Hari Hara 43733 Hari | Acrylic, Phosphor on Canvas | 180x127,5cm | 2013 Karya ini secara teknis terdiri dari empat layer: karya sketsa Raden Saleh “Penangkapan Diponegoro”, yang dibentuk dari teks Babad  Dipanagara dengan drawing-pen, foto keberangkatan Soekarno ke pengasingan dengan teknik phosphor yang akan tampak jika dalam ruang gelap dengan pencahayaan lampu UV, dan lempeng Hari Hara koleksi Museun Nasional yang hilang sebagai cap/penanda. Karya dalam cahaya UV Semua menjadi serangkaian kolase ingatan yang berlapis-lapis tentang sejarah bangsa, juga menjadi semacam site of memory atas apa yang terjadi dengan peristiwa dramatis dan heroik di masa lampau, sebuah hari yang dikenang tentang huru hara yang seolah terulang. Perang Jawa yang diakhiri dengan penangkapan Diponegoro serta Agresi Belanda kedua yang mempertontonkan penangkapan Soekarno. Sebuah tragedi besar semenjak penangkapan dan persiapan pengasingan Diponegoro di Magelang 28 Maret 1830 hingga penangkapan dan persiapan pembuangan Soekarno di Maguwo 22 Desember 1948. Sebuah pengulangan sejarah, huru hara ...

Lihat Selengkapnya...

Genesis Of Durer | Acrylic and Drawing pen on Canvas | 154,5 x 200 cm | 2013 Pameran bertajuk Visual of Java: Albercht Durer and the Sacred Script, Texts and Numbers ini mengkorelasikan karya-karya Albrecht Durer dengan aksara bahasa Jawa yang dipertemukan dalam titik sacred script, texts and numbers. Aksara jawa carakan memiliki sakralitas karena aksara ini diejawantahkan dan diingat dalam kultur jawa sebagai sebuah hukum kodrat “sangkan paraning dumadi”, sebuah ungkapan transedental tentang asal muasal. Carakan menjadi sebuah episteme saat digubah dalam sebuah seloka yang indah;               hananing cipta rasa karsa(Ha-na-ca-ra-ka)             datan salah wahyuning lampah(Da-ta-sa-wa-la)              padhang jagade yen nyumurupana(Pa-dha-ja-ya-nya)             marang gambaring bathara ngaton(Ma-ga-ba-tha-nga) Bagi orang Jawa, carakan dari ha sampai nga (berikut pasangan dan sandhangannya), selain disebut sebagai aksara juga disebut sastra dan sastra ini mengungkapkan isi kandungan batin manusia mulai dari yang sederhana hingga kawruh pangawikan kajaten (filsafat) yang lahir dari pikiran, perasaan ...

Lihat Selengkapnya...

After Baba(t)d Diponegoro | Acrylic, Phosphor on Canvas | 300x190cm | 2013 Karya ini memiliki tiga layer visual yang merupakan korelasi antara lukisan karya Raden Saleh Penangkapan Diponegoro, teks huruf jawa Babad Diponegoro versi Surakarta, dan karya Fransisco Goya El Tres de Mayo. Khusus untuk memunculkan visual lukisan Fransisco Goya El Tres de Mayo karya ini harus berada dalam ruang gelap dengan cahaya lampu ultraviolet. Sebagai yang melatarbelakangi konsep penciptaan karya, lukisan Penangkapan Diponegoro menjadi penanda paling monumental tentang dahsyatnya sebuah gejolak kaum pribumi Jawa, mulai dari revivalisme kaum ulama, nativisme kaum pribumi, hingga eskatologi yang manunggal dalam diri Diponegoro sendiri sebagai Sang Erucokro . Raden Saleh memahami ini  dan melihat sisi primordialisme seorang Diponegoro, seorang Jawa sejati yang adiluhung. Itulah mengapa ia melukiskan wajah tegas Diponegoro menatap de Kock, sementara sang jenderal seolah tak berani menatap balik sang Pangeran. Inilah tafsir ulang Raden Saleh yang ingin menegaskan serealistis mungkin kisah akhir ...

Lihat Selengkapnya...