tionghoa dan aksara Jepang seperti dalam Putri Kaguya atau Hikayat Ise. Ia mengambil unsur-unsur serta mencampurkan gaya penulisan sejarah Cina, puisi naratif, dan prosa Jepang kontemporer. Cerita Hikayat Genji berlatar pada akhir abad ke-9 hingga awal abad ke-10, dan Murasaki menghilangkan unsur-unsur dongeng dan fantasi seperti sering ditemukan pada monogatari sebelumnya. Murasaki sukses mengemas tema utamanya yakni kerapuhan hidup. Menurut Helen McCullough karya Murasaki memiliki daya tarik universal dan berpendapat bahwa Hikayat Genji melampaui baik genre maupun zaman. Tema dasar dan latar, cinta di ...

Lihat Selengkapnya...

Dunia, termasuk di dalamnya adalah masyarakat Jawa, pada saat ini ibarat berada di persimpangan jalan. Di satu sisi harus berhadapan dengan perkembangan dan kemajuan ilmu pengetahuan, teknologi, dan globalisasi, di sisi lain dihadapkan pada kondisi budaya yang menuntut tetap ditegakkannya jatidiri. Perkembangan jaman yang begitu cepat, mampu menyeret kehidupan manusia, merubah pola pikir dan pola hidup menjadi realistik berlebihan, pragmatik, materialistik, hedonik, dan liberal kapitalistik. Manusia menjadi tidak terkendali dan cenderung mengkhalalkan segala cara dalam meraih tujuan. Menjadi kaya lebih dari yang lain, popularitas melebihi popularitas lain. Kondisi seperti inilah yang digambarkan Ranggawarsita di dalam Serat Kalatidha yang dikenal sebagai jaman edan atau jaman kalabendu, jaman yang penuh bebendu. Orang bisa berbuat apa saja semaunya karena aturan sudah tidak ada fungsinya, rurah pangrehing ukara, dan tidak ada keteladanan pemuka dan pimpinan masyarakat, karana tanpa palupi. Instalasi karya pada Artstage Singapore 2017 Tanda-tanda perkembangan dan globalisasi tersebut, tampaknya seperti adanya tanda-tanda yang ...

Lihat Selengkapnya...