Between prophecy and reality #1 | Acrylic on Camvas | 300 x 150 x 15 cm Dalam tradisi yang dilakukannya, Raden Saleh selalu melukiskan “nuansa” Jawa dalam beberapa lukisan saat ia berada di Eropa dan memberikan lukisan itu pada sahabat-sahabatnya disana. Ia ingin mengabarkan tentang Jawa di Eropa,citra lokal dalam dunia global, dunia Eropa. Tetapi mungkin tidak sekedar citra, raden Saleh ingin menunjukkan Jawa sebagai identitasnya. Maka untuk mengawetkan tradisi itu, karya ini juga akan menampilkan identitas Jawa, sebagai identitas lokal yang kuat. Tetapi karya ini tidak sekedar menggambarkan Jawa dalam realitas semata, namun juga menafsirkan dunia mentalitas Jawa. Karya ini terutama ingin memaknai ramalan dalam identitas serta mentalitas orang-orang Jawa. Dan memperlihatkan  bagaimana realitas selepas ramalan yang tidak pernah mewujud itu. Ramalan menjadi sebuah utopia tetapi bagi orang-orang Jawa, ramalan akan selalu menjadi living memory.   Between prophecy and reality #2 | Acrylic on Canvas | 300 x 150 x 15 cm   “Jongko” ...

Lihat Selengkapnya...

Acrylic, Drawing-pen, Phosphor on Canvas | 100 cm x 150 cm Painting viewed in two different lights (normal light and UV light) Ide besar karya lukisan ini adalah penggambaran korelasi dua idols of culture, lokal dan global. Mengingat bahwa kebudayaan setiap bangsa cenderung bertujuan mencari eksistensi secara global sehingga menjadi peradaban dunia yang melibatkan sistem sosial secara menyeluruh. Karya ini secara teknis menggabungkan tiga layer visual antara gaya lukisan klasik Kamasan Bali (Indonesia) tentang cerita Panji yang tersusun menjadi bentuk dari teks asli cerita Panji dalam bahasa dan huruf Bali yang ditulis dengan drawing-pen pada background acrylic di atas kanvas. Kemudian layer ketiga tersembunyi dengan teknik fosfor karya Sandro Botticelli “The Birth of Venus”(1486) yang akan muncul pada ruang gelap menggunakan cahaya ultraviolet. Penggambaran konsep lokal dimulai pada sebuah ritual yang sakral, tarian putri Galuh. Ia menjadi simbol, sebuah citra dari impian masyarakat yang menciptakan dan juga mengabadikannya. Ia juga representasi kesempurnaan perempuan dalam ...

Lihat Selengkapnya...

Emas Abad Enambelas             Karya peti kayu ini menjadi salah satu penanda untuk merayakan kembali makna rempah. Rempah telah menjadi sebuah magi yang mengubah peta dunia dan membuat selera lalu lintas dagang dunia klasik begitu mewah, sakral, semarak dan bertahan lama. Rempah memberi nuansa romantis juga dramatis yang menghubungkan peradaban Barat dan Timur. Awalnya dunia rempah Timur begitu surealis dimata Barat. Tapi perlahan berubah kala kapal-kapal Barat mulai melayari Samudra. Berbekal pengetahuan Warisan Marco Polo, Vasco da Gama berhasil tiba di pantai Malabar dan Kalikut, lalu berlutut di depan patung Devaki yang merawat Krishna seraya mengucap syukur karena telah menemukan rempah. Sejak itu, Magellan melayari bumi di awal abad 16 lalu dikuti di abad berikutnya oleh Francis Drake, Abel Tasman, dan James Cook karena terpikat aroma rempah-rempah.     Rempah memang aroma surgawi seperti indahnya surah Al-Insaan ayat 17-18 yang menyatakan para penghuni surga disuguhi secangkir air bercampur jahe yang diambil dari mata air ...

Lihat Selengkapnya...

FROM WANDERING PRINCE TO THE WANDERING OF CULTURES Jean Couteau   We must qualify these works, so let us call them paintings, and we must also give them a title, so let us call them by their most visible theme: Wandering. But the works of Eddy Susanto, exhibited atRumahWayangdanTopengSetiadarma in Mas are indeed much more than that. You can “watch” and enjoy them day and night, and what you see is a different “painting”.  During the  day time you can watch a narrative –that of the “Wandering Prince of the Javanese Majapahit lore—but you can also read its story, as the “lines” that make up the characters drawn in accordance with Balinese classical iconography, consisting of minute Javanese letters that reproduce the classical Middle-Javanese text of WangbangWideya.   Panji #5 and The Story of Romeo and Juliet | Drawing pen, Acrylic, Phosphor on Canvas | 250x180cm | 2013   But the surprise does not end there; under ...

Lihat Selengkapnya...

Detail Karya Java of Durer #2 Java of Durer #2 | Drawing pen, Acrylic on Canvas | 300x235cm | 2013   Malaikat Malaikat menjadi karakter yang paling menonjol dalam Melencolia I. Malaikat dalam seni Renaissance yang paling umum dikenal sebagai sosok berjubah mistis dengan sayap yang besar dan memberikan nuansa surgawi nan kudus. Tetapi Durer menunjukkan makhluk suci ini dengan tampilan berbeda, ia mengenakan pakaian layaknya ibu rumah tangga—seolah seperti dewi Venus —dan kepalanya disandarkan di kepalan jari-jari tangan kirinya. Malaikat itu menatap dengan penuh perhatian, tapi tatapannya tak fokus pada sesuatu yang khusus. Ia nampaknya tidak melihat suasana sekelilingnya dengan intensif: langit yang cerah, benda-benda berserakan di lantai, maupun bentuk batu misterius (geometrik) di sebelah kanannya. Semuanya tak berhasil menarik perhatiannya. Ia memegang satu kompas (jangka) di tangan kanannya, tapi nampaknya tidak digunakannya. Sang malaikat itu tampaknya pasif, frustrasi dan melamun. Dalam situasi yang penuh dan ramai semacam itu, apa yang akan dilakukannya ...

Lihat Selengkapnya...